
Karena perutku yang sudah membesar, aku ingin mengajak Andra maternity atau foto khusus untuk mengabadikan momen kehamilan. Rencananya, kami akan foto di fotografer langganan keluarga Wijaya. Segalanya memang sudah ada langgananya kalau di keluarga Andra, sejak dulu. Salon tempat potong rambut pun juga khusus.
"Boleh, boleh, sayang. Pas banget kan, hari ini libur. Memangnya kenapa, tiba-tiba pengen foto hamil?" Andra menanggapi, seolah-olah foto hamil adalah suatu keanehan yang aku ingini.
"Aku pengen aja mas, kita abadikn saat si kembar masih di dalam perut. Nanti biar saat mereka besar, mereka bisa lihat. Biar aku bisa ceritain kalau ayah mereka hebat." Aku coba beralasan. Padahal tujuanku hanya ingin punya foto saat hamil bersama Andra.
"temanya apa?" Andra tampak antusias dengan keinginanku. Dia mrmang selalu begitu, tidak pernah menolak. Apa yang aku inginkan, selalu dia usahakan.
"Kita pakai baju putih yuk. Biar temanya nanti putih gitu lo, Mas. Aku pengennya gitu," Rengekku manja.
"Oke, tema putih. Aku ganti baju dulu ya, baru kita pergi. Curang nih, nentuin tema, sesuai sama baju yang kamu pakai sekarang," Protes Andra, aku hanya tertawa. Memilih mengikutinya ke kamar.
"Ngapain ikut? tunggu aja di bawah, nanti kecapekan," Andra mulai mengeluarkan jurus protektifnya. Aku tidak mengindahkannya dan tetap mengikuti langkahnya.
"Mas.."
"Hmm.."
"Siapa nama si kembar? Kasih tau.." Rengekku. Walaupun aku tahu, kali ini dia pasti tidak akan memberitahukan padaku.
"Masih rahasia dong," Jawabnya santai sambil mencari baju putihnya di dalam lemari.
"Kasih tau.." Aku merengek lagi.
"Jangan memaksa, mas tetap tidak akan memberitahu," Andra memakai kemeja putihnya, aku tertegun melihatnya, dasarnya tampan, mau pakai baju apapun tetap tampan, gumamku dalam hati.
"Mas, ayolah..." Rayuku lagi, Andra tetap cuek. Aku sebenarnya tidak masalah dia tidak memberitahu. Aku hanya sedang mengganggunya saja. Supaya dia sedikit kesal dan geregetan.
"Nggak, Sayang... Udah, yuk berangkat. Telat nanti, biasanya kalau siang dikit, agak rame, takutnya kamu nggak nyaman, sayang," Andra menggandeng tanganku. Alhasil aku tetap tidak mengetahui siapa nanti nama bayi kembarku.
Di perjalanan, Aku memandangi wajah Andra tanpa bosan. Banyak yang bilang kalau kami pasangan serasi, cantik dan tampan, tapi jujur aku minder dan merasa kalau dia terlalu tampan untukku.
Kalian pernah kan, mengalami jatuh cinta tanpa batas? Di mana, kita merasa, diri kita sendiri yang paling bahagia di dunia ini? Itulah yang sedang aku rasakan sekarang. Sepertinya, tidak ada lagi yang lebih bahagia daripada aku.
"Udah puas belum lihatnya?" Andra berkata tanpa menatapku. Ternyata sejak tadi dia merasa ku perhatikan. Aku tersenyum geli.
"Ternyata diam-diam ada yang memperhatikanku," Sindirku, sambil melihat ke arah luar kaca mobil. Aku melirik Andra, dia sempat memandangku sekilas.
"Tentu saja, minder kalau terlalu lama di pandangi bidadari cantik," Gombalan Andra keluar, aku tersenyum, sedikit ku tutupi mulutku dengan sebagian jari.
"Bukan aku yang bidadari, Mas tuh yang pangeran,"Aku balas memberinya kalimat bualan.
"Aku sadar diri, terlalu tampan, imut, maskulin, kece, makanya kamu tidak mampu berpaling dariku," Andra tertawa setelah memuji dirinya sendiri.
"Dih, mas terlalu pede, padahal sama sekali nggak salah," Aku memujinya dengan kalimat plesetan. Membuatnya tersenyum manis. Aku baru saja menyadari sesuatu.
