Perfect Husband

Perfect Husband
78. Generasi Penerus


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian...


Hari masih gelap saat aku terbangun dari mimpi panjangku semalam. Di sampingku, Andra masih terlelap. Bulu matanya yang tebal dan lentik membuatnya tetap menawan meskipun ia tengah tidur. Itu dia salah satu yang membuatku terpesona padanya.


Aku mengelus perutku yang mulai mekar. Usia kandunganku menginjak empat bulan. Harusnya kalau hari ini di USG aku bisa tahu, apa jenis kelamin bayi yang ku kandung ini.


Berat badanku mulai naik drastis, selera makanku juga semakin meningkat. meskipun tetap tidak menyukai sayur-sayuran, aku mengimbanginya dengan minum susu khusus ibu hamil.


Baju-baju yang biasa ku pakai mulai tidak muat lagi. Alhasil harus bongkar baju hamilku yang dulu Sengaja aku taruh di gudang karena aku merasa trauma dengan kehamilanku yang gagal itu.


"Pagi, kesayangan mas yang paling cantik," Andra menggeser posisi tidurnya lebih mendekat padaku dan memelukku sekenanya. Aku membalas perlakuannya dengan mengelus rambutnya yang lembut.


"Pagi, pangeranku. Tidurnya pules banget," Aku menatapnya dalam. Aku tahu, semalam aku berhasil membuatnya melupakan kesedihannya saat flashback masalalunya bersama kakek.


"Soalnya, aku tidur dalam keadaan senang. Makanya aku pulas seperti sekarang," Katanya manja, masih dengan memelukku dan matanya masih setengah terpejam.


"Iyakah, Mas? Syukurlah kalau aku berhasil membuat mas melupakan masalah mas semalam," Aku lega dapat menenangkan perasaan Andra. Bagaimanapun juga ia sudah berhasil menyembunyikan masalah besar dari hidupnya ini.


"Makanya aku sangat bersyukur bisa memilikimu, sayang. Kamu tahu kenapa? Karena setiap saat bersamamu, aku merasa menjadi orang yang tidak mempunyai masalah apapun. Kamu selalu berhasil membuatku tenang, meskipun hanya memeluk atau menemaniku bicara," Kali ini Andra membuka matanya dan menatap mataku lumayan lama. Beberapa puluh detik, kami terdiam dan saling menatap.


"Syukurlah, mas. Kalau mas bisa merasakan perasaan sayang dan cintaku untukmu. Aku akan terus berusaha untuk menjadi istri yang baik untukmu, mas." Kataku tanpa sadar sambil mengelus pipinya yang begitu lembut.


"Ini maksudnya apa tangannya? Berusaha menggoda mas di pagi hari? Memangnya yang semalam kurang?" Ledeknya, membuat aku segera menjauhkan tanganku dari pipinya.


"Ng-nggak gitu, mas. Aku cuma refleks aja kok. Udah sana mandi," Perintahku sengaja mengalihkan pembicaraan.


Andra bangun dari posisinya semula. Ia mendekapku dari belakang. Melingkarkan tangannya ke perutku, sambil mengelus perutku yang mulai menjembul.


"Sayang, perutmu sudah tidak serata kemarin, apa ini hanya perasaanku?" Tanyanya penasaran sambil terus mengeksplor elusannya hanpir keseluruh bagian perut.


"Memang badabku sudah mekar semuanya, mas. Di hamilku kali ini aku merasa lebih cepat gemuk di bandingkan yang dulu. Nafsu makanku juga naik lima kali lipat dari porsi makanku biasanya. Baju-baju seksiku jadi nggak bisa di pakai, Mas." Kataku manja. Sambil menempelkan kepalaku di kepalanya. Kami bertahan dalam posisi itu beberapa saat.


"Kode ya, minta di belikan baju?" Bisiknya di telingaku, aku meresponnya dengan memegang pipinya pelan dan tersenyum manis.


"Aku hanya pengen tau aja, apa mas perhatian atau nggak perduli," Kilahku, padahal sih memang aku ingin di belikan beberapa baju untuk sehari-hari selama hamil. Hanya baju saja, tentu tidak akan banyak menguras dompet suamiku yang tajir itu.


