
*"Apa kau gila, Han? Bagaimana bisa kau ambil cuti lagi setelah liburanmu terakhir kali? Apa kau tidak takut dipecat? Belum lagi kau akan mengambil cuti menikah sebulan lagi*," omel Aldo dari teleponnya. Dia sudah tidak mengerti dengan jalan pikiran Hani yang terlihat sudah sangat bucin terhadap Alex—calon suaminya itu. Kalau dipikir-pikir itu mungkin efek gadis itu tidak pernah berpengalaman dalam hal cinta.
Hani menggosok daun telinganya yang terasa panas karena dia sudah mendengar omelan dari Aldo—sahabatnya itu sejak 10 menit yang lalu dan pria itu bahkan tidak memberinya kesempatan untuk membela diri. Aldo hanya mengoceh sejak tadi dan terus mengulang hal yang sama berulang kali.
"Apa kau tidak sibuk? Aku baru tahu kau punya waktu luang untuk memarahiku," keluh Hani seraya melirik Chris yang duduk di sebelahnya. Chris terlihat tidak terusik dengan keributan yang dibuat Aldo.
"Dengar. Jika dokter Federika menanyaiku tentang dirimu, aku akan mengatakan yang sebenarnya kalau kau pergi berlibur ke Paris bersama pacarmu itu!" Ancam Aldo geram.
Hani mendesis pelan, "Jika kau berani mengatakan itu, aku akan membunuhnya begitu aku pulang. Ingat itu!" ketusnya lalu memutuskan sambungan secara sepihak.
Chris memerhatikan Hani yang terlihat kesal sembari menggerutu tidak jelas, namun yang pasti perempuan itu sedang memaki saat ini.
"Ada apa?" tanya Chris sembari fokus pada kemudinya.
Hani menggeleng, "Bukan hal yang penting."
"Lalu kenapa kau terlihat sekesal itu? Bahkan dahimu berkerut dengan sangat jelas," tukas Chris.
Hani tidak menjawab, ia hanya menggumam kecil dengan mata yang menatap ke luar kaca mobil.
"Apa yang membuatmu secinta ini pada Alex?" tanya Chris dengan wajah penasaran.
Hani menatap Chris curiga, "Kenapa kau harus tahu? Apa kau menyukaiku?"
"Bisa jadi," kekeh Chris dengan tatapan menggodanya.
"Jangan membuatku takut Chris." Hani melihst Chris ragu.
Chris hanya tertawa lantang dan mereka kembali bergelut dengan pikiran masing-masing lagi.
***
Alex menatap pantulan dirinya di cermin besar di kamar hotelnya. Setelah puas dengan penampilannya, ia bergegas mengambil jaket kulitnya beserta kunci mobil dan langsung meninggalkan kamar hotelnya. Dia belum bisa menemukan keberadaan Chelsa karena dia harus menunggu Chris tiba di Paris dulu. Itu artinya dia punya waktu luang sebelum Chris sampai. Tidak ingin membuang-buang waktu, Alex memutuskan untuk pergi menemui Irene, mantan kekasihnya itu.
Setelah berkendara selama 20 menit, Alex akhirnya tiba di toko bunga yang tidak lain adalah toko sekaligus rumah Irene dan ibunya. Ia sengaja memarkirkan mobilnya di dekat toko itu untuk memastikan apakah Irene masih tinggal di sana. Menunggu cukup lama, mata Irene bisa menangkap sosok orang yang amat dia kenal dulunya, itu adalah ibunya Irene. Tidak bisa menunggu lebih lama, Alex memilih untuk memberanikan diri menemui wanita tua yang masih terlihat sehat, sama seperti 3 tahun yang lalu.
Meski pun jantung Alex berdetak tidak karuan saat ini, dia harus menghadapinya. Dia tidak ingin dihantui rasa bersalah dan bermimpi buruk lagi. Sudah cukup dia hampir gila karena itu semua. Dia ingin bebas secepat mungkin.
