Perfect Husband

Perfect Husband
80. Berenang


__ADS_3

"Mas, aku siap!" Teriakku pada Andra yang berada di ujung kolam. Aku sengaja memakai baju renang yang sangat minim untuk menggodanya. Tentu saja Andra memandangku dengan tidak berkedip.


Andra segera berenang mendekat ke arahku. Aku sengaja menunggunya dengan merendam kakiku ke kolam. Andra muncul tepat di hadapanku, diantara kedua kakiku.


"Sayang, kamu terlalu seksi. Kalau saja ini kolam renang umum, semua laki-laki pasti akan menatapmu tanpa berkedip," Goda Andra sambil melingkarkan kedua tangannya ke pinggangku. Membuat jarak diantara kami menjadi sangat dekat.


"Iya kah, Mas? Kalau di kolam renang umum, mana berani aku mas. Ini kan karena hanya ada kita berdua, makanya aku sengaja pakai baju renang ini," Kataku dengan nada sedikit manja. Andra mengendong tubuhku dan mrncelupkanku ke dalam air. Ia menatapku dalam.


"Kamu menggoda mas, ya? Sengaja pakai baju bikini seksi seperti ini? yang hanya menutupi ini dan ini," Andra menunjuk daerah pribadiku. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Ia protes tapi juga suka.


"Nggak, tuh, mas aja yang baperan," Aku melepaskan diri darinya dan berenang menjauh darinya. Andra berenang juga menyusulku. Aku pura-pura mengabaikannya.


"Sayang, jangan coba-coba lari setelah menggodaku," Ia tampak geram karena aku mempermainkannya. Aku hanya tersenyum dan menunggunya di sudut kolam. Aku mengibaskan rambutku yang basah sambil memasang tampang menggoda ke arah Andra. Aku yakin suamiku itu pasti sedikit kesal dengan tingkahku.


"Sekarang, kamu tidak akan bisa lari kemanapun, sayang," Katanya, sambil mengunciku dengan kedua tangannya di sudut kolam.


"Tidak perlu di halangi, aku juga tidak akan melarikan diri kok, mas." Aku sedikit menantangnya, badannya yang lebih tinggi membuatku mendongak untuk melihat wajah tampannya.


Pipinya yang halus di penuhi titik-titik air, rambut dan wajahnya yang basah memberikan kesan seksi menurutku. Awalnya aku yang ingin menggodanya, kenyataannya aku juga tergoda olehnya.


"Cup..." Aku berinisiatif melahap bibir bawahnya sambil merangkul leher suamiku itu erat. Andra yang awalnya kaget akhirnya membalas perlakuanku padanya.


Tangannya dengan bebas menjalar ke seluruh bagian tubuhku. Acara berenang pun berganti menjadi perpaduan cinta kami berdua. Mungkin karena hormon, saat hamil sekarang ini, aku selalu tidak dapat mengendalikan diri.


Aku melepaskan ciumanku sesaat. Kami berdua saling pandang. Kali ini gantian Andra yang mengulangi kegiatan kami yang tadi dengan lebih intens. Aku meresponnya dengam memeluknya erat.


"Sayang, udahan yuk berenangnya. Kita lanjut di kamar aja," Bisik Andra. Aku tertawa kecil mendengar permintaannya itu.


"Kita belum selesai, sayang. Baru aja mulai. Yuk berenang dulu. Habis berenang, baru boleh," Aku coba merayunya untuk melanjutkan acara berenang kami. Ini memang salahku, seharusnya aku tidak menggodanya seperti tadi.


"Baiklah, tapi nanti jangan coba-coba menolak, ya. Kamu harus bertanggung jawab," Andra berenang menjauh dariku. Aku hanya menggelengkan kepala heran lalu melanjutkan acara berenang yang sempat tertunda.


Akhir-akhir ini aku merasa bahagia, karena masalah demi masalah telah berhasil kami lewati. Sekarang kehidupan rumah tanggaku dan Andra sudah sangat harmonis. Aku berharap, tidak ada lagi masalah yang akan datang mengganggu kehidupan kami berdua.


