Perfect Husband

Perfect Husband
Chapter 40. Pasangan Serasi


__ADS_3

Cerita ini hanya fiksi, banyak adegan kekerasan. Bagi pembaca di bawah umur, harap bijak dalam memilih bahan bacaan. Terima Kasih



Acara keluarga besar diadakan seperti bulan-bulan biasanya, semua keluarga Cakrawala termasuk menantu, serta cucu menantu yang hadir dalam acara tersebut. Sudah kesekian tahun tapi Alaia masih gugup seperti sebelum-sebelumnya, dan Agam akan menjadi orang paling kuat menggenggam pergelangan tangannya sambil mengulas senyuman.


“Alaia... Lama nggak ketemu kamu.” Lana, kakak Agam langsung menghampiri Alaia dan Agam saat tiba di rumah utama keluarga Cakrawala.


“Iya kak, gimana kabar kak Lana?.”


“Baik, gimana kamu? Agam nggak nyusahin kan?.” Lana melirik kearah Agam seakan mengejek.


“Mas Agam selalu baik.” Alaia tersenyum “Gimana Kaluna?.”


“Sama seperti dulu, tapi sekarang juga Kaluna mulai mandiri walaupun masih kecil, rasanya aneh kalau melihatnya beranjak dewasa, baru kemarin ada dikandungan, sekarang dia sudah bisa melakukan apapun sendiri.”


Setelah bertemu Lana dan Suaminya, Alaia dan Agam bertemu dengan kedua orang tuanya yang selalu menganggap Alaia seperti anak sendiri. dan yang terakhir adalah anggota keluarga besar yang membuat Alaia selalu dipojokkan, namun sekarang berbeda karena dia juga melihat Selena duduk di sofa sebelah Kelvin, yang aneh adalah Kelvin yang selalu menggandeng tangan Selena dengan mesra.


“Ternyata bisa juga ya suka sama wanita buta.” Sindiran dari Cintya berhasil membuat Kelvin dan beberapa anggota keluarga lainnya melihat kearah Cintya, tidak ada yang salah dengan ucapan Cintya. Jika kalian lupa, Cintya itu adalah kakak dari Kanaisya, sama seperti Kanaisya, Cintya juga memiliki kepribadian kurang baik. Dia pernah menikah dan bercerai karena kasus perselingkuhan yang Cintya lakukan.


“Seharusnya kamu mengurus diri kamu sendiri, temukan pria yang mencintaimu ketimbang memanfaatkan tubuh dan hartamu saja.” Ucapan dari Satin, Ibunda Kelvin menjawab kalimat Cintya dengan sangat ketus.


Satin sendiri memang kecewa dengan menantunya yang buta, tapi setelah hadiah yang diberikan oleh ayahnya untuk Kelvin membuat Satin menerima itu dengan baik. Apalagi kehadiran Selena juga membantu banyak perusahaan Kelvin di beberapa bagian penting, setidaknya itu membuat Satin memaklumi kekurangan Selena.


“Kalian semua sudah dewasa, kenapa harus membahas yang tidak penting untuk dibahas.” Ayah Agam mulai menyela saat pria paruh baya itu datang bersama dengan tuan Cakrawala sang kepala keluarga.


Meja makan panjang itu sudah dipenuhi dengan seluruh anggota keluarga Cakrawala, kecuali beberapa cucu yang memang tidak hadir karena alasan tertentu, tak terkecuali juga Kanaisya yang tidak hadir karena masih ada pekerjaan di luar negeri.


Sebelum acara makan malam berlangsung, pandangan tuan Cakrawala tertuju pada Agam yang tengah tersenyum pada istrinya entah karena apa.


“Agam.” Panggilan itu membuat Alaia langsung menepuk paha Agam agar melihat kearah kakek.


“Iya?.”


“Kakek dengar, kamu mengundurkan diri dari tender.”


“Iya benar kek, saya pikir Cakrawala Group lebih pantas mendapatkan tender tersebut.”


“Apa alasanmu sebenarnya?.”


Semua melihat ke arah Agam.


“A Group tidak melebarkan sayapnya di bidang konstruksi, ada bagian lain yang akan menjadi prioritas dari A Group untuk jangka panjang.”


“Benarkah? Berarti itu rahasia perusahaan? Tentu saja kakek akan memakluminya.” Tuan Cakrawala hanya bisa tersenyum mendengar jawaban dari cucu laki-laki pertama di anggota keluarganya. Agam tidak sama dengan Nalendra, dia lebih mirip dengannya saat masih muda.

__ADS_1


Acara makan malam pun berlangsung dengan tenang tanpa perbincangan apapun, di akhir pertemuan. Selena memanggil Alaia yang akan masuk kedalam mobilnya bersama Agam.


