Perfect Husband

Perfect Husband
75. Meet Affandi


__ADS_3

3 hari kemudian...


"Mas, aku mau temenin Anita buat ketemu sama Affandi. Kita kan satu sekolah mas, jadi sekalian reunian, boleh kan, mas?" Kataku saat Andra akan berangkat ke kantor. Hari ini aku sengaja di rumah untuk menemani Anita bertemu dengan Affandi. Sesuai dengan janjiku saat itu.


"Boleh, sayang. Tapi ingat ya, harus ada Bodyguard yang nemenin kamu. Aku nggak bisa biarin kamu pergi seorang diri atau hanya berdua dengan Anita. Nanti biar mas nyetir sendiri. Kamu di antar sama Pak Budi ya." celoteh Andra yang tampak sangat mengkhawatirkanku. Sejak kehadiran Cathrine, kehidupan kami jadi sedikit tidak nyaman.


"Iya, mas. Tapi mereka harus berada di mobil yang terpisah ya, aku nggak mau satu mobil dengan mereka, mas" Protesku. Aku memang merasa tidak nyaman jika di lindungi dengan begitu ketat. Apalagi harus satu mobil dengan mereka.


"Tentu sayang. Kamu boleh mengatur mereka sesukamu, yang penting, jangan pergi sendirian. Mas nggak akan mengizinkanmu," Katanya sambil memakai sepatu. Aku menanggapinya dengan senyuman manis. Ia memang selalu merasa takut sekarang, jika aku pergi seorang diri.


"Terimakasih, mas," Aku berhambur ke dalam pelukannya. Aku sangat bersyukur telah menemukannya sebagai suamiku.


"Iya, sayang. Mas berangkat dulu ya, kamu jangan lupa hati-hati. Terutama pada orang yang tidak di kenal," Pesannya. Aku mengangguk segera dan mencium tangannya.


"Siap mas. kamu juga hati-hati ya," Andra sebenarnya terlalu sibuk, sehingga lupa memikirkan keselamatannya sendiri.


Sepeninggal suamiku, aku segera merapikan tampilanku. Kami janjian di resto pinggir danau, tempat aku mempertemukan Vallen dan Andre waktu itu. Aku suka tempat makannya di alam terbuka, membuat selera makan pun menjadi bangkit.


"Tok..tok.." Ketukan pintu itu pasti Anita. Aku segera membuka pintu, ternyata benar. Adik iparku yang ada di luar sana.


"Kak, gimana penampilan aku? Udah sempurna belum sih. Aku deg-degan mau ketemu sama Affandi," Keluhnya membuat aku merasa geregetan


"Lebay deh, Affandi tidak akan sedetail itu orangnya. Dia soal penampilan nggak harus ini ono. Yang penting hatinya baik" Aku coba membocorkan rahasia Affandi.


"Waw, benarkah, kak? yass! Aku sangat senang. gimana? gini aja udah cantik kak?" Anita berputar-putar seperti model catwalk. aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang sedikit konyol itu. Saat kami sekolah dulu, memang Anita sempat naksir Affandi, cuma si Fandinya cuek dan akhirnya mereka cuma jadi teman sampai lulus.


"Udah cantik kok, Nit. Aku yakin nanti dia pasti akan terpesona dengan penampilanmu," Aku sedikit memberinya harapan, agar dia bahagia. Semoga kali ini Affandi bisa membuka hatinya untuk Anita.


"Kakak setuju kita pergi?" Anita menatapku penuh harap. Tentu saja dia izinkan, dengan syarat membawa beberapa tukang pukul untuk menjagaku.


"Tentu saja. Aku sudah memberinya sebuah rayuan maut yang tidak bisa di tolak," Kelakarku. Membuat senyum di bibir Anita merekah.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi, ayo berangkat," Anita begitu bersemangat.


Sesuai linstruksi Andra, aku dan Anita menaiki mobil yang di sopiri oleh Pak Budi dan di sampingnya di sertakan seorang pengawal. Lalu di belakang, kami di awal pasukan pengawal satu mobil jeep. Aku merasa saat ini hidupku seperti dalam film Action yang penuh Ancaman.


Aku juga tidak menyangka. Kakek masih menginginkan Andra untuk menjadi tambang emasnya. Dengan memanfaatkan ketampanan suamiku itu untuk meraih keuntungan dari putri-putri konglomerat di Amerika sana. Aku merasa isi otak dari orang tua itu hanyalah uang dan uang. Tanpa perduli kebahagiaan cucunya sendiri. Bahkan ia sama sekali tidak merasa bersalah, saat anak pertamaku dan Andra harus gugur karena ulah konyolnya. Aku benci kakek.