Setelah kejadian malam itu, kakek juga tidak lagi datang ke rumah, terlebih Andra juga sudah tidak ingin berhubungan lagi sama kakek. Ia masih menyimpan rasa trauma yang mendalam atas kejadian yang terjadi di masa lalu.


Jika aku jadi dia, tentu saja tidak akan mudah memaafkan seorang kakek yanhmg seharusnya melindunginya justru menjadikannya mesin uang untuk menemani tante-tante nakal.


"Kakak, ternyata kalian berdua ada di sini?" Anita muncul dai pintu belakang. Aku dan Andra melihatnya secara bersamaan.


"Anita kesini sama siapa?" Tanya Andra penasaran.


"Tadi aku di antar Affandi, sih. Kebetulan ketemu dia, terus aku pengen mampir ke sini jenguk kalian," Ujar Anita sambil duduk di kursi santai pinggir kolam dengan gaya berjemur di pantai.


"Kalian pacaran ya?" Tanya Andra penuh selidik. Mungkin dia masih tidak senang dengan perilaku Affandi waktu beberapa saat lalu.


"Belum, kak. Aku sama dia baru deket aja," Jawab Anita jujur.


"Cari cowok lain ajalah, kenapa harus dia?" Tepat seperti dugaanku, Andra tidak akan suka hubungan Anita dengan Affandi.


"Mas kenapa, sih. Affandi itu anak yang baik kok sebenarnya. Kamu aja kenal dia di saat yang tidak tepat," Aku berusaha membela Anita. Andra merengut, sebagai reaksi dari tidak sukanya.

__ADS_1


Aku memeluk Andra dari belakang. Mengacuhkan Anita yang berada di sekitar kami. Aku sengaja melakukan ini untuk merayunya.


"Mas, maafkan Affandi. Kasihan loh, Anita. Dia sangat mencintai Affandi," Bisikku ke telinganya.


"Baiklah. Awas saja kalau dia berani menyakiti adikku!" Andra mendengus kesal.


"Woy! kalian sengaja ya, pamer kemesraan di depanku?" Omel Anita kesal. Aku lalu menjauh dari Andra dan keluar dari air.


"Maaf-maaf, aku hanya merayu kakakmu, biar cintamu dan Affandi di restui," Celotehku. Anita justru cuek sambil memakan irisan mangga yang ada di meja.


Aku meraih handuk yang telah ku siapkan dan mengeringkan badan, lalu menyusul Anita yang duduk santai, sambil ikut makan irisan mangga.


"Gimana perkembangan hubunganmu dengan Affandi?" Aku penasaran dengan perkembangan hubungan Affandi dan Anita. Mereka berdua sepertinya sangat cocok, tapi entahlah, aku belum tahu apakah Affandi punya perasaan yang sama dengan Anita atau tidak.


"Menurutku, Affandi sepertinya punya wanita lain yang ia sukai deh, Kak. Tapi aku nggak tau cewek itu siapa, yang jelas sepertinya dia cuma menganggapku teman saja." Curhat Anita sedih.


"Sejak Masih SMA kan dia memang sangat misterius. Aku merasa dia juga nggak gampang dekat dengan orang," Benar, seingatku saat SMA Affandi orangnya sedikit tertutup kecuali padaku, dia seperti selalu mendekatiku, tapi itu mungkin hanya perasaanku saja.


"Benar juga katamu, Kak. Affandi memang jarang dekat dengan orang lain, kecuali kamu. Iya kan? satu-satunya teman cewek yang dekat dengannya cuma kamu, bahkan sama Vallen dia juga musuhan," Anita Flashback masa-masa sekolah mereka. Dia ingat benar, bahwa Affandi hanya dekat dengan Sila.


"Jangan-jangan, wanita yang di sukai Affandi itu.. Kakak?" Anita memandangku penuh tanda tanya. Yah, bisa jadi. tapi bagiku perasaan Affandi bukan apa-apa.


"Kalaupun memang benar itu aku, buat apa di pusingkan? Aku sudah menikah dengan kakakmu, kami juga sebentar lagi akan mempunyai anak. Jadi perasaan Affandi bagiku bukan apa-apa," Aku mencoba meyakinkan Anita. Aku juga tidak mau ia salah paham dengan perasaanku pada Affandi. Hubunganku dengannya hanya sebatas teman satu sekolah dan tidak lebih dari itu.


