
"Oh, oke. Aku kecewa mendengarnya," desah Julius.
Mata Alex seketika membulat begitu mendengar ucapan pria yang terus saja melirik calon istrinya, Hani. Dia tidak suka dengan tatapan hangat pria itu pada Hani yang menurutnya hanya dialah yang berhak melakukannya. Siapa pria aneh ini sampai berani menatap Hani dengan tatapan penuh cinta seperti itu. Jika bukan karena dia teman Hani, Alex pasti sudah menghabisi pria itu saat ini juga.
"Apa maksudmu?" tanya Alex sembari maju beberapa langkah hingga jaraknya dengan Julius amat dekat. Matanya menatap pria itu tajam seolah sedang melihat musuhnya yang sudah tepat di depan mata.
Julius tersenyum miring lalu melirik Hani yang mematung dari ujung matanya, "Aku kecewa jika Hani sudah..." ia menggantung ucapan yang membuat Alex malah semakin geram.
"Sudah apa?" ketus Alex membuat ancang-ancang siap menghabisi pria itu jika sampai kata-kata tidak mengenakkan tentang Hani keluar dari bibir pria itu, maka dipastikan Julius akan tidak baik-baik saja nanti.
"Aku kecewa dia akan menikah," seru Julius lalu tertawa terbahak-bahak diikuti Hani yang tiba-tiba tertawa juga. "Padahal aku ingin melihat Hani jomblo lebih lama jadi dia tidak menikah lebih dulu dariku," tambahnya masih tertawa.
Alex menatap Julius dan Hani bingung. Dia tidak mengerti apa yang terjadi namun melihat tawa dua orang itu tidak juga menghilang akhirnya dia sadar jika dia baru saja dipermainkan oleh calon istri dan pria aneh itu barusan.
"Tidak kusangka calon suamimu ini sangat serius, Han. Kau lihat tadi seolah dia ingin memukulku," ucap Julius dengan nada mengejek.
Hani berjalan mendekati Alex lalu mengusap punggung lebar pria itu, "Jangan ambil pusing, Alex. Julius memang suka bercanda dari dulu."
Pria itu hanya bisa tersenyum kecut menyadari jika dirinya sangat mudah terpengaruh oleh sesuatu yang berhubungan dengan Hani. Apa mungkin karena dia sangat mencintai perempuan itu sampai dia tidak seorangpun membicarakan Hani selain dirinya. Padahal harusnya dia tahu tidak mungkin pria yang sedikit lembut itu bisa memiliki hubungan spesial seperti yang dibayangkannya sebelumnya. Jelas tipe pria kesukaan Hani adalah seorang pria sepertinya, Alex.
__ADS_1
"Untung saja kau bercanda karena kau tahu aku tidak akan melepaskan orang yang berani menggoda istriku di depan mataku," tukas Alex santai namun terkesan menyeramkan, tanda dia sedang memperingatkan Julius, tidak, tapi memperingatkan semua orang agar tidak menggoda Hani karena orang itu tidak akan bisa hidup tenang jika berurusan dengannya.
***
Seusai memilih gaun yang akan dipakai Hani di hari pernikahan mereka begitu juga dengan setelan yang akan digunakan Alex, mereka memilih pergi makan malam di restoran di pinggir jalan yang kebetulan mereka lalui.
"Sepertinya kau sangat senang, Sayang. Ada apa?" tanya Alex sambil menyendokkan beberapa potonh makanannya ke atas piring Hani.
Memang sejak tadi Hani terus tersenyum ke Alex tanpa sebab membuat pria itu kebingungan.
"Aku tidak menyangka kau sangat pencemburu, Alex," kekeh Hani.
"Aku bukan cemburu. Aku hanya memastikan milikku tidak diperlakukan seenaknya oleh orang lain," balas Alex membela diri.
Alex menghela napas panjang lalu menatap Hani lekat, "Aku tidak suka kata cemburu, Sayang. Sebagai calon suamimu, aku berhak bersikap seperti itu agar orang-orang tahu batasan mereka."
