
Cerita ini hanya fiksi, banyak adegan kekerasan. Bagi pembaca di bawah umur, harap bijak dalam memilih bahan bacaan. Terima Kasih
Agam baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang sangat panjang hari ini, dia harus menghadiri sekitar 3 pertemuan dengan klien dan rekan kerjanya dalam sehari. Biasanya dia sudah menghubungi istrinya, tapi sejak kejadian beberapa hari yang lalu, Agam mendiamkan Alaia, entah kenapa dia hanya merasa tidak perlu membahas apapun dengan Alaia untuk saat ini.
Tetapi saat mobil yang Agam tumpangi melewati sebuah toko bunga yang memberikan pemandangan bunga mawar biru membuatnya mengingat satu wanita yang sangat dia cintai, yaitu Alaia, Istrinya. Wanita yang sangat berharga dalam hidupnya melebihi nyawanya sendiri “Berhenti di toko bunga itu.” Ucap Agam pada Liana, asisten pribadinya sekaligus perempuan yang berada di balik kemudi mobil.
“Baik pak.” Liana menghentikan mobilnya di depan toko bunga tersebut, membiarkan Agam keluar sendiri karena permintaan Agam yang menyuruh Liana untuk tetap di mobil karena dia hanya sebentar untuk membeli bunga di sana.
Buket mawar biru berada di tangan Agam, membawanya masuk kedalam mobil “Bunganya sangat cantik, bu Alaia pasti sangat suka.”
“Aku pikir dia akan memaafkanku kali ini.”
“Pak Agam lagi ada masalah dengan Bu Alaia?.”
“Sedikit.”
“Saya tidak pernah mendengar Pak Agam berseteru dengan Bu Alaia selama ini.”
“Setiap pernikahan itu ada perbedaan pendapat, itu hanya proses mendewasakan diri.”
Mereka kembali ke kantor mengerjakan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan lebih awal, karena alasan yang sudah jelas, Agam harus pulang menemui istrinya. Sudah cukup waktu 2 hari tidak mengatakan apapun pada Alaia, membuatnya berada di posisi kalang kabut menahan rasa rindu.
Rumah tampak masih sepi saat mobil Agam memasuki garasi, ada mobil milik Alaia di dalam tapi sepertinya pemiliknya tidak ada di rumah. Agam keluar dari mobilnya sambil membawa buket bunga di tangan kirinya, dia membuka pintu dan tidak menemukan siapapun di dalam rumah. Saat dia berjalan menuju ke dapur untuk mengambil air putih dari lemari pendingin sebuah catatan kecil menempel di pintu lemari pendingin.
‘Aku pergi dengan Sena, mungkin pulangnya telat.’
Hanya pesan singkat yang membuat Agam sedikit kecewa, pria itu meletakkan bunganya dimeja dan naik ke lantai dua menuju ke kamar untuk membersihkan badan dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Selama menunggu kabar dari istrinya, Agam memutuskan untuk membuat makan malam sendiri, perutnya butuh makanan sampai malam karena belum tentu Alaia pulang saat makan malam, bahkan kemungkinan pulang setelah jam makan malam.
Selama kurang lebih 4 jam Agam menunggu kedatangan istrinya, tapi perempuan itu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Hingga sebuah panggilan masuk kedalam ponsel Agam dari Alaia.
“Halo... kamu dimana sekarang?.”
“Maaf, ini Sena. Alaia sangat mabuk sekarang, apa bisa kamu datang menjemputnya.”
__ADS_1
“Baiklah, aku kesana sekarang.”
“Aku kirimkan lokasinya.”
“Thanks.”
Setelah mendapatkan pesan lokasi, Agam langsung keluar menggunakan mobilnya untuk menjemput Alaia.
Saat Agam tiba di tempat yang sudah Sena kirimkan lokasinya, pria itu langsung melihat meja yang ditempati oleh Alaia dan Sena.
“Maaf merepotkanmu padahal aku yang membawanya keluar.”
“Tidak apa-apa? Bagaimana denganmu? Apa kamu baik-baik saja pulang sendiri?.” Agam mengusap kepala Alaia yang diletakkan diatas meja dengan nyaman.
“Aku tidak mabuk sama sekali, tapi aku harus segera pulang karena Yashinta sudah menungguku.”
“Hati-hati dijalan.”
“Kamu juga, tolong jaga Alaia dengan baik.”
“Tentu.”
