Perfect Husband

Perfect Husband
62. Andre & Vallen


__ADS_3

Seminggu telah berlalu...


Aku sudah mempersiapkan tempat untuk ngedate Andre dan Vallen. Sebuah tempat makan nuansa alam di pinggir danau yang romantis. Di meja yang sudah di atur kupasang sebuah alat penyadap suara. Kegiatanku ini mengingatkanku pada sebuah acara ajang pencarian jodoh di sebuah stasiun televisi.



Tentunya aku sudah menghubungi Andre dan Vallen untuk momen ini. Semoga saja kesan pertama mereka sama-sama tidak buruk. Supaya memudahkan aku melanjutkan step selanjutnya.


Untuk acara ini, aku bahkan sampai menyamar menjadi pengunjung resto. Supaya lebih meyakinkan dan mengurangi kecurigaan, kusulap penampilanku menjadi seorang pria, tentu saja dengan meminjam atribut Andra lalu bekerja sama dengan beberapa pelayan dan juga koki.


Aku sendiri, Andra tentu saja ke kantor. Tapi dia sangat menyetujui ideku ini. Aku bersiap-siap, duduk di bangku terpojok. Mereka berdua sudah menghubungiku sedang di perjalanan menuju kemari.


"Drap..drap..drap" Terdengar langkah kaki, sangat nyaring karena aku sengaja meminta pihak resto untuk mengosongkan area itu. Ternyata yang datang lebih dulu adalah Vallen. Aku melihat gadis itu gusar melihat kesana kemari, sekali-kali melirik arlojinya.


Dari arah belakangnya Andre datang menghampiri.


"Vallen ya?" Kata Andre saat sampai di hadapqn Vallen, sebelumnya aku sudah memberikan foto Vallen kepadanya.


"Ah, iya. Andre kan? Ternyata aslinya lebih ganteng, Silahkan duduk," Vallen memang mudah akrab, bahkan pada orang yang baru kenal. Itu dia yang aku suka darinya.


"Bisa aja, udah lama?" Andre menarik kursi di dekat Vallen. Sepertinya sesuai dengan janji Andre dulu waktu dia buta, dia akan menghargai wanita pilihanku.


"Belum, sekitar lima menitan sih, Dari kantor?" Vallen balik bertanya.


"Iya, dari kantor langsung kesini. Berantakan banget ya? maaf, nggak sempet pulang dulu, takut kamu lama nunggu," Andre tampak membenarkan letak dasinya. Dia paling tidak bisa tampil berantakan.


"Nggak, masih rapi kok. Eh, mau pesen apa?" Vallen berinisiatif untuk menawarkan Andre menu.


"Aku mau minum aja, deh. tadi udah makan di kantin kantor soalnya," Seperti dugaanku, pasti dia menolak.


"Aku juga deh, masih kenyang, abis ngemil tadi sebelum kesini, mau minum apa, Ndre? Eh, sopan nggak sih aku manggil kamu nama aja?" Kelihatannya Vallen gugup.


"Apa aja deh, samain sama kamu, manggil apa aja boleh, senyaman kamu aja," Dasar si ramah, aku suka Andre welcome sama Vallen. Sepertinya dia nyaman ngobrol dengan cewek itu.


"Bener ya, kata Sila. Kamu tuh orangnya renyah," Vallen bawa-bawa aku. Kalau aku lihat dari gesturenya, dia naksir berat sama Andre. Siapa sih yang nggak naksir pada cowok setampan dan sehumble dia.


"Renyah? Dikira aku kerupuk?" Andra tertawa kecil.


Vallen melambaikan tangan kepada pelayan dan memesan dua gelas strawberry milk shake. Pas, memang jodoh mereka, Andre suka sekali buah stroberi. Aku malah belum sempat memberi tahu dia tentang itu. Beberapa saat kemudian, minuman pun datang.


"Aku suka banget sama stroberi, pas banget kamu pesen ini," Andre langsung menyeruput minumannya. Dia selalu kalap kalau melihat segala hal berbau buah warna merah dan sedikit asam itu.

__ADS_1


"O ya? Wah, ternyata feeling aku kuat ya, bisa tahu apa favorit kamu. Kali ini Sila nggak bocorin ke aku, loh." kata Vallen dengan bangga.


"Benarkah? Hebat ya, kebetulan banget. Eh, kalau boleh tau, kamu masih kuliah atau kerja?" Andre berusaha ingin tahu keseharian Vallen.


"Aku masih kuliah, terus kerja sambilan juga," Vallen juga menyedot minumannya.


"Sama kaya Sila, sekarang malah jarang ke kampus." Andre malah bahas aku. Semoga Vallen maklum. Aku kan sudah bercerita padanya kalau Andre memang masih mencintai aku.


