Perfect Husband

Perfect Husband
97. My Baby


__ADS_3

"Mas, coba deh rasain, si kembar gerak-gerak nih," Aku heboh saat merasakan si kembar bergerak dengan jelas. Gerakan bagian tubuh mereka membuat perutku bergerak mengikuti gerakannya. Seperti tonjolan yang berjalan perlahan.


"Mana coba, Mas mau tahu," Andra meraba perutku untuk merasakan gerakan mereka, tapi anehnya mereka langsung diam saat tangan ayahnya yang mengelusnya. Mungkin, Mereka malu atau justru merasa nyaman dengan sentuhan tangan Andra.


"Kayaknya si kembar malu ya sama ayahnya, tiap kamu sentuh mereka selalu tidak ingin bergerak," Aku tertawa kecil menyaksikan kelakuan si kecil di dalam perutku. Sementara Andra merengut karena kecewa tidak bisa merasakan gerakan si kecil.


"Sayang... gerak dong, ayah mau rasain gerakan kalian," Ucapnya sambil menempelkan telinganya ke atas perutku. kedua tangannya memegang perutku yang sudah lebih besar lagi daripada saat itu. Mengingat usia kandunganku yang sudah menginjak usia 28 minggu.


Aku mengelus rambut Andra perlahan. Aku bangga padanya. Dia tampak sangat bahagia menanti kelahiran anak kami. Ia sangat antusias sampai mau melakukan apapun untuk kebaikanku dan juga bayiku.


Setelah pulang kantor ia selalu menemaniku, terutama saat aku tiduran sambil mendengarkan musik dengar earphone. Dia selalu ada di sampingku meskipun hanya memegang tanganku erat atau memelukku sambil tiduran bersama.


Ku akui, saat ini aku sudah jatuh hati yang terdalam padanya. Hingga perasaan cintaku tidak tersisa untuk siapapun lagi. Hanya dia, satu-satunya laki-laki yang akan menemaniku sampai nanti, sampai maut yang memisahkan kami berdua.


"Mas, aku mencintaimu, akan selalu mencintaimu. Kamu tahu, seandainya aku lebih dulu meninggalkan dunia ini, aku ingin di reinkarnasi lagi seperti di dalam komik fantasi, dan kembali bersamamu lagi," Khayalanku mengarah pada sebuah novel Fantasi yang pernah ku baca. Dimanaenceritakan seorang laki-laki yang di tinggal istrinya meninggal lalu lima tahun kemudian datang seorang wanita yang sangat.mirip denganendiang istrinya itu, dan mereka saling jatuh cinta.


"Sayang, jangan bilang seperti itu. Kita masih akan melewati masa yang panjang untuk bersama-sama. Kita masih akan melihat si kembar lahir, merawat mereka sampai mereka dewasa, kita akan tua bersama, mas juga sangat mencintaimu, sayang." Andra berkata dengan penuh kelembutan.


"Tentu saja, mas. Kita akan merawat si kembar sama-sama. Melihat mereka tumbuh bersama, aku paling tunggu momen si kembar bisa panggil kamu ayah, pasti saat itu tiba aku akan merasa bahagia sekali," Aku benar-benar membayangkan dua anakku akan ribut berebut memeluk Andra saat ia pulang kantor. Berebut untuk di gendong hingga harus dua-duanya kanan dan kiri. Betapa indahnya momen itu, aku tidak bisa menahan rona bahagiaku, bahkan baru saat membayangkannya seperti ini.


"Gimana kalau si kembar lebih dekat denganku?" Ujar Andra sambil mengelus perutku lembut dan berulang kali.


"Jangan dong, kita harus bisa buat mereka dekat dengan kita berdua, nanti repot dong kalau cuma mau sama ayahnya, mas kan harus kerja juga. Tugas mengurus mereka, itu tugas aku," sahutku sambil memegang pipi Andra yang lembut. Hubungan kami berjalan sudah lebih dari satu tahun, dan semakin hari, perasaan antara aku dan dia selalu semakin bertambah.


"Iya juga ya, Sayang. Repot banget kalau sampai saat aku mau kerja mereka megangin kaki aku dan nggak bolehin aku pergi," Andra sepertinya sudah masuk pengaruh sugestiku, sampai ikut merasakan kehadiran si kembar balita.


"Betul banget mas, kalau satu sih masih mending, anak kita nanti dua, kebayang banget kan gimana repotnya mas," Celotehku, masih sambil membayangkam Si Kembar yang akan membuat rusuh saat mereka sudah pandai berjalan nanti.


