
Alex menatap ponselnya sesaat hingga ia akhirnya memutuskan mengirim pesan singkat pada Irene tentang kepulangannya ke Indonesia. Dia tidak ingin membuat perempuan itu mengalami kesulitan karenanya, cukup kali ini mereka berbaikan.
Alex : Kami akan berangkat pukul 1 siang, datanglah jika kau ada waktu
Urusan Irene datang atau tidak, Alex tidak peduli. Dia hanya tidak ingin mengecewakan perempuan itu lagi. Meskipun dia berada di sisi yang tidak diuntungkan oleh manapun, Alex mengabaikan semua kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
Sembari menarik kopernya dan milik Hani, Alex menatap Hani yang tengah bercanda dengan Chris. Entah apa yang mereka bahas, Alex tidak penasaran karena semua pikirannya hanya tersita oleh apa yang akan terjadi jika Hani dan Irene bertemu. Sungguh dia tidak bisa menebak apa yang terjadi nantinya.
Selama perjalanan menuju bandara, Alex hanya terdiam seraya menatap keluar jendela mobil, tidak sekalipun bergabung dengan pembicaraan Hani dan Chris yang sangat meriah membuat sopir yang mengantar mereka merasa risih terlihat dari raut wajahnya.
"Kenapa kau terus diam, Alex?" tanya Hani setelah Chris memberinya kode untuk menanyakan keadaan Alex yang mulai terlihat aneh sejak kemarin malam.
"Ah, tidak, Sayang. Aku hanya mengantuk," jawab Alex dengan senyum tipisnya. Dia mengusap wajahnya agar terlihat meyakinkan bahwa benar dia mengantuk. Karena terlalu polos, Hani hanya mengangguk kecil percaya dengan ucapan Alex lalu kembali mengganggu Chris.
Beberapa lama di dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di bandara. Alex melirik jam tangannya dan waktu masih pukul 11.00 dan itu artinya dia punya waktu dua jam untuk menunggu apakah Irene benar datang atau tidak. Saat jarum jam menunjuk pukul 12.00, Alex mendapat panggilan dari Irene. Tanpa lama pria itu menjawab telepon itu.
"Kami sudah sampai. Kalian ada di mana?" tanya Irene.
"Kami ada di restoran X, datanglah kemari," tukas Alex langsung memutuskan panggilan.
Tak lama menunggu, Irene menampakkan diri dengan pria jangkung yang mendorong kursi rodanya dari belakang. Pria itu terlihat sangat ramah dan saat itu juga Alex bersyukur setidaknya Irene menemukan pria baik untuknya.
Chris dan Hani tampak kaget melihat siapa yang datang mendekati mereka. Keduanya mematung seolah sedang memproses apa yang sedang terjadi. Alex yang menyadari kebingungan di sana akhirnya menjelaskan jika kedatangan Irene hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Hai," sapa Irene mendekat pada Hani yang masih menatapnya heran, "Irene," sambungnya lalu menjulurkan tangan kanannya.
Hani membalas uluran tangan itu ragu, "Ah- hai. Aku Hani," canggungnya. Melihat Irene membuatnya kembali mengingat saat Alex memeluknya erat dan setiap mengingatnya, Hani merasa nyeri di hatinya. Dia tidak bisa membohongi dirinya jika dia masih tidak bisa menerima kenyataan jika dia harus berhubungan dengan mantan kekasih calon suaminya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Irene lembut.
"Ah, aku baik-baik saja," balas Hani canggung.
__ADS_1
"Syukurlah," ucap Irene, "aku rasa kau dan Alex sangat cocok," pujinya tulus.
"Terima kasih," jawab Hani tersipu malu.
"Oh, ngomong-ngomong dia Louis, kekasihku." Irene menarik tangan pria dibelakangnya untuk berdiri di sebelahnya.
Alex mengulurkan tangannya, ingin berjabat tangan dengan Louis yang segera dibalas pria Prancis itu gagah, "Hei."
Alex langsung merangkul Louis dan membawanya menjauh dari Irene dan Hani dan mengajaknya mengobrol.
"Aku belum mengenalmu, tapi kuharap kau orang baik yang akan memperlakukannya dengan baik," ucap Alex pada Louis.
Louis menaikkan alisnya, "Kau tidak usah ragu. Aku akan menjaganya sekuat yang aku bisa," balasnya dengan senyum lebar.
