Perfect Husband

Perfect Husband
65. Kabar Baik


__ADS_3

"Mas! aku dapat chat dari kak Andre. dia jadian sama Vallen!" Teriakku heboh, Andra Terbangun dari tidurnya dengan mata yang sipit. Badannya terbalut selimut. Ia tampak sangat malas, karena hari itu, hari libur.


"Sayang... aku kaget, kirain ada apa. Nggak perlu teriak-teriak dong," Andra bicara sambil setengah tidur dengan intonasi yang tidak jelas.


"Mas... bangun dong, yuk kita beli bubur ayam yang di depan komplek itu mas," Kataku manja, hari ini aku tiba-tiba pengen makan bubur ayam.


"Minah juga bisa buat bubur ayam, sayang." Jawab Andra malas-malasan.


"Nggak mau, aku maunya bubur ayam yang itu, ayo bangun mas... kalau nggak aku ngambek nih,"Aku cemberut, menunjukkan ekspresi kesalku pada Andra.


"Iya-iya, mas bangun nih. Cuci muka dulu ya..." Andra keluar dari selimut dan berjalan malas ke kamar mandi. Hatiku langsung berbunga-bunga melihat Andra mau menuruti keinginanku.


Ia berpakaian apa adanya, hanya pakai kaos panjang biru dan celana jeans.



"Ayo, cepetan pergi, kenapa liatin aku terus," Andra tersenyum ke arahku yang terpana melihat penampilannya yang tetap keren meskipun sederhana.


"Mana kacamata mas? terus itu gaya rambut kenapa begitu?" Tanyaku.


"Males pake kacamata sayang, sekali-sekali pengen gini aja, natural." Jawab Andra santai lalu menggandengku keluar kamar dan turun. Minah sedang beres-beres. Aku dan Andra bergegas keluar. Kalau siang sedikit biasanya akan habis.


"Sayang, kenapa tiba-tiba mau makan bubur? Biasanya kan nggak pernah," Andra bertanya seolah keinginan makan buburku ini aneh. Padahal kan makan bubur hal yang biasa.


"Aku pengen aja mas, aku lihat waktu itu minah pernah beli kayaknya enak," Kataku, Sepertinya Andra masih penasaran, dan jawabanku tidak berhasil buat dia puas.


"Ya udah, tuh abangnya masih ada, berarti buburnya juga masih ada, kamu mau berapa porsi, sayang?" Tanya Andra, sambil kami mendekati tukang bubur itu.


"Satu aja, emang mas mau?" Aku balik tanya pada Andra.


"Satu berdua aja ya," Katanya melempar senyum padaku, aku mengangguk setuju.


"Baru ya, mas. Saya baru lihat mas hati ini," Tegur si tukang bubur itu pada Andra.


"Iya, saya baru pak, tinggal di ujung sana, kebetulan istri saya pagi-pagi mendadak ingin makan bubur ayam bapak,"Cerita Andra pada bapak itu, dan dia tersenyum.

__ADS_1


"Istri mas ngidam ya? memang biasanya kalau lagi ngidam suka aneh-aneh mas permintaannya, istri saya dulu, tengah malam minta air kelapa, lah kan repot ya mas, malam-malam manjat pohonnya, untung tetangga saya punya pohon kelapa yang pendek, jadi saya tidak perlu manjat," Bapak itu tertawa mengenang masa-masa istrinya hamil dulu.


"Sebenarnya dia nggak lagi hamil sih pak, lebih tepatnya belum tau, tapi akhir-akhir ini memang suka aneh," Andra jadi curhat sama bapak itu. Kalau di fikir-fikir, aku memang aneh minggu-minggu ini. Apa yang bapak itu bilang benar ya? Aku jadi bertanya-tanya sendiri.


"Coba di cek mas, kalau menurut firasat saya, istri mas ini sedang hamil muda,"Ujar bapak itu yakin.


Aku gemetar, benarkah aku hamil lagi? Senangnya kalau sampai itu terjadi. Tunggu, kalau di hitung-hitung, aku memang udah telat beberapa hari. Jangan-jangan aku benar-benar hamil.


"Mas, sepulang dari sini, kita ke dokter kandunganku dulu, yuk. Aku penasaran mas, pengen tau apa aku hamil atau nggak, aku juga udah telat soalnya," Usulku dan Andra mengiyakan dengan semangat. Semoga saja hasilnya tidak mengecewakan.


Sepulqng dari beli bubur, Aku dan Andra bergegas ke dokter kandungan yang tempat praktiknya tidak terlalu jauh dan sudah langganan. Tadinya aku juga rekomendasikan Affandi, tapi Andra tidak setuju, karena dia seorang pria.


"Dok, jadi bagaimana hasilnya?" Andra tampak tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan.


"Selamat, pak. Istri anda positif hamil," Jawaban dokter membuat aku dan Andra berkaca-kaca. Terlebih lagi Andra, ia menitikkan airmatanya dan memelukku. Setelah sadar masih di hadapan dokter, Andra cepat-cepat melepas pelukannya.


Setelah membayar biaya administrasi, aku dan Andra segera melangkah keluar dari klinik itu. Dengan perasaan yang gembira karena kami akan menjadi ibu dan juga ayah.


"Kita berdua harus menjaga bayi ini baik-baik ya, ;sayang." Ujar Andra sambil mengelus perutku saat kami berdu ada di dalam mobil.


"Sama-sama calon ibu, pulang dari sini kita ke mini market dulu yuk... buat beli susu hamil buat kamu," Andra tampak sangat antusias dengan kehamilanku.


