Perfect Husband

Perfect Husband
PH l 53


__ADS_3

Setelah mengobrol cukup lama dengan Irene membahas apa saja layaknya teman yang sudah lama tidak bertemu, Alex menawarkan diri untuk mengantar Irene ke kantor penerbit yang akan menerbitkan bukunya. Seperti janji mereka, besok keduanya akan bertemu lagi di tempat yang sama dengan membawa pasangan masing-masing jika pasangan mereka setuju. Sesudah mengantar Irene, Alex bergegas menemui Chris untuk membahas kepulangan mereka ke Indonesia dan juga tentang Hani yang masih tidak diketahui keberadaannya. Mereka akhirnya bertemu di salah satu kafe di pinggir jalan yang tepat berada di pusat kota.


"Apa Hani ada menghubungimu?" tanya Alex begitu sampai seraya menarik kursi di hadapan Chris lalu duduk di sana.


"Ya, dia menghubungiku sekali," jawab Chris sembari menyeruput minuman sodanya.


"Lalu dia bilang apa?" tanya Alex penasaran dengan binar mata bersemangat.


Chris memainkan sedotan plastiknya seraya mendesis pelan, "Aku tidak yakin, tapi dia terdengar aneh."


Kening Alex seketika berkerut, "Aneh apanya? Jangan menakutiku!" ketusnya mulai kesal karena sahabatnya itu terkesan bertele-tele.


"Dia sepertinya mabuk," desis Chris tidak yakin, "dia meracau jika dia membencimu," sambungnya.


Dengan cepat Alex memukur kepala Chris, "Kau gila? Bagaimana mungkin dia membenciku," serunya tidak setuju dengan ucapan sahabatnya itu.


Chris meringis kesakitan dengan kedua tangan mengusap puncak kepalanya, "Dia bilang dia lebih menyukaiku dari pada kau sekarang," cibirnya lagi yang spontan membuat Alex bangkit dari duduknya sehingga menarik perhatian pengunjung lain di kafe itu. Dia segera duduk setelah ditatap aneh oleh orang-orang.


"Kau jangan bercanda atau aku akan membunuhmu sekarang juga," ancam Alex menunjukkan kepalan tangannya yang sudah mengeras.


Tiba-tiba Chris tertawa lantang hingga gelak tawanya terdengar di sisi ruangan, "Kenapa kau sangat tegang? Aku hanya bercanda." Dia mengambil ponselnya lalu meletakkannya di depan Alex. "Hani mau kau datang ke lokasi ini jika kau sudah menyelesaikan masalahmu. DI lihat dari wajahmu yang berseri-seri itu, sepertinya semuanya baik-baik saja."


"Kau tahu ini pertama kalinya aku merasa sebebas ini. Aku tidak percaya jika semuanya akan seperti ini," seru Alex bersemangat. Tingkat semangatnya bertambah berkali-kali lipat karena Hani akhirnya mau menemuinya. Dia langsung bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Chris seorang diri.


"Apa dia tidak ingin mengajakku? Padahal Hani mau aku juga ikut," gumam Chris memerhatikan kepergian sahabatnya itu, "biarlah, biarkan mereka menghabiskan waktu berdua."


***


Tidak perlu waktu yang lama, Alex tiba di lokasi yang diberi Chris kepadanya itu. Kini dia berdiri di depan hotel yang berada di tepi sungai Seine. Sebenarnya itu cukup dekat dengan hotel tempatnya menginap namun karena satu dan lain alasan, Hani bahkan memilih memesan kamar hotelnya sendiri. Mungkin benar kata Chris jika Hani membencinya dan lebih menyukai Chris meski dia tidak bisa menerima dengan bagian terakhir.


Tidak tahu nomor berapa kamar Hani, Alex memilih mengirimi perempuan itu pesan karena jika dia meneleponnya, dia yakin Hani akan menolaknya.


**Alex** : Sayang, aku sudah sampai. Apa yang harus kulakukan?

__ADS_1


Kali ini dia tidak perlu kecewa karena pesannya hanya dibaca oleh Hani. Beberapa saat menunggu dia akhirnya menerima balasan dari Hani.


**Hani** : Datanglah ke kamar 221.


Dengan bersemangat, Alex melangkah cepat memasuki hotel itu seraya mencari kamar dengan nomor 221. Dia tidak sabar melihat Hani untuk memastikan calon istrinya itu baik-baik saja. Setelah mendapat kamar sesuai instruksi Hani, dia langsung menekan bel yang ada di samping pintu. Tidak lama pintu itu terbuka hingga Alex langsung masuk. Dia bisa melihat Hani yang sedang melangkah sembari meneguk bir kalenganyang ada di tangannya.


Alex segera melepaskan sepatunya lalu berjalan cepat ke arah Hani kemudian memeluknya erat dari belakang. Hani sempat menjerit kecil karena kaget namun dia akhirnya mematung setelah menyadari apa yang sedang terjadi.


"Maafkan aku, Sayang," lirih Alex seraya menempatkan dagunya di bagu kanan Hani, "aku sungguh bodoh karena mengabaikanmu saat itu," ucapnya mengaku salah.


Hani melepas pelukan Alex kemudian duduk di sofa lalu menyalakan televisi. Hani terlihat sangat datar dan tidak tertarik dengan permintaan maafnya.


"Apa kau sudah menyelesaikan semuanya?" tanya Hani tanpa menatap Alex yang masih berdiri kaku.


