Perfect Husband

Perfect Husband
108. Siapa Dirimu


__ADS_3

Hari ini, rencananya aku mau meluangkan waktu untuk perawatan diri ke salon. Sudah lama sekali semenjak mengandung si kembar, aku tidak pernah lagi pergi ke salon.


Aku juga ingin menikmati waktu bersantai, seperti makan es krim atau minum secangkir coklat hangat. Andra juga mengizinkanku pergi, karena dia juga masih libur.


Setelah semua kegiatan perawatan ku lakukan, aku mengunjungi sebuah kafe yang sering aku kunjungi bersama Andra saat aku sering ikut dia ke kantor.. dan memesan secangkir coklat hangat.


Aku mencoba merelaksasi diri, setelah berbagai kecemasan hadir dalam pikiranku. Terbesar adalah kecemasan saat melahirkan di kembar dan saat meninggalnya Vallen.


Sahabat baikku telah kembali ke keabadian. Dia sangat baik hati, dia benar-benar menjaga Andre dengan baik untukku. Bahkan berhasil membuatnya jatuh cinta. Sekarang aku bingung, siapa laginyang akan aku jodohkan dengan Andre? Aku tidak bisa percaya pada orang lain seperti aku percaya pada Vallen.


Meskipun aku tidak bisa berada di sisi Andre, aku selalu ingin dia mendapatkan pasangan yang terbaik yang bisa menjaganya. Cintaku padanya memang tidak bisa saling terbalas, maka dari itu, aku harus mencari orang yang terbaik yang bisa mewakiliku mencintainya.


Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling Kafe. Suasananya selalu begini, nyaman dan tentram. Tapi aku tiba-tiba terfokus pada seorang lelaki dengan dua gadis cantik, aku perkirakan umur para gadis itu lebih muda dariku dan yang paling tidak bisa aku percaya, pria itu adalah Andre.


Entah mengapa hatiku sangat kesal melihat Andre yang seperti itu. Sungguh, itu bukan karakternya. Mengapa dia bisa menjadi seperti ini? apa karena dia setres atas kematian Vallen?


Aku merasa, harus menanyakan ini langsung padanya. Meskipun aku tidak bisa memilikinya, bukan berarti sembarangan orang berhak berada di sampingnya, aku tahu pasti, bahwa yang di inginkan para gadis muda itu hanyalah Uang dan kesenangan semata.


Dengan langkah pasti, aku mendatangi mereka. Rasanya aku ingin marah. Terserah, ini hakku atau bukan, tapi aku benci melihat perubahan Andre yang lebih menunjukkan kalau ia sedang frustasi.


"Kak, bisa bicara sebentar?" Aku langsung bicara pada poinnya, dan tidak memperdulikan kedua gadis itu.


"Siapa dia? pacar Kakak?" Tanya salah seorang gadis yang ada di samping Andre padanya.

__ADS_1


"Iya, dia pacarku. Sepertinya dia cemburu, jadi aku harus bicara dengannya dulu. Kalian tunggu di sini, ya." Mendengar jawabannya, membuatku merasa semakin kesal. Aku sampai tidak yakin, jika yang ada di hadapanku ini Andre yang pernah aku cintai.


"Jadi, ada apa? bicaralah." Andre menatapku dengan santai, kedua tangannyania lipat di dada. Kakinya sedikit ia silangkan, dengan badan yang sedikit bersandar di tembok.


"Kakak, kenapa kamu begini?" Aku ingin segera tahu, apa jawaban yang akan dia berikan untuk pertanyaanku ini. Sungguh, aku penasaran.


" Aku? Aku tidak kenapa-kenapa. Baik-baik saja seperti biasanya," Jawabnya cuek. Gaya bicaranya pun sudah tidak seperti Andre.


"Kak, ini bukan kakak. Kakak tidak pernah bersikap seperti ini. Tolong, jangan rusak citra kakak dengan bertindak dan bersikap seperti ini," Aku mulai menceramahinya. Jujur, aku tidak suka dengan gaya Andre yang baru.


"Sudahlah, jangan mencampuri urusanku, Sila. Kamu tidak berhak menentukan jalan hidupku. Biarkan aku memilih sendiri, jalan mana yang akan ku tempuh," Andre memalingkan pandangannya dariku. Aku tahu aku tidak memiliki hak apapun atas hidupnya. Tapi, melihatnya seperti ini justru membuatku sedih. Kalau saja dia tahu, aku masih menyayanginya, meskipun kami tidak saling memiliki.


