
Setelah Andre keluar dari rumah sakit...
Diskusi selesai, di mana kami berempat akan tinggal. Bukan di rumahku atau di rumah Andre. Jadi kami tinggal di sebuah Villa, di puncak. Tidak jauh dari Padepokan Mbah Kromo yang dulu di gunakan sebagai tempat pengobatan Andre.
Mengapa kami memilih tempat ini? Karena menurut saran Dokter yang menangani Andre, Ia perlu di berikan suasana fresh di awal penyembuhan. Supaya depresi yang menyerangnya melemah dan hilang, baru setelah itu lanjut ke proses penyembuhan amnesianya.
"Tempatnya indah, aku mau ajak kamu jalan ke sana sebentar," Andre menggandengku berjalan ke arah perbukitan hijau dengan hamparan daun teh muda yang belum di petik. Aku menarik tanganku, pura-pura membenarkan letak syal yang ku pakai.
Andra dan Vallen mengejar kami berdua, mereka baru saja meletakkan barang-barang ke Villa. Semua yang kami lakukan ini sudah di setujui oleh seluruh pihak keluarga. Jadi tidak ada siapapun yang akan menyalahkan kami.
"Cepat sekali kalian, sudah sampai di sini," Andra berkata sambil mengatur nafasnya yang sedikit tersengal akibat berjalan setengah berlari.
"Iya, mas. Tadi Kak Andre pengen ke bukit itu," Aku menunjuk sebuah bukit yang indah di ujung jalan kami. Aku , Vallen, Andra dan Andre memandang ke arah bukit di ujung jalan itu dengan seksama.
"Kan dia adikku, kenapa kamu panggil dia, Mas?" Andre menanyakan masalah panggilanku pada Andra. Sebelum menjawab, aku lebih dulu berfikir keras agar jawabanku masuk akal dan tidak membuatnya curiga.
"Itu memang dari dulu kakak. Aku memanggil mas Andra mas karena seumuran sama kakak juga kan?" Jawabanku justru malah terkesan konyol.
"Jadi gini kak, Sila memang dari dulu manggil kita begini, sengaja di bedain biar nggak bingung," Andra menambahkan, dan kali ini sepertinya Andre sedikit percaya.
"Jadi gitu, maaf aku sama sekali nggak ingat semuanya, jadi sedikit salah paham," Ungkapnya, aku dan Andra saling berpandangan, Andre jalan paling depan.
Andra berlari kecil mengejar kakaknya, sementara aku berjalan berdampingan dengan Vallen. Aku menggandeng tangan sahabatku itu untuk mengurangi hawa dingin yang masih terasa. Maklum, kami tiba di sini memang kepagian, sekarang jarum jam tanganku masih menunjukkan pukul tujuh.
"Vallen, kita harus berjuang untuk kesembuhan Andre dengan sungguh-sungguh. Aku bahkan sampai rindu berat pada suamiku. Aku ingin memeluknya erat, pengaruh hormonku selama hamil ini," Curhatku pada Vallen. Gadis itu menepuk pundakku berulang kali untuk memberiku semangat.
"Terimakasih, Sila. Aku berhutang banyak atas kebaikanmu membantu kesembuhan suamiku. Aku sudah mendengar cerita dari mama, kalau kamu selalu berhasil merawat Andre. Aku bukan cemburu, tapi menurutku, cinta di antara kalian sangat kuat, bahkan dalam antara hidup dan mati pun, Andre masih bisa merasakan kehadiranmu," Kata Vallen dengan gembira. Sama sekali tidak ada sorot cemburu yang keluar dari matanya.
Aku membalas perkataannya dengan senyum termanisku. Apa yang di katakan Vallen memang benar. Perasaan cinta Andre padaku memang sangat besar, meskipun aku telah pergi dan mencintai orang lain, dia tetap mencintaiku tanpa henti.
"Vallen, aku harap kamu lebih bersabar, suatu saat hati Andre pasti akan terbuka untukmu suatu hari nanti. Tidak ada yang tidak mungkin. Kamu hanya perlu menghangatkan hatinya yang beku hingga meleleh. Dia orang baik, bahkan dia terbaik yang pernah aku kenal," Aku memberikan motivasi pada Vallen. Aku berharap dia tetap semangat untuk membuat Andre jatuh cinta.
Aku dan Andra juga sambil mencari informasi, di mana tempat terbaik untuk pengobatan amnesia Andre. Aku ingin mencari cara yang tercepat untuk mengembalikan ingatannya. Aku berusaha untuk bisa lebih cepat mengembalikan semuanya pada posisi normal.