"Mas, kacamatamu mana? kok nggak di pakek sih?" Protesku menyadari Andra yang tidak menggunakan kacamata.
"Kelupaan sayang, ada di atas meja tadi, mau balik lagi, udah mau sampe nih," Ujar Andra bingung. Aku lebih suka dia pakai kacamata, soalnya kalau nggak, lebih mirip sama Andre.
"Ya udahlah, Mas, ga pakai kacamata juga nggak apa-apa, yang penting kita fotonya jadi,"Mau nggak mau aku terpaksa setuju Andra tidak pakai kacamata, meskipun sedikit kecewa.
Sesampainya di studio...
"Selamat siang kakak, ada yang bisa di bantu? Seorang wanita cantik datang menghampiri kami dan langsung menyapa Andra dengan akrab. Daripada seorang fotografer, dia lebih mirip seorang model. Entah kenapa aku kurang suka gaya sok akrabnya dengam Andra. Caranya menyapa, seperti yang di buat-buat.
"Mau foto maternity sama istri saya mbak," Ujar Andra langsung ke poinnya.
__ADS_1
"Eh, kakak sudah punya istri? Saya kira mbak ini kakaknya kakak," Aih, aku sedikit kesal dengan pendapat si tukang foto itu. Memangnya aku setua itu apa. Tidak bisa melihat laki-laki bening sedikit, main goda saja. Gerutuku dalam hati.
"Iya, Mbak. Ini istri kesayangan saya, jadi apa bisa segera di mulai?" Sepertinya Andra sengaja berkata seperti itu karena menyadari aku yang tidak menyukai wanita itu.
"Mati, silahkan, lewat sini kakak," Wanita itu mengarahkan kami ke suatu ruangan khusus. Kami segera melakukan pemotretan setelah ada sedikit acara make-up singkat.
"Baik, mari kita mulai pemotretannya kakak," Kode si mbak agar kami mengikuti arahan rekannya yang berada smdi dekat kami.
"Satu...dua...tiga..."
"Ganti gaya, satu... dua..tiga.."
"Sekali lagi.. satu..dua...tiga..."
"Selesai, kakak. Wah, kalian pasangan yang serasi. Kakaknya juga romantis sekali, jadi ngiri. Pengen juga punya suami setampan kakak," Kata wanita itu. Sama sekali tidak melihat ada aku di sini.
"Saya doakan segera dapat jodoh yang setampan suami saya," Aku angkat bicara sambil memeluk lengan Andra erat dan mengajaknya keluar dari ruang foto.
Setelah membayar administrasi dan menanyakan kapan hasil foto dapat di ambil, kami berdua segera meninggalkan studio foto itu. Aku yang di bukakan pintu oleh Andra segera masuk dan dia segera menyusulku.
"Kamu cemburu sayang? Aku nggak ada kontak fisik sama mbak yang tadi," Andra menatapku dalam. Belum ada niatnya untuk menyalakan mesin.
"Sedikit, Mas. Entah mengapa aku cemburu karena dia. padahal mas nggak di sentuh olehnya." Aku bingung sendiri mengapa ini terjadi, apa karena hormonku yang selalu ingin manja pada suamiku?
Tiba-tiba Andra mendekat dan mencium bibirku lumayan lama sampai rasa cemburuku perlahan memudar. Aneh, kenapa bisa begini?
"Masih cemburu juga? Mas ini suamimu sayang, dia hanya tukang foto. Apa kamu nggak lihat, mas membelamu di depan dia? Mas cuma mau kamu..." Ia mengelus rambutku perlahan. Aku menatapnya dengan tatapan merasa bersalah.
"Maaf, mas... Aku salah," Aku mengaku salah di depannya, justru membuat andra segera memelukku.
"Jangan minta maaf. Kamu nggak salah apapun, sayang. Mas malah senebg kamu cemburu. Tandanya kamu benar-benar sayang sama mas," Ia mengecup keningku berulang. Harusnya aku tidak cemburu padanya, karena aku yakin, Andra tidak mungkin mempermainkan perasaanku.
"Sayang, kamu ada pengen mau makan apa? Mau mampir ke mana? Atau mau pijat khusus ibu hamil biar lebih rileks?" Andra tampak lebih perhatian sekarang, setiap keluar pasti seperti ini, tapi aku justru lebih menyukai dia yang sekarang.
