Perfect Husband

Perfect Husband
92. Perlahan


__ADS_3

POVAndre


Aku terbangun dari tidurku. Tidak seperti biasanya saai ini kurasakan ada sosok hangat dalam pelukanku. Vallen, gadis cantik ini masih tertidur pulas di dalam dekapanku. Baju tidur luarannya terlepas talinya dan membuatku melihat pemandangan yang belum pernah ku lihat. Area pribadinya bagian atas. Gadisku ini tampak sangat seksi, karena yang tampak adalah baju tidur bagian dalam yang berbentuk lingerie.


Ingin rasanya ku sentuh dadanya yang menjembul, tapi aku tidak memiliki keberanian yang cukup untuk melakukannya. Aku takut dia akan menolaknya dan ku hanya bisa membiarkan lenganku sedikit menyentuhnya karena aku memeluk perutnya yang ramping.


Kupandangi wajah Vallen yabg masih tidur pulas itu. wajahnya tampak sangat tenang. Nafasnya teratur sampai aku tidak tega untuk membangunkannya. Beberapa menit kemudian, ia menggeliat meregangkan otot badannya yang kaku. Menyadari ada aku yang masih memeluknya, ia tersenyum manis sekali. Aku belum pernah melihat dia senyum semanis ini. Mungkin karena kecantikan saat bangun tidur itu lebih jujur jadi aku baru menyadarinya.


"Selamat pagi, Andre..." Sapanya sambil tersenyum manis. Ia memegang pipiku perlahan, mungkin untuk memastikan kalau ini benar-benar aku. Suaminya yang selalu bersikap dingin selama ini.


"Selamat pagi, Bee.." Aku ingin tahu apa reaksinya saat aku memanggilnya dengan panggilan baru. Meskipun aku merasa pernah memakai panggilan itu untuk memanggil seseorang.


"Bee? Lebah..?" Respon Vallen mengingatkanku pada seseorang yang pernah mengucapkan kata-kata yang sama. Tapi siapa? aku sama sekali tidak ingat wajah wanita itu.


"Iya, Lebah. Ia hanya menghisap yang bermanfaat, mencium yang wangi dan menghasilkan yang manis, ibaratnya seperti itu. Sejak dulu, aku ingin saat mempunyai istri, aku memanggilnya dengan sebutan, Bee," Aku coba menjelaskan pada Vallen. Tapi sekali lagi, sepertinya aku sudah pernah menjelaskan ini pada seorang wanita yang tidak bisa ku ingat wajahnya. Apa mungkin aku hanya berhalusinasi?


"Baiklah, kamu boleh panggil aku, Bee. Aku suka. Panggilan sayang yang manis," Vallen memujiku. Sepertinya ia tidak sadar kalau buah dadanya terpampang di depan mataku. Membuat naluri lelakiku bangkit. Tentu saja, aku pria dewasa yang normal.


"Kamu tampil menggoda pagi ini, hampir saja aku berbuat sesuatu," Godaku padanya. Vallen memperhatikan penampilannya. Ia kini menyadari kalau baju bagian luarnya tersingkap. Tapi ia tidak panik, juga tidak berusaha menutupinya kembali.


"Aku harus terbiasa memperlihatkan bagian tubuhku padamu, sayang. Bukankah kamu suamiku sekarang?" Vallen mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Hembusan nafasnya terasa hangat menerpa wajahku yang dingin karena AC. Aku tersenyum merespon kalimat yang baru saja ia ucapkan padaku. Jantungku berdegup kebih kencang. Benar juga, tidur berdua dengan seorang wanita bisa membuat pria menjadi tidak tenang.


"Iya, tentu saja. Terimakasih sudah memperlihatkan padaku, sekarang aku jadi sedikit tidak tenang," Aku jujur padanya. Aku merasakan dorongan hasrat ingin menyentuhnya, tapi aku malu dan tidak tahu memulainya dari mana. Sebelumnya aku tidak pernah melakukan hal semacam ini.


"Kenapa? Apa kamu merasa ingin melakukan sesuatu?" Vallen memberiku kode untuk menyentuhnya, tapi aku bingung harus berbuat apa sekarang, aku hanya memandangnya dengan tatapan bingung.


"Apa kamu mau menyentuh ini?" Vallen mengarahkan tanganku ke atas gundukan kembar di atas dadanya. Lembut dan hangat. Aku membatu, tidak tau lagi harus apa, mungkin Vallen juga menyadari kalau aku grogi dan kaku.


