
Aku masih pura-pura membaca buku hamil sambil mendengarkan musik. Menunggu Andre memejamkan mata. Aku sengaja duduk.di sofa sambil memasang earphone di telingaku.
Beberapa saat Andre mendatangiku, melepas alat pendengar musikku itu dan duduk di sofa yang sama dengan tempatku duduk. Aku tetap fokus membaca buku hamilku.
"Sila, aku mau tanya serius sama kamu," Andra membuka pembicaraan. Aku segera menutup buku karena menurutku sangat serius.
"Tanya apa kak?" Aku menanggapi kalimatnya barusan. Ya, aku tahu pasti ada banyak hal yng ingin dia tanyakan Dia kan amnesia, tidak ingat apapun
"Kenapa selama beberapa hari ini kamu tdak pernah tidur satu ranjang denganku?" Pertanyaan horror itu pun akhirnya di pertanyakan juga. Kenapa aku tidak tidur dengannya? jelas karena ia bukan suamiku asli. Tapi bukan itu jawaban yang harus ku berikan. Aha, tiba-tiba aku menemukan jawaban yang sangat cocok untuk pertanyaan ini.
"Kakak mungkin lupa, tapi aku sangat ingat. Selama aku hamil kan kita tidak pernah tidur satu ranjang kakak, aku merasa ingin tidur sendiri dan kakak sudah menyetujui itu," Dengan jawaban seperti ini, dia tidak mungkin bisa memprotesku begitu saja.
"Oh, jadi begitu. Maaf, aku benar-benar lupa segalanya. Apa kamu selalu ingin tidur di sofa juga?" Andre mencoba mencari fakta baru lagi. Lebih baik jika aku mengiyakan saja apa yang ia maksudkan.
"Iya, Kak. Ngidamku memang aneh, dulu kakak juga bilang begitu. Jadi mulai sekarang kakak jangan kaget jika aku banyak melakukan hal aneh. Semuanya bukan keinginanku, tapi bayi ini," Aku harus menjadikan kehamilanku sebagai alasan karena tidak ada pilihan yang menguntungkan. Aku yakin dengan alasan kehamilan ini semuanya akan lebih mudah di terima oleh Andre.
"Baiklah, selamat malam. Aku sepertinya akan tidur duluan. Sudahi baca bukunya, tidur terlalu malam tidak bagus untuk bayi kita," Pesan Andre, Aku hampir saja tertawa saat dia bilang bayi kita. Kegiatan bermain peran ini memang aneh. aku bahkan merasakan kejanggalan.
Aku menurut saja. Meletakkan buku itu di meja dan berangkat tidur, meskipun aku tidak dapat memejamkan mata sama sekali. Seperti biasa, aku merindukan pelukan hangat suamiku.
Setelah Andre terlelap, aku tentu saja ingin segera menemui Andra. Aku tidak akan bisa tidur jika tidak memeluknya. Eh, airmataku meleleh karena kangen Andra. Ya Tuhan, cepatlah angkat penyakit Andre, aku tidak bisa selalu berjauhan dengan suamiku seperti ini. Aku sangat membutuhkannya sekarang. Sejak awal kehamilan memang aku selalu manja dengannya. Sebenarnya yang paling berat dalam hal ini adalah aku.
Setelah hampir tengah malam dan yakin Andre telah tidur pulas, aku mengendap-endap keluar dari kamarnya dan nyelinap masuk ke kamar Andra. Pria tampan kesayanganku tidur pulas rupanya. Aku sengaja menelusup masuk ke dalam selimut dari sisi berbeda, supaya aku dapat melihat wajahnya yang selalu membayangimu.
"Sayang..." Pangilku pelan. Andra tidak dapat mendengarnya, mungkin ia tidur terlalu lelap.
"Mas..." Panggilku lagi, ia masih saja tidak bergeming. Aku berniat untuk menjahilinya, diam-diam aku mendekatkan wajahku padanya, tidak sabar rasanya ingin mencium pipinya yang menggemaskan.Saat wajahku dekat dengannya, tiba-tiba mata Andra terbuka.
"Hayo, mau ngapain?" Andra sengaja memergokiku dengan tatapan nakal. Tak ayal lagi, aku melanjutkan atraksiku untuk mengecup pipinya.
