
Aku sudah tidak sabar untuk menemui Andra. Rasa rindu ini sudah meletup-letup seperti kawah merapi. Hujanpun mungkin tidak akan menyegarkan hatiku yang gersang. Membayangkan wajah tampan dan senyumannya membuatku melambung dalam khayalan. Mungkin aku telah jatuh cinta untuk kedua kali padanya. Dan cinta ini lebih besar sekarang. Bahkan, sentuhannya, cara bicaranya, semua tentang dia terbayang jelas di pelupuk mataku.
"Pak, tolong agak ngebut ya, ke alamat yang saya sebutkan tadi," Perintahku pada supir taksi yang ku tumpangi. Aneh, aku merindukan Andra sampai seperti ini. Seperti sebulan tidak bertemu.
Sesampainya di kantor, aku melangkah cepat ke arah lift khusus ke ruangan Andra. Aku tidak perduli dengan komentar karyawan yang melihatku tergesa-gesa. Terpenting, aku segera bertemu Suamiku.
Melihat nomor lift pun seperti tidak berjalan, aku lesu dan kesal sendiri. Walaupun sebenarnya nggaknada yang berbeda dengan hari sbelumnya. Hanya saja perasaanku yang berbeda. Rasa rindu ini berlebihan dan sangat menggila.
"Sayang...!" Aku memanggil Andra dengan suara lantang. Berlari ke arahnya dan memeluknya dari belakang. Aku menjadikan bahunya sebagai topangan kepalaku.
"Cup" Aku mengecup sekilas pipi suamiku yang lembut.
"Mas, aku kangen banget tau sama kamu, sampai aku ngerasa perjalaman kesini jauh banget, loh." Celotehku. Andra tersenyum sambil menumpuk map yang ada di hadapannya, tanda ia ingin konsentrasi bicara denganku.
"Kamu memang manja, sayang. Hari ini beda, sikap manjamu itu berlebihan, sampai seperti bukan kamu. Tapi mas malah seneng banget kamu manja gini," Andra menarikku kepangkuannya, melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Syukur deh, kalau mas nggak ngerasa terganggu. Bukannya bantuin kerja, malah ganggu gini. Tapi memang pengennya deket mas terus," Aku menegakkan posisi dudukku. Memiringkan badanku sedikit agar aku bisa menikmati pemandangan wajah tampan suamiku ini.
"Kalau seperti ini, mas jadi pengen cepet-cepet pulang. Mas makin sayang sama kamu, jangan pernah tinggalin mas, ya." Andra mengelus pipi dan bibirku sekilas. Perlakuannya ku balas dengan menggigit bibirnya pelan dan sekilas karena gemas.
"Auh, sakit Sila..." Keluhnya, aku hanya tertawa.
"Dih, kenapa gitu pengen cepet pulang?" Aku menggodanya dan pura-pura tidak tahu apa yang dia inginkan.
"Pengen itu..." Andra memberiku kode. Bukan kode morse ya, kalau itu sih saat kita pramuka.
"Itu apa? Hayooo..." Aku meledek Andra, ia tersipu malu.
"Nanti, tunggu di rumah, aku langsung minta jatahku," ia menyeringai. huh, aku jadi makin gemas sama dia.
"Mas, diem dulu sebentar..." Pintaku padanya.
"Ada apa?" Andra tampak penasaran. Lalu mengikuti instruksiku untuk diam. Aku segera memanfaatkan kesempatan ini untuk ******* bibirnya yang merah alami itu. Aku tidak perduli apa pendapatnya tentangku hari ini.
Sampai beberapa menit aku tidak melepaskan *******ku. Tentu saja dia membalas perlakuanku dengan penuh *****. Sampai akhirnya aku puas melakukannya. kulepaskan *******ku perlahan.
__ADS_1
"Sayang, kamu benar-benar nakal," Bisik Andra. Aku bisa merasakan miliknya terbangun di bawah sana. Mungkin nanti sampai di rumah, dia akan membalas kejahilanku ini.
"Maaf, mas. aku kelepasan. Habisnya kamu gemesin. imut, ganteng, huh! Sepertinya aku menggilaimu, mas," Aku salah tingkah sendiri di hadapannya. Sejak kami menikah hampir satu tahun, aku baru sekali ini bertindak agresif padanya.
"Bisa aja, istriku, pulang yuk.." Ajaknya tiba-tiba. Aku melirik kerjaannya yang masih menumpuk. pasti karena kelakuan nakalku, Andra jadi ingin pulang. Aku seketika jadi merasa bersalah.
"Aku lihat kerjaan mas masih numpuk, pulangnya nanti aja. Gimana kalai aku bantuin mas ngerjain semuanya? Aku nggak akan nakal lagi, kok." Aku mencoba bernegoisasi. Semoga Andra mau menunda niatnya untuk pulang.
