
POVAndre
Semenjak aku jatuh cinta pada Vallen, banyak hal romantis yang kulakukan untuk istriku itu. Kehidupanku yang berubah menjadi serius semenjak kehilangan Sila, kini berangsur membaik. Aku telah menemukan kebahagiaanku sekarang.
Siang hari, sepulang kantor, Aku sengaja memberikan sebuah boneka beruang coklat dengan ukuran besar untuk Vallen. Karena istriku memang masih seumuran Sila, jadi Aku memperlakukannya dengan sedikit trik gemas. Vallen memang pernah bilang, suka sekali dengan boneka beruang.
Ia berharap Vallen akan menyukai pemberianku kali ini. Aku menaiki tangga ke kamarku dan Vallen. Pelan-pelan dia membuka kamar, di mana istriku sedang membaca sebuah novel action berjudul Vesper and The Bodyguards favoritnya.
"Kejutan...!" Seru Aku mengagetkan Vallen yang sedang serius membaca, sampai ia tidak menyadari kalau suaminya ini pulang.
"Sayang..."Vallen melempar novelnya, mendatangiku yang baru datang. Gadis itu mengambil boneka beruang yang di bawa olehku dan memeluknya dengan heboh.
"Aku kira, aku yang akan dapat pelukan. Ternyata yang di peluk bonekanya aja," Aku merengut karena cemburu pada boneka besar itu.
"Maaf, sayang... " Vallen melempar boneka itu dan berbalik memeluk Aku.
"Terima kasih, Buat kejutannya. Aku suka banget," Vallen masih memelukku erat.
"Senangnya, kalau ngasih kejutan kamunya suka. Besok mau hadiah apa? Coba rekues," Aku mengajak istriku duduk di ranjang.
"Hadiah lagi? aduh, sayang.. sudahlah.. jangan kasih aku banyak hadiah. Lama-lama aku bisa manja, loh. Besok kan nggak ada perayaan apapun," Vallen berusaha menolak pemberianku. Dalam seminggu penuh aku selalu membawa hadiah untuk istriku, seperti gaya pacaran anak SMA.
"Aku selama ini bekerja, mengumpulkan banyak uang, buat apa kalau bukan buat nyenengin istriku yang cantik ini, iya kan?" Aku merapikan rambut Vallen yang agak berantakan.
"Terima kasih sayang, so sweet banget sih, sini biar ku buka jas dan dasi kamu," Vallen membantu membuka jas dan dasiku lalu meletakkan ke tempat semestinya. Kemudian menyimpan sepatuku itu ke rak sepatu yang terletak di pojok kamar.
"Kamu juga, setiap hari selalu perhatian sekali padaku, pantesan aja aku makin sayang," Ujarku sambil tersenyum ceria.
"Gombal banget, deh. Sayang, aku boleh tanya sesuatu?" Vallen merangkul lenganku manja.
"Mau tanya apa? Biasanya juga langsung tanya,"Aku sedikit heran dengan sikap istriku.
"Mas, udah pengen punya anak?" Kali ini Vallen tampak serius.
"Kenapa tiba-tiba balas anak?" Aku memandang Vallen serius. Aku merasa istriku sedang di landa kegundahan hati yang serius.
"Aku belum juga dapat tanda-tanda hamil, sayang. Kamu tahu kan, orang tuaku juga sudah ingin memiliki cucu. Aku sedih," Vallen menitikkan air matanya. Ia sedih karena orang tuanya selalu menuntut dia untuk segera hamil.
__ADS_1
"Sabar, sayang. Kita kan memang baru usahanya, yang waktu itu kan kita masih pisah ranjang," Aku mencoba menghibur vallen yang sedang merasa sedih. Sebagai suaminya, Aku tidak menuntut untuk Vall segera hamil.
"Terima kasih, Sayang. Kamu masih mendukungku. Aku pikir, kamu seperti mama, yang akan terus menanyakan kehamilan padaku," Keluh Vallen, yang merasa kecewa dengan mama kandungnya sendiri.
"Gapapa lah, nggak boleh marah begitu, wajar kan, kalau mama pengen cucu,"Aku tetap berusaha menghibur Vallen, ku rengkuh tubuh istriku itu ke dalam pelukanku.
"Awh.. sayang, tiba-tiba perutku sakit banget nih," Vallen mencengkeram perutnya erat, aku bingung, apa yang terjadi padanya.
"Kamu kenapa Vallen? Perutmu kenapa?" Aku panik dan mencoba cari jawaban.
"Aku nggak tau, kayaknya mau dapet sih. Tapi ini sakit banget, Andre..." Vallen terus mengeluh padaku tentang rasa sakitnya. Aku melihat istriku mulai pucat dan keringatnya bercucuran.
