Perfect Husband

Perfect Husband
91. Bian


__ADS_3

POVAnita


Entah sejak kapan, tapi awal bertemu dengan Bian membuatku merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan karena wajahnya yang tampan, tapi lebih pada caranya merespon lawan bicaranya.


Aku kira dia akan cuek, saat pertama kali aku menegurnya, tapi ternyata dia menyambut keramahanku dengan respon yang luar biasa. Di hari itu juga, kami menjadi sangat akrab, seperti sudah bersahabat selama bertahun-tahun.


Hubunganku yang kandas begitu saja dengan Beno, meninggalkan sedikit trauma di hatiku. Aku tidak ingin cepat-cepat membuka hati untuk pria lain. Termasuk Bian. Apalagi aku baru beberapa hari mengenalnya.


"Hei, Nit. Ada apa? ngapain kamu melamun sendirian di sini? pantas saja di kelas tidak ada," Bian tiba-tiba muncul di bangku taman tempatku duduk dan bergabung tanpa basa-basi.


"Hai, Bian. Aku cuma lagi merenung aja, kok. Jadi kamu kekelas cuma buat nyariin aku?" Ledekku pada Bian. Pria itu menyedakapkan tangannya di dada, mendongak ke atas memandang daun pohon beringin tua yang berguguran di tiup angin.


"Ya, tentu saja. Kamu satu-satunya yang aku kenal di kampus ini. Kalau bukan kamu yang aku cari, lalu siapa lagi?" Argumentasi Bian boleh juga. Aku memang satu-satunya teman yang dia punya di kampus ini.


"Kalau begitu, mulailah bergaul. Supaya kamu bisa punya lebih banyak teman. Jangan hanya bergantung padaku," Saranku padanya. Menurutku aku benar, dia memang harus membuka persahabatan dengan mahasiswa lainnya.


"Aku tidak butuh banyak teman, Anita. Kamu tahu, biasanya aku tidak akan lama tinggal di suatu kota. Banyak teman, hanya akan menimbulkan banyak kesedihan saat berpisah. Cukup kamu saja,"Ucap bian sambil menerawang jauh. Aku kemarin mendengarkan ceritanya, ia selalu berpindah-pindah sesuai dengan lokasi tugas Sang Ayah.


Di setiap daerah yang ia tinggali, ia tidak pernah berteman dengan siapapun. Ia hanya menjadi anak pendiam dan menutup diri. Ini karena rasa traumanya kehilangan saat SMP. Ia dan sahabatnya terpisah saat ia dan keluarganya harus pindah ke kanada.


Sejak saat itu, Bian enggan berteman. Terakhir, sebelum ke kampusku, Bian memiliki seorang pacar. Mereka berpisah bukan karena kepindahan Bian, tapi karena kekasihnya yang selingkuh dengan adik tingkatnya.


"Kenapa aku? Bukankah nantinya saat kamu pindah, kamu juga akan berpisah denganku?" Tanyaku tanpa memandangnya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan menikahimu, dan tinggal di kota ini selamanya," Bian menatapku serius, tapi aku tidak percaya padanya. Bagaimana mungkin, dalam 3 hari tanpa pacaran, tiba-tiba menikahiku? Konyol!


"Bian, jangan bercanda, Aku tidak ingin hal sesakral pernikahan di permainkan," Kataku sedikit ketus. Bian hanya tertawa kecil meresponku.


"Aku tidak sedang bercanda, Anita. Katakan padaku, kapan kamu mau aku lamar? Aku dan keluargaku akan segera datang," Kalimat yang di ucapkan Bian berhasil membuatku menoleh ke arahnya. Buat apa dia bicara omong kosong ini padaku?


"Bian, stop! Jangan lagi mengucapkan lelucon. Aku tidak ingin mendengarnya lagi," Aku cemberut. Kembali mengalihkan pandanganku ke tempat lain. Beberapa menit kemudian, Bian berjongkok di hadapanku dengan sebuah kotak cincin berbentuk hati dan berwarna merah terbuka, dengan satu cincin indah di dalamnya.