"Hallo, Tante. Lama tidak bertemu," sapa Alex dengan senyum tulus pada wanita yang sedang membelakanginya itu.
Wanita itu menoleh lalu beberapa detik kemudian matanya spontan membulat bahkan buket bunga yang ada di tangannya terjatuh di atas trotoar. "A-Alex?" cicitnya ragu.
Alex mengangguk kecil lalu tersenyum, "Iya, Tan. Ini Alex."
__ADS_1
***
Alex kini duduk di sofa kecil di dalam toko bunga milik ibu Irene sembari menunggu ibu mengambil minuman ke dapur. Dia menatap sekeliling toko itu sembari mengulum senyum hambar. Melihat semua itu membuatnya teringat kenangan kala dia sering membeli bunga di toko itu padahal bunga itu nantinya diberi pada putri pemilik toko bunga itu sendiri. Mengingat itu membuat Alex terkekeh kecil.
"Ini minumannya, Alex." Ibu Irene meletakkan secangkir teh jasmin di atas meja kecil di hadapan Alex, "seingatku kau suka minuman ini."
"Kenapa kau kemari, Alex? Apa kau ada perjalanan bisnis kemari?" tanya ibu ramah, masih sama seperti dahulu.
Alex tersenyum kecil, "Kenapa tante masih baik kepadaku setelah apa yang kulakukan kepada Irene? Aku merasa aku tidak layak diperlukan seperti ini."
"Jangan seperti ini Alex. Aku tidak pernah menyalahkanmu akan apa yang terjadi. Bahkan Irene sudah memaafkanmu sejak lama. Kurasa dia akan sangat senang jika kau menemuinya," balas ibu lembut.
"Apa aku layak menemuinya, Tan? Aku merusak hidupnya." Alex tertunduk, tidak sanggup menatap wajah ramah ibu Irene.
"Kau tahu, sebenarnya dia merindukanmu juga. Dia berharap kau menemuinya, tapi ternyata selama 3 tahun ini kau tidak sekali pun menengoknya."
Alex menatap Ibu tidak percaya, "Irene merindukanku? Kupikir dia membenciku."
"Dia baik-baik saja Alex. Sayang sekali saat ini dia tidak di rumah sekarang. Datanglah besok, aku akan mengatakan padanya untuk menunggumu besok."
"Karena kejadian itu, Irene berhenti bekerja. Lalu apa yang dia lakukan sekarang, Tan?" tanya Alex.
Ibu mengulum senyum manis, "Kau tanyakan saja langsung padanya besok. Aku rasa lebih baik kau mengetahuinya dari dia sendiri."
"Apa kau sudah menikah Alex?" tanya Ibu akhirnya.
Alex terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Belum, Tan. Tapi aku akan menikah bulan depan. Aku ingin tante dan Irene datang, tapi aku terlalu malu untuk mengundang kalian. Aku merasa diriku tidak tahu diri bisa menikah setelah apa yang terjadi."
"Wah, aku senang mendengarnya. Memang usiamu sudah pantas untuk menikah. Selamat Alex," ucap ibu lembut.
"Seharusnya aku tetap menikah dengan Irene apa pun yang terjadi," kata Alex penuh rasa bersalah.
Ibu menggeleng cepat, "Memang dasarnya kalian tidak berjodoh Alex. Irene sudah bahagia sekarang, dia juga berencana menikah tahun depan."
Alex menatap ibu kaget, mulutnya menganga namun langsung berganti jadi senyum lega, "Syukurlah. Aku senang mendengarnya."
***
Setelah mengobrol cukup lama dengan ibu Irene, Alex pamit pergi ke bandara untuk menjemput Chris yang baru saja sampai. Alex bergegas pergi dan sampai satu jam kemudian.
