Perfect Husband

Perfect Husband
Chapter 30. You


__ADS_3

Cerita ini hanya fiksi, banyak adegan kekerasan. Bagi pembaca di bawah umur, harap bijak dalam memilih bahan bacaan. Terima Kasih




Makanan yang sudah siap di meja makan mulai dingin, dalam keheningan malam hanya ditemani lampu redup merah jingga di atas meja, keduanya saling memandang, Alaia menunggu jawaban dari suaminya yang tertahan sejak tadi sekitar 30 menitan telah dia lontarkan. Alaia hanya memainkan jari tangannya yang di dibalut plester, tidak ada yang ingin dia katakan selain menunggu Agam bicara.


“Apa yang kamu ketahui memang benar, aku pernah mengenal Naufal sebelumnya, tapi yang membuat Naufal seperti itu bukanlah keadaan kala itu, melainkan sejak awal dia memang seperti itu. Tentangmu...” Agam melihat kearah Alaia lekat-lekat, keduanya saling memandang, rasa penasaran Alaia semakin besar, sedangkan Agam tengah menyusun banyak kalimat di dalam kepalanya.



“Jatuh cinta pandangan pertama, pertama kali aku melihatmu duduk di cafe sendirian, aku punya banyak kemampuan untuk mendapatkan informasi tentangmu, termasuk nama dan alamat tempatmu tinggal. Tapi aku tidak seberani itu untuk mendekatimu, aku takut jika tidak bisa bersama mu dan membuatmu sakit hati, sehingga aku memperbaiki keadaanku untuk melepaskan diri dari bayangan Cakrawala.” Jelas Agam, semuanya bisa diterima akal oleh Alaia, seharusnya Agam lah yang menerima pertunangan tapi karena Agam memiliki bagiannya sendiri untuk lepas dari perusahaan atas nama keluarga Cakrawala, dia bisa dengan mudah menolah perjodohan keluarga.


“Kenapa kamu tidak pernah cerita sejak awal?.”


“Aku ingin semua berjalan seharusnya tanpa kenangan masa lalu, aku ingin bertemu kemudian menjalin perasaan denganmu secara alami tanpa kamu ketahui bahwa aku lebih dahulu menaruh perasaan apalagi kamu tau kalau aku lama menaruh perasaan padamu.”


“Aku pernah sekolah lama di luar kota, apa kamu juga tau soal itu?.”


Agam mengangguk “Aku datang ke acara kelulusanmu.”


“Benarkah? Bunga waktu itu tanpa nama.”


“Aku yang memberikan. Apa seharusnya aku muncul waktu itu?.”


Alaia mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh.


“Hey, kenapa menangis?.” Agam mendorong kursinya ke belakang kemudian beranjak dari tempat duduknya menghampiri Alaia dan membawa Alaia kedalam dekapannya.



Flashback


Hari kelulusan adalah hari paling bahagia setiap orang yang telah menyelesaikan studinya, termasuk Alaia yang juga telah menyelesaikan studinya dengan predikat yang sangat memuaskan, namun wajahnya tetap berada di ambang kedataran. Sama seperti saat dia lulus sekolah menengah atas, Alaia selalu sendiri, hanya ada sahabatnya, Sena yang ada untuknya, tapi Sena memiliki waktunya sendiri untuk bersama keluarga, sebelum itu Alaia harus benar-benar sendirian.


Alaia duduk sendirian di bangku dekat lapangan bangunan utama kampus, gadis itu memegangi tangannya yang mulai berkeringat. Mendapatkan beasiswa sampai di titik ini adalah impiannya, selain itu Alaia juga harus berusaha keras bekerja paruh waktu untuk membayar biaya kos nya, cukup banyak tantangan yang harus Alaia lakukan, harta warisan keluarganya telah lama dia belikan sebuah apartemen di kota asalnya, Alaia memang berniat kembali ke kota itu agar dekat dengan makam kedua orang tuanya. Warisan tidak seberapa yang digunakan untuk hidup semasa kecil dan membayar pengasuhnya hingga remaja.

__ADS_1



Seseorang mendatangi Alaia sambil membawa buket bunga kesukaannya. “Nona Alaia Wijaya?.”


“Iya.”


“Ini untuk anda.”


“Dari siapa?.”


“Tidak tahu, saya hanya mengantarkan saja.”


Alaia menerima bunga tersebut, senyumnya mengambang, untuk pertama kalinya dia mendapatkan bunga di hari kelulusannya. Di sudut lain, seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan pakaian serba hitam dan topi yang menutupi kepala terlihat memperhatikan Alaia, laki-laki itu tersenyum tatkala Alaia tersenyum membawa buket bunga darinya.



