
#POVAndre
Hari pertunangan pasti akan di tunggu-tunggu oleh setiap pasangan. Tapi bagiku, tidak. Senyum setiap orang menunjukkan kebahagiaan karena aku akan segera menikah, tapi aku hanya bisa menelan kepahitan bulat-bulat seorang diri. Siapa yang memahamiku? Tidak ada.
Aku mungkin hanyalah satu-satunya yang paling menderita. Menderita untuk kebahagiaan seseorang yang aku cintai. Aku paham, aku bodoh, buta dan tidak berperasaan. Kalian boleh mengumpatkan kata-kata terburuk kalian untukku.
Tapi kalian semua tidak tahu, bagaimana rasanya menjadi aku. Aku juga ingin menjadi normal. Aku ingin berhenti mencintai Sila. Tapi, semakin memaksakan, aku semakin tidak bisa mengontrol perasaanku. Aku benar-benar terjebak.
Saat Sila mengucapkan selamat padaku dan Vallen, aku bahkan hampir saja tidak bisa mengendalikan diriku. Aku seperti ingin mengakhiri sandiwara ini, tapi aku tidak ingin mempermalukan Vallen di depan semua tamu undangan yang sudah datang.
Aku mengambil fotoku dan Sila yang ku simpan di dalam laci. Aku lelah dalam situasi seperti ini. Aku benci pada diriku sendiri. Aku tidak sanggup menjadi budak cinta yang menderita seorang diri.
"Braakk!" Aku menonjok foto itu hingga kaca piguranya pecah dan menusuk tanganku. Rasa sakit yang ku rasakan bahkan tidak sebanding dengan rasa sakit hatiku. Foto itu terjatuh ke lantai dan di basahi oleh tetesan darah yang mengalir dari luka-luka yang terjadi akibat tusukan kaca itu.
Hampir seluruh foto itu tertutupi darah. Aku tidak merasakan sakit itu. Sakit yang kurasakan hanya seperti di gigit semut. Aku menunduk, memandang foto yang telah bertahun-tahun aku simpan bersama perasaanku. Sekarang foto itu sudah rusak, ternoda oleh darahku sendiri.
"Tok..tok..tok"
"Andre, ini aku, buka pintunya!" Vallen berteriak dari luar. Aku melangkahkan kakiku gontai dan membuka pintu. Vallen masuk. Aku segera mengunci kembali pintu kamarku.
"Da..darah? ini da.. darahmu?" Vallen panik melihat darah yang berceceran di lantai. Ia menghampiriku dan mendapati luka di tanganku. Aku hanya diam, membiarkan gadis itu melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Satu per satu pecahab kaca yang menancap di tanganku di cabutnya. Darahku semakin banyak yang keluar. Dengan sigap ia membersihkan darah itu dengan tissu yang ada di meja kamarku. Mengambil kotak P3K yang juga ada di sana. Membersihkan lukaku, memberikan alkohol dan menutup lukaku dengan kain kasa.
__ADS_1
Ia lalu ke kamar mandi, mencari kain pel. membereskan kaca yang berserakan, mengambil foto yang penuh darah, ia memandangnya cukup lama. ia menyadari itu fotoku dan Sila.
"Buang saja foto itu ke kotak sampah.." Perintahku. Tidak menunggu lama, Vallen sudah membuangnya. Ia mengepel semua darah yang tercecer dengan bersih.
Ia lalu mendatangiku yang masih duduk di pinggir ranjang. Vallen menatapku tanpa berkedip. Seperti sedang membaca Perasaanku.
"Aku tahu, kamu tidak cukup kuat melakukan sandiwara ini, Andre. Aku tahu hatimu saat ini terluka. Kamu bahkan sampai tidak bisa mengendalikan dirimu lagi." Dia berkata dengan sangat lembut.
"Aku boleh memelukmu?" Aku butuh sandaran sekarang. Bukan sebagai pasangan, tapi teman.
"Tentu. Anggap saja aku ini sahabatmu," Katanya lagi, masih dengan kelembutan. Aku memeluknya erat. Aku bahkan bertingkah seperti anak kecil yang menangis karena minta sesuatu pada ibunya. Aku menumpahkan kesedihanku, semuanya.