"Baiklah, nanti kita beli beberapa baju ya, sayangku. Aku tidak mau kamu memakai baju yang tidak nyaman. Semuanya untuk kebaikanmu dan juga anak kita ini," Andra masih terus mengelus perutku. Kalau begini aku merasa sangat di manjakan.


"Terimakasih, mas. Gimana kalau hari ini kira memeriksakan keadaan bayi kita sambil melakukan USG? Aku penasaran mas, anak kedua kita ini laki-laki atau perempuan," Kataku sambil ikutan mengelus perutku.


"Aku boleh bertanya sesuatu, sayang?" Tanya Andra padaku, tampak serius.


"Ada apa, Mas?" Aku jadi penasaran dengan apa yang akan Andra tanyakan sampai seserius itu.


"Anak pertama kita, Laki-laki atau perempuan?" Tanyanya. Aku menghela nafas panjang. mengingat dulu usia kandunganku saat gugur hanya berbeda berapa minggu dengan kehamilanku yang sekarang.

__ADS_1


"Laki-laki, Mas. Jika ia masih ada, mungkin wajahnya sekarang sangat imut dan menggemaskan." Aku jadi sedikit terbawa suasana karena membahas anak pertama kami yang telah tiada.


"Kalau saja waktu itu, Mas tidak tertipu Kakek, pasti anak pertama kita sudah bisa belajar jalan," Andra mengkhayalkan bagaimana bayi kami jika saat itu aku tidak mengalami sebuah tragedi yang mengguncang jiwaku karena aku mengira Andra menghianati perasaanku yang mulai tulus padanya.


"Mungkin, kita memang belum di percaya untuk jadi orangtua saat itu, Mas. Makanya, aku sekarang sangat hati-hati. Aku tidak ingin merasakan kehilangan bayi satu kali lagi," Aku mencoba menguatkannya. Ia pasti juga sangat menyesal karena secara tidak langsung ia ikut andil dalam gugurnya kandunganku saat itu.


"Iya, sayang. Sepertinya begitu. Aku senang akhirnya ada dia di dalam perutmu. Lalu, hari ini mau cek kandungan ke mana sayang?" Tanyanya padaku. Timbul ide jahilku untuk mengusilinya.


"Gimana kalau kita cek kandungan ke klinik Affandi?" Celetukku.


"Nggak!" Andra langsung menyahut singkat dengan nada tinggi.


"Sudah berapa kali mas bilang, mas nggak suka kamu periksa kandungan dengan dokter cowok. Aku tidak mau ada laki-laki lain yang menyentuh tubuhnu, meskipun dia hanya seorang dokter," Ungkapnya panjang lebar mengingatkan aku, aku hanya tersenyum kecil mendengarkan omelannya.


"Aku nggak serius kok, Mas. Jangan sensi gitu, kita kan udah punya dokter kandungan langganan. Aku tidak mungkin di periksa dokter cowok kok, Mas." Aku berusaha menenangkan Andra lagi. Ia mendengus kesal.


"Begitu saja ngambek, mas ngambekan ah, kaya anak-anak," Ledekku. Andra pura-pura cemberut.


"Aku cium, nih kalau masih ngambek juga..." Aku sedikit menggodanya. Biasanya dia langsung senyum dan senang. Tapi pagi ini dia memang manja.


"Cup.." Aku mengecup pipi Andra dengan gemas. Sampai daging pipinya yang lumayan cabi itu masuk ke dalam dan menyentuh tulang.


"Masih ngambek lagi ayah Andra?" Aku sengaja memanggilkannya untuk anak kami. Kali ini aku berhasil membuatnya tersenyum lagi.


"Aku mau mandi dulu, Sayang, tolong buatkan aku kopi ya," Pesannya sebelum menghilang ke dalam kamar mandi, aku segera turun dari tempat tidur, membereskannya dan pergi membuatkan Andra secangkir kopi.