"Apa kita perlu menyewa babysitter? Biar nanti kamu nggak kerepotan ngurusin si kembar. Makin dia gede, makin dia hiperaktif. Butuh sebuah fokus yang bagus untuk bisa mengawasi keduanya." Andra mengusulkan untuk menyewa babysitter.


"Sementara, aku ingin merawat si kembar sendiri, mas. Nanti kalau si kembar sudah mulai aktif atau aku mulai kerepotan ngurus mereka aku baru akan cari, mas." kataku, sambil sesekali mengelus perutku lagi.


"Sekarang kita pergi yuk kebabyshop. beli keperluan si kembar sayang," Mendadak Andra mengajakku untuk pergi belanja perlengkapan bayi. Tentu saja aku setuju.


"Boleh, Mas. Aku paling suka kalau di suruh belanja, aku mau pilih baju yang lucu-lucu buat si kembar," Aku sangat antusias mendengar ajakan Andra untuk belanja keperluan bayi.


Dia membantuku berdiri. meskipun usia kandunganku 7 bulan, tapi karena kembar, besar perutku kata Minah seperti orang yang sudah hamil 9 bulan. Andra berjalan mengiringiku dengan sabar.


"Minah, saya mau belanja keperluan bayi dengan nyonya. Jaga sumah baik-baik," Sapa Andra saat melihat Minah sedang merawat tanaman bunga di depan rumah.


"Baik, tuan. Hati-hati tuan dan nyonya," Balas Minah santun.


Semenjak aku hamil besar, jika pergi keluar berdua Andra selalu mengajak supir kami, pak Budi. Katanya supaya bisa menemaniku duduk di bangku belakang dan memastikan aku nyaman.


Dia terkadang menjadi sandaranku sepanjang perjalanan, menjadikan dadanya sebagai bantal. Kadang dia suka menceritakan Kejadian yang lucu yang pernah ia alami saat di Amerika untuk menghibur perjalananku agar aku rileks.


"Mas, kamu nggak ngerasa pegel kalau aku bersandar begini sepanjang jalan?" Aku penasaran juga, apa jawaban dia saat aku bertanya.


"Aku sudah seharusnya meringankan beban kamu, Sayang. Aku baca di beberapa buku dan majalah, kalau wanita hamil itu sangat kepayahan, seluruh badannya bahkan terasa sakit, apalagi kamu hamil kembar, kan? jadi mas pegel sedikit nggak masalah, perjuanganmu untuk si kembar jauh lebih besar," Andra mengecup keningku berulang kali.


"Kamu baca buku tentang kehamilan juga, Mas?" Aku terkejut, mengetahui selama ini suamiku ternyata suka membaca buku kehamilan. Pantas saja, sepanjang kehamilanku dia selalu tahu apa yang aku butuhkan. Dia juga selalu memberikanku perhatian ekstra.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Mas selalu ingin tahu, kehamilan itu seperti apa prosesnya, setiap perubahan yang terjadi pada seorang ibu hamil, apa saja yang di butuhkan, bahkan apa yang harus di persiapkan saat kamu lahiran nanti, aku sudah tahu," Aku semakin kagum pada suamiku. Di sela kesibukannya ia masih menyempatkan diri untuk membaca buku kehamilan. Aku memeluknya erat.


"Makasih ya suamiku, kamu memang perfect. Jarang-jarang seorang pria mau membaca buku kehamilan dan mempelajari semuanya, cuma mas yang mau begitu. Bangga deh punya suami, mas," Aku memujinya, bahkan seribu pujianpun tidak akan.cukup untuk membalas semua yang telah dia lakukan untukku. Dia terlalu baik.


"Untuk memanjakan seorang istri, butuh usaha dan pengorbanan yang besar. Kamu tahu, sayang. Setiap pulang kantor dan kamu menyambutku dengan ceria, iti adalah hadiah terindahku setiap hari. Aku merasa selalu di nanti, dan di sayang sama kamu. Aku sangat senang ketika kamu manja, aku merasa bermanfaat untukmu. Jika masih ada kesempatan, aku ingin terus melakukan segala hal yang membuatmu bahagia," Andra mengecup tanganku begitu lama. Aku merasakan Ia menitikkan airmata. Kuraih pipinya dengan kedua tanganku. Benar saja, matanya basah sekarang.


