
Irene menggerakkan kursi rodanya perlahan ke arah Alex. Senyumnya tidak sedetik pun pudar sejak melihat Alex. Dia sangat merindukan pria itu dan hari ini dia bisa melihatnya secara langsung. Saat dia sudah berada tepat di depan tubuh kekar Alex, Irene memegang tangan pria itu lembut.
"Apa kau tidak ingin memelukku? Padahal aku sangat merindukanmu Alex namun karena keadaanku, aku tidak bisa memelukmu lebih dulu," gumam Irene sembari mengadah menatap pria itu lekat.
Tidak ada respon dari Alex. Pria itu terus mematung tanpa sekali pun mengucapkan satu katapun. Itu membuat Irene merasa sedih dan perlahan senyumnya memudar.
"Apa kita tidak bisa seperti dulu lagi, Alex? Di saat kau memelukku hangat dan mengobrol santai denganku?" lirihnya sembari tentunduk. Dia menjauhkan tangannya dari tangan Alex.
Namun Irene kaget saat Alex tiba-tiba memeluknya erat. Sangat cepat hingga Irene terdiam sesaat sebelum akhirnya membalas pelukan pria itu erat. Dia tersenyum lebar, "Aku merindukanmu Alex."
"Maaf Irene, maafkan aku," ucap Alex berulang kali, rasa bersalah kembali menghampirinya, ditambah lagi melihat keadaan Irene yang seperti itu membuatnya merasa dirinya adalah orang yang paling jahat di dunia. Karena perbuatannya dia merenggut impian gadis malang itu. Jika saat itu dia tidak bertengkar dengan Irene maka semuaya akan baik-baik saja. Irene masih bisa bekerja sesuai impiannya yaitu presenter dan mungkin saja mereka masih bisa bersama hingga saat ini. Memikirkan itu semua membuat rasa bersalah Alex semakin bertambah.
Irene melonggarkan pelukan mereka lalu memegang wajah Alex lembut, "Kenapa kau minta maaf, Alex?" tanyanya pelan.
"Maafkan aku Irene. Ini salahku hingga ka-kakimu jadi seperti ini," lirih Alex terus meminta maaf. Dia bahkam tidak berani menatap mata biru gadis itu.
Irene tersenyum manis, "Kau tidak salah Alex. Kenapa kau terus meminta maaf?"
"Maafkan aku Irene, sungguh aku menyesal," ucap Alex pelan lagi.
"Jika pun kau bersalah, aku sudah lama memaafkanmu Alex. Jangan membuat suasana memburuk di pertemuan pertama kita setelah sekian lama ini," ucap Irene seraya mengelus puncak kepala Alex yang berlutut di hadapannya.
"Tapi— kakimu..." lirih Alex menatap kaki Irene yang terlihat tidak baik-baik saja. Dia bisa membayangkan penderitaan perempuan itu untuk melepas impiannya karena kehilangan salah satu kakinya saat kecelakaan maut itu. Bahkan dia bisa selamat melawan maut saja sudah termasuk suatu mukjizat.
"Aku baik-baik saja Alex," kata Irene sembari tertawa kecil, "duduklah, mari kita mengobrol," ajaknya lalu menarik tangan Alex untuk duduk di salah satu sofa di ruang tamu.
"Bagaimana pekerjaanmu, Alex? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Irene sekembalinya membuat teh jasmin kesukaan Alex di dapur.
__ADS_1
Alex ragu, "Hm, biasa aja," bohongnya. Di tidak ingin terlihat baik-baik saja di depan perempuan yang sudah dia rebut impiannya. Akan terasa menyakitkan bagi Irene mengetahui jika dia baik-baik saja menjalani hidup sedangkan gadis itu jauh dari kata baik. "Bagaimana denganmu?" tanyanya setelah terdiam cukup lama.
"Ah, aku? Kau tahu sekarang aku bekerja jadi seorang penulis. Aku sudah menulis beberapa buku dan 2 bulan lagi salah satunya akan terbit. Jiks sudah terbit, aku akan mengirim satu untukmu," tukas Irene bersemangat dengan mata yang berbinar-binar seolah dia benar-benar antusias.
"Apa kau suka pekerjaan itu?" Alex menatap Irene intens, berusaha melihat kesungguhan gadis itu.
Irene mengangguk cepat, "Tentu saja."
"Lebih suka jadi penulis atau presenter?" Alex berusaha melihat kejujuran Irene dari binar mata gadis itu sebab mata tidak akan pernah berbohong meski bibir dengan mudah berdusta.
"Entahlah, Alex. Saat ini aku sangat menyukai pekerjaanku sekarang. Tapi kau tahu kalau presenter adalah satu-satunya impianku dulu," lirih Irene tertunduk, "tapi setelah semua kejadian ini, aku akhirnya menemui impianku yang lain, yaitu menulis."
