
Cerita ini hanya fiksi, banyak adegan kekerasan. Bagi pembaca di bawah umur, harap bijak dalam memilih bahan bacaan. Terima Kasih
Alaia dan Liana berada di sebuah ruangan dengan banyak dress berjejer rapi, juga beberapa pelayan yang akan membantu Alaia malam ini. “Pak Agam menyiapkan ini semua untuk Bu Alaia.”
“Thanks, semua indah. Jika hanya bersamaku, panggil saja Alaia, lagipula kamu lebih tua daripadaku, seharusnya aku yang memanggilmu dengan panggilan kakak.”
“Saya takut jika pak Agam marah.”
“Hanya kita berdua, kalau dia marah, aku akan memarahinya balik.”
Liana tersenyum, dia senang memiliki atas seperti Alaia dan juga Agam. Mereka baik dalam segala hal, selain itu karena sebuah pekerjaan, Agam memiliki sifat yang tegas, sehingga membuat Liana juga terlatih lebih profesional saat bekerja.
“Kak Liana, menurutmu dress mana yang cocok untuk acara malam ini?.”
“Karena acaranya di pantai, aku pikir ini semua bagus.” Liana menyentuh beberapa dress saja untuk bisa dipilih Alaia.
“Ini bagaimana?.” Alaia mengambil satu dress dan memperlihatkan pada Liana.
“Bagus, tapi sepertinya yang lain dulu.”
Alaia mengembalikan dress itu dan berganti mengambil yang lain, hanya beberapa hingga mereka jatuh pada satu pilihan yang cocok untuk Alaia. Dress yang tidak begitu terbuka tapi cocok untuk pesta pantai malam ini.
Setelah banyak waktu dihabiskan untuk berdandan, akhirnya Alaia bisa melihat penampilannya yang sempurna di cermin. Seperti bukan Alaia, wanita itu tersenyum, beberapa detik di depan cermin fokus pada penampilannya, sebuah tangan melingkar di pinggangnya dengan sempurna.
“Cantik.” Suara berat milik Agam mengalun manja di telinga kanan Alaia.
“Mas...”
“Aku tidak rela semua melihat kecantikanmu sayang...” rengek Agam dengan wajah sedihnya.
Alaia tersenyum melihat sikap Agam yang menurutnya sangat imut, wanita itu menatap Agam setelah membalik tubuhnya menghadap ke arah Agam “Kalau kamu nggak datang, pesta nya akan gagal, terus apa gunanya kita kesini.”
Agam menyentuh bibirnya sendiri, seakan mengerti apa yang diminta suaminya, Alaia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Agam, bukan Agam namanya kalau hanya sebuah kecupan. Tangan Agam menyentuh leher Alaia, memperdalam ciuman mereka hingga tanpa sadar seseorang di pintu melihat kegiatan tersebut dengan kesal.
Alaia menggandeng tangan Agam memasuki tempat acara pesta, Liana dan Farah menyapa pasangan tersebut selaku atasan serta majikan mereka berdua yang paling dekat. Ada sofa khusus di bagian paling depan untuk para undangan tamu penting. Termasuk Kelvin yang duduk di sana juga melambaikan tangannya pada Agam dan Alaia. Alaia tentu saja tersenyum mengingat Kelvin adalah keluarga Agam.
“Kamu mengundang Kelvin juga mas?.”
__ADS_1
“Tidak, dia datang sendiri.”
“Hubungan kalian belum baik ternyata.”
“Tidak akan pernah baik sayang.”
Mereka berdua duduk di sofa khusus, setelah kedatangan Agam. Acara di mulai, ada pembukaan dari MC kemudian dilanjutkan sambutan dari Agam, pria itu sangat tampan melangkahkan kakinya naik keatas panggung kecil di sana, menyampaikan sepatah dua patah kepada para karyawannya sekaligus memberikan apresiasi terhadap pekerjaan mereka yang sangat baik selama satu tahun ini.
Alaia yang tengah duduk dengan nyaman memperhatikan suaminya di depan, sebuah panggilan membuatnya menoleh ke samping dimana Kelvin duduk dengan ambasador perusahaan suaminya, Cassandra.
“Lama kita tidak bertemu.” Ucapan itu membuat Alaia tersenyum.
“Kita bertemu di acara nenek dan kakek sebelumnya.”
“Aku belum sempat berbincang denganmu karena Agam.”
“Lebih baik tidak.”
“Aku tidak akan merebutmu dari Agam, tenang saja.”
Alaia melihat kearah Agam kembali “Aku harap hubunganmu dengan mas Agam bisa membaik.”
Alaia menarik nafasnya dalam-dalam dan menoleh ke arah Kelvin kembali sambil tersenyum “Maaf, aku harus menemani mas Agam.”