"Aku sudah selesai, sayang... Cepatlah mandi dan setelah kamu sarapan, kita langsung pergi ke Dokter. Aku sudah tidak sabar melihat kabar si kecil yang ada di perutmu," Andra tampak begitu antusias dengan momen periksa kandungan kali ini. Tanpa menunggu lebih lama lagi aku segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah semuanya selesai, aku dan Andra bergegas pergi ke dokter terlebih dahulu. Sebelum nantinsetelahnya aku dan dia berencana untuk membeli beberapa potong baju untukku.


Kami berdua ikut mengantri bersama serombongan ibu lainnya. Aku melihat perut mereka sudah besar, hanya aku sendiri yang masih setengah rata. Sambil menunggu giliranku tiba, aku dan Abdra berbincang-bincang dan saling tebak jenis kelamin anak kami nanti.


"Nyonya Sila Ramadhanti, silahkan.." Perawat memanggil namaku. Aku dan Andra bergegas untuk masuk ke dalam ruanga pemeriksaan.


"Wah, lucu ya, bayi kalian kembar tidak identik. Satu cewek dan satu lagi cowok. Pasti kalian senang sekali ya, akan memiliki anak kembar?" Sang Dokter seperti sedang bertanya pada kami berdua. Saat itu aku dan Andra saling berpandangan. Aku belum percaya dengan apa yang dokter itu katakan.


"Anak kami kembar dok?" Andra heboh, ia juga sedang mencari jawaban untuk lebih meyakinkan rasa gembiranya.


"Betul. Anak kalian kembar. Apa di keluarga kalian ada juga yang kembar?" Tanya Sang Dokter.


"Suami saya, dia kembar identik dengan kakaknya dok," Aku coba menjelaskan. Dokter itu manggut-manggut tanda mengerti.


"Pantas saja, anak kalian kembar. Sepertinya nanti, seperti ayah dan ibunya, pasti mereka berdua cantik dan juga tampan, " Puji Sang Dokter. Aku dan Andra hanya tersenyum mwndengarnya.


Aku mengelus perutku sendiri. Ada rasa haru dan bahagia yang melebur jadi satu di sana. Aku sangat belum yakin kalau di dalam rahimku ini ada dua bayi mungil yang bersemayam.

__ADS_1


Terlebih lagi Andra. Ia sangat terharu dan bahagia atas kehamilan kembarku. Generasi penerus kembar akan lahir tidak lama lagi. Cowok cewek ya? Aku dan Andra harus segera cari nama yang bagus untuk mereka berdua.


Selesai periksa, aku dan Andra pergi ke toko pakaian untuk membeli beberapa potong baju di sana.


"Pilih, semua baju yang kamu suka, sayang. Kalau kamu suka semuanya, aku akan membelikan seluruh baju yang ada si toko ini untukmu," Kata Andra dengan begitu manis. Aku tahu, uangnya sangat banyak, tapi membeli satu toko penuh pakaian itu terlalu berlebihan untukku.


"Suaminya tajir sekali, wajahnya tampan, aku tidak keberatan jika harus menjadi istri keduanya," Bisik seorang pegawai kepada teman sepekerjanya. Suara mereka terdengar dengan sangat jelas.


"Memang jarang ya, laki-laki mapan dan tampan seperti itu, aku juga terpesona melihatnya," Bisik satu pegawai yang lainnya.


Aku cuek saja mendengarnya. Untung Andra sedang berada diujung jadi tidak mendengar gosip yang sedang terjadi. Berarti dia memang tampan dan ideal. Sebagai istrinya tentu saja aku merasa bangga.


Tidak berapa lama, salah satu dari mereka ada yang mendekati Andra. Aku hanya memandangnya sebentar lalu kembali melihat-lihat ke sana kemari. Tapi lama-lama aku penasaran juga, apa yang anak itu bicarakan pada Andra.


"Kak, boleh foto bareng nggak?" Kata cewek itu setelah berbasa-basi menawarkan baju pada Andra. Ck, daun muda yang tidak tahu malu. Sudah tahu ada aku, istrinya di sini. Tapi dia dengan percaya diri mendekati pasanganku tanpa rasa berdosa.


