Perfect Husband

Perfect Husband
PH | 43


__ADS_3

Irene menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Baru kali ini dia tidak tersenyum kala melihat benda indah itu. Pikirannya terus tertuju akan ucapan Chelsa yang terus menghantuinya. Dia benar-benar percaya dengan apa yang dikatakan model cantik itu sebab rasanya memang masuk akal. Sebagai orang yang terlahir di keluarga pengusaha kaya dan sudah lama mengenal Alex, Chelsa termasuk orang yang bisa dipercayai. Terlebih lagi orang seperti Irene yang tidak pernah bersinggungan dengan dunia bisnis seperti Alex dan Chelsa tentunya tidak bisa berspekulasi sendiri tentang bagaimana sebenarnya terlahir di keluarga pebisnis.


Kalau dipikir-pikir Irene dan Alex itu bagaikan langit dan bumi. Alex berasal dari keluarga kaya dengan pendidikan yang tinggi juga, digelimangi harga sehingga tidak perlu pusing memikirkan uang untuk keperluannya sedangkan Irene hanya anak yatin yang berasal dari keluarga sederhana. Ibunya hanya pemilik toko bunga kecil di Paris dan ayahnya sudah lama meninggal. Untuk pendidikan, lulus sebagai sarjana ilmu komunikasi saja Irene dan ibunya harus melakukan segala hal hingga akhirnya ia bisa menjadi seperti seoranh presenter di stasiun televisi nasional.


Sepasang mata birunya kembali melirik ponselnya yang bergetar di atas meja. Sudah 26 kali Alex meneleponnya dan tidak sekalipun Irene menjawab. Hati dan pikirannya masih berseteru, berusaha menemukan satu jawaban yang bisa diterima oleh keduanya.


**Alex : Apa kau baik-baik saja, Babe?


Sebuah pesan dari Alex membuat Irene menggeleng kecil.


Maaf, Alex. Aku sedang tidak baik-baik saja, batinnya.


***


Alex menghela napas panjang karena Irene tidak juga menjawab panggilannya dan juga membalas pesannya. Dia merasa ada yang salah semenjak pertemuan mereka di restoran tadi. Apakah dia membuat salah pada gadis itu, Alex sungguh tidak tahu. Bahkan jika ditanya apakah dia tahu apa kesalahannya, dengan cepat Alex akan menjawab 'tidak'.


Padahal jam baru menunjuk pukul 04,00 sore dan dia sudah kembali ke apartemennya karena dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Karena bosan, Alex memilih bersantai di atas sofanya sembari menikmati film action di kayar televisinya.


Tidak lama terdengar suara bel apartemennya. Alex bergegas bangkit karena dia mengira itu adalah Irene, bisa saja perempuan itu sedang membuat kejutan kepadanya dengan datang ke apartemennya. Dengan cepat Alex langsung membukakan pintu tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang datang.


"Selamat datang, Ba—"


Belum selesai Alex mengucapkan kalimatnya, bibirnya langsung kelu dan tertutup rapat saat melihat siapa yang ada di hadapannya. Matanya membulat sempurna, tidak yakin dan percaya dengan apa yang kini dia lihat. Apakah dia bermimpi sekarang ataukah dia sedang berhalusinasi karena terlalu memikirkan banyak hal akhir-akhir ini. Tapi rasanya yang dia lihat sekarang terlalu nyata untuk dianggap hanyalah halusinasi. Hingga suara orang itu berhasil menyadarkan Alex bahwa itu bukan halusinasinya, melainkan nyata.


"Apa kau tidak mengajak ayah masuk ke dalam apartemenmu? Apa kau sedang bersama kekasihmu di dalam?" ucap pria tua dengan suara berat penuh wibawa itu.


"A-ayah?" Alex terbata, masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

__ADS_1


Ayah menaikkan alisnya, "Kenapa kau melihat ayah seperti sedang melihat hantu?" ucapnya lalu masuk ke dalam apartemen putranya itu.


Alex menggeleng kecil lalu kembali menutup pintu dan mengikuti ayahnya yang kini sedang meneliti setiap jengkap apartemennya.


"Kenapa ayah datang ke sini?" tanya Alex.


Ayahnya menatapnya heran, "Apa aneh seorang ayah datang menemui putranya yang sudah lama tidak pulang ke rumah?"