"Ini sangat lembut, ternyata begini rasanya menyentuh dada wanita, aku baru tau," Kataku dengan ekspresi polos. Aku yakin Vallen pasti akan menertawakanku karena ini.


"Andre, umurmu berapa? kamu benar-benar belum pernah melakukan ini?" Vallen menertawakanku. Namanya juga tidak pernah pacaran, mana pernah aku melakukan itu. Cinta pertamaku sampai sekarang adalah Sila dan kami juga tidak pernah melakukan apapun. Ciumanpun, pertama kali saat acara pertunanganku itu, antara sadar dan tidak memaksa Sila.


"Sudah tiga puluh tahun, Vallen. Tapi aku tidak pernah melakukan tindakan yang begitu. Pacaran saja belum pernah," Jawabku jujur. Aku tidak pernah melakukan sesuatu di luar batas.


"Aku bangga. Kamu ternyata masih tersegel. Aku juga belum pernah melakukan hal-hal semacam itu. tapi kalau ciuman, tentu saja aku pernah melakukannya," Vallen juga mencoba jujur padaku. Aku tidak marah, karena ciuman pertamaku juga bukan dia. Aku sudah memberikannya pada cinta pertamaku, Sila.


Perlahan Vallen lebih mendekatkan lagi wajahnya padaku, ia menempelkan bibirnya pada bibirku. Jantungku berdegup kencang menunggu apa yang akan di lakukannya setelah ini. Ia melahap bibirku perlahan, aku hanya memejamkan mataku, membiarkan Vallen yang menguasaiku saat ini. Ia menuntunku untuk menggerakkan jari tanganku di buah dadanya yang menurutku lumayan besar.


Aku tidak bisa menggambarkan perasaanku saat ini, tapi ini luar biasa. Vallen yang begitu bergairah menciumku sampai tahap yang sangat panas. Aku tidak bisa menghentikan gerakan jariku yang semakin cepat dan intens dengan sendirinya.


Vallen yang kini berada di atas tubuhku membuat hasrat lelakiku bangkit. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, namun ku rasa milikku menegang di bawah sana. Terasa sesak dan ingin di bebaskan. Apa hari ini semua itu akan terjadi? Sepagi ini? Tapi ku rasa aku tidak akan bisa menahannya.


"Bee... Kalau terus begini, aku bisa minta lebih nanti.." Godaku, padahal aku juga belum tahu harus memulainya bagaimana.


"Aku sudah siap, Sayang," Vallen merebahkan dirinya ke ranjang. Badanku panas dingin, tanganku sedikit bergetar. Aku harus apa sekarang? Wajah Vallen sudah berbeda dari sebelumnya, mungkin ia sudah sangat ingin melakukannya denganku?


"Apa kita akan melakukannya, sekarang?" Tanyaku konyol. Vallen tertawa kecil. Aku menjadi sedikit salah tingkah.


"Tergantung kamu, kalau ada sesuatu yang mengeras di tubuhmu, berarti kamu harus melakukannya sekarang," Goda Vallen, sepertinya gadis itu sudah menyadari adanya perubahan yang terjadi dalam diriku.


Aku segera melepas kaos yang ku kenakan. Hawa dingin menyeruak, terasa di punggungku. Kali ini aku harus memulainya. Ayo, Andre, kamu pasti bisa! Aku menyemangati diriku sendiri.


Aku melakukan apa yang ku bisa untuk membuat gairan Vallen memuncak. Aku dengan perlahan melucuti pakaian Vallen satu per satu. Hingga tibalah kami di saat penyatuan yang indah. Aku menahan nafas saat milikku perlahan memasuki Vallen. Rasa hangat dan kenikmatan itu menjalar sampai ke otakku. Rintihannya karena kesakitan tidak bertahan lama, berganti menjadi suara yang mendayu-dayu.

__ADS_1


Suhu dingin yang di hasilkan oleh pendingin udara di kamar kami seperti tidak berfungsi. Aku dan Vallen mandi keringat. Kulihat wajahnya begitu merona bahagia karena aku sudah mau menjamahnya sekarang. Sebaliknya, aku juga bahagia telah melakukan kewajibanku sebagai suaminya hari ini.


Perlahan, kami berdua sampai di puncak pelepasan yang sangat nikmat. Aku menyemburkan benihku ke dalam rahim Vallen. Berharap salah satu dari mereka berhasil menjelma bayi mungil yang akan hadir di tengah-tengah keluarga kecil kami.


