Perfect Husband

Perfect Husband
PH I 52


__ADS_3

Waktu terasa sangat lama bagi Alex untuk menunggu malam berganti pagi karena baginya semua terasa buram saat dia tidak bisa memastikan keadaan Hani. Seperti biasanya juga dia tidak bisa tertidur karena dia tidak mau bermimpi buruk dan masalahnya dengan Hani membuatnya semakin sulit untuk tenang. Yang harus dia lakukan saat ini adalah menyelesaikan semuanya dengan Irene hingga Hani bisa memaafkannya. Karena itu dia tidak sabar menunggu pagi karena dia ingin bertemu dengan Irene secepat mungkin sebab dia sudah menghubungi perempuan itu sebelumnya dan berjanji akan bertemu di taman yang sering mereka kunjungi saat masih sepasang kekasih. Awalnya ia menolak namun Irene seolah memaksanya agar bertemu di sana. Tidak mau menimbulkan masalah maka Alex mengalah.


Lagi-lagi Alex hanya bisa menelepon Hani berulang kali dan menghujani perempuan itu dengan banyak pesan yang bahkan hanya dibaca oleh Hani. Tidak ada tanda jika perempuan itu akan menerima teleponnya dan membalas pesannya. Dengan mengetahui jika perempuan itu membaca setiap pesannya begitu dia mengiriminya membuat rasa khawatirnya semakin besar karena itu artinya Hani juga tidak tertidur padahal waktu sudah menunjukkan pukul 4 dini hari. PastI Hani juga tidak nyaman sepertinya.


Alex memejamkan kedua matanya karena dia ingin menenangkan hati dan mengistirahatkan pikirannya yang sangat kacau sekarang ini. Semua terasa rumit saat dia harus berurusan dengan dua orang yang sangat berpengaruh besar bagi hidupnya. Salah satu adalah masa lalunya dan satunya lagi adalah massa sekarang sekaligus masa depannya. Seharusnya dia hanya perlu fokus akan masa depannya karena tidak sepantasnya dia menyampurkan masa lalu dan masa depan yang jelas tidak akan bisa bertemu.


***


Sesuai perjanjian dengan Irene, kini Alex sudah berada di taman yang dimaksud Irene yang mana taman itu adalah saksi saat mereka masih bersama dulu. Setiap ada perayaan penting, mereka akan menghabiskan waktu di sana atau bahkan hanya untuk makan siang bersama karena tamn itu terletak tepat di tengah-tengah antara tempat bekerja Irene dan kampus Alex dulunya.Jika dibandingkan saat itu, taman itu tampak banyak berubah karena jumlah pengunjung dan juga pemandangannya jadi semakinn indah. Teringat kenangan manis itu membuat Alex menyayangkan semua yang terjadi di antara dia dan Irene. Jika saja mereka masih bisa berteman baik, bukan sebagai sepasang lagi, akan menyenangkan mengobrol hal santai di sana. Apalagi jika Hani dan Chris ada di sana, maka mereka akan sangat bahagia.


Menunggu beberapa lama, Irene akhirnya menampakkan diri. Gadis itu sedang menggerakkan kursi rodanya secara perlahan dan tersenyum manis ke arahnya. Alex langsung mendekati Irene dan memberi bantuan dengan mendorong kursi rodanya. "Terima kasih," ucap Irene tulus.


Alex tersenyum tipis, "Siapa yang mengantarmu?"


"Ibu. Kebetulan dia ingin berbelanja ke pasar," jawab Irene.


Setelah memastikan posisi duduk Irene sudah nyaman, Alex duduk di hadapan gadis itu.


"Wah, segarnya. Sudah lama tidak datang ke sini," seru Irene sembari mengedar pandangannya lalu menghirup napas dalam-dalam. Karena kemarin malam mengguyur kota cinta itu dengar derasanya, suhu hari ini cukup dingin dan membuat udara terasa sangat lembab dan jauh lebih segar dari biasanya.

__ADS_1


Alex hanya terdiam, tidak menanggapi ucapan Irene sebab pertemuan mereka kali iniĀ  bukanlah untuk bersatai bersama atau memabahas masa lalu. Kali ini Alex benar-benar ingin menyudahi ceritanya dengan Irene.Dia ingin menutup rapat semua yang pernah mereka ciptakan. Cukup mengakhirinya dan menyimpannya sebagai kesalahan di masa lalu dan menjadikannya pelajaran untuk seterusnya.


"Irene, apa kau benar-benar sudah memaafkanku?" tanya Alex akhirnya setelah mereka hening untuk waktu yang cukup lama.


Irene tersenyum manis, "Meski awalnya aku sangat memebencimu karena meninggalkanku di saat terberatku, tapi setelah kupikirkan beberapa tahun belakangan ini, aku baru menyadari jika tidak ada yang mutlak bersalah di sini. Kita sama-sama bersalah dan aku tidak pernah menyalahkan siapa pun di antara kita," ucapnya tulus.


