
POVAnita
Aku sedikit merasa tersinggung saat Kak Sila dan Kak Andra memojokkan Bian. Padahal hubunganku dengan Bian baik-baik saja memang akhir-akhir ini dia sibuk dia sibuk.
"Maaf, Sayang. Aku belum bisa pulang hari ini. Kerjaanku masih menumpuk. Rasanya lelah sekali," Bian menunjukkan tumpukan berkas yang akan dia kerjakan saat kami melakukan video call.
"Semangat, Sayang. Jangan buru-buru pulang. Aku baik-baik saja kok di sini.Setelah semuanya selesai, barulah kamu pulang," kata Anita sambil menyusun bunga di dalam pot yang akan ia letakkan di ruang tamu.
Bian adalah sesok suami yang menurutku aku sangat baik sama seperti kak Andre dan Kak Andra. mungkin karena kesibukan membuat mereka belum bisa bertemu sampai saat ini sehingga timbulah prasangka yang tidak-tidak terhadap Bian.
Akhir-akhir ini Badanku sedikit tidak enak, makan pun tidak berselera. Mungkin karena aku harus berpisah dengan Bian. Dia di luar kota dan aku di rumah. Sebenarnya, aku ingin ikut tapi tugas kampus sedang banyak aku harus mengerjakan dua tugas sekaligus milikku dan milik Bian.
"Kamu baik-baik ya di rumah. Aku kangen sama kamu, tapi gimana lagi Kerjaan kantor lagi banyak. Semoga kamu mengerti ya dan tetap menunggu aku pulang miss you sayang" aku melihat mata Bian berkaca-kaca.
Bukan hanya dia aku juga di sini merindukannya. Bagaimana tidak Rindu, ketika pengantin baru terpaksa harus berpisah seperti ini. Sebenarnya, aku ingin menolak. Tapi semuanya untuk masa depan kami apalagi nanti saat kami sudah memiliki Buah Hati semakin banyak keperluan yang akan kamu butuhkan
aku terkadang iri dengan Kak Sila iya ya selalu lu boleh sama-sama dengan kak Andre Ingin rasanya seperti mereka tapi apa daya pekerjaan yang banyak menuntut Bian untuk jauh dariku
Untung ada mama yang selalu menguatkan aku dan bilang kalau dulu Mama juga sering ditinggal sama papa pas pengantin baru, karena papa sering berada di Amerika untuk menangani masalah yang ada di perusahaan kakek.
__ADS_1
Beberapa saat lalu, setelah pernikahanku. Kakek pulang ke Amerika bersama nenek. Katanya beliau tidak betah berada di Indonesia,terlebih lagi, Kak Andra tidak mau memaafkan kakek. Aku sendiri tidak tahu apa masalah di antara mereka .Tapi Kakek bilang, yang masalah yang sedang mereka hadapi rumit dan kakek merasa pantas untuk tidak dimaafkan.
Yah, kakekku memang sedikit kejam wajar jika kak Andra tidak memaafkan dia. Mungkin ada masa lalu yang sangat menyakiti hati Kakakku itu, sehingga tidak mau memaafkan kakek. Sebenarnya aku ingin tahu apa yang terjadi di antara mereka tapi aku ragu untuk menanyakannya kepada kakak. Aku takut itu akan menyinggung perasaannya.
" Terima kasih sayang Aku selalu menunggumu pulang. Jaga dirimu baik-baik juga ya di sana jangan telat makan kerja yang baik jangan kebanyakan mikirin aku. Miss you too Beb" aku menunjukkan air mataku yang menitik Seandainya ia sekarang ada disampingku aku pasti sudah memeluknya dan mungkin mencium pipinya.