"Anita, Will you merry me?" Aku hanya bisa ternganga sambil menutup mulutku dengan tanganku sendiri. Bian melamarku? ini serius?


"Ka..mu.. se..rius, Bi?" Seketika aku malu, grogi, salah tingkah dengan pernyataan Bian yang tiba-tiba. Kami belum punya hubungan apapun. Mana mungkin Bian dengan begitu yakin ingin menikahiku?


"Apa aku kurang terlihat serius? Aku lelah bermain-main, aku ingin serius menjalani hubungan denganmu, aku ingin menikahimu, Nit. Apa itu aneh?" Bian menatapku dalam. Aku tahu dia serius, tapi ini terlalu cepat. Bagaimana reaksi mama dan papa? Kak Andre, Kak Andra, Sila, Vallen, aku belum siap.


"Aku tau, kamu serius, Bian. Tapi apakah aku boleh minta waktu untuk menjawab?" Tentu saja, aku butuh waktu untuk menjawab, keputusan besar seperti ini tidak bisa aku ambil secara gegabah. Aku butuh saran dari seseorang yang berpengalaman.


"Aku akan menunggumu, tapi jangan lama. Apapun jawabanmu, aku pasti menerimanya," Bian menutup kembali cincin yang ia sodorkan padaku tadi dan menyimpannya ke dalam saku celana. Di wajahnya tampak ada kekecewaan. Mungkin, ia ingin mendapatkan jawaban secepatnya.


"Beri aku waktu tiga hari, Bian atau bisa lebih cepat dari itu, kenapa kamu tiba-tiba ingin menikahiku?" Aku melempar pertanyaan itu padanya, karena aku butuh alasan. Alasan mengapa dia tiba-tiba melamar seorang gadis yang baru di kenalnya selama tiga hari.


"Pertama kali melihatmu, aku merasa cocok. Aku yakin dengan insting yang ada di dalam diriku," Ucapnya dengan begitu yakin.


"Bagaimana kalau instingmu salah, atau ternyata aku tidak sebaik yang kamu kira?" Aku coba memberikannya kalimat jebakan. Aku ingin tahu apa yang akan dia katakan.


"Anita, jangan coba memberiku kalimat jebakan seperti itu. Aku yakin kamu gadis yang baik. Buktinya dalam tiga hari ini, kamu tidak pernah membuat ulah, jadi di mana letak kenakalanmu?" Bian kembali duduk di sampingku. Jujur, aku sebenarnya juga cocok dengan Bian, tapi... Aku hanya takut keluargaku belum bisa menerima dia.


"Bian, aku juga masih terkejut dengan caramu yang super kilat ini. Aku tidak menyangka kalau kamu sampai menyukaiku bahkan berniat menikahiku," Aku mengakui perasaan yang campur aduk di dalam hatiku ini.


"Cinta tidak butuh waktu lama untuk tumbuh. Aku hanya tidak mau membuang kesempatan, Aku tidak ingin kehilangan lagi," Ucap Bian jujur. Aku bisa membaca dari tatapan matanya.


"Aku menghargai ketulusanmu Bian. Aku akan


jawaban segera. Sabarlah menunggu," Aku bangkit, berniat masuk ke dalam kelas. Lima menit lagi pelajaran akan segera di mulai.


"Aku akan sabar menantimu, Anita. Jika tidak memberiku jawaban, setidaknya, ajaklah aku masuk kelas bersamamu," Bian seperti sedang berpuisi, aku tersenyum dan berhenti melangkah. Aku menunggunya mendatangiku.

__ADS_1


"Ayo..." Bian menggandeng tanganku dengan berani. Seperti ingin memberitahukan kepada seluruh penghuni kampus bahwa aku wanitanya.