Alex mendekat pada Hani lalu ikut duduk di sofa yang sama dengan Hani, "Ya, aku sudah menyelesaikannya, Sayang. Kau tidak perlu khawatir lagi,"


"Apa kau yakin, Alex?" tanya Hani lagi. Dia menatap Alex lekat dengantatapan penuh curiga.


Alex tersenyum lebar, "Iya, Sayang."


"Tentu, Sayang. Itu alasannya aku ada di sini sekarang," senyum Alex.


Tanpa ada yang dikurangi atau pun ditambahi, Alex meneritakan semua yang dia alami dari awal mengenal Irene hingga akhrinya berpisah. Selama ia menceritakannya, Hani menyimak dengan sangat serius. Bahkan Hani sudah menampakkan raut wajah dari yang terlihat kesal karena cemburu hingga berkaca-kaca karena mengetahui apa yang dialami Irene, dia menjadi menyesal karena tidak bisa bersikap baik pada Irene di pertemuan pertama mereka. Puncak kesedihan Hani sangat mengetahui jika Alex sudah mengidap gangguan kecemasan yang membuatnya sering berpikir terlalu berlebihan dan strees hingga tidak bisa tenang di saat tertentu terutama di malam hari. Inilah alasannya tidak ingin Hani mengetahi penderitaannya karena itu hanya membuat Hani sedih namun lambat laun, Hani juga harus tahu akan kebenarannya.


Setelah menangis cukup lama bahkan Alex sudah kehabisan akal untuk menghentikan tangis Hani, akhirnya perempuan itu bisa tenang dengan wajah sayu dan mata merah. Dia bahkan menutup hidupnya dengan lipatan tisu. Melihat tingkah polos Hani membuat Alex semakin ingin melindungi perempuan itu hingga tidak ada lagi tetes air mata yang jatuh lagi dari manik mata penuh kehangatan itu.


"Nih, minum." Alex menyodorkan air putih pada Hani yang terus terisak di saat air matanya sudah berhenti mengalir dan meninggalkan bekas di wajah mulusnya.


Hani menarik tangan Alex untuk kembali duduk di sampingnya, "Lalu kenapa Ayahmu merestui kita padahal aku juga seperti Irene yang bukan dari keluarga sepertimu, Alex?"


Alex mengusap sisa air mata di wajah Hani lalu tersenyum manis, "Karena Ayah takut kecemasanku semakin parah dan akan berdampak buruk pada performa kerjaku bagi perusahaan, Ayah akhirnya membatalkan perjodohanku dengan Chelsa bersamaan perusaan keluarga Chelsa juga tidak berpengaruh lagi bagi perusahaan. Di pertemuan pertama kita kala itu, di situlah aku menemui Ayah Chelsa untuk membatalkan semuanya namun Chelsa tidak bisa menerima kebenaran itu."


"Lalu kenapa kau mabuk malam itu sampai membuat keributan di pertemuan pertama kita?" tanya Hani lagi.

__ADS_1


Alex tertawa kecil, "Saat itu aku pergi minum dengan Chris dan kami sama-sama mabuk. Dan anehnya restoran tempatmu makan malam itu tersambung dengan bar yang aku dan Chris kunjungi. Awalnya aku berniat pergi ke toilet karena mual tapi entah kenapa besoknya ku tersadar di kamar hotelmu," kekehnya mengingat kejadian lucu itu.


"Kau tahu kau itu sangat menyebalkan saat itu, Alex," dengus Hani kesal.


"Tapi jika hal itu tidak terjadi maka aku tidak akan bisa bertemu denganmu, Sayang. Itu artinya kita tidak akan menikah," simpul Alex.


Hani manggut-manggut lalu meminum air yang diberi Alex. Dia melamun sebentar membuat Alex gemass dengan tingkah lucu calon istrinya itu.


"Apa kau masih membenciku, Sayang?" tanya Alex menarik wajah Hani agar menatapnya,


Hani mengangguk, "Iya, aku masih membencimu," ketusnya.


"Tapi benci itu tanda cinta yang sangat dalam lho," goda Alex lalu menarik Hani ke dalam pelukannya.


Hani mendorong tubuh kekar Alex,"Ngawur! Tapi aku ada peraturan buatmu, Alex."


"Peraturan apa?" tanya Alex seolah tertarik.


"Kau tidak boleh memeluk perempuan lain selain aku," seru Hani.


Alex mendesis, "Apa itu termasuk ibuku dan mamamu?"


Hani mengangguk, "Ya, semuanya."


"Hm, ternyata calon istriku ini sangat posesif sampai pada mama mertuanya sendiri cemburu," ucap Alex seraya mencubit kedua pipi Hani gemas.


"Jika kau tidak setuju maka aku akan memeluk Chris setiap hari di hadapanmu," ancam Hani.


"Nggak boleh gitu dong, Sayang," balas Alex, "Apa ini karena aku memeluk...Irene?"


Hani menggeleng, "Aku sudah memaafkan untuk bagian Irene. Tapi ini peringatan buatmu!" tukasnya.


"Oke, siap, Sayang," kekeh Alex lalu kembali membawa Hani ke dalam pelukannya. Kali ini tidak ada perlawanan dari Hani hingga dia bisa merasakan jika untuk masalah kali ini semuanya sudah terselesaikan. Dia harap semuanya akan damai seperti ini, selamanya.

__ADS_1


***


[semoga kalian suka hehe]


__ADS_2