Perfect Husband

Perfect Husband
102. Pertunangan Bian-Anita


__ADS_3

POVAnita


lain dengan acara pertunangan Kak Andre, tema pertunanganku dan Bian bernuansa merah. Awalnya aku kira Mama, kak Andre, Kak Andra, Kak Vallen dan Kak Sila akan menentang hubunganku dan Bian yang terkesan mendadak, tapi ternyata mereka welcome banget dengan kehadiran Bian yang yang tidak perlu menunggu waktu lama untuk melamarku.


Seperti yang aku ceritakan di awal, aku dan Bian hanya kenal dalam waktu 3 hari lalu pria itu mengungkapkan bahwa dia ingin menikah denganku. Awalnya aku pikir dia bercanda tapi ternyata dia serius keraguanku aku terhadap nya nya tertepis oleh sikapnya yang selalu berusaha untuk terbuka padaku.


Tentang orang tua Bian Mereka menerima aku sebagai calon menantunya. Meskipun kami belum pernah bertemu mereka merasa cocok, ketika aku diajak Bian ke rumahnya beberapa waktu lalu. Kedua orang tua Bian sangat mendukung saat Bian bilang yang dia akan menikahiku


Aku juga mencontoh kak Andra dan sila, juga kak Andre dan Vallen. Mereka bahagia meskipun menikah dengan perkenalan yang cukup singkat. Begitulah kehidupan Rumah tanggaku dengan Bian Suatu Hari Nanti.


Jujur saat ini aku belum mencintaimu sepenuh hati, tapi kata Mama seiring waktu perasaanku akan tumbuh dan akan semakin lambat seperti daun pohon. Mama juga bilang ketika kita menikah tanpa pacaran itu akan jauh lebih romantis karena akan ada proses saling pengenalan satu sama lain.


Hari ini aku memakai gaun yang indah berwarna merah marun. Gaun ini aku yang memilihnya sendiri. Beberapa hari yang lalu, kami berdua mengadakan fitting baju pertunangan ini di butik langganan mama. Awalnya aku ingin memilih warna putih juga, tapi Bian bilang aku lebih cantik jika memakai warna marun. Jadi aku mengikuti apa maunya Bian memilih baju berwarna merah marun ini.

__ADS_1


" Anita kamu cantik banget seperti putri raja tahu nggak, Bian pasti langsung klepek-klepek nih lihat kamu," Kak Sila mengomentari penampilan ku saat dia tiba-tiba masuk ke kamarku. Kehamilan yang sudah besar membuat perutnya membulat. Iya tampak lebih gendut sekarang, padahal dulu kami satu sekolahan. Aku tidak menyangka, akhirnya dia menjadi kakak iparku. Jodoh memang tidak ke mana, ya.


"Kakak bisa aja nih, bikin aku grogi aja. Kakak tuh bumil cantik pantesan aja Kak Andra lengket terus sama kakak. Ngiri deh," aku balas memujinya. Sila bukan hanya wanita yang cantik, tapi dia juga baik. Makanya kedua Kakakku suka sama dia sampai jadi rival, soalnya memang dari dulu sila udah deket sama mama papa juga apalagi sama aku. Kak Andra yang baru bertemu saja langsung jatuh cinta jadi wajar saja jika kak Andre yang setiap hari bersamanya juga jatuh hati pada sahabatku ku itu.


" apaan sih, kalau aku udah cantik ya, udah dari dulu kali, tapi emang sih saat hamil aku merasa jauh lebih cantik, vsyukur deh kalau dia Jadi semakin lengket sama aku, daripada lengket sama tetangga ya kan," Sila membalas ucapanku dengan candaan. Sejak masih jadi teman dia memang suka bercanda meskipun kadang-kadang garing.


" Iya deh iya, aku kalah telak, nih. Semoga nanti pas aku hamil cantik nya sama kayak kakak Ya, biar Biyan juga semakin sayang sama aku," Aku mau balas candaan dengan candaan ku juga


" mikirin nikah dulu, baru deh mikir hamil jangan kebalik," Sila tertawa ngakak yang menertawakan perkataanku yang salah, aku baru ingat kalau aku baru mau tunangan dari Bian belum menikah.