Banyak pasang mata yang iri dengan kebersamaan kami. Aku merasa sedikit risih dan berusaha melepaskan tanganku dari genggaman Bian, tapi ia makin mengeratkan genggamannya.


"Santai, nggak usah di lepas. Anggap aja mereka nggak ada," Katanya setengah berbisik. Aku tersenyum kecil sambil mengikuti saran Bian untuk cuek.


"Stop...!" Ada suara yang tidak asing di hadapanku. Beno, mantanku itu. Untuk apa dia kembali lagi ke kampus ini?


"Ngapain kamu menghalangi langkah kami? Minggir," Aku berkata dengan nada setengah ketus padanya.


"Jadi gini, aku baru pergi beberapa bulan, sudah ada yang baru?!" Beno memandang Bian dengan tidak senang.


"Kita sudah tidak ada hubungan apapun, Beno. Jadi apa salahnya kalau aku menjalin hubungan dengan orang lain?" Aku bertanya padanya dengan nada santai.


"Aku tidak pernah setuju putus ya, sama kamu. Jadi kamu masih pacarku, Anita." Beno ngotot. Ya, saat dia pergi ke Tokyo, memang dia minta kami untuk menjalani hubungan jarak jauh, tapi aku menolaknya. Aku tidak ingin berhubungan jarak jauh.


"Sudahlah, Ben. Itu sudah lama berlalu. Tidak usah di bahas lagi. Kita jalani hidup kita masing-masing." Aku berusaha memberikan pengertian. Aku sudah tidak ada rasa lagi untuk melanjutkan hubungan dengan dia.


"Tidak bisa, kamu masih pacarku, Anita...!" Beno menarik tanganku kasar, agar terlepas dari genggaman Bian. Cowok itu tidak tinggal diam. Ia menarik kerah baju Beno dengan kasar.


"Aku kasih tahu, Bro! Anita itu calon istriku. Jadi jangan seenaknya kasar sama dia di depanku," Bian melepas cengkramannya sedikit kasar. Ia tampak sangat kesal pada Beno. Lalu menggandengku berlalu.


"Dia siapa?" Bian mengintrogasiku. Tentu saja dia ingin tahu. Dia sudah merasa aku menjadi calon istrinya. Aku juga tidak ingin merahasiakan apapun.


"Dia mantanku. Kami putus karena dia mau ikut ayahnya ke Tokyo. Aku nggak tau, kalau dia bakalan kembali lagi dalam waktu dekat ini, Bian. Tapi jujur, aku sudah tidak ada rasa lagi sama dia," Aku bilang apa adanya pada Bian, tapi aku tidak tahu, apakah dia mau menerima penjelasanku atau tidak.


"Tidak perlu takut, aku tau kok, kamu jujur. Kamu kan calon istriku," Ledek Bian mencairkan suasana yang hampir beku.


"Aku belum bilang setuju, loh," Aku melirik Bian yang masih tersenyum padaku.


"Aku yakin, nggak akan di tolak. Siapa yang mau menolak pria tampan sepertiku," Katanya dengan penuh percaya diri.


Sepulang Kuliah...


Aku menncari-cari mama. Kata Bibi, mamaku pergi ke rumah Kak Andra Karena Sila sendirian di rumah, sehingga butuh mama untuk menemaninya. Sepertinya aku akan segera menyusul mama sekalian cerita tentang Bian pada mereka.


Aku memilih naik taksi menuju rumah Sila yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku ini. Kira-kira apa ya respon mereka dengan ceritaku nanti? Apa mereka akan setuju? Kalau nggak, berarti aku harus bilang apa pada Bian? Jujur, aku nggak keberatan menikah sama dia dan entah mengapa, aku yakin dia pria yang baik.


Akhirnya sampai juga di rumah Sila. Terkadang merasa iri pada sahabatku itu, dia punya suami sesempurna Kak Andre. Hadiah ulang tahun saja, rumah yang sebesar ini. Bahkan, katanya hampir seluruh harta kakakku dia yang pegang. Seandainya aku juga bisa seperti dia, pasti bahagia sekali. Hidupku sudah seperti Ratu, sayangnya cuma khayalan saja.


