
Vallen menghembuskan napas terakhirnya setelah berbicara padaku. Dia mengembalikan Andre untuk ku jaga dan mencarikan pengganti dirinya. Tapi aku tshu, itu tidak mudah. Andre bukan tipe lelaki yang mudah untuk jatuh cinta.
Aku hanya visa menepuk-nepuk pelan pundaknya sebagai bentuk dukungan untuknya. Aku harap, frustasinya kehilangan Vallen tidak seperti saat kehilangan aku.
Tentang Vallen, aku tidah menyangka, akhirnya dia harus pergi secrpat ini. Padahal aku sudah bahagia, dia sudah berhasil membuat Andre jatuh cinta dan melupakan Aku.
Aku segera menelepon Mama untuk mengabarkan berita duka ini padanya. Mama memang ada di rumah, menjaga si kembar.
"Mah, Vallen meninggal, jadi mungkin aku harus ke rumahnya, kak Andre juga butuh bantuan dari kami, ASI si kembar ada di kulkas, jangan lupa di hangatkan dulu , Mah." Pesanku pada mama. dan beliau bilang mengerti. Mama juga sangat berduka dan histeris atas meninggalnya Vallen.
Kami membawa jenazah Vallen ke rumahnya. Di dalam mobil jenazah kami bertiga, aku, Andre dan Andra yang mendampingi. Sepanjang perjalanan, Andre hanya diam. Matanya memerah, dia sangat terpukul atas kematian istrinya. Pernikahan mereka memang terbilang singkat, wajar saja kalau Andre patah hati sedalam itu.
Aku sendiri merasa sangat kehilangan, Vallen sahabatku yang baik, dia bahkan tidak pernah berprasangka buruk pada siapapun. Saat perawatan Andre ketika itu saja, dia percaya sepenuhnya padaku. Ketulusannya bahkan mampu meluluhkan kebekuan di hati Andre, tapi sekarang dia telah pergi, aku tidak tahu, harus menitipkan Andre pada siapa. Vallen yang aku percaya, sekarang, dia sudah pergi untuk selamanya.
Sesampainya di rumah, sesegera mungkin kami bersama para tetangga yang melayat mengurus jenazah Vallen dan di kuburkan pada hati itu juga. Aku tentu saja ikut menyaksikan kepulangan Vallen ke tempat periatirahatan terakhirnya.
Andre terduduk lesu di dekat gundukan tanah merah yang telah di taburi bunga. Di pandangnya nisan yang bertuliskan nama istrinya dengan airmata yang berlinang. Andra berinisiatif merangkul kakaknya. Ia juga ingin meringankan beban yang saat ini sedang Andre rasakan.
__ADS_1
" Selamat jalan, Sayang. Semoga kamu ditempatkan di surga. Aku masih sangat mencintaimu. Terima kasih, sudah memberikan seluruh kasih sayang mu untuk aku. Maafkan Aku, jika selama ini aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Aku belum bisa memberikan seluruh perhatian untuk kamu. Aku tidak akan pernah lupa, semua hal pernah kita lalui bersama. Sampai yang terkecil sekalipun. Terima kasih sudah berhasil mengisi kekosongan hatiku selama ini. Maafkan aku, jika selama ini aku tidak ada waktu untukmu, aku selalu sibuk dengan pekerjaanku. Terima kasih untuk segalanya, selamat jalan istriku tersayang," Andre bangkit dari tempat duduknya, mengikuti langkah pelayat yang lain meninggalkan makam Vallen. Sekali lagi ia menoleh untuk menatap nisan istrinya sambil menyeka airmata, kemudian ia memantapkan langkah untuk meninggalkannya.
Selamat jalan Vallen. Terima kasih atas segala kebaikanmu selama ini. Maafkan aku, jika selama ini aku belum menjadi sahabat terbaik. Semoga kamu tenang dan bahagia disana.
kami semua ya kembali ke rumah Andre untuk beberes semua peralatan yang telah di pergunakan untuk keperluan pemakaman jenazah Vallen. Aku melihat Andre berjalan menuju kamarnya.