"Apa ya? Aku bingung. Soalnya kan makanan kesukaan aku nggak boleh lagi sekarang," Aku mengerucutkan bibirku sebagai tanda protes pada perlindungan Andra yang berlebihan menurutku.
"Jadi hari ini mau makan apa? Kepiting? lobster? cumi?" tidak ku sangka Andra akan mengizinkan aku makan seafood hari ini. biasanya ia tidak mengizinkan aku makan makanan laut.
"Serius boleh, mas?" Aku menatapnya tidak percaya. Tentu saja aku tidak akan menolak jika benar-benar di izinkan.
"Kali ini saja. Tapi lain kali nggak boleh. Makannya pun tidak boleh banyak, seperlunya saja," Tetap saja di batasi. tapi tetap saja aku merasa senang.
"Di batasi pun nggak masalah, mas. yang penting, boleh makan," Melihat mimik wajahku yang kegirangan, Andre tersenyum lebar hingga menampakkan deretan giginya yang putih.
"Mas bahagia, kalau melihatmu tersenyum seperti ini." Ujarnya sambil terus konsen mengemudi.
"Abis, mas pinter buat aku senyum. Mas, kamu tau nggak, tiap deket sama mas, aku selalu jatuh cinta lagi, kamu punya magnet ya, mas buat menarik perhatianku?" Tanyaku sambil memandangi wajah suamiku lekat-lekat.
"Sejak kapan Sila Ramadhanti pandai membuat kata-kata gombal?" Cibirnya, sedikit tertawa sambil tetap komsentrasi memandang ke arah depan.
"Sejak menikah dengan Andra Wijaya," Aku balas mencibirnya. Andra dulunya juga tidak romantis, bahkan saat melamarpun jauh dari kata romantis.Tapi semenjak menikah, dan menjalani kehidupan pernikahan sekian lama, kami berdua menjelma menjadi raja dan ratu gombal.
"Sayang, sebentar ya..." Andra menghentikan mobil yang kami tumpangi. Berlari kecil ke ujung jalan. Aku melihat ada penjual kembang gula.
"Sayang, ini untukmu," Andra menyodorkan satu kantong kembang gula padaku. Aku menerimanya dengan senang. Makanan seperti ini sudah sangat langka.
"Kamu tau nggak sayang, kenapa aku beliin kamu kembang gula ini?" Andra mulai membuka kantong kembang gula miliknya. Sepertinya ia juga sangat menyukainya.
__ADS_1
"Kenapa emang?" Aku ikut membuka kantongku. Mulai menarik sedikit kembang gula itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Seketika menghilang, hanya meninggalkan rasa manis.
"Makan yang manis, bisa bikin pikiran kita lebih rileks. Kamu tahu filosofi kembang gula? Saat dia hadir dalam kehidupan seseorang, ia pasti hilang dalam sekejap, tapi meninggalkan rasa manis, yang akan selalu di kenang," Ucap Andra sambil mulai memakan kembang gulanya juga.
"Aku baru tahu, Mas. Ternyata makan kembang gula juga ada filosofi yang manis juga. Jadi teringat papa dan mama, mereka saat aku masih anak-anak, sering sekali membelikan aku kembang gula, mereka bilang, aku sama manisnya dengan kembang gula yang ku makan," Aku mengenang kembali ayah dan ibuku. Rasanya rindu sekali. Dulu, saat aku kesepian sambil mengenang mereka, aku hanya bisa menangis sambil memeluk guling. Sekarang, aku bisa menyandarkan kepalaku pada bahu Andra. Dia yang membuat hidupku terasa indah. Aku ingin selalu seperti ini dengannya.
"Selama kita menikah, selain yang aku dengar dari mama, kamu tidak pernah menceritakan apapun tentang ayah dan ibu," Yang Andra katakan memang benar, aku tidak pernah menceritakan apapun tentang ayah dan ibu padanya.
"Mungkin, karena aku terlalu bahagia, mas. Masa kesendirian dan kesepianku berakhir setelah menikah denganmu," Aku meneruskan memakan Kembang gula itu.
"Kamu kenapa tidak tinggal dengan keluarga dari ayah dan ibu saja?" Tanyanya kemudian.
"Aku tidak tahu, di mana keluarga mereka. Satu-satunya keluarga yang dekat denga ayah dan ibu hanya papa dan mama. Sementara aku, harus kerja paruh waktu dan tidak bisa terlalu sering main ke rumah kalian," Curhatku.