Aku mengecup kening Vallen berulang kali. Seluruh bagian tubuh dan wajah wanitaku itu penuh dengan keringat. Vallen tersenyum meskipun aku tahu dia sangat lemah sekarang setelah melewati peristiwa hebat dalam hidupnya.


"Terimakasih, Bee. Aku sekarang merasa sudah menjadi suamimu yang benar. Aku sudah memberikan apa yang menjadi hakmu," Ungkapku sambil menatapnya penuh arti. Aku tahu, dari awal pernikahan tentu saja Vallen sudah menginginkan ini dariku. Tapi aku dengan dingin membiarkan ia tidur seorang diri.


"Sama-sama, sayang. Aku senang kamu sekarang sudah memperlakukanku layaknya sebagai istri. Semoga nanti kita cepet di kasih momongan ya," Vallen menatapku penuh harap. Tentu saja, aku juga menginginkan untuk cepat mendapatkan momongan. Aku mendengar ponselku bergetar dan meraihnya. ada pesan dari papa.


Papa: Hari ini ada rapat dewan direksi, dan beberapa rapat yang lain. Juga kita akan ada kunjungan perusahaan cabang di luar kota. Kita akan menginap selama tiga malam.


Aku: Memangnya harus menginap, Pa? nggak bisa selesai sekali jalan saja? Andre malas menginap, Pa.


Papa: Papa tahu, kamu pengantin baru yang sedang hangat, tapi papa mohon, kali ini saja. Ini untuk kelangsungan bisnis kita ke depan, Ndre. Beri pengertian pada istrimu, dia pasti akan mengerti kok.


Aku: Oke, Pa.


Sayang sekali, kisah manis kami harus berakhir dengan sedikit pahit. Mau tidak mau aku harus meninggalkan Vallen beberapa hari untuk urusan kantor. Aku pasti akan selalu merindukannya saat pergi nanti.


"Kenapa, Sayang? Kok wajahnya mendadak nggak ceria?" Sepertinya perubahan wajahku terlihat oleh Vallen. Tentu saja aku gusar. Baru saja aku merasakan sesuatu yang indah bersama Vallen, tapi aku harus meninggalkan dia ke luar kota.


"Papa, ngabarin kalau ada beberapa meeting mendadak. Terus ada kunjungan perusahaan selama tiga hari, kamu nggak papa, Bee aku tinggal?" Aku menatapnya iba, baru saja hubungan kami membaik, sudah harus berpisah. Meskipun hanya beberapa hari, pasti akan terasa lama.


"Nggak masalah, dong. Aku sabar menantimu pulang, Sayang. Kamu juga sabar ya, pasti nanti kangen di sana," Vallen memberiku semangat. Dari awal berkenalan, memang dia tipe wanita yang sangat pengertian. Selalu sabar dan tidak pernah emosi.Aku sedikit merasa kesal mengapa sibuk di saat yang tidak tepat.


"Pasti kangen, sebenarnya aku mau nolak, tapi kata papa ini sangat penting, jadi mau nggak mau harus ikut, Bee." Keluhku, Vallen memelukku dengan manja.


"Baiklah, aku berangkat kerja nanti. Sekarang masih jam enam, aku mau lagi..." Aku merayu Vallen untuk mau melayaniku lagi.


"Ya udah, yuk..." Vallen menarikku dalam pelukannya. Kami melanjutkan lagi kegiatan yang sempat tertunda.


Di kantor...


Aku duduk dengan bosan menunggu jam rapat tiba. Menggoyangkan kursiku ke kanan dan ke kiri bergantian. Selama aku kerja bertahun-tahun, baru hari ini aku merasa bosan.


Aku tersenyum sendirian mengingat Vallen. Aku tidak menyangka akhirnya aku bisa mencintainya. Rasanya menghabiskan satu hari penuh bersamanya tidak akan cukup.


Baru berpisah beberapa jam saja, aku sudah merasa rindu. Pantesan Andra suka bawa Sila ke kantor. Ternyata rasanya gini kalau jauh dari istri pas lagi sayang-sayangnya.


Sepertinya aku harus mengirim pesan untuknya. Rindu ini sudah tidak tertahan lagi. Vallen, kamu benar-benar membuatku gila sekarang.


Aku: Sayang, lagi apa?


Bee: Mau mandi, sayangku lagi apa? Rapatnya udah?


Aku: Belum, Bee. Tapi aku kangen sama kamu. Pengen peluk kamu**.


Bee: Sekarang udah berani ya, bilang pengen peluk. Nanti kalau pulang, peluk dulu ya, baru berangkat ke tempat proyek.