Andra bangkit dari tidurnya, menyisir rambutnya dengan jarinya agar terlihat sedikit rapi. Mengambil kacamata yang ada di meja dan memakainya, Lalu ia duduk di dekatku.
"Cerita sama mas, kenapa bidadari mas ini belum tidur jam segini?" Ternyata dia bangun dari tidurnya hanya untuk mendengarkan ceritaku.
"Apalagi, tentu saja karena kangen sama, Mas. Peluk dulu sini.." Aku nemplok ke dalam pelukan Andra. Perasaan rinduku jadi sedikit berkurang.
"Tadi kakak curiga mas sama aku," Aku memulai ceritaku tanpa melepaskan pelukanku padanya.
"Curiga gimana?" Andra sepertinya sangat ingin tahu dengan hal ini.
__ADS_1
"Jadi gini, Mas. Kak Andra curiga kenapa aku nggak mau tidur satu ranjang sama dia? Untung aja aku punya ide cemerlang mas. Aku bilang aja karena bawaan hamil jadi kami berdua sudah sepakat sebelumnya untuk tidak tidur bersama sementara waktu. Konyol kan, Mas, ideku?" Aku tertawa lirih sambil menunggu komentar Andra.
"Bisa aja, Nih, idenya. Terus Kakak percaya? Dia nggak nanya yang lain lagi kan?"Andra semakin ingin tahu, seberapa banyak pertanyaan yang kakak ajukan padaku.
"Cuma itu, Mas. Mas tau sendiri kan, semenjak kita menikah, kakak berubah, lebih pendiam. dan nggak bannyak bicara," Memang ini faktanya, Andre seiring waktu berubah dengan signifikan, sitatnya yang dulu sudah hilang, berganti dengan kedinginan.
"Benar juga, Sih. Sayang. Aku juga merasa begitu. kakak tampak banyak berubah setelah aku menikahimu. Tapi aku nggak salah dong, dia sendiri yang menyerahkanmu padaku," Andra membela diri, memang dia tidak salah, Andre saja yang terlalu pesimis.
"Tapi, sebenarnya perkembangan emosional kakak sudah membaik mas setelah menikah dengan Vallen. Bahkan kata Vall, kakak udah ngizinin dia buat peluk dan cium, berarti kan sudah bagus cara Vallen untuk membuat kakak membuka hati," Ceritaku di dengarkan dengan serius oleh Andra. Sebenarnya tentu saja ini kabar gembira, sayangnya semuanya terjeda karena kecelakaan itu.
"Sebenarnya kalau tidak kecelakaan, mungkin kakak sudah jatuh cinta sama Vallen, tapi mungkin memang kita harus lebih sabar saja, Sayang. Mungkin sebagai adik, kita jarang memperhatikannya, makanya Tuhan memberikan kita semua ini, supaya kita lebih perhatian pada keluarga," Aku tercengang, baru kali ini Andra bicara dengan sok religius. Tapi memang benar, kami jarang mengunjunginya dan mama semenjak pindah ke rumah baru.
"Iyq, Mas. Kamu benar. Mungkin ini semua ujian buat kita. Mas, aku sangat ngantuk, bolehkah aku minta kamu kelonin aku sekarang?" Aku bergelayut manja, Andra tentu saja mengabulkan keinginanku.
Kami berdua tertidur setelah membicarakan berbagai hal. Hanya dengan di peluknya seperti ini, memudahkanku untuk terlelap. Di dalam dekapannya membuatku sabgat nyaman. Aku merasa seperti anak ayam yang di peluk ibunya.
Pagi harinya...
Aku bangun kesiangan. Masih dalam pelukan Andra. Aku sangat panik, segera chat Vallen apakah Andre sudah bangun atau belum, Syukurlah dia bilang Andre belum keluar dari kamarnya. Aku segera kabur setelah menyempatkan diri mencium pipi Andra.
Sebelum kembali ke kamar, aku lebih dulu ke dapur, menyiapkan kopi dan juga memanggang roti, untuk sarapan Andra nanti. Sekaligus membawanya beberapa potong ke kamar agar aku punya alasan yang bagus saat Andre memergokiku.
Aku meletakkan segelas susu dan beberapa potong roti itu ke meja yang letaknya dekat dengan ranjang Andre. Lalu aku duduk di sofaku seperti biasa.
