
"Mas, kita sebenarnya mau kemana?" Aku mengulang pertanyaanku pada Andra. Dia mengajakku pergi ke suatu tempat, tapi dia tidak memberitahuku mau pergi kemana. Dia hanya menjawab kalau tempat itu rahasia. Bahkan setelah berulang kali aku menanyakannya, ia tetap memberiku tahu jawaban yang sama.
"Walaupun aku nggak yakin kamu suka tempat itu, tapi aku ingin kita pergi ke sana untuk mengukir sebuah kenangan. Suatu hari, mas ingin kita kembali ke sana lagi bersama si kembar, saat mereka sudah bisa jalan," Ungkap Andra. Aku sedikit mencoba menebak, tempat apa yang akan kami datangi itu. apa sebuah hutan? atau taman? Tapi sepertinya tempat itu sangat indah dan belum pernah kami datangi sebelumnya.
"Mas bikin aku penasaran. Seperti apa ya, tempat yang akan kita datangi itu? Sepertinya indah," Aku tersenyum ceria. Senang rasanya di saat si kembar mulai membuatku tidak nyaman, aku di bawa pergi ke suatu tempat yang mungkin bisa membuatku rileks. Suamiku memang paling memahami apa yang aku inginkan tanpa harus mengatakannya.
"Semoga kamu suka ya, Sayang. Sebenarnya semua ini mas lakukan karena merasa terlalu sibuk kerja, kamu sampai terabaikan. Padahal masa kehamilan tahap ini, harusnya mas bikin kamu rileks, sering bawa ke tempat romantis, maafin mas..." Andra menggenggam erat tanganku dengan sebelah tangannya. Aku bahkan tidak pernah merasa terabaikan, tapi justru Andra merasa dirinya seburuk itu.
Sepulang kerja, dia selalu memperhatikanku. Dia tidak pernah sibuk sendiri atau membawa pekerjaan ke rumah setelah aku hamil lumayan besar ini. Dia selalu mengupas dan memotong buah untukku, memijit kaki dan punggungku jika aku merasa pegal. Membuatkan susu, dan berbagai bentuk perhatian lainnya. Bukankah itu sudah sangat luar biasa?
"Kapan mas pernah mengabaikanku? Mas selalu perhatian, mas nggak pernah cuek padaku. Jangan berpikir seperti itu mas, bebaskan pikiran mas. Aku tau, mas sibuk kerja juga untuk aku dan anak-anak kita nanti. Mas udah jadi yang terbaik," Aku berusaha memberi semangat pada Andra. Dia sosok suami yang sempurna menurutku. Sangat perhatian dan penuh kehangatan. Jarang sekali suami sepertinya, setelah seharian sibuk bekerja, ia masih sempat memberikan perhatian pada istrinya dengan sepenuh hatim
"Jadi menurutmu, aku sudah menjadi suami yang baik? Syukurlah, tapi aku merasa aku belum apa-apa. Kamu tahu, impianku sekarang apa? Aku ingin selalu ada di dekatmu, sayang. Selalu menjagamu dan memperhatikanmu. Kamu sangat berarti bagiku, istriku..." Entah mengapa, mendengar apa yang dia ucapkan, aku begitu terharu. Mataku sekarang seperti berair. Perasaanku memang sedikit sensitif. Mendengar atau melihat sesuatu yang sedikit menyedihkan, pasti menangis. Bahkan hanya melihat sinetron sekalipun.
"Mas, kamu terlalu mencintaiku. Aku bahkan sampai lupa rasanya sakit hati, kesepian, terabaikan, semuanya karena kamu. Kamu yang memperlakukanku dengan istimewa. Kamu tidak ada kurangnya di mataku, Sayangku..." Kini giliranku memegang erat tangan Andra. Menggenggam tangannya saja sudah membuatku nyaman. Sesempurna itu dia untukku.
"Sila, jangan terlalu memujiku. Sebagai seorang pria, aku merasa masih banyak kekurangan. Aku belum bisa memberikan seluruh waktu untuk menemanimu. Aku takut, suatu hari kamu menceritakan pada si kembar, kalau aku sosok ayah yang kurang perhatian," Andra menghempuskan nafas panjang. Aku tidak tahu, apa yang menyebabkan dia berpikir seperti itu. Mana mungkin aku akan berbicara yang tidak benar tentangnya pada Anak-anak kami.
