Perfect Husband

Perfect Husband
PH I 50


__ADS_3

Alex mempercepat langkahnya dari berjalan menjadi berlari saat dia sampai di lobby hotel. Dia berlari cepat menuju kamar hotelnya karena dia harus memastikan sesuatu. Begitu sampai di kamar hotelnya, dia menghela napas lega  karena masih menemukan koper Hani tergeletak di atas meja. Dia pikir perempuan itu pergi mengambil semua pakaiannya lalu pergi entah kemana. Setidaknya Alex bisa bernapas lega karena itu artinya Hani pasti akan


kembali ke hotel sebab pasportnya masih ada di kopernya dan itu berarti Hani tidak bisa kembali ke Indonesia tanpa dirinya karena hal itu bisa saja terjadi karena kita tidak bisa menebak pikiran makhluk yang bernama ‘perempuan’.


Sembari meneguk air mineral di tangannya, Alex menatap ponselnya sembari berharap Hani sudah membalas pesannya, namun kenyataannya Hani hanya membaca semua pesannya. Tampaknya perempuan itu sangat marah


kepadanya. Sudah hampir 5 jam ia mencari keberadaan Hani namun dia tidak juga menemukanya padahal hari sudah mulai gelap dan itu membuatnya semakin khawatir akan keadaan calon istrinya itu. Dia tahu pasti jika Hani cukup mandiri untuk bepergian seorang diri namun mengingat apa yang dilakukannya pada gadis itu rasanya dia tidak bisa tenang mengingat dia tidak mengetahui kabar dan keberadaannya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya terbuka


hingga Alex bergegas berlalu ke arah pintu, besar harapan itu adalah Hani.  Tapi kenyataannya itu adalah Chris yang menatapnya heran.


“Kenapa?” tanya Chris seraya berjalan masuk, “di mana Hani?” dia mengedar pandangannya di kamar itu.


Alex menghela napas panjang lalu duduk di salah satu sofa di ruangan itu, “Aku tidak tahu,” gumamnya dengan kedua tangan menutup wajahnya.


“Apa maksudmu?” alis Chris bertaut, “apa terjadi sesuatu saat kau menemui Irene?”


“Ya, aku mengabaikannya karena tidak bisa mengusai diriku saat melihat Irene dengan keadaan seperti itu,” lirihnya penuh rasa bersalah.


Chris mendecak kesal lalu memukul leher belakang Alex, “Sudah kubilang seharusnya kau tidak mengajaknya dan berkata jujur saja padanya akan keadaanmu,”cerewetnya kesal dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


Alex tidak berucap. Dia hanya diam karena dia tidak bisa menyangkal jika kecerobohannya yang membuat semuanya kacau seperti sekarang ini.


“Apa Hani tahu jika kau itu mengalami anxiety disorder?” Chris menatap Alex serius.


Alex menggeleng kecil, “Belum. Aku belum bisa mengatakannya.”


“Lalu kapan kau ingin mengatakannya? Kenapa kau menyembunyikan banyak sekali hal darinya? Dia itu calon istrimu dan kau harusnya mengatakannya pada tentang semua yang harus dia tahu,” pesan Chris emosional.


“Aku juga ingin memberitahunya tapi aku tidak mampu melihatnya menatapku dengan tatapan sedih. Aku takut membuatnya sedih.” Alex mengacak rambutnya frustasi.


“Tapi lihat, karena kau menyembunyikan kenyataan, dia malah lebih terluka. Apa kau pikir tidak menyedihkan jika mengetahui calon pasangan hidupmu pergi menemui mantan kekasihnya tanpa alasan yang jelas? Coba kau menempatkan diri di posisinya Alex, jangan hanya melihat dari sudut pandangangmu saja.”


“Sudahlah. Biar aku yang urus semuanya,” sela Alex, “bagaimana dengan Chelsa? Apa kau tahu sesuatu? Irene bilang kalau Chelsa tidak menemuinya tapi Chelsa sempat meneleponnya tidak jelas.”


“Lalu apa tujuannya ke Paris? Hanya untuk menemui papanya?”