Alex menatap Irene lekat, berusaha memastikan tidak ada kebohongan di sana. Hanya sendu dan kejujuran yang bisa dia temukan di sana.


"Apa kau masih memiliki perasaan padaku, Irene? Bukan bermaksud apa-apa, aku hanya ingin memastikannya saja, kata Alex kembali meneliti wajah cantik Irene, menunggu respon perempuan itu terhadap pertanyaannya.


Irene menatap Alex sendu lalu tersenyum tipis, "Jika aku menjawab masih, apakah kau akan kembali ke sisiku dan tinggal di sini bersamaku?"


"Beri aku kepastian Alex agar aku bisa menentukan jawaban apa yang harus kuberikan," ucap Irene lagi dengan tatapan penuh harap.


"Maafkan aku, Irene. Aku sudah mencintai perempuan lain. Aku tidak bisa kembali ke padamu," tukas Alex.


Begitu mendengar jawaban Alex, Irene tertawa terpingkal-pingkal membuat kening Alex berkerut, "Kenapa kau tertawa?"


"Kenapa kau terlalu serius. Aku hanya bercanda Alex, tadinya aku mengujimu apakah kau masih merasa bersalah kepadaku, Tapi mendengar jawabanmu sudah meyakinkanku bahwa kita memang sudah berakhir. Aku juga sudah mencintai pria itu Alex, dia jauh lebih baik untukku karena sejak awal aku sadar jika kau tidak ditakdirkan untukku. Sejak hari di mana kau meninggalkanku saat aku memintamu pergi dari hadapanku saat itu sudah jelas jika memang tidak ada harapan buatku untuk menikah denganmu," jelas Irene sangat tulus, "apacalon sitrimu itu juga dari keluarga kaya raya sepertimu."

__ADS_1


Alex menggeleng, "Dia orang biasa sepertimu Irene, tapi aku sangat mencintainya."


'Nah, itu lah tanda jika kita memang tidak berjodoh Alex. Saat itu kau terlihat ragu dengan hubungan kita karena ayahmu tidak menyutujui hubungan kita dan kau seketika menghilang.Tapi lihat, dia bisa membuatmu yakin untuk menikahinya dan ayahmu juga sepertinya juga setuju dengan hubungan kalian, padahal dia juga dari keluarga sederhana sepertiku. Tapi dia berhasil meyakinkanmu dan ayahmu, sebab dari awal dia memang sudah ditakdirkan untuk bersamamu. Jika ditanya apakah aku iri dengannya, tiga tahun yang lalu aku pasti menjawab 'ya, aku iri' tapi untuk sekarang jawabanku tentu 'tidak' karena setelah apa yang kita lewati aku akhirnya menemukan pria yang setia padaku di saat seperti apapun, sama seperti kau tetap setiap pada perempuan itu," ucap Irene panjang kali lebar tanpa sekali pun senyumnya luntur dari wajah cantiknya.


"Terima kasih, Irene. Sungguh, terima kasih," gumam Alex tulus. Dia merasa ada ruang di hatinya yang terasa bebas, terjauh dari beban yang selama ini memberati hatinya. Kini dia merasa bahwa perasaan bersalahnya hanya lah rantai yang mengekangnya selama ini. Dia tidak bisa melepas rantai itu hingga akhirnya dia bisa lepas dari rantai penuh kepahitan itu.


"Aku ingin bertemu dengan calon istrimu itu Alex, dia tampak sangat ramah dan menarik. Aku ingin berkenalan dengannya karena kemarin kami belum sempat bertukar sapa. Aku ingin tahu perempuan sehebat apa yang membuat seorang Alex bisa menembus kungkungan ayahnya demi menikahinya," senyum Irene senang.


Alex balas tersenyum, "Aku akan membawanya menemuimu besok. Bawa juga kekasihmu, aku ingintahu pria sehebat apa yang bisa membuat Irene tetaplah Irene yang dulu ku kenal," balasnya sembari terkekeh pelan.


"Tapi sebelum itu, aku ingin hari ini kita benar-benar mengakhiri hubungan kita Alex, mengingat terakhir kali kau belum mengiyakan ajakan berpisahku," tawa Irene,"kita putus, Alex."


Alex tersenyum lebar, "Ya, kita putus Irene."


Mereka tertawa lantang seolah mereka tidak ada masalah lagi.. Semuanya sudah selesai hari ini. Maka buku kisah Irene dan Alex resmi berakhir.


***


[hello, guys. kayanya crazy upnya cuma bisa 3 eps karena aku mendadak ada tugas;') jadi sampai jumpa besok semua]

__ADS_1


__ADS_2