"Iya, aku tahu, kak. Tapi sepertinya aku menyerah saja untuk mendekatinya. Dia juga tidak mungkin melihatku sebagai orang yang mencintainya kan?" Anita tampak lesu. Dia mungkin sudah berharap banyak untuk menjalin hubungan dengan Affandi yang ternyata tidak menyukainya.


"Sayang! Kemarilah dulu! Carikan aku baju!" Andra teriak dari balkon. Biasanya dia tidak pernah manja, mau mencari baju saja sampai harus berteriak memanggilku.


"Sayang! Cepat!" Andra meneriakiku lagi.


"Iya, Mas! tunggu, aku datang," Aku segera bergegas mendatangi Andra. Aku masih memakai bikini yang tadi ku pakai berenang, bedanya, aku menutupi bagian bawahnya dengan balutan handuk.


"Ada apa sih mas? Tumben manja, biasanya juga ambil baju sendiri," Gerutuku saat bertemu dengannya di ujung tangga.


"Tadi kan kamu udah janji," Katanya menggantung. Aku masih berpikir, janji apa yang aku ucapakan padanya.


"Janji apa sih mas? aku nggak ingat," Andra tidak menjawab pertanyaanku, tapi justru menarikku perlahan untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar.


"Cklek!" Andra mengunci kamar kami.


"Mas, Anita sendirian di bawah, mas ngapain ngunciin aku di dalam sini?" Aku masih bertanya-tanya apa maksud Andra berbuat seperti ini padaku.


"Kamu lihat ini," Andra menunjukkan isi celananya. Entah sejak kapan ia membuang celana renangnya itu. Aku melotot melihat Adik kecilnya yang telah tegang maksimal. Jadi maksudnya janji itu adalah melakukan ini? Aku perlahan tersenyum.


"Aku fikir mas udah melupakannya tadi, makanya aku nggak maksud dengan kata-kata, mas," Aku hanya membiarkannya begitu saja. Dengan cuek aku melepas handukku dan menaruhnya di tempatnya.


Andra memelukku dari belakang, memegang dadaku yang hanya tertutupi bagian ujungnya saja. Rupanya suamiku ini sudah tidak sabar untuk segera menyelesaikan permainan kami.


"Kita lakukan dengan singkat aja sayang, kasian Anita, dia pasti menungguku," Bisikku padanya, Andra hanya mengangguk dan menuntunku ke ranjang. Tanpa menunggu lama Andra melakukan apa yang dia inginkan. Meskipun singkat tentu saja saling memuaskan. Bercinta dengannya selalu menyenangkan.


Beberapa menit kemudian...

__ADS_1


Aku sudah membersihkan diriku dan berganti pakaian lalu kembali turun. Aku melihat Anita sedang menonton tv acara favoritnya.


"Maaf ya, lama. Aku sekalian mandi." Aku ikut duduk di samping Anita. Ia tampak serius melihat acara favoritnya itu.


"Iya, nggak apa-apa. Eh kak, aku ada ide nih, gimana kalau kita hadiahkan tiket honeymoon pada kak Andre?" Anita tampak heboh dengan idenya itu. Tapi dia tidak tahu, hubungan pernikahan macam apa yang sedang di jalani oleh Andre.


"Boleh sih, tapi memangnya mereka mau pergi? kemarin kan mereka sudah bilang nggak bisa pergi bulan madu karena sibuk," Aku mencoba untuk mengarahkan Anuta mempertimbangkan idenya itu.


"Iya juga, sih, tapi apa salahnya di coba kak. Nggak usah jauh-jauh, di dalam negeri aja, seperti Bali misalnya," Usulnya lagi. Aku tidak mungkin memberitahu yang sebenarnya pada Anita apa yang sebenarnya terjadi. Semuanya hanya kami berempat yang tahu. Itulah kenapa, saat kakek menawari Andre untuk bulan madu, ia tidak segan untuk menolaknya.


"Boleh deh, nanti kapan kita bahas lagi ya, matengnya gimana, soalnya memang dari kak Andrenya sendiri yang nggak mau bulan madu, dari pada nanti kita udah beli tiketnya, terus mereka tetap menolak, kan repot," Aku coba beralasan. Anita tampak mempertimbangkan kalimat yang baru ku ucapkan.