Alex terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Ayahnya terus menelusuri tiap sisi dari apartemennya itu, seolah mencari sesuatu di sana. Hingga akhirnya langkah pria dengan garis wajah tegas itu terhenti di depan meja belajar sekaligus meja kerja Alex. Tangannya meraih sebuah frame foto yang menampakkan Alex sedang merangkul perempuan yang tidak lain adalah Irene.


"Apa ini kekasihmu?" tanya ayah sembari melirik foto dan Alex bergantian.


Alex mengangguk kecil, "Iya, Yah. Aku ingin mengenalkannya pada ayah secepat mungkin. Ternyata ayah sudah lebih dulu kemari."


"Sudah berapa lama kalian bersama? Apa kau berencana menikahinya?" tanya ayah lagi sembari meletakkan kembali foto itu di tempat semula.


Mata ayah menatap Alex datar. Seolah tidak tertarik dengan apa yang mereka bahas. "Baiklah, tapi kau harus cepat mengakhiri hubungan dengannya."


Kening Alex spontan mengerut, tidak mengerti dengan maksud ayahnya itu. "Apa maksud, Ayah?"


Ayah menatap Alex datar, "Kau akan dijodohkan. Karena itu akhiri hubunganmu dengan wanita itu."


"Apa? Dijodohkan? Jangan bercanda, Yah." Alex mendekati Ayahnya yang terduduk santai di sofa. "Apa ayah serius?"


"Apa ayah terlihat bercanda? Kenapa kau sekaget itu padahal perjodohan adalah hal yang biasa di keluarga kita. Dan kau putra tunggal, maka kau harus siap dijodohkan dengan anak pengusaha lain yang bisa mengembangkan perusahaan kita," jelas Ayah terlihat serius. Jelas sekali di wajah ayah bahwa ia tidak menerima bantahan seperti apapun.


"Bagaimana bisa, Yah? Aku baru saja melamarnya dan bagaimana mungkin aku mengakhirinya? Aku mencintainya, Yah," ujar Alex bersikeras dengan keinginannya, "Aku tidak ingin berpisah dengannya, Yah. Aku sungguh mencintainya," lirihnya.

__ADS_1


"Tidak, Alex. Kau harus meninggalkannya. Jangan buat ayah turun tangan untuk menjauhkan wanita itu darimu. Selesaikan sendiri dengan baik-baik atau ayah akan memaksanya menjauh darimum," tegas ayah tidak mau dibantah. Rahangnya mengeras saat mengatakan hal itu.


Alex mengacak rambutnya frustasi. Dia ingin melawan kehendak ayahnya itu namun mentalnya sudah terbentuk untuk tidak pernah menolak keinginan ayahnya. Apakah tidak gila namanya jika memutuskan kekasih yang baru saja kau lamar. Sungguh, itu hal tergila yang pernah Alex bayangkan saat ini.


Alex menatap ayahnya itu dingin, "Lalu dengan siapa aku akan dijodohkan?"


"Chelsa."


***


Jemari ramping itu memainkan gelar wine-nya dengan pikiran yang entah melayang ke mana. Dia sedang memikirkan banyak rencana di dalam pikirannya dan seorang pun tidak bisa menebak apa yang kini gadis cantik itu pikirkan.


"Apa yang harus saya lakukan nona Chelsa?" tanya pria bertubuh kekar dengan balutan setelan jas hitam itu.


Perempuan itu tersadar dari lamunannya lalu menatap pria besar di hadapannya, "Aku ingin kau mengikuti perempuan ini," katanya sembari menyodorkan sebuah foto pada pria itu, "kau cukup melaporkan kepadaku apa yang dia lakukan dan bersama siapa saja dia setiap saat."


Pria itu menatap foto itu sekilas lalu kembali fokus kepada atasannya itu, "Kau ingin aku bagaimana kepadanya? Memata-matai dari jauh atau bagaimana?"


"Cukup perhatikan dia dari jauh. Jangan sampai dia menyadari keberadaanmu, terutama saat dia berada dengan Alex. Kau tahu jika Alex mengenalmu dan jangan sampai pria itu mengetahui aksimu," ujar Chelsa kemudian menyesap wine-nya lagi.


"Berapa lama kau ingin aku memata-matainya?"


Chelsa terdiam sesaat sembari berpikir, "Hingga aku berhasil memisahkannya dari Alex," gumamnya.


"Baiklah, akan kulakukan."


***

__ADS_1


[maaf lama update dan part selanjutnya bakal jadi part terakhir untuk bagian flashback masa lalu Alex] — dan bakal dilanjut kisah Alex dan Hani lagi:)


__ADS_2