"Aku mana bisa menolak. yuk," Aku memberinya kode untuk segera menghidupkan mesin dan berlalu dari tempat itu. Bahagia rasanya aku dapat mengandung anak Andra lagi. Kali ini aku akan berusaha menjaganya semaksimal mungkin. Aku tidak mau lagi jadi ibu yang gagal.


"Mas, meskipun aku hamil, aku tetep mau ke kantor ya, kamu jangan melarang aku mas, tahu sendiri kan, aku nggak bisa jauhan dari kamu," Rengekku, Andra melirikku gemas, mungkin dia bingung mau melarangku atau mengizinkanku.


"Oke, kamu boleh ikut ke kantor, tapi... kita berangkat pagian, ya. Aku mau bawa mobilnya lambat, terus di kantor nggak boleh kerja, diem. Kalau ngerjain mas, boleh. Kamu juga nggak boleh makan di kantin, nanti setiap hari aku akan suruh Minah siapin bekal buat di bawa ke kantor, gimana? Setuju?" Oceh Andra panjang lebar, ternyata dia benar-benar protektif untuk menjagaku dan bayi kami.


"Siap, mas. Aku akan patuh sama kamu. Selama aku masih boleh nakalin kamu, aku setuju mengikuti semua aturanmu," Kataku sok bijak. Ternyata sikap anehku selama ini bawaanku hamil. Untung saja Andra bukan tipe orang yang suka risih di tempelin kesana kemari. Habisnya bagaimana lagi, perasaanku begitu, selalu pengen dekat dan melakukan hal-hal mesum secara tidak terkontrol.


"Mas, maaf ya... kamu jadi korban ngidam aku yang konyol. Bahkan kamu nggak bisa tidur nyaman karena aku, jangan marah ya..." Kataku manja. Aku tahu, Andra tidak pernah marah sedikitpun padaku, meskipun kelakuanku yang berubah drastis selama ini. Bahkan dulu saat aku membencinya, dia tetap menyayangiku. Dia benar-benar suami terbaik.


"Nggak perlu minta maaf, sayang. Aku nyaman kok dengan sikapmu itu, aku malah suka selalu kamu goda. Aku merasa di sayang dan di manja sama kamu. Aku malah sudah menginginkan ini sejak lama, tapi aku tahu, butuh waktu untuk membuat kamu benar-benar mencintai aku sepenuhnya," Andra mencurahkan perasaannya. Lagi-lagi berhasil membuatku merasa bersalah. Aku sadar, memang saat itu aku tidak terlalu respek dengannya. Bahkan terkesan aku menyayangi mereka berdua.


"Maafkan aku, mas. Saat itu aku kurang peka terhadapmu. Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk membuatmu bahagia. Aku sayang sama mas." Rasa bersalah itu bersaranh di hatiku. Aku memang salah, dan pantas merasa seperti ini. Dulu memang sangat susah untuk seratus persen mencintai Andra dan perhatianku maaih terbagi.

__ADS_1


"Aku tidak perduli kamu yang dulu. Sekarang aku sudah bahagia memiliki istri sebaik kamu, seperhatian kamu, semanja kamu. Rasanya meskipun seluruh dunia menolakku, aku akan tetap bisa tersenyum karena memilikimu. Sayang, sepertinya bulan madu kita akan tertunda lagi, karena sekarang kita sudah punya bayi. Apa kamu sedih?" Tanyanya serius. Aku bahkan sudah melupakan bulan madu itu. Bagiku romantis tidak harus pergi jauh, atau harus liburan. Cukup di rumah dengan bekal cinta yang berlebihan. Aduh, kata-kataku terlihat absurd.


"Aku malah udah lupa mas, dengan rencana bulan madu kita. Tanpa pergi jauh, kita di mana saja bisa romantisan, ya kan? Bahkan di kantormu juga sekarang kita sering bermesraan. Lain kali, kalau anak kita sudah besar, baru kita ajak jalan-jalan jauh." Usulku yang tentu saja langsung di setujui oleh Andra.


Roda memang berputar. Perasaanku pun juga begitu. Aku dulu pernah berfikir, kalau Andre lebih baik daripada Andra. Tapi kenyataan yang aku alami, bahkan Andra bisa menjadi suami yang sangat sempurna untukku. Dia rela melakukan apapun untuk membuatku bahagia.


"Mas, mas... itu kayaknya Anita sama Beno deh. Cieh, anak muda.. pagi-pagi udah pacaran. Alasannya jogging..." Gerutuku saat melihat Anita dan Beno sedang duduk berdua di bangku taman.


"Nggak salah ngomong, sayang? Bukannya kalian seumuran ya? Gayanya kaya udah tua aja," Andra meledekku, seketika aku sadar aku salah bicara.


"Setidaknya, aku sudah menikah dan mau punya anak, mas..." Kilahku, Andra hanya tersenyum geli melihatku salah tingkah.


Aku memutuskan untuk menemui Anita sebentar, karena aku merindukannya. Lama sekali sejak pesta syukuran rumah baru itu, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo PH lovers, terimakasih sudah mampir.


jangan lupa klik love dan rate bintang 5 nya ya..


Tulis komentar kalian di bawah ini 👇👇👇


jangan lupa mampir ke novelku yang lain


judulnya Si Tampan Pemikat


Follow ig ku @Ekayunn15


Buat yang mau gabung grup fans PH juga boleh


coret-coret no wa kalian


di kolom komentar.


terimakasih..

__ADS_1


__ADS_2