“Bisa bicara sebentar?.” Dengan pandangan kedepan, Selena menghampiri Alaia bersama asistennya.


“Selena, tentu saja.”


Alaia menggandeng Selena sedikit menjauh dari keramaian, berada di taman yang ada di rumah keluarga Cakrawala. Mereka duduk di salah satu bangku kosong disana “Apa yang ingin kamu bicarakan?.”


“Maaf mengambil waktumu.”


“Tidak, tidak apa-apa lagipula kita tidak sempat berbincang sebelumnya.”


“Apakah kita bisa bertemu kembali besok? Ada yang ingin aku bicarakan.”


“Kenapa tidak mengatakan sekarang? Aku harus bekerja besok, mungkin aku bisa bertemu setelah pulang kerja.”


“Tidak masalah, kapanpun kamu bisa.”


“Tentu saja, aku akan menghubungi asistenmu setelah aku pulang kerja. Apa ada hal lain yang ingin kamu katakan.”


Selena menggenggam tangan Alaia “Jangan percaya pada siapapun termasuk denganku.”


“Ha? Maksudnya?.”


Setelah perbincangan itu, mereka berpisah dengan Alaia yang bingung dengan kalimat terakhir yang Selena katakan.


“Ada masalah? Apa yang dikatakan Selena padamu?.” Alaia berada di mobil bersama dengan Agam dalam perjalanan pulang kerumah mereka, Alaia nampak memikirkan sesuatu sambil melihat kearah luar mobil setelah berbincang dengan Selena.


“Tidak ada, Selena mengajakku bertemu besok, aku akan datang setelah pulang kerja.”


“Sejak kapan kamu sangat dekat dengannya.”


“Tidak tau, aku rasa aku cocok dengannya, apalagi kami sama-sama menantu di keluarga Cakrawala.”


“Sayang... Selena berbeda, ada banyak hal yang akan membuatmu terkejut tentangnya. Aku akan mengantarmu besok.”


“Tidak perlu, aku bisa menggunakan mobilku sendiri besok, lagipula bukannya besok kamu harus mengerjakan beberapa hal penting.”


“Aku bisa menundanya.”


“Mas, aku bisa sendiri, kamu tenang aja.”


Agam tersenyum sambil menganggukkan kepala setelah mendengar ucapan Alaia, walaupun Agam khawatir, tapi dia cukup percaya kalau Alaia bisa melindungi dirinya sendiri jika hanya bertemu Selena.


__ADS_1


Flashback


Kelvin mendekatkan tubuhnya ke arah Selena yang menatapnya dengan tatapan tajam karena tidak suka dengan sikap pria itu.


“Aku mau kamu membuat janji temu dengan Alaia.”


“Kenapa? Kenapa aku harus bertemu dengan Alaia berdua?.” Selena menjawab ucapan Kelvin dengan jawaban yang sama sekali tidak bersahabat.


“Bukan kamu yang bertemu dengan Alaia, tapi aku.”


“Tidak.”


“Kalau begitu, bukannya lebih mudah aku membuat Agam mendekam di penjara.”


“Baiklah, tapi apa yang akan kamu lakukan?.”


“Apa yang aku lakukan itu bukan urusanmu. Bawa Alaia dalam keadaan tidak sadar.”


“GILA, aku tidak akan melakukannya.”


“Kalau begitu-.”


“Baiklah aku akan melakukannya tapi jangan apa-apakan Alaia atau aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku.”


“Aku tidak membutuhkan maafmu, siapa pula yang peduli jika penipu sepertimu membenciku. Bersikaplah baik saat berada di pertemuan keluarga, sebagai istriku, jangan mengatakan apapun yang seharusnya tidak dikatakan.”


Kelvin meninggalkan Selena disana dengan santai.


Flashback off


Selena menghampiri Kelvin di dalam mobil yang sama.


“Kamu sudah mengatakan padanya?.”


Selena hanya mengangguk menjawab ucapan suami yang tidak bisa Selena sebut sebagai seorang suami sungguhan.


“Apa yang akan kamu lakukan pada Alaia?.”


“Bukan urusanmu, dan juga kamu tidak mengatakan kalau aku yang akan bertemu dengannya bukan?.”


“Kamu bisa bertanya sendiri pada kaki tanganmu yang mengikutiku.”


“Hahaha kamu benar-benar bisa melihat.”


Selena melihat kearah depan, mengabaikan ucapan Kelvin yang terus membuatnya sangat tidak nyaman. Kelvin melihat kearah penampilan Selena, kalau dilihat lebih dekat, Selena memiliki tubuh yang proporsional, dengan ukuran yang seluruhnya pas. Kelvin berdehem dan kembali fokus pada pekerjaannya yang ada di tablet.

__ADS_1


__ADS_2