"Jangan takut, Mas. Apapun kekuranganmu, jika ada, aku tidak akan menceritakannya pada siapapun. Cukup aku yang tahu. Jujur, bagiku, kamu tidak ada kurangnya sedikitpun." Aku mencoba untuk jujur. Apa yang ku katakan adalah yang aku rasakan selama ini. Selama aku menjadi istrinya, aku selalu di perlakukan dengan baik, bahkan terkadang sampai seperti Ratu.
"Terimakasih, Sayang. Kamu juga sosok istri yang sempurna. Kamu selalu menjaga keburukanku. Kamu selalu mencintaiku dengan segala kekuranganku. Mungkin, jika bukan denganmu, entah apa jadinya aku," Andra menatap lurus ke depan, tapi aku tahu, matanya berkaca-kaca. Benar-benar lelaki berhati lembut. Itulah mengapa, aku mempunyai banyak pertimbangan untuk mempertahankannya.
Mobil kami berbelok pada sebuah bukit kecil yang ditumbuhi rumput ilalang. Bunganya bermekaran, beberapa terbang tertiup angin. Suasana yang sangat cocok untuk foto prewedding.
Di sana sini ada banyak pepohonan yang terawat, seperti taman. Lingkungannya pun, bersih terawat.
Aku dan Andra turun dari mobil. Ia menggandengku menuju ujung perbukitan itu. Ternyata ada danau di sana. Danau yang sangat cantik. Airnya berwarna biru. Di hiasi berbagai bunga dan rumput liar. Ada juga beberapa kura-kura, burung bangau dan juga angsa yang tengah menikmati tempat tinggalnya di danau itu.
"Ini indah, Mas. Aku belum pernah datang ke tempat seindah ini. Aku sangat menyukainya," Aku menghirup perlahan udara yang sejuk dan bersih yang di hasilkan oleh pohon-pohon di sana. Kadar oksigennya lebih tinggi dan bersih jika di bandingkan dengan udara di sekitar rumah yang telah bercampur debgan polusi udara.
"Aku bahagia, kalau ternyata kamu menyukai tempat ini, menyukai suasana yang ada di sini. Aku tahu sayang, akhir-akhir ini kamu mulai kesulitan karena kehamilanmu yang kian membesar. Jadi aku memutuskan untuk membawamu kesini," Andra mengambil batu kecil dan melemparnya ke tengah danau, hingga burung bangau yang sedang asik mencari makan di sana beterbangan ke udara. Mengepakkan sayap-sayap mereka yang putih bersih.
"Bisa di bilang seperti itu, Mas. Tapi aku senang bisa mengandung mereka. Aku merasa ini anugerah terindah. Setelah kita di vonis akan susah memiliki anak, justru Tuhan memberi kita dua anak sekaligus. Awalnya, aku malah takut, mas kecewa dan cari istri lagi seperti yang ada di dalam sinetron," Aku tertawa kecil. Jelas kalimat terakhirku itu hanya sebuah lelucon. Andra tidak mungkin berpikir sepicik itu. Meninggalkanku karena alasan yang masih bisa di tolelir.
"Makanya, jangan kebanyakan nonton sinetron, Sayang. Meskipun kamu tidak bisa memberiku anak, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Tidak ada alasan yang bisa memisahkan kita," Andra memegang kedua tanganku, memandangku dalam dan penuh arti. Rambutku beterbangan di terpa angin, dan Andra merapikannya. Agar tidak menutupi wajahku. Angin yang bertiup memang agak kencang. bahkan dressku pun terasa bwrkibar-kibar.
"Tuh, kan. Kamu memang suami sempurna. Makin sayang sama kamu, mas," Aku merangkul lengannya dan kembali melihat ke arah danau yang indah. Sama-sama melempar batu kecil ke dalam sana.
"Ayo kita duduk di sini, sayang. Biar seperti yang lagi pacaran, padahal nikah udah setahun ya, kita melewati berbagai rintangan berdua sampai kita lupa buat romantisan," Andra sepertinya sedang mengingat masa-masa yang telah kami lewati selama pernikahan. Memang tidak terlalu manis, tapi kami dapat melewatinya hingga di titik ini.
__ADS_1
"Iya, Mas. Kita sampai hampir berpisah ya, karena ide konyolmu menjadi playboy gadungan waktu itu," Aku akhirnya mengingat masa itu. Masa kami berantem hebat karena Andra berpura-pura menjadi playboy. Untung saja masalah kunci tertinggal itu menjadi penghubung kami kembali.