Chris mengangguk, “Kurasa dia hanya menggunakan Irene agar kau goyah karena kau tahu mentalnya semakin memburuk semenjak bawahannya itu meninggal setelah menabrak Irene. Kurasa dia juga merasa bersalah sepertimu,” ucapnya menyimpulkann.


“Lalu untuk apa kita berlama-lama di sini jika dia tidak akan menemui Irene?” Alex terlihat frustasi dan marah.


“Tapi jika semuanya sudah di mulai, kenapa kau tidak menyelesaikan masalahmu dengan Irene saja? Bebaskan

__ADS_1


rasa bersalahmu kepadanya lalu jalani hidupmu dengan Hani seperti biasanya. Jangan hanya menyakiti Hani yang tidak ada hubungannya dengan semua masa lalumu Alex.” Chris bangkit dari duduknya lalu melihat Alex yang terlihat tidak bersemangat. “Apa kau mau diam saja tanpa mencari Hani? Ayo kita pergi mencarinya. Jangan membuatnya merasa kau tidak memperdulikannya.”


***


Hani menatap kedua tangannya kaget karena melihat banyaknya barang yang sudah dia beli. Jika dihitung dia sudah menghabiskan uang setara dengan gajinya selama dua tahun. Padahal pengeluarannya untuk liburan terakhir saja hampir menguras semua kekayaannya, kini dengan tidak tahu dirinya dia menghabiskan banyak uang untuk berbelanja hal yang menurutnya sendiri tidak berguna. Dia mulai menyesal karena tidak bisa menguasai dirinya saat melihat barang lucu. Nah, yang jadi masalahnya adalah dia akan kesulitan membawa semua barang itu ke Indonesia mengingat biaya yang harus dia bayarkan akan bertambah.


Dengan berat hati, Hani hanya bisa merutuki dirinya dalam hati. Sekarang dia sudah lapar dan mulai capek karena sudah berkeliling cukup lama juga. Dia ingin menaruh barang belanjaannya terlebih dulu di hotel sebelum pergi mencari makan. Karena tidak ingin kembali ke hotelnya dengan Alex dan Chris, ia memutuskan untuk tinggal di


hotel lain untuk semalam saja dan hari esok biarlah di urus besok saja.


Setelah menemukan hotel yang terletak tidak jauh dari tempatnya, Hani bergegas check-in lalu segera mandi. Dia sudah kelaparan berat karena berbelanja juga menguras banyak tenaga.


Begitu selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Hani langsung memesan taksi karena dia ingin pergi ke restoran yang selalu dia datangi jika berada di Paris dan juga restoran itu adalah tempat di mana dia dan Akex bertemu untuk pertama kalinya.


Dia tersenyum simpul saat mengingat masa itu namun dia langsung menjauhkan semua bayangan tentang Alex karena dia sedang di mana tidak ingin bertemu dengan Alex meskipun jujur dia selalu ingin bersama pria itu.


Saat sampai di restoran itu, sebelum turun dari taksi, Hani melihat sebuah mobil yang juga memasuki wilayah parkir restoran itu. Jika diperhatikan itu sama persis dengan mobil yang digunakan Alex selama di Paris. Tiba-tiba Hani merasa ragu untuk turun karena takutnya itu adalah Alex yang sedang mecarinya. Namun jika mengingat itu mobil sewaan, artinya bisa saja banyak mobil yang sama dengan mobil yang digunakan Alex. Setelah meyakinkan diri jika itu bukan Alex, Hani akhirnya turun dari taksi dan langsung masuk ke restoran untuk menanyakan apakah masih ada meja yang kosong untuk dirinya. Kali ini dia tidak butuh meja VIP yang harus dipesan dari hari-hari sebelumnya karena kedatangannya kali ini murni hanya untuk makan malam dan segera pergi begitu selesai makan.


Namun semua rencananya menjadi kacau saat dia mendengar suara yang terdengar tidak asing di telinganya tengah memanggil namanya.


“Sial,” cicit Hani.

__ADS_1


***


[nah, sesuai janjiku aku bakal crazy up tapi aku bakal up dalam selang waktu yang beda-beda, tapi tetap di hari ini upnya. jadi dipantengin yah]


__ADS_2