"Coba kamu tarik nafas, hembuskan perlahan, biar kamu sedikit tenang. Kalau sudah dilalui semuanya akan biasa saja. Saat sedang menunggu memang sedikit grogi itu wajar," Sila mencoba menenangkanku. Mungkin yang dia bilang benar, kegugupan ini hanya akan terasa saat menunggu, tapi setelah mereka datang Mungkin aku akan baik-baik saja atau malah sebaliknya, lebih grogi dari sekarang.


" Adita, Sila, Ayo kita turun. Rombongan keluarga Bian sudah datang," nama tiba-tiba muncul dari balik pintu yang setengah terbuka itu mengagetkan kami berdua.

__ADS_1


" Oke, Ma siap. Akan segera turun," Aku Dan Kak sila keluar kamar dan segera turun dari tangga, menemui para tamu. Benar saja keluarga Bian sudah datang. Kami berdua saling terpesona. Dia tidak pernah setampan ini biasanya, sebaliknya dia memandangku dengan tidak berkedip, mungkinkah aku secantik itu?


acara pertunangan ku dengan Bian berjalan sukses. Sama dengan kak Andre, 1 bulan setelah bertunangan kami akan segera melangsungkan pernikahan. Aku tidak menyangka, jodohku datang secepat ini. Akhirnya tidak lama lagi aku akan menjadi nyonya Bian.


Cinta memang ajaib, tidak tahu dengan siapa ia akan bertahan. Aku pikir dulu jodohku Beno, tapi ternyata, aku dan dia tidak berjodoh. Hingga datang Bian, yang aku sangka jutek dan sombong aku itu justru menjadi calon imamku.


"Bener kan kata aku, kamu cantik pakai baju warna ini, aku sampai terpesona aku kira tadi di ada Cinderella," Bian menggodaku saat kami ada kesempatan duduk berdua.


"Kamu juga tampan, Bian. Akhirnya kita bertunangan juga. Aku harap kamu bisa menjadi imam yang baik buat aku. Terima kasih Bian, kamu sudah memilihku untuk menjadi calon istrimu, pendamping hidupku di masa depan," Ungkapku kepada Bian karena merasa sangat bahagia


" Aku yang berterima kasih karena kamu sudah menerima aku sebagai calon imammu. Padahal aku baru saja datang dan kamu belum mengenalku, tapi kamu berusaha untuk memberiku kesempatan. Kamu spesial buatku, semoga setelah ini tidak ada halangan apapun. Sampai nanti kita langsung kan Janji Suci. Mulai sekarang jaga hati kamu baik-baik ya ya buat aku karena kamu kamu sudah mendapat gelar sebagai calon istri Bian," Bian memberiku penegasan bahwa dia tidak ingin aku mempermainkan hubungan ini. Tentu saja aku tidak akan melakukan itu karena aku aku tidak ingin kehilangan Dia.


"Aku pasti akan selalu menjaga hatiku untukmu, karena aku percaya kamu pantas mendapatkan hatiku Bian. sebaliknya kamu juga harus menjaga hatimu untukku, jangan macam-macam atau berani berani melirik cewek lain," Pesanku pada Bian. Yang pasti Hari ini aku sangat bahagia, karena aku bisa bertunangan dengan Bian tanpa ada halangan apapun. Semoga sampai hari H nanti semuanya berjalan lancar. Amin.

__ADS_1


"Meskipun mataku melirik cewek lain tapi hatiku hanya untukmu, sayang," Ini pertama kalinya Bian memanggil ku dengan sebutan sayang aku jadi sedikit geli karena mendengar kata-katanya.


" gombal aja terus, aku nggak percaya padamu," aku tertawa ngakak menimpali kata-kata Bian. Tapi aku tahu dia memang hanya mencintaiku dari sekian banyaknya mahasiswa di kampus hanya aku yang mampu menaklukkan hatinya. efek over percaya diri


__ADS_2