“Baiklah.” Kelvin hanya mengangguk-angguk tanpa melepaskan perhatian dan pandangannya dari Alaia.
Hingga Agam datang dan melihat tajam ke arah Kelvin, Agam kembali duduk di sebelah Alaia, menghalangi Kelvin yang memperhatikan Alaia.
“Kamu baik-baik saja sayang?.”
“Nggak papa kok mas.”
“Jika tidak nyaman, katakan saja.”
Alaia mengangguk, setelah itu dilanjutkan acara utama yaitu party. Cassandra sebagai seorang penyanyi, membawakan sekitar 2 lagunya di pesta tersebut, dia sangat cantik mengenakan pakaian yang lumayan terbuka.
Agam berbincang dengan beberapa rekan kerjanya yang kebetulan menghadiri acara pesta ini, sedangkan Alaia berdiri di sebelah meja yang berisi banyak makanan dan minuman, sisi kanan Agam. Wanita itu hanya berdiri menyapa beberapa karyawan yang menyapanya sangat baik, hingga Kelvin menghampirinya tanpa sepengetahuan Agam.
“Alaia.” Panggil Kelvin yang membuat Alaia menoleh ke sebelahnya.
__ADS_1
“Kelvin.” Alaia berniat pergi, namun Kelvin menahan tangannya. Alaia segera melepaskan tangan Kelvin yang menyentuh tangannya.
“Sorry.”
“Aku harap kamu selalu menjaga sikap terhadap kakak ipar mu sendiri.”
“Aku tau, tapi mau sampai kapan kamu bersama pria itu?.”
“Mas Agam suamiku, jadi aku akan menemaninya sampai akhir.”
“Kamu tau masa lalu nya bagaimana.”
“Dia masih kecil saat itu, dia sudah menceritakan semuanya.”
“Kamu tau sendiri bagaimana orang yang memiliki kepribadian seperti Agam, kamu paham soal kriminal, kamu tau segalanya perihal itu. Kapan saja sifat Agam akan kembali, aku tidak ingin kamu berada dalam bahaya di sampingnya.”
“Kalau hanya mengatakan hal ini, lebih baik kamu simpan sendiri.” Alaia meninggalkan Kelvin disana dengan mood nya yang memburuk, wanita itu menghampiri Agam dan menyapa rekan kerja Agam yang sebelumnya dia sudah mengatakan kalau tidak ingin banyak menyapa orang malam ini.
Agam memperkenalkan istrinya dengan sangat baik, semua menyukai kepribadian Alaia yang tegas dan cocok menjadi seorang istri Agam.
Liana menghampiri Alaia “Bu Alaia, ada panggilan untuk Bu Alaia.” Ucap Liana sambil membawa ponsel Alaia, selama berada di pesta, Alaia dan Agam menitipkan barang pribadinya pada Liana, tapi sepertinya panggilan itu sangat penting sehingga Alaia harus tetap menerimanya.
“Sebentar mas.” Alaia menerima ponselnya dan sedikit menjauh dari pesta.
Selama Alaia menerima telepon, Agam duduk di sofa menikmati minuman beralkohol yang disediakan. Cassandra menghampirinya sambil membawa minuman di tangannya, duduk di sebelah Agam.
“Pak Agam, saya boleh duduk disini.” Belum sempat Agam menjawab, Cassandra sudah duduk di sebelah Agam, sengaja sedikit menaikkan dress nya hingga memperlihatkan kaki jenjangnya yang sempurna.
“Ada apa?.”
“Perihal pekerjaan saya, saya ingin meminta saran dan masukan dari pak Agam selaku presiden direktur perusahaan.”
“Kamu bisa menanyakan pada penanggung jawabnya langsung.”
“Tapi hasil pekerjaan saya akan menjadi kepuasan untuk bapak juga.”
“Baiklah, apa yang kamu tanyakan?.”
Cassandra sedikit mendekat kearah Agam, sangat dekat bahkan Agam bisa mencium bau parfum milik Cassandra yang sungguh menyengat hidungnya. Di kejauhan, Alaia yang selesai menerima panggilan langsung melihat ke arah Agam yang duduk bersama Cassandra.
“Pak Agam cocok ya sama Cassandra, andaikan belum menikah, mereka pasti jadi pasangan paling serasi sekarang.”
Kalimat seseorang di belakang Alaia membuat wanita itu sedikit tidak nyaman, karena jika di lihat lagi memang mereka berdua sangat serasi. Alaia menertawakan dirinya sendiri dalam hati, siapa Alaia, siapa dia hingga bisa mendapatkan seorang Agam Nalendra.
__ADS_1