
Dalam rangka syukuran peresmian panti, aku mengundang seluruh keluarga untuk makan malam di rumah. Hanya anggota keluarga saja yang aku undang. Mama dan papa, Anita, Bian, tentunya Andre.
Suasana makan bersama seperti ini sudqh lama sekali tidak terjadi. Semenjak semua tragedi dan juga pindahnya rumahku dan Andra, sejak itu kami tidak pernah makan dalam satu meja.
"Mama senang sekali, keputusan kamu untuk bikin panti, itu sangat bagus." Ujar mama di tengah obroln kami sambil menikmati makanan penutup.
"Daripada terbengkalai ma, belum lagi aku juga kan anak yatim piatu, aku tahu apa yang mereka rasakan. Mereka butuh tempat tinggal dan juga tempat belajar. Nanti aku akan daftarkan mereka ke sekolah setelah dokumen mereka lengkap ma,"Aku menanggapi perkataan mama. Sayang sekali rumah peninggalan itu, jika di biarkan begitu saja bisa rusak karena tidak terurus.
"Bagus, papa setuju dengan ide kamu, Sila. Papa siap ikut menjadi donatur tetap di panti kamu," Papa ikut menyahut.
"Aku juga. Aku daftar sebagai donatur tetap di panti kamu. Jika ada yang perlu di tambahkan, baik fasilitas atau tenaga pembina, aku juga siap membantu," Andre yang semula diam, ikut bicara.Aku sebenarnya masih kesal karena kejadian saat itu. Dimana Andre menciumku dengan sembarangan tanpa seizinku, tapi aku mencoba bersikap biasa. Kejadian itu pun, hanya aku yang tahu. Aku tidak memberitahu Andra, bukan karena aku ingin merahasiakannya, tapi aku tidak ingin hubungan mereka memburuk.
"Terimakasih, pa, kak Andre.Kalian sudah berpartisipasi dalam panti. Jadi merasa makin semangat aku," Aku berusaha bersikap sebaik mungkin. Biar saja, semua kekesalan dan emosi aku pendam.Mungkin, jika aku bersabar sedikit, Andre tidak akan mengulangi lagi perlakuannya yang seperti itu padaku.
"Kak, aku dan Anita juga sudah menggalang buku-buku bekas dari teman-teman kampus yang cocok untuk usia mereka, supaya mereka jadi bisa mempelajari hal baru," Bian turut berpartisipasi. beberapa hari lalu dia bicara padaku via telepon, berinisiatif untuk mengumpulkan buku bekas sebagai bahan bacaan penghuni panti.
"Terima kasih juga, Anita, Bian. Kalian juga berpartisipasi dalam kegiatanku. Oh, ya. Bian,Anita, selamat ya, atas kehadiran janin di pernikahan kalian, semoga sehat selamat sampai lahiran nanti," Aku tersenyum bahagia. Aku sangat senang saat Anita mengabarkan padaku kalau dirinya sedang hamil.
"Terima kasih, kak. Aku pasti akan banyak merepotkan, sebentar-sebentar menelepon kakak. Bagaimanapun juga kakak kan lebih senior," Ujar Anita, sambil memandangiku, di ikuti oleh Bian yang juga memandangiku.
"Jangan sungkang, aku terbuka kok. Selagi aku tidak sibuk mengurus Alana dan Alandra, pasti aku balas." Anita bilang, dia memang lebih nyaman curhat denganku, daripada dengan mama.Padahal, mama justru lebih senior daripada aku.
"Terima kasih. Kakak sahabat dan kakak yang baik banget bagiku.Ga bisa di cari kemanapun, kakak kan langka," Seisi ruangan tertawa.Mereka berpikir aku mungkin barang langka sejenis logam peninggalan jaman sejarah.
"Alana dan Alandra kapan punya adek?" Celetuk mama, semua yang hadir terdiam, aku dan Andra saling berpandangan, sesaat kemudian mereka tertawa.
__ADS_1
"Mama, Alana dan Alandra kan masih usia dua bulan, masa udah di tagih adik sih,"Aku tersenyum lebar.
"Kalau nanti anak Andra kembar lagi, gimana? bisa kurus Sila ngurus empat anak kecil sekaligus, ma" Celetuk Andra, membuat suasana makin meriah.
"Papa seneng dong, punya cucu banyak. Semakin rame,"Ujar papa sambil menghabiskan suap terakhir dessertnya.