"Jadi dia masih kuliah juga, dia nggak cerita loh sama aku. Ngomong-ngomong, kamu ada hobi nggak? Maksudku kaya sesuatu yang rutin di kerjakan, seperti nyanyi, traveling misalnya," Bagus, Vallen mengalihkan pembicaraan.


"Hobi ya? Nggak ada sih. Sekarang waktu habis untuk kerja aja. Pulang kerja hiburannya mungkin ngegame di rumah, setiap hari gitu aja," Kata Andre jujur.


"Monoton banget ya, nggak bosen tuh tiap hari begitu?"


"Ngomongin soal bosen sih, bosen. Tapi nggak ada pilihan lain," Jelaslah, Andre kan tidak punya teman. satu-satunya teman yang terdekat, itu aku.


"Gimana kalau pas kamu luang, hubungi aku aja. Nanti, aku ajak ke tempat-tempat seru buat temuin hobi kamu apa, gimana?" Vallen meminta pendapat Andre. Semoga aja kakak ipar mengiyakan tawaran Vallen.


"Boleh. Ini kartu nama aku. Chat ya kalau udah di rumah nanti," Andre memberikan selembar kartu kecil kepada Vallen, dan gadis itu menerimanya. Misi menunjukkan lampu hijau. Aku tidak salah pilih. Mereka pasti akan menjadi pasangan serasi di masa depan.


"Oke, nanti aku pasti hubungi, kok. Terimakasih, sudah respon aku dengan baik. Aku fikir kamu akan cuekin aku," Kata Vallen lantang.


"Val, terimakasih, untuk waktu kamu hari ini. Aku seneng bisa ketemu kamu di sini. Next time, semoga kita bisa bertemu lagi," Ujar Andre sambil mengaduk minumannya dengan pipet lalu meminumnya.


"Kesini sama siapa?"


"Aku naik taksi, nanti habis dari sini aku mau ke kampus, jadwal sore," Ujar Vallen menjelaskan.


"Kalau kamu nggak keberatan, aku mau anter kamu ke kampus," Mengejutkan, aku tidak menyangka Andre berinisiatif buat mengantarkan Vallen. Tapi aku suka perkembangannya ini, berarti aku akan lebih mudah mendekatkan mereka.


Aku mematikan penyadap suaraku dan keluar dari resto itu tanpa menimbulkan kecurigaan siapapun. Sekarang, baik aku ataupun Andre, kamk sama-sama akan bahagia. Aku akan jauh lebih tenang menjalani rumah tanggaku bersama Andra.


Cinta segitiga diantara kami akan segera berakhir. tidak ada lagi yang tersakiti, aku bisa sepenuh hati bersama Andra, tidak lagi memikirkan Andre yang terluka, sebaliknya, Andre juga akan bahagia dan pelan-pelan berhasil melupakan aku.


Menjadi orang yang mencintai seseorang yang tidak bisa kita miliki, memang sangat menyakitkan. Karena tidak bisa melakukan apapun kecuali merelakan. Kalau hati di biarkan membeku tanpa cinta baru, maka yang terjadi hanyalah pilu sepanjang waktu.


Ku ambil handphone dari saku celanaku, dan ku cari nomor Andra lalu ku tekan tombol panggil.


📱Andra


"Hallo, sayang ada apa?"

__ADS_1


📱Aku


"Masih sibuk, mas?"


📱Andra


"Nggak, cuma lagi ngerjain file, seperti biasa. Kenapa sih?"


📱Aku


"Aku kangen, mas. Boleh ke kantor nggak?"


📱Andra


"Serius ini? kamu kangen sama mas? Aku seneng sayang dengernya. Boleh banget kalau mau kesini,"


📱Aku


"Makasih, mas baik deh. I love you."


📱Andra


"Love you, too. Sayangku."


Aku segera mengganti pakaianku di toilet, lalu mencari taksi untuk menghampiri Andra ke kantornya. Tiba-tiba kangen, ingin memeluknya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo gaess..


readersku tercinta, terkasih dan tersayang...


mau ngasih tau nih, beberapa hari ini Author mau nginep dulu di Si Tampan Pemikat. Kalau kalian kangen bisa langsung ke sana ya...


Ada yang mau aku buatin Grup Perfect Husband Fans? Caranya gampang kok, cukup follow akun aku, lalu chat nama dan no wa kalian, nah nanti kalau udah terkumpul minimal sepuluh orang, aku buatin grup, buat kita seru-seruan.


see you semuanya...


tunggu eps baru Perfect Husband yang akan semakin seru. Terimakasih.


salam sayang,

__ADS_1


Author.


__ADS_2