"Terus biasanya kalau begini, kamu apain?" Aku coba mencari tahu bagaimana cara mengatasi kesakitan Vallen.
"Kompres air hangat, atau ambilkan obat pereda nyeri di dalam laci," Tampak sekali Vallen sangat kesakitan. Wajahnya lebih pucat lagi sekarang.
Aku segera mengambil obatnya di laci, dan segera meminumkannya pada Vallen. Aku baru tahu, jika kalau datang bulan, wanita selalu kesakitan seperti itu,
"Gimana? Udah baikan?" Tanyaku lagi pada Vallen yang tidak lagi meringis kesakitan.
"Tidak. Sudah membaik sayang. cuma masih sedikit nyeri. Nanti juga sembuh," Vallen mencoba meyakinkanku. Meskipun dia bilang sudah baikan, aku tetap metasa khawatir.
"Aku sudah makan, sayang. Kamu tuh yang belum makan. Yuk, aku temenin," Vallen memaksakan diri untuk bangun dan menemaniku makan.
"Nggak usah, aku nggak laper gara-gara kamu kesakitan tadi, aku takut kamu kenapa-kenapa. Kamu beneran udah baikan kan?" Aku memastikan sekali lagi, apakah dia benar-benar baik-baik saja.
"Jangan takut, wanita sudah biasa setiap bulan begini. Kamu panikan aja, deh. Mau ngerasain?" Ledek Vallen padaku. Kali ini aku yakin kalau dia benar-benaemr sudah baikan.
"Ogah, kamu aja. sudah. Istirahat ya, aku tinggal kamu, mau makan dulu," Aku menyelimuti tubuh Vallen dengan selimut.
"Katanya tadi nggak lapar," Ledeknya lagi.
"Melihat kamu baikan, aku jadi lapar sekarang. Tinggal sebentar, jangan kangen ya," Aku mengecup kening Vallen sebelum meninggalkannya sendiri di kamar.
Aku turun ke bawah dan langsung menuju ke meja makan. Di sana ada bibi yang sedang menata piring makan. Aku terpikir untuk menanyakan sesuatu.
"Bi, boleh nanya sesuatu?" Tanyaku padanya pelan.
__ADS_1
"Ada apa tuan?" Bibi sangat penasaran dengan pertanyaan yang akan aku ajukan.
"Selama ini, Vallen pernah ngeluh sakit perut nggak?" Aku berharap dapat info dari si bibi.
"Sakit perut ya, pernah sih beberapa kali tuan," Jawaban bibi membuatku antusias.
"Terus dia bilang itu kenapa, Bi?" Tanyaku penasaran.
"Banyak alasan, Tuan. kadang bilang, magh, diare, sakit datang bulan, masuk angin, memangnya kenapa tuan?" Bibi penasaran dengan pertanyaanku, aku juga makin penasaran karena jawabannya.
"Jadi dia sering sakit perut, Bi?" Aku tidak menggubris pertanyaan dari bibi.
"Lumayan, Tuan. Tapi penyebabnya berbeda, kok. Yang namanya perut, memang kadang suka gitu tuan. Memangnya ada apa, Tuan?" Bibi mengulang pertanyaannya yang belum sempat ku jawab.
"Nggak ada apa-apa. Barusan Vallen sakit perut dan bilang kalau akan bulanan, Bi." Curhatku padanya.
"Oh, kalau itu sih, benar tuan. Ini sudah tanggalnya nyonya mau dapet. Tadi saya sudah di suruh beli pembalut," Jawaban Bibi seketika membuatku plong. Aku pikir Vallen bukan sakit yang biasa. Ternyata dia cuma mau datang bulan saja.
"Terima kasih, Bi. Silahkan bekerja kembali. Jangan lupa makan siang,"Aku memberikan sedikit perhatian pada asisten rumah tangvaku itu.
"Terima kasih, Tuan. Kalau begitu, saya ke belakang dulu," Bibi meninggalkanku setelah aku mengiyakan.
Ketika kamu sukses, ingatlah di bawah sana, siapa orang-orang yang membantumu meski tanpa sengaja hingga berada di dalam titik ini.
(Dikutip dari Google.com)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo PH lovers...
Aku banyak mengucapkan terimakasih buat kalian yang sudah vote Perfect Husband di noveltoon dan mangatoon baik dengan poin ataupun koin. Aku mohon dukungan kalian selalu untuk Perfect Husband ya..
Dukung juga karya terbaruku:
My Workaholic Husband
Follow IG-ku @Ekayunn_15
__ADS_1
Terimakasih