"Papa seneng, Andra yang pusing," Andra tertawa.
"Kenapa pusing, Kak?" Anita kepo.
"Makin banyak uang susunya," Andra tertawa.
"Biar papa bantu nanti," Papa tersenyum sambil melirik jahil ke arah Andra.
"Kaka Andra, anak sepuluh juga sanggup beliin susu, gayanya aja dia sok miskin, biar ayah jadi donatur," Anita terkekeh.
"Nyonya besar, ada tamu. Seorang gadis di luar, katanya Nyonya yang mengundangnya kemari," Minah tergopoh-gopoh mengabarkan ada tamu yang datang.
"Siapa ma?" Bisikku pada mama yang ada di sebelahku.
"Seorang gadis, mama mau mengenalkannya pada kakakmu," Mama menjawab pertanyaanku dengan berbisik pula. Lalu, beliau bangkit dan menghampiri Minah.
"Baiklah,tolong ajak dia masuk ke sini, Minah." Mama berkata dengan lembut, lalu kwmbali bergabung bersama kami.
Tidak berapa lama, Minah datang kembali dan membawa seorang gadis cantik. Seusiaku, kulitnya putih, hidungnya mancung, bibirnya tipis. Rambutnya panjang tergerai dan sangat lurus.
__ADS_1
"Selamat siang tante, om, dan semuanya," Gadis itu sangat sopan. Kami semua menengok ke arahnnya. Mama bangkit dan memeluk gadis itu juga mencium pipinya sekilas.
"Amelia, apa kabar? Silahkan duduk di sini, Nak." Mama menyiapkan kursi kosong di samping Andre untuk duduk Amelia.
"Terimakasih, Tante. Kabarku baik tan," Amelia duduk dengan perlahan dan sangat anggun. Mama kembali ke tempat duduknya semula.
"Kamu masih jadi model?" Tanya mama lagi. Pantas saja penampilan dan tingkahnya sangat anggun, ternyata gadis pilihan mama ini seorang model.
"Masih, Tan. Dapat salam dari mama, beliau tidak bisa datang karena kesibukan kantor mendadak," Cara bicara Amelia sangat menyenangkan. Tampak sekali dia anak yang ramah.
"Tidak apa-apa. Mamamu itu memang orang sibuk. Setiap janjian, pasti batal atau ganti jam seenaknya. Tante sudah terbiasa,Kenalkan ini dua pasangan ini adik-adik Andre, dan di samping kamu, itu Andre. Anak tante yang duda." Celoteh mama. Mama tampak dengan bangga mengenalkan Andre sebagai seorang duda.
"Wah, ternyata kak Andre masih muda ya,Tan. Aku kira, karena dia duda, pasti umurnya sudah empat puluhan," Amelia tertawa lucu. Ia mungkin menyadari kebodohannya yang tiba-tiba menyangka Andra adalah duda seperti kebanyakan.
"Tentu, Andre memang masih muda. Seumuran dengan adiknya, mereka hanya beda beberapa menit,"Mendengar kalimat mama yang ini, Amelia tampak memandang seksama wajah Andra dan Andre.
"Mereka kembar, Tan? Luar biasa. Andre, salam kenal..." Amelia mengulurkan tangannya pada Andre. Lelaki itu menaruh ponselnya dan menjabat tangan Amelia .
"Sama-sama. Aku Andre," Respon Andre singkat. Aku tahu dia terpaksa. Ia orangnya selalu menghargai. Menjalani dulu, kalau memang tidak nyaman, mereka ingin berpisah dengan baik-baik.
Aku menilai respon Andre pada wanita itu.Terlihat normal, tapi pasti jika mereka di luar lokasi selain ruang makan ini, aku pastikan dia akan menggoda. Aku merasa Andre punya kepribadian ganda.
"Andre... Nama yang bagus. Semoga bisa jadi sahabat ya kak," Wanita itu memuji Andre dengan kata-kata yang manis. Aku melihat sorot ketulusannya pada kakak kembar suamiku itu.
"Semoga. Jangan sungkan padaku. Santai saja." Andre tersenyum ramah.
__ADS_1
"Ayo pindah ke ruang tamu. Nanti biar aku siapin makanan untuk kalian semua." Aku mengusir cantik semua penghuni ruang makan saat ini. Mereka lalu pindah ke ruang tamu dan aku membereskan tempat makan yang berantakan. Lalu mencuci semua yang kotor dengan bantuan Anita.