"Kamu kenapa menangis, mas?" Tanyaku dengan mata yang juga berkaca-kaca.


"Maafkan, Mas, sayang. Mungkin, Mas masih banyak kekurangan. Belum bisa membuatmu sepenuhnya bahagia. Tapi, mas janji akan terus berusaha," Ungkapnya dengan tatapan sendu. Aku menghapus airmatanya. Ku kecup bibirnya sekilas. Bagaimana ia bisa bicara seperti itu? Aku bahkan sudah merasa sangat di manjakan olehnya.


"Mas, aku sudah berulang kali bilang sama kamu, kan, kasih sayang kamu sama aku sudah sangat maksimal. Belum ada yang tidak kamu lakukan. Semuanya kamu berikan untuk membuatku bahagia," Aku menatapnya dalam, memberinya pengertian bahwa aku sama sekali tidak kekurangan kasih sayang darinya.


"Kamu bisa saja berbohong untuk menyenangkanku sayang, aku tau kamu terlalu baik," Aku tidak menyangka Andra tetap tidak yakin dengan apa yang aku katakan. Ada apa dengannya? Apa cara bicaraku kurang meyakinkan?


"Sayang, coba katakan padaku, apa yang harus aku lakukan, supaya kamu percaya, kalau aku tidak sedang membohongimu?" Aku kembali mencari jawaban dari Andra. Aku ingin dia mengungkapkan alasannya tidak mempercayaiku.


"Aku tidak tahu, Sayang. Akhir-akhir ini aku selalu di dera ketakutan. Aku merasa takut kehilanganmu, aku merasa, kamu akan menjauhiku," Pria tegar itu beribah menjadi anak kucing yang lucu.


"Mas, aku yodak mungkin meninggalkanmu, aku akan terus bersamamu. Buang pikiran negatifmu itu, oke?" Sekali lagi aku menumbuhkan keyakinan yang ada di hati Andra. Aku sejujurnya juga tidak mengerti dengan beberapa sikap anehnya akhir-akhir ini.


"Aku akan berusaha sayang, terimakasih, aku sangat menyayangimu, sayang," Andra mengecup keningku, lagi.


Aku coba menepis berbagai pertanyaan yang muncul di dalam kepalaku. Tentang segala keanehan Andra, perubahan sikapnya yang drastis Dan juga ketakutannya kehilanganku yang mulai tampak berlebihan, apa itu semacam gangguan jiwa?


Kami berdua telah sampai di sebuah babyshop Terbesar di kota kami. Aku begitu bersemangat saat melihat berbagai pernak-pernik bayi lucu yang terlihat dari luar toko yang di lapisi kaca transparan.


Andra menggandengku masuk ke dalam sana. Aku ingin memborong semua baju-baju lucu bayi yang tertata rapi di etalase. Semuanya tampak menarik, imut, dan penuh warna.


"Iya sayang, imut banget topinya, udah, masukin keranjang aja, deh. Eh.. lihat nih, Mas. Lucu banget bajunya.. ambil dua warna pink sama biru deh, kan pas cowok sama cewek," Aku heboh sendiri memilih baju-baju mungil yang sepertinya cocok di pakai oleh si kembar.


"Sayang, gimana dengan box bayi ini? pas kan ya buat si kembar, besar juga ukurannya," Andra menunjuk sebuah tempat tidur bayi dengan ukuran lumayan besar, aku mendatanginya untuk melihat.


"Bagus, Mas, boleh nih. Ambil aja. Sekalian bantal, selimut dan kelambunya Mas, warna netral aja, kan nanti tinggal berdua mereka," Aku kembali menyerbu perlengkapan lainnya sampai pesanan kami menumpuk.


"Mbak, nanti di kirim ke alamat yang tadi ya," Pesan Andra pada kasir toko sebelum akhirnya kami melangkahkan kaki ke luar.


"Hari ini, mas mau bawa kamu ke dokter, mas pengen lihat perkembangan si kembar," Tumben, Andra mengambil keputusan tanpa meminta pendapatku, tapi aku senang dan tidak keberatan ia melakukannya.


"Baiklah, Mas. Aku senang karena kamu perhatian penuh sama si kembar, jadi makin sayang, deh." Aku coba menggodanya dengan candaanku yang mungkin sedikit garing.


"Terimakasih, Sayang. Ayo masuk," Seperti biasa, Andra membukakan pintu mobil untukku. Aku masuk dengan hati-hati, dan sedikit kepayahan karena perut besarku.