"Kalau saja saat itu, aku tidak di asuh kakek di Amerika, kita pasti bisa berteman sejak kamu remaja sama seperti kakak," Andre tiba-tiba teringat masa kecilnya, saat ia harus di asuh terpisah dengan Andre.
"Kenapa?" Aku penasaran alasan di balik kalimatnya yang baru saja ia ucapkan.
"Jujur, terkadang aku masih iri. Kalian berdua bisa sedekat itu, saling tahu sama lain apa yang di sukai dan juga yang tidak. Bahkan, aku baru mulai pelajari sekarang. Aku juga kadang membayangkan kalian dulu sering pergi bersama dan pasti banyak kenangan yang kalian lewati berdua." Keluh Andra. Ternyata dia selama ini iri dengan masa remajaku bersama Andre.
"Memangnya kisah remaja mas dulu nggak seru di sana?" Selidikku, penasaran.
"Saat remaja, kehidupanku masih normal. Seru, tapi nggak seromantis kisah kalian berdua. Di Amerika, aku tidak punya teman remaja cewek. Bisa di hitung dengan jari yang ku kenal." Kenangnya. Syukurlah, masa remaja Andra masih selamat. Meskipun Saat menginjak dewasa ia di manfaatkan oleh kakek.
"Setidaknya, mas juga punya masa remaja yang indah bukan? Masalah masa kecilku dengan kak Andre itu mungkin memang sudah takdir. Dia yang selalu melindungiku saat remaja dan sekarang mas yang melindungiku saat dewasa. Mas harus bangga dong, karena yang memenangkan hatiku adalah mas, bukan kakak," Aku menghiburnya. Hal yang normal menurutku. Saat seorang suami merasa iri dengan siapa yang pernah dekat dengan istrinya. Apalagi yang dulu dekat dengan istrinya adalah kakaknya sendiri.
"Ya, aku mengerti. Tapi entah kenapa, terkadang aku merasa takut, perasaanmu berubah. Aku merasakan kekhawatiran, jika nanti kamu mulai bosan padaku. Dengan segala kekanganku, terutama akhir-akhir ini. Aku merasa terlalu mengaturmu," Ternyata, ini alasan kenapa akhirnya Andra agak mengurangi kekangannya padaku tentang tidak boleh ini dan itu. Karena dia takut aku bosan dan tidak nyaman? Justru aku menyukainya. Aku menganggap ini sebagai bentuk perhatian. Aku juga tidak menganggap perhatiannya sebagai kekangan.
"Mas, dengarkan aku. Meskipun aku terkadang merajuk karena minta sesuatu, bukan berarti aku tidak nyaman dengan apa yang kamu tentukan. Aku menghargai itu dan tidak pernah menganggapnya sebagai tekanan. Aku juga tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi..." Aku memeluk lengannya erat. Mencoba menyalurkan kenyamanan. Aku ingin ia dapat merasakan perasaanku yang dalam padanya.
"Terimakasih, Sayang. Sudah menerima mas apa adanya, tidak hanya kelebihan tapi juga kekurangan. Mas, beruntung punya istri sebaik kamu," Andra mengecup keningku.
"Mas, sejatinya cinta memang harus begitu. Menerima kurang dan lebihnya pasangan. Jika hanya mampu menerima kelebihan saja, saat tahu apa kekurangan pasangan kita, maka perasaan kita akan luntur begitu saja." Aku masih mendekap erat lengan Andra. kami sudah berhenti di tempat itu lumayan lama. Keasyikan ngobrol sampai lupa masih di perjalanan.
Cinta sejati terkadang datang saat kita telah lelah dalam penantian, ketika jarak terasa semakin jauh, juga ketika rasa bosan telah melanda.
(Dikutip dari Google.com)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo PH lovers...
Aku banyak mengucapkan terimakasih buat kalian yang sudah vote Perfect Husband di noveltoon dan mangatoon baik dengan poin ataupun koin. Aku mohon dukungan kalian selalu untuk Perfect Husband ya...
Aku juga mau kasih pengumuman nih..
Nanti di eps 100, PH akan adakan Give Away.
Caranya mengikuti kuis yang akan di adakan di grup fans PH.
Jadi, buat kalian yang belum masuk dalam grup, bisa tulis no wa kalian di kolom komentar.
Dukung juga karyaku yang lain:
Di goda Berondong
Si Tampan Pemikat
__ADS_1
Follow IG-ku @RatuAsmara_06
Terimakasih