"Maaf, mbak. Suami saya bukan model dan saya tidak mengizinkan dia untuk foto dengan sembarang orang. Maaf, saya tidak jadi beli baju di toko ini. Permisi!" Kataku sedikit judes dan menyeret Andra keluar dari toko baju itu. Sementara Andra hanya terkekeh melihatku cemburu.


"Kenapa mas terus tertawa? Memangnya apa yang lucu?!" Tanyaku ketus. Aku tidak suka ada wanita yang berani coba-coba dekat dengan Andra.


"Segitu cintanya sama mas? Sampai orang minta foro bareng saja tidak boleh?" Tanyanya masih dengan menahan tawa.


"Aku nggak suka, mas. Aku nggak mau mas di sentuh sama dia. Tadi aku sudah denger, kalau dia mau walaupun jadi istri keduamu," Kataku masih kesal. Andra belum juga berhenti tertawa. Seperti apa yang aku lakukan padanya adalah hal yang sangat konyol dan lucu.


"Mana mau aku sama dia, Istriku sudah sangat cantik. Aku juga hanya butuh satu istri. Jadi, jangan sedih lagi ya, sayangku..." Andra merayuku. Aku merasa sedikit terhibur. Kembali mengajak Andra mencari toko pakaian yang lain.


Kami melewati toko peralatan bayi. Aku terdiam di depannya sambil.


menatap haru ke dalam toko. Aku membayangkan suatu hari, akan membelikan baju-baju imut itu untuk si kembar. Berbagai pernak-pernik bayi yang lucu. Membayangkannya saja aku sudah sangat bahagia.


"Sabar sayang, belum waktunya kita beli baju untuk si kembar. Nanti, kalau sudah saatnya, mas belikan apapun yang kamu mau untuk mereka. Kamu pasti tidak sabar ya, menunggu mereka lahir? Mas juga sayang, mas ingin mereka cepat lahir dan mengisi hati-hari kita," Andra membawaku berlalu dari toko peralatan bayi itu. Kali ini aku hanya bisa berdo'a, semoga si kembar bisa terus ada sampai waktunya mereka lahir. Aku tidak ingin kehilangan seperti saat aku kehilangan kakak mereka.


"Mas, nanti malam kita mulai cari nama yang bagus ya buat si kembar, aku mau mereka punya nama yang spesial," Kataku antusias. Aku sudah membayangkan si kembar akan menjadi kesayangan. Karena mereka adalah cucu pertama keluarga Wijaya.


"Aku sudah persiapkan nama yang bagus untuk mereka sayang. Saat tau mereka berdua kembar, aku langsung kepikiran kalau nama itu bagus untuk mereka," Andra tampak semangat saat membahas nama yang cocok untuk bayi kami. Aku jadi semakin tidak sabar menunggu kehadiran mereka.


"Siapa mas? Aku penasaran, kasih tau..." Kataku manja, Andra yang sudah paham dengan sikapku hanya tersenyum manis.


" Rahasia sayang, tunggu si kembar lounching, baru nanti aku kasih tau," Andra merahasiakan nama anak kami yang sudah di persiapkannya. Aku penasaran, kira-kira siapa nama kedua bayi kami nanti.


"Mas mah gitu, nggak mau kasih tau aku. penasaran banget, loh aku," Aku sedikit merajuk. Tapi kalau memang masih ingin di rahasiakan, aku tidak akan memaksanya untuk memberitahukan siapa nama si kembar nanti.


"Sabar ya, sayang. Nanti pasti akan segera mas kasih tau nama si kembar siapa. Ayo kita ke sebelah sana, ada butik yang bagus, sayang. Biasanya mama juga sering belanja di toko itu.


Andra menunjuk sebuah toko, Cassandra Collection, itu nama yang tertera di bagian atas pintu toko baju tersebut. Aku dan Andra bergegas ke sana. Semoga tidak ada gadis genit lagi yang mengganggu Andra.

__ADS_1


"Hallo, syelamat dathang kakak-kakak yang kiyut. Mau cari apa? cuss ikut eyke, barang-barangnya di sini cucok markocok, mari-mari..." Aku menempelkan wajahku ke baju Andra menahan tawa. Sekalinya bukan gadis genit, kami malah bertemu dengan cowok genit.


__ADS_2