Alaia mengusap air matanya, memeluk Agam erat, entah dia harus bereaksi apa, tapi Agam selalu mengejutkannya. Dari hal kecil hingga hal seperti ini, Alaia tidak pernah menyangka kalau Agam tumbuh di sisinya sejak lama.


“Apa kamu menderita mas?.”


“Apa?.”


“Ketimbang menderita, aku lebih nyaman karena bisa melindungimu dari jauh. Kadang aku takut terjadi sesuatu denganmu saat kamu berada di sisiku.”


“Kenapa? Aku bisa melindungi diriku sendiri.”


“Bukan seperti itu, aku yakin kamu bahkan bisa menangkap banyak penjahat, tapi hatimu, aku takut hatimu tersakiti karena kesalahan yang tidak aku pikirkan sebelumnya, kesalahan yang tidak aku sadari menyakitimu.”


“Mas... kamu selalu baik, kamu nggak pernah ada salah, kalaupun aku sakit hati, aku yang berlebihan dan terlalu mikir kemana-mana soal kamu.”


“Sayang... Aku bukan orang baik seperti yang kamu pikirkan.”


“Ya semua orang punya sisi jahatnya sendiri.”


“Jika aku berbuat kesalahan, apa kamu masih akan memaafkanku?.”


“Maksudnya gimana mas?.”

__ADS_1


“Jika.”


“Aku tidak tau, tapi hatiku akan tetap sama seperti dulu, selalu berdebar untukmu, mungkin pikiranku akan menolakmu saat kamu berbuat salah, tapi hatiku tidak akan pernah bisa membuangmu.”


Agam semakin membawa Alaia kedalam pelukannya, mata dinginnya memperhatikan depan dengan tatapan kosong. Setelah beberapa menit mereka akhirnya kembali pada keadaan semula karena makanan di atas meja sepertinya ingin segera dihabiskan sebelum terlalu dingin.


Hanya suara perpaduan alat makan yang terdengar, suasana kembali sunyi dalam beberapa saat hingga makan malam berakhir. Saat tengah membersihkan alat makan bersama di dapur, bel pintu depan berbunyi.


“Aku akan keluar.” Ucap Alaia sambil mengusap tangan nya yang basah dengan kain.


“Kamu disini saja, bisa aku yang keluar.” Cegah Agam menahan tangan Alaia agar tetap tinggal.


Agam berjalan menuju ke pintu utama dan melihat dari layar yang menghubungkan gerbang depan rumahnya. Kelvin ada disana bersama dengan tunangannya, di malam hari tanpa mengatakan apapun sebelumnya kalau dia berkunjung.


“Siapa mas?.” Tanya Alaia menghampiri Agam.


“Kelvin dan Selena.”


“Suruh masuk.”


“Biarkan saja.”


“Mas... kamu gila ya, tamu itu disuruh masuk dulu.” Alaia membuka pintu rumahnya kemudian berjalan menuju ke gerbang utama, Agam mengikuti istrinya dari belakang, dia yang tidak setuju tapi Agam tidak bisa memaksa Alaia mengikuti apa yang dia inginkan.


Agam menatap kearah Kelvin dingin sekaligus kesal, seakan mengerti pandangan Kelvin, Agam segera melihat kearah istrinya dan membalik tubuh istrinya untuk mengancingkan jaket yang Alaia pakai. Setelah itu mempersilahkan Kelvin dan Selena masuk kedalam.


“Maaf ya lama.” Ucap Alaia membantu Selena berjalan masuk, walaupun Selena sudah memakai tongkat yang membantunya mengetahui jalan.


“Nggak papa kok.”


“Oh iya, kita belum sempat berkenalan secara pribadi, aku Alaia, istri mas Agam.”


“Selena.”


“Kenapa kalian datang kesini?.” Pertanyaan dingin Agam mendapatkan pukulan kecil dari Alaia.


“Mengunjungi sepupu apa salahnya, lagipula saat pesta juga belum sempat berbincang.” Jawab Kelvin santai.

__ADS_1


Sampai di dalam rumah, mereka duduk di sofa kecuali Alaia yang menuju ke dapur untuk mengambilkan minuman serta beberapa makanan ringan. Untungnya Alaia berbelanja setelah pulang kerja, sehingga masih ada banyak stok makanan yang bisa dikeluarkan.



__ADS_2