"Nyonya, salah satu penyelidik menemukan seseorang yang di curigai sedang mengintai nyonya. Ia menyamar sebagai warga biasa dan menyembunyikan senjata api di dalam bajunya." Lapor pengawal yang saat ini berada di mobil kami. Nyawaku benar-benar terancam saat ini.


"Pak, apa kita bisa lapor polisi sekarang?" Tanyaku cemas. Jantungku berdetak sangat cepat sekarang. Aku masih ingin hidup lebih lama dan menemani Andra sampai kami menua bersama.


"Kita belum cukup bukti, Nyonya. Biarkan tim kami menyelidikinya terlebih dahulu. Semua situasi akan kembali normal setelah kami dapat menangkap dalang dari permasalahan ini," Ujar si pengawal tegas. Aku ingin segera selesai masalah ini. Aku tidak ingin terlalu lama berada dalam situasi yang mencekam ini.

__ADS_1


"Nyonya, kita sudah sampai. Silahkan Anda turun dan biarkan saya mengawal Nyonya, ini perintah langsung dari tuan Andra," Aku hanya mengangguk. Dalam situasi seperti ini, tidak ada pilihan untuk mencari aman. Aku hanya perlu menurut saja dengan apa yang sudah Andra tetapkan. Ia pasti sudah tau apa yang terbaik untukku. Dia tentu dlsedikit banyak tahu, bagaimana trik sang kakek dalam melakukan kejahatan.


Aku dan Anita turun. Gadis itu tampak sangat ketakutan sampai tidak berani berbicara apapun. Wajahnya yang tadi ceria sekarang tampak sedikit pucat. Mungkin ia juga merasa terancam sama sepertiku.


"Kenapa kakak tidak bilang, kalau kakak dan kak Andra sedang di teror oleh orang jahat?" Bisik Anita, ia menggenggam tanganku erat. Aku merasakan tangannya gemetar karena takut.


"Orang jahat itu kakekmu sendiri. Yang dia incar hanya aku, tidak dengan Andra. Kakek tidak suka padaku yang jadi penghalang untuknya menguasai kakakmu dengan tindakan otoriternya. Aku mohon, jangan ceritakan masalah ini pada siapapun. Termasuk papa dan mama." Kataku setengah berbisik pada Anita. Ia paham dan mengangguk.


Kami terus berjalan masuk ke dalam resto dan menghampiri Affandi yang telah menunggu kami, masih dengan seragam dokternya. Aku dan Anita segera menemuinya. Sementara pengawal duduk tidak jauh dari tempat kami bertemu.


"Hallo, Fan," Sapaku. Dokter muda itu menyambut kami ramah.


"Hallo, Sila, Anita, duduk..." Perintah Affandi, mempersilahkan kami duduk di tempat yang telah di sediakan.


"Fan, apa kabar? Nggak nyangka ya, kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama," Anita berceloteh ceria. Ia sangat senang sekali dapat bertemu dengan cinta masalalunya.


"Baik, Nit. Kamu sendiri?" Affandi masih seperti biasa, sedikit jutek.


"Baik juga, Fan. Kaget loh, aku di kabarin sama kak Sila, kalau kamu udah jadi dokter," Anita menampilkan senyumnya yang sangat manis.


"Kejutan, ya? Tiba-tiba seorang Affandi jadi seorang dokter?" Affandi terkekeh. jangankan Anita, aku juga kaget waktu tahu pertama kali Affandi seorang dokter.


"Habisnya, mengingat masa SMA, kamu tidak cocok jadi dokter, " Aku meledek Affandi. Saat sekolah dulu, dia tidak suka sesuatu yang berhubungan dengan biologi. Sampai-sampai yang lain berebut masuk kelas IPA, dia yang di pilih malah lebih suka IPS. Saat bertemu, dia sudah jadi dokter.


"Awalnya aku memang tidak suka masuk jurusan kedokteran. Eh, pas ada beasiswa kuliah kilat kedokteran, aku lulus dengan nilai tertinggi. Jadilah dokter aku sekarang," Cerita Affandi, kami berdua hanya tersenyum bangga. Dia memang berbakat, hanya tak mau mengakuinya.