Aku melangkahkan kakiku mantap. Kusiapkan segalanya untuk mengatakan masalahku pada mereka. Sebenarnya ini bukan masalah, tapi aku butuh pendapat mereka. Aku tidak ingin mengambil keputusan tanpa kesepakatan.


Saat aku masuk ke dalam, karena pintu yang terbuka, aku melihat Mama dan Sila sedang ngobrol berdua. Dari dulu memang merek sudah akrab. Seperti hubungan ibu dan anak pada umumnya. Mama memang selalu memperlakukan kami sama dan aku tidak keberatan. Apalagi saat orangtua Sila meninggal, aku bilang padanya kalau aku rela berbagi mama dan papa. Dia adalah sahabatku yang terbaik.


"Hallo, semua. Aku mau nimbrung boleh?"


Sapaanku membuat mereka menengok bersamaan. Aku gagal fokus melihat ke arah perut Sila yang terlihat membesar bahkan terlihat seperti sudah tujuh bulan. Mungkin karena hamilnya kembar.


"Anita, sini.. gabung," Sila tersenyum ramah. Hamil saja cabtik banget sahabatku itu, pantesan kedua kakakku sampai tergila-gila padanya.


"Anak mama ini pasti sebenarnya nyariin mama, pasti ada yang mau di curhatin, ayo sini bilang, mau curhat apa?" Mama pasti bisa menebak. Beliau memang paling hafal, kalau aku mencarinya, pasti ada hal yang ingin aku ceritakan.


Aku mendatangi mereka, sengaja duduk di tengah, antara Mama dan Sila. Jadi inget saat dulu, waktu belum ada Kak Andra, aku, Sila, Mama dan Kak Andre suka rumpi bareng, indah sekali masa-masa itu. Aku berharap waktu itu Sila nikah sama Kak Andre, eh, ternyata jodohnya Kak Andra.


"Jadi apa yang mau kamu ceritain? Mama siap dengerin" Mama memang paling antusias kalau aku ingin menceritakan sesuatu.


"Aku juga mau denger," Bumil satu ini juga ikut heboh. Sepertinya ini waktu yang tepat untukku menceritakan semua tentang Bian.


"Sil, kamu ingat Bian kan? Cowok yang nganter aku ke Rumah Sakit waktu itu?" Pertanyaanku tertuju pada Sila.

__ADS_1


"Inget, yang cowok ganteng itu kan? Kenapa dia?" Sila tampak penasaran.


"Hari ini dia ngelamar aku..." Kataku agak ragu. Sekarang aku tinggal tunggu reaksi mereka. Kira-kira mereka setuju tidak ya.


"Apa?! Anak mama di lamar cowok? coba, gambarin sama mama, setampan apa dia," Reaksi mama malah seperti bercanda. Padahal aku susah payah untuk serius.


"Mah, aku serius. Bian lamar aku, jadi menurut mama, di terima atau nggak?" Aku kembali minta pendapat mama. Berharap kali ini mama mau menanggapi dia dengan serius.


"Mas udah pernah ngobrol sama dia ma. Anaknya dewasa, dan kata mas cocok sama Anita," Sila sepertinya memberiku dukungan agar di restui oleh mama.


"Kalau mama sih, terserah kamu Anita. Kamu yang akan menjalani pernikahan dengan dia nantinya. Kalau misalnya menurutmu dia baik dan bisa menjaga kamu di kemudian hari, terima saja. Tapi ada baiknya ajak dia ke rumah. Mama mau lihat, setampan apa dia, sepertinya kamu sudah menyukainya juga," Mama memang jeli. Tahu saja kalau aku juga diam-diam menyukai Bian. Secara wajah, siapa yang tidak terpesona dengan ketampanan Bian. Aku berharap, hatinya juga setampan wajahnya.