"Kak, aku begini karena aku peduli padamu. Tindakanmu sekarang hanya semakin menunjukkan kelemahanmu. Kamu tidak perlu menjadi orang lain, agar bisa bahagia, jadilah dirimu sendiri,"Aku coba mengingatkan Andre, aku tidak ingin dia bertindak lebih jauh lagi merusak dirinya. Apalagi keluarga Wijaya adalah keluarga terhormat dan terpandang. Apa jadinya jika publik tahu tentang kelakuan pewaris mereka seperti itu.


"Kak, aku mohon, jangan nodai diri kakak dengan prilaku seperti itu. Kakak tidak boleh menjadi playboy, Kak. Tolong dengarkan aku," Aku berusaha memohon agar dia mau mendengarkan aku. Aku tidak ingin dia menghancurkan dirinya sendiri.


"Atas dasar apa aku harus mendengarkanmu? Sila, aku bukan bayi, aku bisa mengatur diriku sendiri. Lebih baik kamu urus diri kamu sendiri daripada mengurusi hidupku. Buat apa kamu perduli padaku? Bahkan kamu juga tetap bertahan dengan Andra, kan? Kamu munafik, Sila. Di dalam hatimu, aku tahu, masih ada aku di sana. Tapi kamu tidak ada keberanian untuk mengakuinya," Andre justru tampak emosi, aku mengusiknya. Yang dia katakan benar, tapi semuanya karena salahnya sendiri. Dia tidak bisa hanya menyalahkan aku. Aku tidak meninggalkan Andra, karena laki-laki itu juga memohon agar aku tidak meninggalkannya. Aku hanya seorang wanita biasa yang lemah.


"Apa yang kakak katakan benar, aku hanya orang munafik yang tidak bisa mengakui semua perasaanku. Tapi, apa kakak tahu, aku berusaha selalu berbuat yang terbaik untuk kalian berdua, aku berusaha agar tidak ada yang tersakiti. Kalau aku boleh memilih, aku lebih baik tidak pernah terlibay cinta segitiga dengan kalian. Mungkin, kalau aku mati, kalian akan damai." Airmataku meleleh saat mengatakan itu pada Andre. Semua ini bukan salahku. Aku tidak ingin di ciptakan menjadi wanita yang di cintai oleh dua pria itu, tapi semua ini sudah takdir, aku hanya bisa berusaha untuk menerima semuanya dengan baik.


"Kamu tidak lebih dari seorang wanita yang menghancurkan hidupku, lalu berupaya menjadi sosok yang paling bisa mengatur diriku dan ikut campur dengan semua urusanku," Andre semakin marah. Apa salahku? Sepertinya aku tidak perlu mengingatkannya tadi.


"Kakak, aku hanya..."

__ADS_1


Cup...


Tiba-tiba saja Andre mendaratkan ciumannya di bibirku, Secepat kilat aku mendorongnya menjauh.


Plakk!


Aku menamparnya sekuat tenaga, hingga meninggalkan warna merah di pipinya. Tanganku sakit dan panas, tapi hatiku lebih sakit. Ini kedua kalinya dia melecehkanku. Aku adik iparnya, ia seharusnya ingat itu.


"Kak, jangan samakan aku dengan wanitamu yang murahan di sana. Meskipun aku mencintaimu, aku tidak sudi kau lecehkan seperti ini. Aku benci kau kak! Kamu bukan Andre yang ku kenal. Aku benci! Sekarang terserah padamu, kau mau apa terserah. matipun aku tidak akan perduli. Aku menyesal pernah mencintaimu!" Aku berlari meninggalkan Andre yang tertegun karena ucapanku. Hatiku terasa sakit, seketika aku ingat Andra. Apa dia akan terima jika aku di perlakukan seperti ini oleh saudara kembarnya sendiri?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo PH lovers terus berikan dukungan kalian ya dengan cara like, comment, dan Fav. Dukung juga PH dengan cara membagikan tips berupa koin atau poin setiap dukungan kalian akan sangat berarti untuk author.


Dukung juga karya terbaruku:


My Workaholic Husband


Follow IG-ku @Ratuasmara_06


Bagi kalian yang ingin masuk dalam grup pembacaku, bisa langsung DM nomor whatsaap kalian di IG ku.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2