"Dulu? Tentu saja. Aku saat sekolah memang sudah memutuskan untuk tidak mengenal para siswi. Aku tidak ingin bermain cinta sebelum sukses," Kilah Affandi. Berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.


"Aku pikir kamu sudah punya pacar. Makanya kamu selalu menghindar saat aku mengajakmu pergi ke event-event sekolah bersama.


"Mana ada, sampai aku lulus, emang ada yang tahu pacarku siapa?" Affandi memandang kami berdua. Aku hanya mengangkat bahu dan meminum minuman yang sudah aku pesan.


"Sekarang kalian jadian aja, mumpung udah terlanjur ketemu kan?" Aku meledek mereka berdua. Keduanya hanya tersipu.


"Apalah kakak ini, butuh proses dulu lah," Anita menunduk, menyembunyikan pipinya yang memerah.


"Tunggu, kenapa sekarang Anita memanggilmu kakak?" Affandi baru menyadari kalau Anita berubah bahasa panggilan padaku.


"Fan, Sila ini bini kakak aku. Jelaslah aku panggil dia kakak sekarang," Kata Anita penuh penekanan.


"Jadi Andra itu kakak kamu?" Affandi mengoreksi informasi yang barusan ia dapatkan.


"Hu'um... Jadi kamu sudah pernah ketemu dia?" Anita tampak bersemangat. Ia tidak tahu kalau pertemuan Affandi dan juga Andra di awali dengan insiden yang tidak mengenakkan.

__ADS_1


"O-oh, i-iya, tentu. Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya," Affandi sedikit gugup. Ia tidak mungkin mengatakan pada Anita bahwa ia pernah memukul Andra beberapa kali.


"Oh ya? Di mana, Fan?" Anita tampak penasaran. Sedangkan Affandi sepertinya sedang menyesali jawabannya yang salah.


"Aku kan beberapa kali periksa kandungan di sana, tentu saja aku bersama kakakmu, kan?" Aku berusaha menengahi. semoga saja Anita tidak menyadari sandiwara kami.


"Nah, begitu ceritanya. Makanya aku udah beberapa kali melihat wajah kakakmu," Affandi menambahi. Sepertinya dia sama sekali tidak ingin Anita sampai tahu yang sebenarnya.


"Oh, jadi gitu ceritanya sampai kamu beberapa kali ketemu dia?" Syukurlah, Anita sepertinya percaya dengan karangan kami.


Kami lanjut membicarakan banyak hal bertiga. Dulu saat masih sekolah, kami tidak seakrab ini. Cuma aku masih ingat, beberapa kali aku memergoki Affandi menatapku. Aku ingin menanyakannya tapi tidak sampai hati.


Aku melihat sudut lain tanpa sengaja. Aku melihat Vallen ada di sana. Mungkin ini adalah kesempatan yang di berikan Tuhan untukku agar aku bisa meminta maaf padanya. Secara tidak langsung, aku sudah menyebabkan Vallen ke dalam jurang sakit hati yang sangat dalam.


"Ada Vallen di sana, biar aku datangi ya, kalian di sini saja," Kataku pada mereka.


"Vallen teman sekolah kita juga?" Affandi tampak heboh. Vallen dulu adalah musuh bebuyutannya.


"Iya, musuh bebuyutanmu itu sekarang juga akan jadi kakak iparku, kembaran dari suami Sila, namanya Andre," Anita menjelaskan dengan sangat.


"Judulnya, reuni sekolah dalam keluarga? Pusing tiba-tiba aku!" Affandi memijit kepalanya sendiri. Semuanya jadi terhubung dengan keluarga Wijaya. Bagaimana jadinya jika ia sampai setuju untuk menjadi pacar Anita?


Aku tidak memperdulikan mereka. Ini adalah momen yang harus aku manfaatkan untuk bicara dari hati ke hati pada Vallen. Aku tahu, saat ini dia juga butuh dukungan dari seseorang yang memahami masalah yang sedang ia alami saat ini.


"Vall, aku boleh gabung?" Tanyaku lembut, takut mengagetkannya. Ia yang tadinya termenung, menatapku dengan sedikit kaget. Lalu tersenyum.


"Sila... kamu juga ada di sini? Silahkan duduk..." Katanya memberiku ruang. Seharusnya, kalau ini terjadi pada wanita lain, tentunya Vallen akan marah padaku. Tapi dia beda, sikapnya yang begitu dewasa, sangat sempurna untuk menutupi luka yang sekarang ia rasakan.