"Sila, sejak awal aku menikah dengan Andre, aku sudah sangat siap menghadapi segala kenyataan ini. Kenyataan dimana suamiku tidak pernah mencintaiku, tidak pernah menyentuhku, bahkan kami tidur terpisah. Aku tidak akan pernah menyerah, selama dia masih memperlakukan aku dengan baik. Sila, sama seperti Andre yang mencintaimu dengan sangat dalam, aku pun juga mencintainya dengan sangat dalam. Aku akan melakukan apapun yang membuatnya bahagia. Aku mengeringkan airmataku sampai dia tidak pernah menyadari bahwa aku terluka. Aku hanya bisa melakukan yang terbaik untuknya, melayaninya selayaknya seorang istri pada umumnya. memberikan kasih sayang lewat hal-hal kecil. Memahami segala kondisi yang tengah ia rasakan. Aku bahkan tidak perduli, jika dia tidak bisa mencintaiku seumur hidupku," Vallen mengungkapkan perasaan yang ada di dalam hatinya. Dia gadis yang tulus, sangat cocok dengan Andre.
"Vall, yakinlah hari itu akan tiba, hari dimana Andre akan mencintaimu sepenuh hatinya. Dimana dia akan selalu kamu lihat saat pertama kali membuka mata. Aku percaya, kamu wanita yang sangat cocok mendampingi Andre." Aku mendukungnya. Mendukung sahabatku untuk memperjuangkan perasaannya. Aku jadi berpikir, seandainya aku tidak pernah ada di dalam hidup Andra dan Andre, pasti aku tidak akan menjadi seseorang yang mengikat hati mereka.
Tapi aku tidak dapat menampik takdir. Aku juga tidak pernah memaksa seseorang untuk mencintaiku. Berulang kali aku mengatakan pada Andre untuk melupakanku dan memulai cinta yang baru. Aku tidak perduli jika kalian akan menyalahkanku tentang ini.
"Tentu, Sil. Aku akan melakukan yang terbaik untuk Andre dan rumah tangga kami. Ayo kita susul mereka. Sepertinya kita terlalu lambat sampai mereka jauh dan hampir tidak terlihat lagi,"
Aku dan Vallen bergegas mengejar Andra dan Andre. Kami berdua tidak bicara lagi. Saling diam sampai kami berempat akhirnya sampai ke puncak bukit.
"Ternyata dari sini malah kelihatan lebih indah, ya," Vallen tampak sangat senang. Ia berdiri di dekat Andre. Aku tahu, dia juga pasti sangat rindu pada Andre dan ingin memeluknya.
"Iya Vall, aku sebelumnya belum pernah ke sini, sepertinya kita harus sering-sering ke sini,"
Aku menanggapi perkataan Vallen. Sementara, baik Andra ataupun Andre, mereka berdua menatap ke arah yang jauh. Aku tidak tahu apa yang ada di otak mereka masing-masing, yang jelas mereka tampak sedang memikirkan sesuatu.
Siang harinya...
__ADS_1
Andre tengah tidur siang, aku keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Andra. Jadi di Villa itu ada beberapa kamar. Vallen di kamarnya sendiri, Andra juga, aku dan Andre sekamar tapi jangan salah paham dulu, kami tidak tidur dalam satu ranjang.
"Tok...Tok.." Aku mengetuk pintu kamar Andra pelan.
"Cklek.." Andra membukakan pintu untukku, setelah mengetahui aku yang ada di depan pintu kamarnya Andra menarikku masuk dengan cepat. Ia lalu memelukku erat. Ia pasti rindu padaku.
"Mas kangen sayang, sampai kapan ya kita kucing-kucingan seperti ini? kok rasanya seperti mas yang jadi pebinor," Andra tertawa, aku juga, hah, memang saat ini hubungan kami tampak seperti sedang melakukan perselingkuhan.
"Aku juga dari pagi tadi kangen banget sama mas, rasanya pengen nemplok aja, tapi nggak bisa. Aku sampai curhat sama Vallen tadi, makanya lama nyusul ke bukitnya," Curhatku sambil terus memeluk Andra sambil menghirup aroma parfumnya yang paling aku rindukan.