"Vallen, apakah aku bersalah jika aku masih mencintai orang yang bahkan sekarang telah menjadi istri adik kembarku? Apakah aku pantas di hukum sampai seperti ini? Apakah aku harus semenderita ini untuk melihat orang lain bahagia? Siapa yang perduli dengan perasaanku?"
"Aku selalu berusaha untuk melupakannya, membuangnya dari hidupku, tapi jiwaku selalu ingin membantunya, selalu ingin di dekatnya. Apa aku terlalu egois? aku lelah Vallen, aku ingin mengakhiri hidupku saja. Aku lelah menahan rasa sakit ini dan pura-pura kuat."
"Aku mencintainya, bahkan sekarang dia sudah tidak perduli padaku, mengabaikanku sepenuhnya. Untuk apalagi aku ada di dunia ini? Hanya untuk sakit hati? Hanya untuk pura-pura bahagia dan tersenyum palsu?"
"Andre, dengarkan aku..." Aku merasakan tangan Vallen gemetar, memberanikan diri mengelus rambutku. ini adalah pertama kalinya kami bersentuhan secara fisik lebih dari pegangan tangan.
"Kamu tidak bersalah. Semua yang kamu rasakan itu wajar. Seseorang yang mencintai dengan kesungguhan hati, tidak akan mudah melupakan perasaannya kepada seseorang walau sampai bertahun-tahun. Apalagi Sila menikah dengan Andra belum ada satu tahun kan?"
"Kamu jangan berputus asa, apalagi ingin mengakhiri hidupmu yang berharga. Lihat aku, meskipun aku baru bertemu denganmu, tapi aku memiliki perasaan yang tulus untukmu. Kamu fikir aku tidak sedih saat kamu mengacuhkan aku? Saat kamu meninggalkan aku sendiri di pesta tadi? Aku rela kamu memperlakukan aku seperti itu karena aku sayang kamu, Andre,"
__ADS_1
"Jika mungkin menurutmu semua ini adalah settingan, aku menganggap semua ini adalah keseriusan. Aku benar-benar mau menerimamu apa adanya. Meskipun kamu tidak mencintaiku dan tidak memperdulikanku, izinkan aku untuk mencintaimu, Ndre,"
"Kamu, Lelaki yang terlalu baik untuk terluka seperti ini, Andre. Kamu pantas untuk di cintai, kamu pantas bahagia. Kalau kamu rela terluka untuk Sila, aku juga rela terluka untuk kamu. Kalau kamu rela menderita untuk Sila, aku juga rela menderita untukmu, kamu tidak sendiri, ada aku,"
Kata-kata Vallen membuatku tersentuh. Dia adalah wanita pertama yang perduli pada perasaanku setelah Sila. Dia begitu sabar menghadapiku yang seperti ini.
"Vallen, aku akan terus menyusahkanmu jika kamu terus bersamaku,"
"Aku tidak perduli,"
"Aku hanya akan melukai perasaanmu,"
"Aku tidak perduli,"
"Kamu yakin tidak akan meninggalkanku suatu saat nanti jika aku masih seperti ini?" Aku menatap Vallen dalam-dalam. Gadis itu menggeleng.
"Aku yakin, kamu pasti akan membuka pintu hatimu untukku, Ndre" Katanya dengan begitu yakin.
"Kamu tidak takut kecewa?" Tanyaku lagi.
"Aku yakin, aku siap meskipun harus kecewa," Katanya pasti.
"Baik. Kita lanjutkan sandiwara ini sampai akhir. Jika pada akhirnya kamu atau aku yang menyerah, kita sepakat untuk tidak saling menuntut. Bagaimana?" Aku mengulurkan tanganku yang baru saja terluka karena pecahan kaca itu untuk bersalaman dengan Vallen. Gadis itu menjabat tanganku cukup erat, hingga darahpun kembali merembes dari lukaku. Kali ini rasa sakitnya terasa.
__ADS_1
"Maaf...maaf... biar aku bersihin lagi lukanya," Vallen kembali di sibukkan dengan acara merawat lukaku karena kesalahannya sendiri. Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkahnya yang sedikit lucu. Vallen, terimakasih. Sudah hadir dan membuat hidupku sedikit lebih berwarna.