Perfect Husband

Perfect Husband
109. My Love


__ADS_3

2 bulan berlalu...


Semua mulai berjalan normal. Aku sudah terbiasa mengurus si kembar tanpa pengasuh. Kebetulan Alana dan Alandra jarang rewel. Jadi aku bisa sedikit santai meskipun mengurus dua bayi.


"Sayang, ayah pulang..." Andra baru saja pulang dari kantor, karena pekerjaan kian menumpuk, dan perusahaan mulai mengalami peningkatan omset, Andra lebih sering pulang malam karena lembur.


"Tuh, Alana, Alandra, ayah pulang," Mereka yang sedang tidak tidur bereaksi dengn menggerakkan kaki dan tangan seperti kegirangan ayahnya pulang.


Sibuk banget ya mas, sampai malem banget pulangnya? pasti capek. Sini tasnya" Aku meraih tas kerja yang Andra tenteng dan menaruhnya di tempatnya.


"Iya, Sayang. Rezeki si kembar ini, kita menang tender dua sekaligus. Bersyukur banget, tapi mas harus semakin keras kerjanya," Terlihat dari raut wajahnya kalau Andra sangat lelah. Aku melepas 55jasnya, dan menggantungnya.


"Sabar, Mas. Kuatkan dirimu, aku sangat senang memiliki suami pekerja keras dan penuh tanggung jawab sepertimu. Muaah," Aku mencium pipi Andra gemas sebelum melanjutkan membuka ikatan dasinya. Tiba-tiba dia menarikku ke dalam pelukannya.


"Sudah dua bulan, Mas puasa. Malam ini bisa kan?" Bisiknya. Ya, memang selama dua bulan Andra menahan diri untuk tidak menyentuhku. Sepertinya.malam ini dia tidak akan bisa menahannya lagi.


"Ada yang kangen ya, baiklah. Malam ini aku milikmu, Mas. Tapi tentu saja setelah si kembar tidur,"Aku mengingatkan padanya, bahwa kami punya duabayi mungil sekarang.


"Maaf, Sayang. Mas hampir lupa kita punya bayi. Akibat terlalu lama di anggurin, baiklah, mas mandi dulu, ya." Andra bergegas mandi. Aku melihat ke dua bayiku yang mulai terlelap.


Saatnya aku bersiap memanjakan ayahnya anak-anak. Rambutku, ku ikat sedemikian rupa agar tampak rapi, Tak lupa memakai sedikit parfum. Setelah itu, aku memastikan Alana dan Alandra telah terlelap.


Kedua bayiku sangat sehat, timbangannya meningkat drastis, meskipun berat badan Alandra lebih tinggi di banding Alana, mungkin karena dia cowok. Mengurus mereka adalah hal yang paling menyenangkan. Setiap melihat senyum mereka, rasa lelah hilang seketika.


Kata Andra, sekarang dia lebih kangen rumah, terutama si kecil. Dia sangat sayang dengan kedua anaknya. Meskipun kelelahan, Andra sering menghabiskan banyak waktunya untuk bermain dengan Alana dan Alandra.

__ADS_1


"Mereka sudah tidur?" Andra keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Senang sekali saat melihatnya habis mandi, lebih segar dan tampan.


"Sudah, mas. Mungkin mereka terlalu mengantuk. Biasanya jam segini memang sudah jamnya mereka tidur, lucu ya mas mereka, tuh liat, pipinya tembem, mirip kamu," Aku meledeknya. Memang pipi si kembar tembem dan mereka lebih mirip ayahnya. Agak sedih, ketika aku yang mengandung mereka tapi mereka sama sekali tidak mirip denganku.


"Iya, mereka berdua memang mirip aku semua, lihat tuh hidungnya, gemesin kan. Itu hidung mas yang nempel di mereka," Andra juga heboh mengomentari kelucuan kedua anak kami. Aku memeluknya dari belakang, menyalurkan rasa rinduku padanya.


"Harusnya salah satu dari mereka mirip aku kan, tapi mereka mirip kamu semua, ngiri deh," Kataku manja, Andra berbalik dan memelukku perlahan.


"Ngiri terus, aku bahagia tahu, kamu bisa mengandung mereka berdua. Luar biasa sayang. Mas lupa, mau bilang sama kamu, mas udah urus panti asuhan kita. Semua sudah beres, tinggal peresmian aja, itu tugas kamu sayang," Katanya pelan sambil mengelus rambutku perlahan. Aku bahkan sudah lupa mengenai rencana pembuatan Panti Asuhan itu. Untung saja, suamiku selalu ingat segalanya.