"Kalau saat itu kita jadi pisah, kira-kira, suami barumu siapa ya? Kakak atau Affandi si dokter itu?" Andra tertawa lumayan keras. Ia sedang mengejekku.
"Mana bisa aku begitu mudah melupakanmu, Mas. Aku aja sampai nangis di pojok kamar gara-gara kangen kamu," Aku mengakui apa yang aku lakukan saat itu, saat aku dan dia nyaris berpisah. Aku bahkan tidak bisa tidur semalaman hingga mataku bengkak seperti panda.
"Apalagi aku. Berusaha menjauh, tapi aku malah mengikuti kemanapun kamu pergi diam-diam. Rasanya kesal juga saat melihatmu dekat dengan cowok lain, termasuk Affandi," Andra mendengus pelan. Dia sat itu yang berusaha untuk membuatku kembali pada Andre malah jadi tidak tenang sendiri.
"Aku tahu, sampai sekarang, Mas masih tidak suka pada Affandi. Padahal dia itu sahabat aku saat SMA, tidak ada rasa apapun padanya," Aku teringat Andre yang melarang hubungan Anita dan Affandi. Mungkin karena masalah pribadi kami itu.
"Mungkin seperti itu, aku hanya masih merasa kesal karena saat itu kamu sering jalan berdua dengannya, sayang.." Secara tidak langsung Andra menyatakan jika ia merasa cemburu karena kedekatanku dengan Affandi. Guratan di wajahnya saat ia merasa cemburu sangat membuatku gemas.
Cinta memang terkadang tidak bisa memilih, dimana ia akan tinggal. Tapi aku ingin selalu memilikinya, selamanya. Dia memang bukan lelaki yang kucintai sejak awal, tapi dia adalah orang yang memenangkan hatiku sekarang.
Aku bahagia, dapat di pertemukan dengan pria sebaik Andra. sekarang ini, lelaki dengan sifat seperti Andra sudah sangat langka. Dimana pria mapan sepertinya, mau melabuhkan hidup dan cintanya padaku, seorang gadis biasa dan yatim piatu.
"Mas, aku punya rencana, nih. Aku mau minta pendapat kamu," Aku mengeluarkan unek-unek yang ada di pikiranku seminggu terakhir ini. Aku memiliki sebuah rencana besar yang perlu persetujuan Andra.
"Rencana apa, sayang?" Andra menatapku serius. Ia membenarkan letak kacamatanya yang sedikit kurang pas.
"Rumah peninggalan orangtuaku itu, kan kosong mas. Gimana kalau kita bikin jadi panti asuhan saja? di renovasi seperlunya. Sayang, Mas. Itu rumahnya lumayan besar, nggak ada manfaatnya kalau di biarin, yang ada malah rusak," Inilah cita-citaku, ingin mendirikan yayasan yatim piatu di rumah peninggalan orangtuaku. Aku sudah memiliki rumah yang besar bersama Andra, jadi aku berfikir apa salahnya aku berbagi dengan mereka yang senasib denganku.
"Kamu langaung menyetujuinya mas? tahu gini aku bilang dari kemarin-kemarin," Kataku heboh. Memang aku sudah memikirkan ini, hanya saja aku belum ada kesempatan untuk membicarakannya pada Andra. Sekaligus ragu, apakah dia akan menerimanya atau tidak.
"Kalau kamu mau berbuat baik, kenapa harus di larang, memang harusnya di dukung kan, Sayang,"
Andra menimpali. Aku lupa Andra berhati malaikat, mana mungkim dia menolak niatan baik seperti itu.
"Terimakasih, mas. Aku senang proposalku di terima. Tentu saja, dalam hal pendanaan aku mengandalkanmu," Aku menggodanya, padahal hampir semua asetnya aku yang pegang. Sebenarnya aku bisa saja memanfaatkannya untuk kepentinganku sendiri, tapi aku tentu saja tidak sejahat itu. Aku bukan tipe wanita pengerat.
"Tenang saja, sayang. Serahkan semuanya padaku. Pastu beres. Sekarang kamu ikut aku, yuk..." Andra mengajakku berdiri, dan menggandengku berjalan menuju sebuah pohon. Di pohon itu, terukir banyak nama. Pengurus tempat itu juga menyediakan paku khusus untuk mengukir di batang pohon tersebut.