"Iya juga, sih ya. Kalau aku yang nikah nih, udah di tawari kakek bulan madu bebas tinggal milih, wah aku bisa pilih lima tempat sekaligus, tuh," Ujar Anita berkelakar, aku hanya tertawa.


"Aku malah nggak ada bulan madu, karena berbagai kondisi yang tidak memungkinkan. Intinya, bulan madu itu tidak terlalu penting, di rumahpun, bisa jadi bulan madu." Kataku dengan penuh percaya diri. Memang aku dan Andra tidak pernah jadi setiap ada rencana pergi honeymoon. Waktu itu ia harus pergi ke Amerika, sekarang karena aku hamil, sudah tidak ingin lagi melakukannya.


"Galau nih kak, cariin cowok kek, Affandi sudah nggak ada harapan," Anita kembali mengeluhkan Affandi. Aku hanya tersenyum merespon sahabatku itu.Sepertinya ia sangat merana setelah putus dengan Beno.


"Daripada galau, kita jalan kaki keluar yuk, beli bakso. Di depan gang ada bakso yang enak," Usulku, untuk mengusir rasa galau yang sedang menerpa jiwa Anita. Matanya kini tampak berbinar, mendengar nama makanan Favoritnya di sebut.


"Ayolah kalau gitu, kamu tahu kan aku suka banget makan bakso, traktir ya," Anita memasang muka memelas.


"Iya deh, sebagai kakak yang baik, aku akan mentraktir adik iparku yang paling bawel ini," Kataku sambil tertawa lalu beranjak dari tempat dudukku dan berjalan ke arah pintu keluar.


Anita mengikutiku, Tidak terlalu jauh dari rumahku memang ada seorang prnjual bakso yang terkenal enak selain penjual bubur ayam.


"Mbak-mbak ayu niki ajeng tumbas nopo?" Kata si penjual bakso itu. Aku dan Anita saling berpandangan tidak tahu apa maksudnya.


"Bapak ngomong apa?" Aku bertanya kepada bapak penjual bakso itu, beliau pun tertawa mendengar pertanyaanku.


"Ndak tahu to? mbak mau beli apa? ada bakso, soto, mi ayam..." Bapak itu ternyata sedang menawarkan barang dagangannya.


"Oh, maksudnya, tadi bapak menawarkan dagangan ya? maaf pak saya nggak ngerti bahasa bapak, saya pesan baksonya dua pak," Aku meminta maaf kepada si bapak penjual.


"Ora opo-opo, ndak apa-apa. Namanya juga orang kota, jarang yang tahu bahasa daerah," Kata si bapak sambil meracik bakso pesanan kami.


"Memangnya itu bahasa apa pak?" Tanya Anita penasaran. Aku juga ikut menyimak. Penasaran sama bahasa yang di pakai si bapak.


"Itu bahasa jawa mbak. Biasanya banyak di pakai oleh orang-orang yang berdomisili atau berasal dari jawa tengah," Jelas si bapak. Aku dan Anita hanya manggut-manggut seolah mengerti dengan apa yang di bicarakan si bapak.


"Sayang, kamu pergi keluar nggak bilang-bilang, aku juga mau dong," Andra tiba-tiba muncul di belakang kami.


"Tambah satu lagi pak," Kataku, bapak itu mengangguk.


"Welah, jan romantis tenan mase iki. Nyeluk e sayang e," Celetuk si bapak. Andra melongo, dia juga bingung, sama seperti aku dan Anita.


"Bapak ini pakai bahasa jawa katanya, coba mas tanya, apa artinya yang beliau omongin tadi,"Kataku pada Andra yang masih tampak masih bingung.


"Memangnya artinya apa, Pak?" Andra bertanya pada si bapak, penasaran.


"Saya bilang, masnya romantis, manggil istrinya pakai kata sayang," Jawab si bapak sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


Kami bertiga tertawa. Hai ini dapat ilmu baru dari bapak penjual bakso. Setelah pesanan selesai, kami pun berpamitan pada si bapak untuk pulang ke rumah.


__ADS_2