"Terimakasih, Mas sayang. Maaf ya, di saat sibuk begini, ideku malah ganggu mas kerja. Aku sayang banget sama mas," Aku mengeratkan pelukanku padanya.


"Kan, mas sendiri yang mau ngerjain, sayang.Tujuan kamu sangat mulia, aku hanya berusaha mewujudkan impian kamu," Di kecupnya keningku lembut. Andra memang sangat mencintaiku, itu yang membuatku tidak mampu berpaling darinya. Dia terlalu baik dan sempurna.


"Terima kasih, Mas..."


"Terus?" Aku pura-pura tidak tahu apa yang Andra inginkan.


"Serius nggak tahu?" Andra menatapku sedikit gemas. Dia pasti tahu aku sedang berpura-pura. Aku hanya menggeleng.


Andra menautkan bibirnya dengan bibirku perlahan. Rasanya kami sudah lama sekali tidak melakukan ini. Kerinduanku memuncak padanya. Akhir-akhir ini Andra terlalu sibuk sampai jarang ada waktu untuk kami berdua bernuansa romantis seperti ini.


"Mas, kamu tahu, kangen masa-masa seperti ini. Kita saling sibuk akhir-akhir ini, sampai kita tidak ada waktu untuk berduaan," Ku peluk Leher Andra, dan kami saling menempelkan hidung. Wangi sabun menusuk hidungku. Sengaja aku memilih wangi buah, karena pada dasarnya aku suka wewangian yang manis.


"Mas juga, kangen bermesraan sama kamu. Sekarang, cinta kamu sudah terbagi buat Si Kembar, jadi ngerasa nggak di sayang," Andra merajuk, dia pura-pura cemburu karena ingin di manja.

__ADS_1


"Bilang aja, pengen banget di manjain kan? pakek ngiri segala sama si kembar. Ayo sini, biar aku manjain, mas." Aku menarik Andra untuk mengikutiku merebahkan diri ke atas ranjang.


"Rasanya seperti setahun, tidak mendapat jatah darimu, sayang..." Bisik Andra ke telingaku.


"Baru saja dua bulan, sudah bilang setahun. Mau setahun beneran?" Ledekku, spontan mata Andre membulat.


"Jangan dong sayang, tega banget sama junior," Andra merengek.


"Biarin, salah sendiri suka melebihkan keadaan, jadi aku kasih bonus sekalian, biar nambah puasanya jadi setahun," Aku pura-pura ngambek.


"Maaf, Sayang. Nggak lagi, deh." Tangan Andra mulai menarik turun resliting bajuku yang terletak di bagian depan, ciri khas busui.


setelah saling memoloska diri, Andra menarik selimut untuk menutupi tubuh kami berdua. Lembutnya kulit Andra dapat aku rasakan saat kami bersentuhan.


"Arghh, pelan-pelan...!" Aku terkejut saat tiba-tiba Andra memasukkan bagian bawah tubuhnya ke dalam diriku dengan sekali tekan.


"Maaf sayang mas sudah tidak sabar untuk merasakannya lagi. Apakah sakit?" Andra memandangku dengan iba. Jelas saja sakit. Ini semua seperti memulainya dari awal lagi.


"Sakit, Mas. Makanya pelan-prlan saja. Perlahan saja, Sayang..." Aku memberinya pengertian, agar ia melembutkan permainannya.


"Iya, Sayang.. sekarang kan udah pelan," Andra menggerakkan tubuhnya perlahan. Aku memejamkan mata menikmati Setiap sentuhannya.


"Sayang, mas mencintaimu..." Andra menyatakan perasaan cintanya, lalu mkembali mendaratkan ciumannya dengan lembut.


"Aku juga, Mas. Sangat mencintaimu," Aku merasakan Andra bergerak dengan lebih cepat, dia akan segera sampai pada puncaknya, dan benar, ia telah mrncapai klimaks dan menjatuhkan tubuh lemasnya ke atas badanku. Ku elus rambut kepalanya yang basah karena keringat yang bercucuran.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang," Andra mengrcup pipiku sebagai penutup adegan romantis kami dan tidak berapa lama ia pun tertidur pulas setelah memisahkan diri dariku.


__ADS_2