"Baiklah, tapi nanti di rumah, jangan lupa jatahku ya," Godanya dengan senyuman mesum.
"Iya deh, iya. Nanti aku kasih. Sekarag, mas kerja dulu, aku bantuin, ya..." Aku mengambil beberapa berkas dan aku bawa ke mejaku. Andra diam-diam melirikku, aku pura-pura serius.
"Mas, tadi ngedatenya berhasil,loh. Sepertinya kak Andra suka sama kepribadian Vallen. Pulangnya, Dia dengan sukarela, nawarin diri buat nganter Vallen pulang," Ceritaku sambil mulai ketak-ketik di atas keyboard.
"Bagus, dong. Semoga ada perkembangan yang baik ya sayang mereka berdua," Sahut Andra yang ikutan serius ngetik.
"Aku harap juga gitu, mas. Biar kakak cepat nikah dan hidup bahagia dengan seseorang yang juga sayang sama dia," Balasku. Masih sambil serius mengetik.
"Terus rencana kamu ke depan apa, sayang?" Tanya Andra. Ia sepertinya suka aku jadi mak comblang abal-abal.
"Kamu yakin, Vallen itu anak baik? Cocok untuk kakakku?" Rupanya Andra masih menaruh curiga dan tidak percaya dengan pilihanku.
"Jelaslah, mas. Aku sangat mengenal Vallen. Mas tidak perlu khawatir. Soal kak Andra, serahkan saja padaku," Aku berlagak sok profesional. Andra manggut-manggut tanda setuju.
"Aku juga merasa bersalah padanya, karena sudah mengambilmu. Mau ku kembalikan, aku sudah terlanjur sayang sama kamu, jadi sulit." Andra mengakui ketidak mampuannya melepaskanku.
"Mungkin memang aku ini jodohmu, mas. Jadi nggak bisa sepenuhnya nyalahin diri kamu, dong. Kalau bukan karena kak Andra memaksamu untuk menikahiku, dia kan pasti nggak akan kehilangan aku, iya kan?" Aku membantu membesarkan hati Andra. Aku tahu sekarang, diam-diam dia juga merasa bersalah pada kakaknya.
"Kamu bener, sayang. Aku makanya harus menjaga kamu dengan baik. Aku suka sedih, kalau pas nguping pembicaraan kalian, Kak Andra sampai rela menderita asal kamu bahagia. Dari situlah muncul ide koyol yang kemarin itu, sayang," Andra Ternyata juga pernah tahu pembicaraanku dengan Andre, jadi sebenarnya secara tidak langsung, aku juga menyakiti Andra.
"Mas kalau tahu aku dan kakak, kenapa diam aja? Harusnya mas ikut nimbrung," protesku.
"Aku sengaja, kubiarkan kalian bernostalgia. Masa-masa muda kalian dulu kan banyak, dan terhenti semenjak ada aku," Celotehnya. Ternyata suamiku ini juga penug pengertian. Mereka berdua adalah lelaki yang terbaik yang pernah hadir di hidupku setelah ayah.
"Mas, aku semakin mencintaimu. Gemes deh," Kataku, Andra memelototiku yanh mulai nakal.
__ADS_1
"Iya, aku nggak ganggu kok," Aku menutup mulutku agar suara tawaku tidak terdengar.
Beberapa saat kemudian...
Pekerjaan Andra sudah selesai.Kami segera pulang. Sepanjang koridor kantor aku memeluk lengan suamiku itu. Sehingga menghenohkan para karyawan perusahaan.Aku membalas senyum setiap mereka yang menyapa. kemesraanku dengan Andra membuat mereka semakin kepo.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat aku dan Andra sampai di rumah. Cuaca yang sedang panas, membuatku gerah. Aku segera maauk ke kamar, melempar tasku ke ranjang dan meletakkan sepatu dibtempatnya. Lalu aku melarikan siri ke kamar mandi.
"Mau kemana, yang?" Andra menegurku.
"Aku mau mandi, mas. Gerah banget nih," Keluhku sambil menghilang masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku ikut, sayang.." Andra mengikutiku ke kamar mandi dengan pakaiannya yang masih lengkap.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai 😀
Terimakasih penggemar setia PH yang tersayang..
sudah mengikuti PH sampai sejauh ini.
Jangan lupa vote bintang 5, klik love dan komentarnya ya...
Mampir juga ke novel baruku
Si tampan pemikat..
Bagi yang belum gabung grup fans PH
bisa tulis no wa kalian di kolom komentar
di tunggu, biar kita bisa seru-seruan di sana..
Terimakasih...
__ADS_1