"Vall... Aku minta maaf. Kejadian kemarin bukan ku lakukan dengan sengaja, aku hanya ingin menyelidiki hal yang sebenarnya tentang kebenaran perasaan Kakak padamu. Kalian tidak perlu menutupi semuanya dariku. Aku tahu, aku tetaplah penyebab kak Andre jadi seperti ini. Jika waktu dapat di putar, aku tidak akan membiarkan semuanya terjadi. Semuanya sudah terlanjur dan aku telah bahagia dengan keluarga yang aku miliki sekarang. Saat ini belum terlambat untukmu membatalkan pernikahan dengan Kakak. Kamu masih punya kesempatan untuk memilih, Vall..." Saranku. Vallen tampak sedang gundah. Ia seperti bingung untuk menentukan pilihan.


"Aku tidak akan mundur lagi, Sil. Aku akan berjuang untuk Andra. Aku sudah terlanjur jatuh hati padanya, entah sejak kapan. Padahal aku paham bahwa perasaannya sedikitpun tidak ada untukku. Di hatinya hanya ada kamu. Dalam pikirannya, dalam hidupnya hanya kamu yang selalu ada. Mungkin, suatu saat akan ada keajaiban. Perasaanku akan terbalas olehnya. Jika memang tidak, tentu saja aku akan dengan mudah keluar dari kehidupannya. Kami bahkan sepakat untuk tidak tidur dalam satu kamar meskipun telah menikah. Semuanya hanya seperti hubungan yang saling menguntungkan."


Ternyata sudah sematang itu rencana mereka. Diam-diam mereka hanya akan membangun pernikahan semu yang berhasil mengelabuhi seluruh anggota keluarga.


"Apa kamu tidak ingin memikirkannya lagi, Vall? Menikah tanpa di cintai tidak akan mudah. Aku takut kamu tidak bahagia," Aku menyarankan padanya untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan.


"Daripada itu, aku lebih takut Andre akan gila seorang diri memikirkan istri orang. Aku sedikitpun tidak takut akan menderita. Bahkan Andre pun tidak takut menderita dengan terus mencintaimu. Aku mencintainya dengan tulus. Aku menerima segala kelebihan dan kekurangannya. Meskipun dia tidak mencintaiku, paling tidak dia memperlakukanku dengan baik. Jangan merasa bersalah. Ini pilihanku sendiri, Sil." Vallen meyakinkanku. Aku melihat tidak ada airmata. Ia begitu kuat dan tangguh. Semoga saja Andre bisa menerimanya dengan tulus suatu hari nanti.


"Baiklah. Aku menghargai keputusanmu. Aku sangat berterimakasih kamu bisa menerimanya dengan baik. kamu bisa mencintainya dengan tulus dan menerimanya apa adanya,"


"Aku harap, selain urusan keluarga, kamu jangan menemui Andre lagi. Biarkan dia hidup dengan tenang tanpa bayanganmu. Aku tidak bermaksud apapun, hanya sekedar saran dariku saja." Kata Vallen dengan sangat hati-hati. Tapi aku paham maksudnya. Keberadaanku di dekat Andre hanya akan memperburuk keadaannya. Aku bahkan baru tahu kemarin tentang penyakit depresi parahnya.


"Ya, tentu saja. Aku tidak akan lagi ikut campur urusan kalian. Aku juga tidak ingin menjadi pengganggu, pada dasarnya tugasku hanya untuk comblangin kalian berdua." Kataku pelan. Aku masih merasa bersalah dengan kejadian kemarin. Aku juga harus lebih tahu diri sekarang bahwa apa yang terjadi di antara aku dan Andre itu adalah masalalu. Sekarang segalanya sudah berbeda dan tak akan pernah menjadi sama lagi.

__ADS_1


"Terimakasih, Sil. Aku berhutang banyak padamu. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Andre, semuanya karenamu. Doakan yang terbaik untuk kami berdua," Vallen memegang kedua telapak tanganku. Seharusnya dia marah, tapi lagi-lagi dia menunjukkan kalau sedang dalam keadaan baik-baik saja.


Aku memeluk sahabatku itu erat. Jika aku di posisinya mungkin aku tidak akan sekuat dia. Aku lega telah menemukan sosok yang tepat untuk Andre dan aku harap hatinya yang membatu itu segera mencair.


__ADS_2