Aku: Beranilah. Nanti pulang maunya lebih dari peluk, ya. Harus boleh.


Bee: Kalau nggak boleh?

__ADS_1


Aku: Aku paksa


Aku terus menggoda Vallen, sampai jam rapat tiba. Ibarat sebuah lukisan hitam putih, hidupku kini sudah berwarna. Gadis itu membawa keindahan dalam hidupku. Terimakasih Sila, aku akan menjaga sahabatnu baik-baik.


Jam pulang kantor...


Aku ingat saat itu aku gagal memberinya seikat bunga, hari ini aku ingin membawakan lagi bunga untuk Vallen. Aku memilih bunga mawar putih, sama yang ku beli saat itu. Sebenarnya ada rasa trauma, tapi aku mencoba untuk menguasai rasa traumaku.


Kali ini aku tidak berani membawa mobil terlalu cepat. Bayangan saat kecelakaan itu masih menghantuiku. Suaranya pun masih jelas terdengar, aku tidak ingin hal itu terulang kembali.


Aku sampai di rumah. Segera berlari kecil menuju kamar, aku tidak sabar ingin bertemu dengan Vallen. Aku baru tahu, bahagianya dapat memiliki seseorang yang di cintai. Kalau saja dari dulu aku berusaha memulai hidup baru bersama orang lain, mungkin aku tidak akan merepotkan Sila.


"Tok..tok.." Aku mengetuk pintu kamarku. Bayangan wajah Vallen menggodaku. Rasanya tidak sabar untuk menemuinya.


"Sayang, udah pulang..." Vallen berhambur ke dalam.pelukanku. Ternyata dia punya sisi manja juga, aku kira dengan ketegarannya ia akan cuek dengan suami seperti aku. Aku semakin sadar, selama ini aku sudah menjadi suami yang sangat tidak peka dan tidak memperdulikan perasaannya.


"Bee, bunga ini untukmu, sebagai permintaan maafku, karena aku selama ini tidak pernah perduli bagaimana perasaanmu. Aku selalu memikirkan istri orang lain, tanpa sadar aku menyakiti istriku sendiri. Maukah kamu memaafkanku?" Aku berkata dengan lembut. Sekarang dam selamanya, aku ingin memperlakukan istriku dengan sebaik mungkin. Cintanya yang tulus pantas untuk ku balas dengan takaran yang sama.


"Andre, Sayang.. Aku sudah pernah bilang kan, aku tidak pernah keberatan meskipun harus mencintaimu seorang diri. Meskipun begitu, jika kamu sudah minta maaf, aku tentu memaafkanmu, ayo masuk..." Vallen menggandengku masuk, masih ada sedikit waktu untukku bercengkrama dengannya sebelum papa menjemputku menuju lokasi.


"Sayang, kita hanya punya waktu sebentar sebelum papa jemput. Aku ingin menghabiskan waktu yang sebentar ini bersamamu dengan suasana yang romantis." Entah sejak kapan aku menjadi sok puitis seperti ini. Semuanya terjadi semenjak aku jatuh cinta pada Vallen. Dia wanita yang mampu merubah berbagai sisi hidupku.


"Bagaimana kalau kita berendam bersama dengan sabun baruku aroma therapy. Biar nanti saat berangkat, kamu bener-bener fresh. Siap bekerja dengan baik di sana," Usulnya. Aku berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk menyetujui usulnya.


"Baiklah, aku setuju untuk berendam bersamamu. Tapi setelah itu berikan aku pelayanan yang lain, ya," Godaku. Vallen terseny lebar.


"Sejak kapan ya, seorang Andre berubah jadi mesum begini," Vallen balik menggodaku.


"Tentu saja sejak tidur bersama dengan Nyonya Vallen," Kami berdua tertawa. Segala kepenatanku hilang sirna. Dia seperti obat, rasanya beruntung bertemu dengan wanita sebaik Vallen.


Cinta itu seperti angin. Kau tak akan pernah bisa menyentuhnya, tapi kau pasti bisa merasakannya.(Dikutip dari Google.com)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo PH lovers...


Aku mau kasih pengumuman nih..


Nanti di eps 100, PH akan adakan Give Away.


Caranya mengikuti kuis yang akan di adakan di grup fans PH.


Jadi, buat kalian yang belum masuk dalam grup, bisa tulis no wa kalian di kolom komentar.


Dukung juga karyaku yang lain:


Di goda Berondong


Si Tampan Pemikat


Follow IG-ku @Ekayunn_15


Terimakasih*..

__ADS_1


__ADS_2