"Jangan menyakitinya karena aku sudah terlalu banyak menyakitinya," pesan Alex menatap lurus.
"Tenang, aku tidak akan membuatnya bertemu dengan pria sepertimu lagi," kekeh Louis hingga mereka hanya bisa tertawa lantang seolah saling mengerti dengan pikiran masing-masing.
Di lain sisi, Irene dan Hani tampak akrab membahas tentang seberapa mereka jatuh cinta dengan Paris. Keduanya yang awalnya canggung kini mulai berbagi tawa.
Hani mengangguk, "Aku akan selalu bahagia selama bersamanya. Aku merasa beruntung kau meninggalkannya sebelumnya sehingga aku bertemu dengannya," candanya berusaha mengusir suasana yang kembali terasa canggung.
"Dia yang meninggalkanku dan kini rasanya aku bisa menerima alasan kenapa dia meninggalkanku, karena sekarang dia sudah memilikimu," kata Irene tersenyum manis. "Tapi aku menemukan pria yang lebih hebat dari Alex, bisa dibilang kita sama-sama diuntungkan," kekehnya akhirnya.
Alex dan Louis kembali bergabung dengan Hani dan Irene yang tampak masih asik mengobrol.
"Maaf mengganggu obrolan kalian, tapi kami harus pergi sekarang atau kami akan ketinggalan pesawat," ingat Alex membuat Hani seketika panik. Dia langsung membangunkan Chris yang entah sejak kapan tertidur dengan wajah menempel di meja restoran itu
"Rasanya sedih kita tidak bisa mengobrol lebih lama," seru Irene, "beritahu kami jika kalian akan datang ke sini lagi, akan kubuat pesta untuk menyambut kalian."
"Kami akan datang lagi. Pasti. Aku sudah jatuh cinta dengan kota ini," tukas Hani.
__ADS_1
"Oh," Irene teringat sesuatu lalu mengeluarkan satu buku dari tasnya lalu disodorkannya pada Alex, "Ini buku yang kutulis, kau harusnya bangga karena kaulah orang pertama yang memiliki buku ini sebelum dirilis, Alex."
"Wah, suatu kehormatan," kekeh Alex.
Setelah mengobrol dan mengucapkan selamat tinggal, mereka akhirnya berpisah dan kembali menjalani kehidupan masing-masing.
Dan kali ini kisah Alex dan Irene benar-benar berakhir. Sudah tidak ada lagi kata Alex dan Irene sebab mereka bukan lagi 'dan'.
***
Setelah perjalanan yang sangat melelahkan, mereka akhirnya sampai di Indonesia. Alex dan Chris terlihat lesu, namun Hani tampak kacau dan menyedihkan karena di pesawat perempuan itu menangis berkali-kali saat membaca buku yang diberikan Irene pada Alex. Saat ditanya kenapa dia menangis, Hani menjawab dia sedih tanpa mengatakan apa alasannya sedih.
"Kenapa kau terus menangis, Sayang? Memangnya buku ini tentang apa?" tanya Alex penasaran.
Hani menatap Alex datar, "Ini tentang kisahmu dan Irene. Dia jelas sangat mencintaimu dulu, apa dia benar-benar sudah melupakanmu, Alex?"
Alex langsung menarik Hani ke dalam pelukannya, "Tentu. Irene sudah melupakanku dan aku yakin itu. Jangan pernah berpikir seperti itu lagi, ya? Hm?"
Hani mengangguk pelan, "Maaf," gumamnya.
Tiba-tiba Chris menghampiri Alex dengan wajah ragu. Teleponnya masih menempel di telinganya namun wajahnya sudah menjelaskan jika sesuatu yang buruk baru saja terjadi.
"Ada apa?" tanya Alex melerai pelukannya dengan Hani.
"Ayahmu memintamu untuk menemuinya secepat mungkin dan dia mungkin tahu jika kau pergi ke Paris," jelas Chris.
"Lalu kenapa?" tanya Alex lagi dengan alis bertaut.
Chris mendesis pelan, "Chelsa baru masuk rumah sakit. Dia berusaha bunuh diri di hadapan Ayahmu."
***
__ADS_1
[maaf telat update beberapa hari guys karena aku ada urusan pribadi yang penting banget]
.