Sampai dirumah, Agam membawa Alaia masuk kedalam menuju ke kamar mereka dan menidurkan Alaia di ranjang. Tidak lupa, Agam melepaskan sepatu yang Alaia pakai, dia bahkan dengan tlaten menghapus make up yang Alaia pakai, merapikan rambutnya dengan sangat lembut, berakhir kecupan singkat pada dahi Alaia.
Agam berjalan menuju ke sofa yang ada di kamar, mendudukkan dirinya disana sambil memandangi wajah Alaia yang terlelap. Untuk pertama kalinya Alaia mabuk setelah pernikahan mereka, Sena mengatakan kalau Alaia banyak mengoceh saat mabuk tentangnya. Ternyata 2 hari membuat Alaia benar-benar hilang kendali akan dirinya sendiri, Agam menyesali itu.
Rumah mewah dengan barang yang hampir seluruhnya baru adalah pemandangan yang beberapa hari ini Selena lihat. Dia berjalan masuk bersama asisten pribadinya yang tinggal di samping Selena selama 24 jam, tidak mengganggu kehidupan Selena, tapi sejak tinggal di tempat baru, dia membutuhkan asisten pribadi juga tinggal di rumah yang sama dengannya.
Saat masuk kedalam, terlihat Kelvin yang duduk di sofa dengan nyaman. Selena tahu, tapi dia pura-pura tidak tahu kalau suaminya sudah ada di rumah. Kelvin terlihat mengusir asisten pribadi Selena untuk keluar terlebih dahulu.
“Sudah pulang sayang...” Kalimat itu membuat Selena terkejut, tapi dia menetralkan raut wajahnya sambil tersenyum.
“Mas, kamu dimana?.”
“Kamu benar-benar tidak tahu aku dimana?.”
__ADS_1
“Aku mendengarmu, tapi aku tidak tau kamu dimana?.”
Kelvin mendekat kearah Selena, berdiri sangat dekat di sebelah kanannya. “Sampai kapan?.” Bisik Kelvin yang membuat Selena kebingungan dengan pertanyaan pria itu.
“Apa maksud mas Kelvin?.”
“Sampai kapan kamu pura-pura tidak bisa melihat?.”
“Aku tidak mengerti.”
Dengan tiba-tiba Kelvin mengarahkan sebuah pisau di depan mata Selena, wanita itu langsung menghindar kebelakang karena sangat terkejut.
“Sudah jelas semuanya.” Kelvin menggenggam tangan Selena kencang dan menatap Selena sangat dekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
“Aku ketahuan sekarang?.” Selena menatap Kelvin dengan pandangan dinginnya, berbeda dari Selena polos yang tercipta di mata Kelvin. “Sudah berapa bulan, kamu menyadarinya sekarang?.”
“Apa yang kamu inginkan sebenarnya?.”
Selena melepaskan tangan Kelvin dan menjatuhkan tongkat yang selalu dia bawa di lantai, wanita itu berjalan sangat santai ke arah sofa dan duduk disana dengan nyaman. “Aku sama sekali tidak menginginkan apapun, aku hanya mempertahankan posisiku di perusahaan ayahku sendiri.”
“Kenapa harus melakukan hal bodoh.”
“Tapi sekarang aku sudah punya tujuan yang jelas atas hubungan kita. Aku harap kamu tidak merebut apapun yang menjadi kebahagiaan orang lain.” Jelas Selena.
“Apa yang kamu tau?.”
“Tentang Mas Agam, jangan lakukan apapun padanya.”
“Kamu sungguh menyukainya?.”
“Tidak. Selama ini aku salah mengartikan perasaan terimakasihku pada mas Agam menjadi perasaan suka antara wanita dan pria.”
“Lalu?.”
“Jangan merampas kebahagiaan Alaia dengan mengambil mas Agam dari sisinya.”
“Seberapa dekat kamu dengan Alaia? Apa kamu tau bagaimana menderitanya dia hidup dengan psikopat.”
“Alaia tidak pernah menderita, Mas Agam adalah malaikat yang membawanya keluar dari kesepian. Aku belum mengatakan dekat dengannya, tapi aku akan putus asa dengan kehidupanku jika aku sebagai Alaia tanpa mas Agam.”
__ADS_1
Kelvin hanya menganggukkan kepala meremehkan ucapan istrinya.
“Kalau begitu aku meminta sesuatu darimu.”