"Mas, lihat kakak." Aku memberitahu Andra tentang Andre yang berjalan ke atas. Mungkin ke kamar mereka.
"Ayo kita buntuti kakak. Dia mau apa," Andra menggandeng tanganku dan mengikuti langkah Andre. Kami melihat Andre masuk ke dalam kamarnya. Ia memeluk boneka beruang berwarna coklat. Mungkin itu boneka Vallen. Sedih rasanya melihat dia seperti ini. Dia tampak berusaha tegar. Di taruhnya boneka itu di tempat tidurnya, memandangi foto pernikahannya dengan Vallen, lalu memasukkannya ke dalam laci. Ia tampak ingin melupakan segalanya.
Aku tidak tahu apa tujuan Andre melakukan semuanya, tapi mungkin, ia hanya ingin melupakan semua tentang Vallen yang pernah ia lalui bersama. Andra memberiku isyarat untuk pergi meninggalkan kamar Andre. Aku menurut. Kami pelan-pelan turun dan meninggalkan Andre di dalam sana seorang diri.
"Aku yakin, kali ini kakak kuat. Dia sudah sembuh kan dari depresinya. Kita kasih kakak ruang untuk menenangkan diri. Baru setelah itu kita rencanakan apa yang akan kita lakukan selanjutnya," Andra meyakinkanku kalau Andre baik-baik saja. Memang seperti yang terlihat, dia tampak sangat baik dan tidak dalam keadaan yang kacau saat ini.
"Betul, mas. Kakak tampak baik-baik saja. Kalau begitu aku mau pulang dulu, kangen sama anak-anak. Mas mau tetap di sini atau ikut pulang?" Tanyaku pada suamiku itu.
"Mas di sini dulu. Nanti suruh mama ke sini juga ya, sayang. Kakak sangat butuh dukungan dari mama. Aku sedikit tidak tega melihatnya." Sebagai seorang adik kembar, tentu saja Andra tidak akan tega membiarkan kakak kembarnya sedih seperti itu.
__ADS_1
"Tentu mas. Aku pulang dulu, ya. Biar aku pulang bareng sama Pak Budi." Aku melangkah meninggalkan Andra di rumah Andre. Rasanya aku kangen sekali pada Alana dan Alandra. Ingin rasanya segera menemui mereka. Lagipula dadaku terasa sesak ingin segera memberi ASI buat mereka berdua.
Sepanjang perjalanan, aku masih terbayang Vallen. Sahabatku yang cantik dan baik yang telah tiada itu. Aku teringat semua curhatnya saat berusaha meluluhkan hati Andra sampai akhirnya berhasil.
Dia sekarang pergi mungkin dalam keadaan yang tenang, karena dia sudah berhasil menjatuhkan hati Andre dalam pelukannya. Ia juga sudah bahagia karena telah mencurahkan semua kasih dan sayangnya pada lelaki yang ia cintai.
Semoga suatu hari, Andre dapat menemukan seseorang yang bisa mencintainya setulus Vallen atau aku sendiri yang akan mencari pasangan untuknya. Andre, kuatkan hatimu.
Sesampainya di rumah..
"Alana sama Alandra nggak rewel kan, Ma?" Aku langsung menemui mama yang masih menunggu Alana dan Alandra tidur di boksnya.
"Nggak, mereka anteng kok. Bagaimana keadaan Andre? pasti kakakmu itu sangat sedih, ya?" Mama tampak sangat mengkhawatirkan keadaan Andre.
"Syukurlah kalau Si Kembar nggak rewel. Kak Andra stabil kok ma, ekspresi sedihnya masih dalam keadaan wajar. Tapi mama harus ke sana sekarang. Ayahnya si Kembar juga masih di sana, kakak perlu dukungan dari mama. Papa soalnya sedang keluar kota ma," Aku menyarankan mama untuk segera ke rumah Andre.
"Baiklah, mama akan ke rumah Andre. Kamu bisa kan jaga Si Kembar sendirian? Nanti biar mama suruh Andra cepat pulang untuk menemani kalian," Mama segera bersiap pergi ke rumah Andre. Semoga kehadiran mama membuat Andre merasa jauh lebih baik.
__ADS_1