Alex terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia tidak suka dengan suasana yang terasa menyedihkan ini namun apa boleh buat jika memang takdir mereka berakhir menyedihkan sejak awal.
"Apa kau akan menikah? Kudengar dari ibu jika kau akan menikah dalam waktu dekat," ujar Irene ceria, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Iya. Jika kau ada waktu, datanglah. Aku akan mengirim undangannya untukmu," balas Alex mencoba mengikuti alur pembicaraan, "bagaimana denganmu? Apa kau juga berencana menikah?"
"Aku belum berpikiran untuk menikah, tapi aku sedang menjalin hubungan dengan pria di perusahaan penerbitan," cerita Irene semangat.
Alex tersenyum lembut lalu menyesap teh seduhan buatan Irene. Rasanya masih sama seperti saat mereka masihlah sepasang kekasih. Dia menatap Irene yang terus bercerita tentang pengalamannya sembari tertawa lepas. Melihat itu, tidak terasa semua kenangan mereka tiga tahun yang lalu terlintas cepat di benak Alex. Dia bisa merasakan atmosfer yang sama. Hangat dan ceria.
"Dia pasti pria yang sangat hebat hingga kau sangat bersemangat membahasnya," kekeh Alex.
"Tentu saja, Alex. Karena dia lah satu-satunya pria yang bisa menerimaku bahkan dalam keadaan seperti ini di saat semua orang meninggalkanku," ujar Irene.
Entah mengapa, perkataan Irene barusan seolah menyindir Alex karena memang benar jika Alex meninggalkan Irene bahkan tepat saat melihat keadaan gadis itu. Seharusnya saat itu kala Irene menangis kencang dan memintanya pergi, dia tidak pergi dan tinggal bersama gadis itu, memeluknya erat dan menenangkannya. Namun Alex hanyalah pengecut yang langsung pergi menghilang bahkan tanpa mengatakan salam perpisahan. Jika diingat-ingat ternyata dia sama halnya dengan orang bodoh di dunia ini. Dia tidak bisa menggunakan akal sehatnya karena rasa bersalah dan malu pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku senang mendengarnya Irene. Semoga kalian terus berbahagia," pesan Alex tulus
"Terima kasih Alex. Ngomong-ngomong apakah perempuan yang tadi datang bersamamu itu adalah calon istrimu? Dia sangat cantik," tukas Irene.
Mata Alex melebar. Dia melupakan keberadaan Hani yang datang bersamanya. Dia langsung menoleh ke arah pintu pembatas toko dan ruang tengah rumah itu, lalu mengedar pandangannya. "Di mana dia?" tanya Alex panik.
"Dia langsung pergi beberapa saat setelah kalian datang," balas Irene datar.
Alex langsung mengambil jaketnya kemudian bangkit dari duduknya. Dia berniat mencari keberadaan Hani. Rasa bersalah menghantuinya karena mengabaikan calon istrinya itu begitu saja. Jahat sekali dia melupakan keberadaan Hani saat itu.
Saat berniat pergi, Irene mencekal tangan Alex lalu menatapnya lekat, "Bisa kah kau tinggal lebih lama? Aku masih ingin mengobrol denganmu Alex. Dia akan baik-baik saja," pintanya.
Alex menggeleng lalu melepas pelan tangan Irene, "Tidak, Irene. Lain kali aku akan mampir. Mungkin besok," tolaknya pelan. Tiba-tiba dia teringat sesuatu dari tujuannya datang ke sana, "Oh, apa kau ada bertemu dengan Chelsa?" tanyanya.
"Chelsa? Hm... Kami tidak ada bertemu. Memangnya kenapa?"
"Apa kau yakin?" Alex bertanya lagi
"Oh iya, beberapa hari yang lalu dia meneleponku namun dia hanya berkata hi, lalu dia memutuskan panggilan," jelas Irene jujur.
Alis Alex bertaut karena heran bagaimana bisa Chelsa belum juga menemui Irene padahal tujuan wanita itu ke Paris adalah untuk menemui Irene. Lalu ke mana perginya Chelsa jika dia tidak menemui Irene? Sungguh, Alex penasaran.
"Baiklah, Irene, aku pergi dulu. Nanti aku datang lagi," ucap Alex seraya mengenalan kembali jaketnya.
Saat Alex berpamitan pulang, Irene berteriak keras kepadanya yang hanya dia balas dengan senyum tipis.
"Hubungi aku Alex. Kontakku masih yang dulu," teriak gadis itu sebelum Alex hilang dari pandangannya.
__ADS_1
***