Pintu kamar mandi terbuka. Andre keluar dengan badan bagian bawah terlilit handuk berwarna putih. Seketika aku merasa mataku ternodai dengan pemandangan ini. Aku cepat pindah posisi agar tidak melihat tubuh polos itu lagi.
"Sila, tolong ambilkan bajuku," Perintah Andre lembut. Ia duduk di tepi ranjang. Memakan roti dan menyeruput susu yang masih hangat.
Aku justru bingung. Baju mana yang akan ku ambil? Aku mengongat-ingat gaya berpakaian kak Andre, hampir sama dengan Andra. Aku mengambil baju sedapatnya, sambil menenteng celana dalam Andre lalu meletakkannya di ranjang.
"Ini bajunya, Kak," Aku lalu meninggalkannya dan mermaksud pergi ke sofa, tapi Andre menahanku.
"Tidak bisakah kamu dekat denganku sebentar saja? Aku merasa kamu selalu menghindar dariku. Apa karena aku cacat sekarang? Wajahku jelek, kamu tidak ingin dekat denganku lagi? Bahkan sampai melihatku habis mandi saja kamu beringsut menghindar, Aku tidak menyangka kamu akan bersikap seperti ini, Sila." Andre tampak sangat kecewa padaku. Ia tidak akan paham jika pun aku memberinya penjelasan. Semuanya akan tampak tidak masuk akal. Seandainya dia tahu yang sebenarnya, pasti dia akan lebih marah dari ini.
Aku pelan-pelan mendekatinya. Aku ingin dia memahami dengan baik. Aku mencoba mencari sebuah alasan untuk membuatnya tidak semarah ini lagi.
"Kakak, aku mohon, jangan salah paham seperti ini. Aku tidak sedang menjauhimu. Wajahmu masih tetap tampan kok, meskipun bayak goresan. Aku tetap sayang sama kakak," Aku berusaha mengucapkannya semanis mungkin. Semoga Andre tidak menyadari kepura-puraanku.
"Buktikan kalau kamu tidak menjauhiku," Andre menuntutku membuktikan kata-kataku.
__ADS_1
"B-baiklah, aku akan membuktikannya, jadi apa mau kakak?" Aku mencoba menanyakan apa yang menjadi keinginannya sekarang. Aku ingin memberinya bukti agar tidak berpikir yang tidak-tidak terhadapku.
"Temani aku jalan-jalan sore ini. Hanya berdua, aku ingin kita menikmati waktu berdua. Jika memang kamu tidak menghindariku, Aku tidak ingin ada penolakan." Andre mengucapkan semuanya dengan nada dingin. Aku tahu, jika sudah begini ia pasti sedang benar-benar marah saat ini. Ya Tuhan, kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini? Kenapa aku tidak bisa hidup tenang. Aku selalu di salahkan. Aku di anggap wanita yang serakah karena di cintai dua laki-laki, padahal aku hanya mencintai Andra, aku tidak mencintai Andre sekarang.
"Baiklah, jika itu membuat Kakak jadi lebih baik, aku akan menemani Kakak jalan-jalan. Tapi setelah itu, jangan menyangka aku yang tidak-tidak lagi, ya?" Aku memberikannya penawaran. Aku sungguh tidak ingin di musuhi olehnya, ini hanya akan semakin mempersulit tugasku. Aku mengelus perutku sekilas. Semoga si kembar kuat aku ajak melakukan semua ini. Aku akan berusaha mengendalikan diriku sebaik mungkin agar tidak membahayakan si kembar yang ada di dalam perutku.
"Aku juga mau, jangan keluar-keluar dari kamar ini, aku merasa kesepian, temani aku sebentar saja," Andre memintaku untuk tetap tinggal. Artinya seharian ini aku tidak akan bisa bertemu Andra. Hufth.. baiklah. Tidak apa, aku kuat. Nanti pasti ada celah untukku bisa bertemu dengan Andra lagi.
"Baik, Kak. Seminggu lagi Kakak check-up jadi Kakak harus jaga emosi, biar kondisi kakak cepat pulih seperti sedia kala, Aku coba mengingatkan Andre untuk menjaga emosinya. Ia tampak tidak stabil hari ini.