"Sabar sayang, ya. Nanti kalau kakak sudah sembuh kita bisa seperti dulu lagi kok, istriku ini kan paling hebat, pasti bisa lewati semua ini dengan mudah. Mas percaya sama adek," Andra mengelus rambutku dan mengecup keningku berkali-kali. Aku bisa merasakan cintanya yang begitu dalam.
"Tapi seperti ini malah seru loh mas, aku merasa tertantang untuk sekedar memelukmu saja. Mas, aku cinta sama mas," Aku tampak seperti sedang menggoda suamiku itu, tapi nyatanya aku memang sedang bicara sungguh-sungguh.
"Cup.." Andra mengecup bibirku lama. Aku dapat merasakan nafasnya berhembus dengan jelas. Aku merindukan saat-saat romantis seperti ini. Beberapa hari ini aku dan Andra benar-benar saling menahan diri. Kami berdua tidak sedang saling menyakiti, tapi kami berdua melakukan ini untuk kebaikan semuanya.
"Sayang, aku mencintaimu lebih dari kata cinta. Sampai nanti kita menua dan rambut kita memutih bersama, aku akan tetap ada di sampingmu, selamanya,"Andra menggandengku untuk duduk di atas ranjang. Andra setengah rebahan dan aku tiduran dengan sebagian badanku tertumpu di dadanya.
"Sampai kangen bau parfum, Mas.." Aku mengendus-endus baju Andra.
"Mas juga kangen wangi rambut adek," Andre balik menciumi rambutku berkali-kali. Rasanya kucing-kucingan seperti ini membuat kami jadi lebih romantis. Rasa rindu yang biasa saja jadi luar biasa.
"Ayah juga kangen sama kamu, sayang, kakak sama adek baik-baik ya di dalam sana, jangan nakal. Biar bunda kuat buat ngurus pakde. Ayah udah nggak sabar nih, buat nunggu kalian ke luar," Andra mengelus perutku berkali-kali. Ia tampak sangat menginginkan mereka. Aku berharap, di kehamilanku kali ini, aku bisa menjaganya sampai nanti saat yang kami tunggu tiba. Aku sudah sangat menginginkan adanya tangisan bayi di antara kami.
"Mas, kamu pasti udah pengen banget ya punya anak?" Aku mengajukan pertanyaan konyolku pada Andra. Padahal aku sudah tahu jawabannya pasti iya, tapi masih saja aku tanyakan.
"Tentu saja, sayang. Umurku sudah hampir tiga puluh, loh. Semua temenku udah punya anak. Tapi memang harusnya udah, cuma kita belum di percaya aja waktu itu," Ucap Andra dengan hati-hati, takut menyinggung perasaanku.
"Tentu saja, Sayang. Sepertinya mereka juga sehat dan kuat. Aku bayangin mereka berdua udah ada di antara kita, bahagia sekali, Sayang. Gimana kalau beneran, ya?" Andra tampak seperti sedang menerawang jauh, menembus batas khayalannya. Aku pun sama, ingin segera menimang si kembar dan mendengarkan tangisan mereka.
"Jangan bilang, nanti mas jadi berat ke kantor karena terlalu menikmati peran menjadi ayah si kembar," Aku meledek Andra, dia hanya tersenyum tipis. Sambil mendekapku erat.
"Kalau cuma berat untuk ke kantor, aku setiap hari juga sudah berat, Sayang. Terutama saar kamu nggak ikut ngantor. Sepi banget, nggak ada yang ku pandangi seperti biasanya," Curhatnya. Aku mencubit perutnya lumayan keras, sampai Andra beringsut karena kesakitan.
"Mas, aku ingat sesuatu, nih. Baru sekarang aku inget dan aku mau tanyain sama, Mas." Aku berusaha serius agar Andra penasaran dengan apa yang akan aku bicarakan.
"Apa itu?" Andra tampak antusias.
"Dulu, saat Anita memaksaku untuk mencoba menerima perjodohan sama Mas, dia bilang kalau Mas lagi nyari cewek yang nggak suka beli barang-barang mewah, emang itu bener? Aku sampai mikir, Mas itu orangnya super pelit, loh." Aku kembali Flashback kata-kata Anita di awal-awal perjodohanku dengan Andra.
"Kalau itu sih cuma joke. Aku sudah tahu dari cerita mama sama kakak kalau kamu orangnya sangat sederhana dan nggak pernah aneh-aneh. Jadi menurut kamu, aku pelit atau nggak?" Andra balik mencecarku. Tentu saja tidak. Kartu ATM-nya juga beberapa aku yang pegang, perusahaan atas namaku, rumah beserta isinya juga atas namaku. Tidak ada sisi pelit yang terlihat dari Andra selama ini.