"Kata dia, kalau aku menerimanya, dia dan keluarganya akan langsung datang ke rumah kita, Ma. Mungkin akan membicarakan tanggal pernikahan, menurut mama kecepetan nggak sih?" Lagi-lagi aku butuh pendapat mama. Kalau aku pribadi, mau cepat atau lambat, yang penting menikah dengan seseorang yang aku cintai.


"Lebih cepat, lebih baik. Karena mama melihat, Bian ini orangnya tidak ingin bermaun-main lagi. Dia sudah matang untuk menikah. Kamu tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang bagus ini," Mama menyemangatiku.


"Betul itu kata mama, nggak boleh menunda sesuatu yang baik. Aku aja sama Andra cuma seminggu kenal langsung nikah. Ada sensasi tersendiri tau nggak kalau nikah tanpa pacaran," Sila menambahi. Benar juga, sensasi menikah tanpa pacaran sepertinya lebih menantang. Aku jadi termotivasi untuk melakukannya juga.


"Baiklah, kalau mama dan kakak setuju, aku akan menerima Bian," Sahutku mantap.


"Mama pulang dulu, papamu sudah kirim pesan, supaya mama pulang. Kamu temenin dulu kakakmu, tunggu sampai Andra pulang," Pesan mama sebelum meninggalkan aku berdua dengan Sila.


"Wah, sepertinya Bian menunjukkan keseriusannya nih, kalau suka dan yakin dia baik, ambil aja, Nit. Kesempatan baik terkadang nggak datang dua kali loh," Sila seakan memberiku dorongan untuk menerima Bian. Aku sendiri sebenarnya masih galau, harus menerima atau menunda dulu.


"Akj juga kaget, Kak. Aku kira Bian itu cuma bercanda. Eh, pas aku ngetawain dia, tiba-tiba aja dia jongkok di depanku sambil nyodorin cincin. Otomatis aku makin terkejut, dong," Curhatku. Suasana hatiku yang campur aduk saat Bian melamarku tadi kembali membayang.


"Wow, sweet banget ya, Bian. Tapi kelihatannya dia memang tidak ingin berbasa-basi. Dia benar-benar ingin serius padamu," Pendapat Sila sepertinya benar.


"Tadi ada Beno juga, Sil. Aku nggak nyangka dia pulang secepet ini. Dia marah, terus narik tangan aku kasar. Bian marah, lihat aku di perlakukan seperti itu. Akhirnya, Bian ngasih Beno pelajaran kecil gitu," Aku menceritakan lagi kejadian Beno di kampus. Sedikit perasaanku masih ada untuknya. Tapi melihat dia yang kasar, aku jadi hilang rasa padanya.


"Beno balik lagi?Jadi, apa kembalinya Beno yang buat kamu bimbang untuk menerima Bian?" Anita menatapku serius. Tentu saja bukan itu.


"Aku sudah tidak ada rasa sama dia, buat apa mempertimbangkan dia. Aku hanya butuh keyakinan yang kuat untuk menerimanya," Kataku mencoba menekankan pada Sila kalau aku sudah tidak ada perasaan apapun lagi pada Beno.


Ketika cinta datang menghampirimu, rauplah dengan kedua tanganmu. Genggam dan peluklah semampumu, agar dia tidak pergi dan bertahan.


(Dikutip dari Google.com)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo PH lovers...


Aku mau kasih pengumuman nih..


Nanti di eps 100, PH akan adakan Give Away.


Caranya mengikuti kuis yang akan di adakan di grup fans PH.


Jadi, buat kalian yang belum masuk dalam grup, bisa tulis no wa kalian di kolom komentar.


Dukung juga karyaku yang lain:


Di goda Berondong


Si Tampan Pemikat


Follow IG-ku @Ekayunn_15


Terimakasih*..

__ADS_1


__ADS_2