"Terimakasih, kamu sudah mengingatkanku, Sila. Maafkan kalau hari ini aku terlalu kasar padamu, aku cuma takut kamu menjauhiku," Andra mencoba jujur pada apa yang ia rasakan. Di bawah alam sadarnya pun, ia tidak ingin jauh dariku.
Sore harinya...
Aku dibawa Andre keluar dari Villa. Ia menggandeng tanganku dengan erat. Mungkin ia takut aku akan melepasksn diri lagi dari genggaman tangannya seperti pertama saat kami tiba di sini.
Kali ini aku tidak punya pilihan, aku harus membuatnya yakin bahwa aku tidak sedang menghindarinya. Aku harus membuat emosinya terkontrol dengan baik
"Siapa Vallen? Sepertinya aku tidak asing padanya," Mungkin puzzle ingatan Andre mulai tampak, walaupun masih samar.
"Dia orang terdekat kita, Kak. Suatu saat Kakak akan mengingatnya. Kalau kakak tidak bisa mengingatnya, jangan di paksakan untuk mengingatnya,"Aku mencoba mengingatkan dia untuk tidak memporsir kerja otaknya.
"Sila, aku tidak tahu, kapan terakhir kita jalan berdua, tapi aku ingin kamu tahu bahwa, sore ini aku sangat bahagia. Berdua bersamamu menikmati suasana sore yang indah," Andra melepas gandengan tangannya, memasukkan kedua tangannya ke dalam.saku, lalu menatap jauh ke hamparan kebun teh yang sangat luas.
"Aku juga sangat bahagia, Kakak." Hanya itu mungkin, kalimat yang aku bisa ucapkan saat ini. Seandainya yang bersamaku sekarang adalah Andra, jelas semuanya akan berbeda.
"Apa beberapa saat ini kamu merasa tertekan?" Andre bertanya sambil tersenyum. Mungkin ia takut akan menyakiti perasaanku.
"Tidak, Kak. Aku baik-baik saja. Tidak usah terlalu khawatir, aku tidak ingin Kakak malah semakin sakit jika terlalu memikirkan keadaanku," Sebenarnya aku memang tidak dalam keadaan baik. Hanuya saja aku tidak bisa bicara tentang ini padanya sekarang.
"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Sila. Jangan khawatir, aku ini sangat kuat. Aku tidak akan menjadi lemah hanya karena memikirkan orang. bahkan jika aku di tinggalkan, aku akan tetap kuat," Entah apa maksud dari kata-kata Andre, tapi kalimat itu begitu menyentuhku. Sepertinya, itulah yang sebenarnya ingin dia katakan di dunia nyata.
Dia memang orang yang kuat, seperti yang mama bilang. Dia tidak perduli bagaimana keadaan perasaannya, yang penting keluarga dan orang terdekatnya bahagia. Dia juga tipe orang yang rela berkorban. Semoga saja, setelah ingatan Andre kembali, dia akan dapat menemukan kebahagiaan yang seharusnya bersama dengan Vallen, gadis yang mencintainya.
"Sila, mendekatlah padaku, aku ingin kamu ada di sampingku. Duduklah di dekatku,"Sekali lagi, Andre mengajukan permintaan. Segera aku menghampiri dan duduk di sampingnya tanpa membuat ia menunggu.
Tiba-tiba, Andre merebahkan kepalanya di pundakku. Ada titik-titik airmata yang jatuh di sana. Aku memandang wajahnya, tidak tega. Ku ambil tisu dari dalam tasku, ku hapus airmatanya yang aku belum tahun kenapa.
"Izinkan aku bersandar di bahumu seperti ini sebentar saja. Entah mengapa aku merasa, kita akan berpisah. Apa mungkin aku akan segera meninggal? Jika memang iya, biarkan aku melakukan yang terbaik untukmu, di sisa hidupku ini, Sila." Aku terbawa perasaan Dan juga meneteskan airmata. Sebenarnya pergi yang dia maksud adalah kembali ke dunia nyata. Aku menantikan saat itu. Semoga Andre bisa benar-benar bahagia.
__ADS_1
Aku tanpa sengaja menengok ke belakang, ternyata ada Andra di sana. Dia tersenyum padaku dan mengangkat dua jempolnya untuk menyemangatiku. Sabar sayang, perjuangan ini akan berakhir indah. Aku sangat merindukanmu.