" Jangan menangis, Sayang. Apa perlu aku pulang sekarang biar kamu nggak sedih? Aku tahu kamu kangen, aku tahu kamu pengen aku selalu ada di samping kamu, aku juga sama. Tapi, harus gimana lagi semua ini sudah menjadi tanggung jawab ku. Aku bekerja untuk kita. Nanti kalau pekerjaanku sudah selesai kita pergi ke bulan madu ya, kamu mau bulan madu ke mana coba request?" dia mencoba mengembangkan senyum. Mungkin dia tidak ingin aku sedih, tapi justru aku semakin rindu padanya.
"Nggak usah pulang aku sabar kok. Meskipun aku sedih tapi aku paham kalau kamu melakukan ini untuk aku juga kan semangat terus untuk kamu Sayang" Aku melanjutkan kegiatanku. Merangkai bunga ini adalah salah satu hobiku saat tidak ada kegiatan di luar rumah. Aku suka menanam bunga merawat bunga dan juga berani merangkai bunga.
Seminggu kemudian..
tidak Berapa lama terdengar pintu kamarku dibuka oleh seseorang. Perlahan,aku mencium bau parfum yang tidak asing dan aku melihat seseorang yang sangat aku rindukan ada disana.
" Bian...!" aku beranjak dari sini berhambur ke dalam pelukannya rasanya rindu ini terobati secara tuntas. Kehangatan tubuh Bian membuatku nyaman.
" Anita kamu sakit suhu badanmu lumayan tinggi kamu kenapa?" Bian menghawatirkan ku saat ia tanpa sengaja memegang keningku yang lumayan hangat.
" aku nggak enak badan biar dari pagi rasanya lesu pusing dan sedikit mual-mual Aku nggak tahu kenapa perasaan aku nggak ada salah makan deh aku kenapa ya?" aku menatap wajah Rian lelaki itu justru tersenyum manis dan terlihat senang
__ADS_1
" kamu telat datang bulan enggak ?" Tanyanya kemudian. Aku bingung apa maksudnya menanyakan aku telat datang bulan atau tidak. Ini baru pertama kalinya Dia menanyakan tentang hal itu
" kayaknya aku udah lewat sih beberapa hari yang lalu Emang kenapa sih tumben kamu nanya seperti itu emang ada yang aneh? Apa hubungannya sama aku pusing dan mual-mual?" Aku mencecarnya dengan pertanyaan panjang. aku merasa penasaran Apa jawaban dari pertanyaan.
" jangan-jangan Kamu hamil berarti kalau kamu hamil kita akan segera punya anak dan kita kakak menjadi orang tua" kata Bian senang aku juga tak kalah senang.Kenapa aku tidak kepikiran ya, benar juga kata dia,biasanya setelah melakukan hubungan dan telat datang bulan itu tandanya hamil.
"Maaf, mama mengganggu, ada apa ini, sepertinya kalian sedang berbahagia..." Ibu bergabung bersama kami. Meskipun belum yakin, tapi aku merasa kalau, aku memang sedang mengandung sekarang.
"Mama, sepertinya mama akan mendapatkan cucu juga dariku," Aku berkata pelan dan sedikit ragu.
"Kamu hamil, nak? Selamat, ya.Mama sangat senang. Rumah ini akan semakin ramai saat kalian berkumpul nanti." Mama sangat bahagia mendengar berita yang baru daja aku katakan.
"Terima kasih, ma. Doakan cucu mama sehat-sehat sampai lahir nanti." Aku memohin doa pada mama. bagaimanapun, mama pemilik doa yang manjur.
"Tentu sayang.Mama pasti akan doakan yang terbaik. Kalau begitu, mama mau pergi dulu,Arisan do rumah Tante Vivie," Mama meninggalkan kami berdua. Bian mencium keningku berulang kali. Tampaknya dia sangat bahagia karena akan segera memiliki seorang anak.
"Terimakasih, sayang. Semoga kamu bisa menjadi ibu dan istri yang terbaik untukku dan anak kita nanti,"Bisiknya di telingaku.
"Amin, sayang..."
__ADS_1