Andra melakukannya juga, ia mengukir namanya dan namaku di sana dengan gambar hati di antara dua nama itu. Aku jadi teringat saat remaja, sering melakukan ini saat jalan-jalan ke kebun atau taman.
"Suatu saat, kita akan datang ke sini lagi untuk melihatnya. Misalnya aku tidak ada lagi di sisimu, aku ingin kamu mengingatnya, cinta dan sayangku, abadi untukmu, sayang..." Andra menatap dua bola mataku secara bergantian. Dia suka mengucapkan kalimat yang mengharukan, padahal ia tahu, istrinya ini seorang yang mudah meneteskan airmata.
"Apa mas ingin pergi meninggalkan aku?"Cecarku kemudian.
"Tentu saja tidak, sayang. Aku tidak akan meninggalkan istriku tercinta ini. Kamu terlalu baper kalau kata anak muda zaman sekarang," Andra terkekeh. Teganya dia sengaja mengejekku, gerutuku dalam hati.
__ADS_1
"Mas, kapan kita pulang? Aku ingin makan mi ayam," Aku merasa lapar sekarang. Andra mungkin tidak akan mengizinkan aku makan mi, tapi aku coba merengek, siapa tahu kali ini dia menuruti keinginanku.
"Mi ayam? Di resto?" Tanyanya kemudian. Aku sedikit melihat lampu hijau. Sepertinya ia akan mengizinkanku kali ini.
"Bukan. Aku mau makan di warung biasa. Di resto itu ribet, mas. Mau makan mi ayam saja, wadahnya ada lima, kalau di warung biasa kan enak,tinggal makan," Berdasarkan pengalaman pribadiku, saat makan mi ayam di sebuah resto yang terletak di dalam supermarket, itu sangat tidak praktis. Dimana mi, ayam, bawang goreng, sayur dan kuah di letakkan pada wadah yang berbeda.
"Karena hari ini mas lagi baik hati, jadi permintaanmu mas kabulkan. Tapi ingat, hanya kali ini saja, sayang." Tentu saja, pernyataan Andra membuat hatiku gembira. Ini pertama kalinya aku boleh memakan makanab di luar rumah. Biasanya ia melarangku makan makanan selain buatan Minah, itupun harus sesuai dengan anjuran dokter. Kadang aku bingung harus bersyukur atau mengeluh dengan semua peraturan ketat yang di buatnya untukku.
"Yeey, terimakasih, Mas. Baik banget sih. Jadi makin cinta sama mas." Aku tentu saja kegirangan. Andra menatapku sambil menahan tawa. mungkin ia beranggapan bahwa tingkahku seperti anak kecil.
Kami berdua meninggalkan tempat itu beberapa saat kemudian. Membawa perasaan senang, karena di sana kita melepaskan beban pikiran selama ini. Aku dan Andra sempat bertetiak keras dari atas bukit untuk melepas kepenatan.
Andra juga benar-benar menuruti keinginanku. Menemaniku makan mi ayam di tempat yang aku inginkan. Hanya saja, ia tetap tidak mengizinkan aku makan sayuram mentah seperti saran dokter. Tapi semua itu tidak mengurangi kebahagiaanku.
Cinta sejati, bukanlah bagaimana kamu memaafkan, tetapi bagaimana kamu melupakan, bukan apa yang kamu lihat, tapi apa yang kamu rasakan, bukan bagaimana kamu mendengar tapi bagaimana kamu mengerti dan bukanlah bagaimana kamu melepaskan tapi bagaimana cara kamu mampu bertahan.
(Dikutip dari Google.com)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo PH lovers...
Aku banyak mengucapkan terimakasih buat kalian yang sudah vote Perfect Husband di noveltoon dan mangatoon baik dengan poin ataupun koin. Aku mohon dukungan kalian selalu untuk Perfect Husband ya...
Aku juga mau kasih pengumuman nih..
Nanti di eps 100, PH akan adakan Give Away.
Caranya mengikuti kuis yang akan di adakan di grup fans PH.
Jadi, buat kalian yang belum masuk dalam grup, bisa tulis no wa kalian di kolom komentar.
Dukung juga karyaku yang lain:
Di goda Berondong
Si Tampan Pemikat
Follow IG-ku @Ekayunn_15
__ADS_1
Terimakasih