"Iya, iya, Alex. Kenapa kau jadi sangat serius," tukas Hani mengerucutkan bibirnya, "tapi terima kasih kau bersikap seperti itu. Aku suka."
Wajah Alex terasa memanas mendengar pujian dari Hani. Mungkin efek karena Hani jarang memujinya sehingga kalimat seperti itu saja berhasil membuatnya tersipu malu.
__ADS_1
"Apa aku boleh egois, Sayang?"
Hani menautkan alisnya, "Tentang?"
"Aku mau egois kalau kau harus menjaga jarak dengan pria manapun. Bukannya aku tidak percaya padamu tapi aku ini cukup pencemburu seperti yang kau katakan, karena aku takut aku akan menghabisi siapapun pria yang ada di dekatmu selain aku. Aku ingin jadi satu-satunya pria dalam hidupmu," ucap Alex lembut seraya memainkan jemari lentik Hani.
"Seharusnya kau tenang Alex sebab selain dirimu, hanya ada 3 pria di hidupku. Papaku, adikku, dan Aldo sahabatku. Hanya mereka dan kaulah yang terbaik. Jangan cemaskan sesuatu yang jelas tidak akan terjadi Alex. Kau tahu aku cukup sulit bergaul," kekeh Hani.
Mereka terdiam sesaat hingga Hani kembali berucap membuat fokus Alex kembali terfokus padanya. "Dibandingkan aku yang kau khawatirkan lebih masuk akal jika aku yang mengkhawatirkanmu Alex. Kau tampan, mapan secara materi dan pekerjaan, dan semua yang ada di dirimu adalah sosok impian setiap wanita. Kau juga dikelilingi wanita cantik dari belahan dunia manapun, jika dibandingkan, mereka jauh lebih baik dariku. Di saat kau mengkhawatirkan aku dengan circle yang sempit, harusnya aku yang mengkhawatirkanmu dengan circle yang bahkan tidak aku tahu seluas apa. Kau bisa saja kelak melihat wanita hebat dan jatuh cinta padanya atau kau bosan padaku yang biasa ini lalu meninggalkanku begitu saja. Bukannya aku tidak memercayaimu, tapi itu bisa saja terjadi, Alex. Sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Perasaan bisa saja berubah seiring berjalannya waktu karena sejatinya semuanya pasti akan berubah, begitu saja dengan kita," Hani menjeda ucapannya sebentar, "Apa kau sudah yakin akan menikahiku, Alex? Pernikahan bukan hal yang bisa disudahi dengan mudahnya seperti saat berpacaran. Menikah tentang waktu dalam jangka panjang. Jadi aku ingin tahu apakah kelak tidak ada penyesalan lagi Alex."
Alex tertegun mendengar perkataan Hani yang begitu dalam dan serius. Dia bisa merasakan keraguan serta ketakutan perempuan akan masa depan. Alex tidak bisa menghakimi karena dirinya sendiri kadang meragukan dirinya apakah dia bisa membahagiakan Hani di hidupnya saat dirinya belum mampu membahagiakan dirinya sendiri. Namun dia rasa Hani adalah sumber bahagianya hingga dia harus juga membahagiakan perempuan itu.
"Aku yakin, Sayang. Jika aku tidak yakin, lalu kau pikir untuk apa semua usahaku selama ini? Jika bukan untuk kita, jadi untuk apa perjuanganku selama ini? Jawabannya hanya untuk bisa bersamamu dan terus bersamamu, Han. Cukup itu, aku tidak butuh yang lain," ucap Alex serius, "wajar ada keraguan, Han, tapi jangan buat keraguan itu menguasaimu karena semua yang kita takutkan hanyalah racun untuk hubungan kita."
Hani mengangguk kecil. Ujung bibirnya digigit pelan, nampak masih ragu. Tak lama dia kembali membuka bibirnya, "Kalau begitu apa aku juga boleh egois, Alex?"
"Tentu!" jawab Alex antusias.
"Aku ingin egois berharap kau tidak berhubungan apa pun lagi dengan Chelsa."
__ADS_1
Alex tersenyum kecil, "Pasti, Sayang."
***