"Nggaklah, Mas. Aku udah jadi nyonya Andra dengan segudang fasilitas begini. Aku malah berpikir, Mas terlalu murah hati," Pujiku. Andra mencubit pipiku karena gemas.
"Baru deh, kalau udah di kasih ini-ono baru muji, dasar wanita.." Sindir Andra. Aku cemberut dan pura-pura kesal.
"Jadi, menurut Mas, aku orang yang seperti itu?" Aku mengilangkan kedua tanganku ke dada sambil menekuk wajahku. Andra merengkuhku lagi untuk bersandar di dadanya.
"Sila tetap yang terbaik. Tidak ada wanita yang sebaik Sila di bumi ini. Selamanya dia adalah permaisuriku," Gombalannya suksea membuatku mengulas senyum. Andra memang selalu berhasil meluluhkan hatiku.
"Gombal aja terus, sampai si kembar lahir ke dunia," Ejekku sambil menarik kedua pipi Andra dengan gemas.
__ADS_1
"Sayang, gimana kuliahmu? Akhir-akhir ini kamu nggak pernah lagi ke kampus," Aku bahkan sudah lupa kalau anak kuliahan. Andra baru saja mengingatkanku. Sejak dia pulang dari Amerika saat itu, aku hanya beberapa kali ke kampus. Mungkin aku akan di D.O karena terlalu lama cuti.
"Aku pikirkan nantilah, Mas. Sekarang aku masih mau fokus pada kehamilan dan kesembuhan kakak. Nanti kalau memang aku harus mengulang semester depan, aku tidak keberatan, kok."
"Sila..! Sil..." Aku dan Andra terdiam mendengar suara Andre yang mencariku. Aku deg-degan, bagaimana caranya aku keluar dari kamar Andra? Saat ini tidak ada pilihan selain diam seribu bahasa.
"Cari Sila, Ndre?" Suara Vallen membuat aku sedikit tenang. Semoga dia bisa menyelamatkan posisiku sekarang.
"Iya, kamu tahu dia ada di mana sekarang?" Suara Andre terdengar sangat penasaran untuk mengetahui keberadaanku.
"Sila tadi izin ke warung untuk membeli bahan makanan, ada pesan untuknya?" Vallen balik bertanya. Bagusnya alasan Vallen menyelamatkan penyamaranku.
"Nanti kalau dia sudah kembali, suruh cepat menemuiku. Aku tunggu di kamar," Pesannya. Ada apa? Menunggu di kamar? jangan-jangan.. Aish, pikiranku mulai kotor.
"Oke, Ndre. Nanti aku sampaikan." Balas Anita. Kemudian Aku mendengar seseorang menutup pintu, sepertinya Andre sudah kembali ke kamarnya.
"Mas, aku temui kakak dulu. Nanti kalau ada kesempatan lagi, aku akan datang padamu. Sabar ya.. kesayanganku," Aku memeluk Andra sangat erat dulu sebelum aku melangkahkan kaki keluar dari kamarnya.
"Cklek.." Aku membuka kamar Andre, ia tampak tenang di dalam selimut.
"Kak, ada apa? Vallen bilang, kakak mencariku," Aku coba bersuara. Mengetes apakah Andre tidur lagi atau masih terjaga. Ia merespon dengan membuka selimutnya. Aku terkejut, Andre bertelanjang dada. Aku sempat berpikir kalau Andre tidak memakai apapun. Aku harus bagaimana ini. Aku sedikit panik.
"Aku sepertinya masuk angin, bisa minta tolong kerikin?" Permintaan Andre membuatku sedikit lega. Setidaknya hanya minta kerik. Aku tidak perlu mencari alasan untuk menolak.
Aku memperhatikan punggung Andre yanh mulus, beda dengan punggung Andra yang penuh dengan bekas luka cambuk. Aku jadi teringat pada kakek yang kejam.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo PH lovers, terimakasih sudah mampir.
jangan lupa klik love dan rate bintang 5 nya ya..
Tulis komentar kalian di bawah ini
jangan lupa mampir ke novelku yang lain
judulnya
-Si Tampan Pemikat
-Digoda Berondong
Follow ig ku @Ekayunn_15
Buat yang mau gabung grup fans PH juga boleh banget. Caranya:
Tulis nomor WA kalian
di kolom komentar.
terimakasih..
__ADS_1