Sepanjang perjalanan menuju ke dokter kandungan, aku memperhatikan Andra yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Tatapannya lurus ke depan, tanpa ekspresi.


Entah apa yang sedang di pikirkannya saat ini. Aku ingin bertanya padanya tapi, aku ragu. Takutnya aku membuat dia tidak nyaman dengan pertanyaanku. Tanpa bicara dan pura-pura tidak tahu dengan apa yang sedang Andra perbuat, aku diam-diam memeluk lengannya dan menyenderkan kepalaku di bahunya.


"Sayang, kamu lelah?" Tanyanya singkat, tapi menurutku penuh perhatian.


"Nggak, aku cuma nggak mau, suamiku melamun, entah memikirkan apa," Sindirku pada Andra.


"Mana ada. cuma perasaanmu saja, Sayang," Andra mengelak, ada apa sebenarnya dengan dia? Biasanya dia selalu terbuka, tapi akhir-akhir ini seperti ada yang di sembunyikan olehnya.

__ADS_1


"Mas, satu tahun bersamamu, mana mungkin aku tidak mengenali sikapmu. Aku rasa, akhir-akhir ini ada yang berbeda darimu. Ada apa? Bicaralah," Aku memintanya untuk bercerita, meskipun aku tidak yakin kalau Andra mau melakukannya. Jika dia sudah menyembunyikannya dariku, pasti masalah ini sangat besar. Tapi apa? Aku ingin tahu.


"Sayang, tidak ada yang aku sembunyikan darimu. Jangan berpikir seperti itu. Ingat si kembar, kamu jangan sampai stress." Andra memelukku erat. Aku tidak tahu apa alasanku, tapi aku justru menangis. Aku takut, apa yang di sembunyikan Andra itu membahayakan dirinya.


"Semuanya akan baik-baik saja. Jangan panik, sayang, percaya padaku. Aku tidak menyembunyikan apapun selain untuk kebaikanmu," Andra mengeratkan rengkuhannya padaku. Mengecup keningku berulang dan menghapus airmataku.


Kami telah sampai di dokter kandungan yang biasa kami kunjungi, beliau menyambut kedatanganku dengan sangat baik. Lalu kamu memulai USG untuk melihat kondisi bayi kami.


"Mereka berdua sehat, air ketubannya baik, 8 minggu kurang lebih sudah masuk HPL ya bun," Dokter itu memberikan penjelasan.


"Coba cari bagian wajahnya, Dok. Saya ingin mengabadikannya dengan ponsel," Usul Andra.


"Baik-baik, Nah.. itu dia pak Andra, wajah putra dan putri bapak, karena sudah mendekati HPL, sering ajak istri bapak berhubungan intim ya, supaya mempermudah proses persalinannya," Pesan Dokter seketika membuat pipi Andra memerah.


"Baik, dok..." Jawabnya sambil menggaruk tengkuknya meskipun aku yakin, tidak ada rasa gatal di bagian itu. Sementara aku, hanya tersenyum sekilas saja.


Pemeriksaan selesai, di akhiri dengan pemberian vitamin dan pil penambah darah. Lalu kami pun meninggalkan Klinik Sang Dokter.


"Mas, kalau begitu, mulai nanti malam, Mas harus bantu si kembar mencari jalan keluar," Bisikku di telinga Andra.


"Sayang, jangan di kode-in. Mas jadi semangat nanti," Sahutnya sambil tertawa kecil.


Bertemu dengan seseorang, terkadang terjadi tanpa kesengajaan. Setiap hari berjumpa menimbulkan kenyamanan. Keseringan bersama, membuat akhirnya timbul perasaan cinta.


(Dikutip dari Google.com)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo PH lovers...


Aku banyak mengucapkan terimakasih buat kalian yang sudah vote Perfect Husband di noveltoon dan mangatoon baik dengan poin ataupun koin. Aku mohon dukungan kalian selalu untuk Perfect Husband ya...


Aku juga mau kasih pengumuman nih..


Nanti di eps 100, PH akan adakan Give Away.


Caranya mengikuti kuis yang akan di adakan di grup fans PH.


Jadi, buat kalian yang belum masuk dalam grup, bisa tulis no wa kalian di kolom komentar.


Dukung juga karyaku yang lain:


Di goda Berondong


Si Tampan Pemikat


My Workaholic Husband


Follow IG-ku @Ratuasmara_06


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2