Kata Chris, dia sedang menunggu di kafe di dalam bandara dan meminta Alex menemuinya di sana. Tidak perlu lama, Alex sampai di kafe yang di maksud. Dia langsung melihat sosok Chris duduk membelakangi di salah satu meja. Namun anehnya dia melihat sosok wanita bersama sahabatnya itu. Dia tidak yakin siapa itu karena wajahnya tidak terlihat jelas.
Bisa-bisanya dia menggoda perempuan di saat seperti ini, cibir Alex dalam hati.
__ADS_1
Ia langsung menghampiri sahabatnya itu lalu menepuk bahu lebar Chris, "Hai Bro. Langsung kenalan sama wanita bar—" ucapan Alex terhenti saat melihat perempuan yang ada di hadapan Chris.
"Hani?! Apa yang kau lakukan di sini?" histeris Alex berlebihan.
Hani cengengesan melihat ekspresi Alex, "Kau bilang aku boleh datang, makanya aku datang," jawabnya dengan wajah tanpa dosa.
Alex langsung menatap tajam Chris.
"Dia yang memaksaku untuk ikut bersamaku," kata Chris cepat begitu melihat tatapan membunuh dari Chris.
Alex tertawa palsu lalu meremas bahu Chris kuat hingga sahabatnya meringis kesakitan, "Kenapa kau tidak memberitahuku?" gumamnya pelan, agar Hani tidak mendengarnya.
"Ayo kita pergi, aku lapar," tukas Hani polos.
Alex langsung mengangguk, "Tentu, Sayang. Sini," ia langsung menarik tangan Hani lalu menggenggamnya. Mereka berjalan beriringan, meninggalkan Chris yang kesusahan menarik koper milik Hani.
"Padahal ini salah Hani tapi kenapa aku yang jadi korban?" gerutu Chris, "dasar, bucin!" sindirnya sembari memerharikan dua orang yang bermesraan di depannya.
***
Sebelum pergi makan, mereka bertiga kembali ke hotel untuk menaruh barang terlebih dahulu. Chris sedang memesan kamar tambahan sedangkan Alex dan Hani terus mengobrol santai.
"Ayo," ajak Chris begitu mendapat room card kamarnya.
Alis Hani spontan bertaut, "Milikku mana?" tanyanya seraya menyodorkan tangannya.
"Kau tidur dengan Alex," ketus Chris. Dia masih kesal perihal yang tadi. Namun rasanya sulit bersifat ketus pada perempuan secantik Hani. Jika Hani bukan calon istri sahabatnya, mungkim Chris sudah menariknya ke kamar sekarang. Mesum? Memang, semua orang tahu kecuali Hani jika Chris dan Alex adalah orang yang sangat mesum.
"Nggak boleh begitu!" protes Hani, "Kenapa aku harus sekamar dengan Alex?"
"Tenanglah, Sayang. Aku tidak akan melakukan apa pun. Meski pun aku mesum, aku akan menahannya hingga kita menikah," kata Alex meyakinkan Hani.
Hani menatap Alex curiga, "Apa kau yakin?"
"Iya, Sayang. Jika kau tidak nyaman, aku akan tidur di sofa, kau saja di ranjang. Kenapa aku, karena aku merindukanmu, Sayang."
"Jangan menggodaku, Alex!" ketus Hani. "Kalau sampai terjadi sesuatu, aku akan membatalkan pernikahan kita," ancamnya lalu melangkah pergi meninggalkan Chris dan Alex.
"Sudah kubilang, kau tidak bisa menaklukkan Hani seperti wanita yang berlomba-lomba ingin tidur denganmu itu. Kau tidak berdaya di hadapannya," sindir Chris.
"Kenapa kau seolah lebih mengenalnya daripada aku mengenalnya," ucap Alex, "tapi aku lebih baik punya seseorang yang akan menemaniku, bukan seperti kau yang selalu sendiri," ejeknya.
"Sialan!" maki Chris lalu mereka berdua tertawa lepas.
__ADS_1
***