Perfect Husband

Perfect Husband
Chapter 37. Sweet


__ADS_3

Cerita ini hanya fiksi, banyak adegan kekerasan. Bagi pembaca di bawah umur, harap bijak dalam memilih bahan bacaan. Terima Kasih



Kelvin berjalan masuk kedalam kantornya bersama dengan Selena yang sekarang berstatus sebagai istrinya. Selena memang tidak pernah menyusahkannya tapi melihat wanira itu yang sama sekali tidak bisa melihat membuat Kelvin kesal. Rasanya memiliki istri cacat adalah mimpi buruk, Selena memang cantik, Kelvin juga mengakui itu, tapi percuma saja kalau melihat pun tidak bisa.


Tapi setidaknya wanita itu sangat menguntungkan untuknya, dengan pernikahan ini, Kelvin mendapatkan 5% perusahaan milik kakeknya diluar yang sudah diwariskan untuk ibunya. Sehingga bagian itu bisa Kelvin gunakan untuk memperkuat posisinya sekarang didalam keluarga besar. Hanya itu yang bisa disebut sebagai keberuntungan.


Kelvin tersenyum sendiri mengingat apa yang dia dapatkan dari kakek, jabatannya disini lebih dari cukup hanya untuk berfoya-foya tapi lihat bagaimana saingannya bisa melihatnya membuat Kelvin dipacu untuk terus lebih dan lebih dari Agam bagaimana pun caranya.


Dua orang berjalan ke arah Kelvin, dua pria memakai pakaian santai namun terlihat sangat penting mendatangi Kelvin tanpa menunggu lebih lama.


“Kamu masuk aja dulu ke dalam.” Kelvin membuka pintu ruangannya dan menyuruh Selena untuk masuk, tapi bukan Selena namanya kalau wanita itu tidak mencari tahu apa yang Kelvin bicarakan di luar. Selena masih berada di depan pintu menunggu suara di luar yang bisa dia dengarkan.


Dua pria itu memberikan sebuah map coklat pada Kelvin “Ini hasil yang anda perintahkan.”


Kelvin membuka map tersebut dan tersenyum puas “Wahh di luar dugaan akan sebesar ini, bayarannya akan saya transfer sekaligus bonus untuk kalian berdua.”


“Terimakasih bos, senang bekerjasama dengan anda.”


Mereka berdua pergi setelah memberikan berkas pada Kelvin, Selena yang sudah mendengarnya langsung duduk di sofa dengan tenang seperti biasanya. Kelvin yang baru saja masuk melihat Selena yang duduk di sofa hanya tersenyum, bukan karena wanita itu tapi karena barang yang dia pegang sekarang.


“Ceritamu akan berakhir. Hahahah.”


“Kenapa mas?.” Tanya Selena yang membuat senyuman Kelvin memudar.

__ADS_1


“Bukan apa-apa.”



Hari ini Agam dan Alaia memutuskan untuk libur bersamaan, mereka berdua melakukan quality time yang hampir tidak pernah mereka lakukan lagi karena kesibukan masing-masing. Alaia tengah menyiapkan makanan di dapur, sedangkan Agam membersihkan ruang keluarga, memilihkan beberapa film yang akan mereka tonton nantinya. Suasana di luar juga menambah kesan romantis mereka berdua pagi ini, saat rintik hujan turun mulai membasahi dedaunan yang kering setelah musim kemarau panjang.


“Mas, minumannya sudah siap.” Ucap Alaia sedikit berteriak dari dapur.


Mendapat panggilan itu membuat Agam langsung menuju ke dapur untuk mengambil minuman yang sudah Alaia letakkan dalam nampan. “Kamu cantik.” Puji Agam yang membuat pipi Alaia memerah malu.


“Apaan sih mas.”


Agam hanya tersenyum dan mengambil nampan tersebut membawanya menuju ke ruang keluarga, Agam kembali ke dapur untuk membantu Alaia membawa makanan lainnya yang sudah disiapkan.


Setelah semuanya siap, Alaia duduk di karpet. Posisinya adalah sofa utama yang cukup lebar kemudian dibawahnya ada karpet bulu tebal, di atas karpet tersebut ada meja yang di isi makanan ringan serta minuman hangat. Didepan mereka terdapat televisi yang digunakan untuk menonton film atau apapun kalau tidak sibuk, mengingat mereka yang jarang menonton di ruang keluarga.


“Kapan kita terakhir kali seperti ini mas?.” Tanya Alaia yang membuat fokus Agam dari film menuju ke Alaia.


“Mungkin satu tahun yang lalu saat kamu sakit.”


“Iya, kapan kita bisa seperti ini lagi?.”


“Kapan saja sayang... Aku akan menyisihkan banyak waktu untukmu, kapanpun kamu mau kita bisa melakukannya.”


“Aku sibuk, kamu juga sibuk. Kita bahkan lupa kalau seharusnya punya anak.”

__ADS_1


Agam melonggarkan pelukannya di leher Alaia “Masalah anak, aku ingin kita tunda dulu.”


Alaia menoleh kebelakang sedikit mendongakkan kepalanya karena posisi Agam ada diatas “Kalau boleh aku tau, sebenarnya apa alasan mas Agam?.”


“Aku tidak pernah berbohong atas alasanku memilih menunda anak, aku tau kamu mau, tapi aku yang tidak ingin. Fokus, kasih sayang, waktu, dan kamu, semuanya akan tersita saat kita mulai memutuskan untuk memiliki anak. Yang paling penting, mengandung itu tidak semudah hanya memilih anak seperti memilih barang di mall. Nyawa dipertaruhkan saat melahirkan, aku tidak ingin kamu kesakitan, aku tidak akan pernah rela.”


Alaia mengerti dan sangat mengerti alasan Agam, setelah apa yang terjadi, hal yang Alaia pikir sangat tidak masuk akal dan terlalu berlebihan untuk menjadi sebuah alasan, sekarang menjadi sangat realistis untuk seorang Agam. Alaia tersenyum dan beranjak dari duduknya pindah ke sofa dan memeluk Agam erat.


“Berkali-kali aku mengatakan aku bersyukur mengenalmu mas, disaat banyak pria lain yang menuntut istrinya memiliki seorang anak, sedikitpun kamu memilih untuk tidak dengan alasan klasik tapi manis.”


Agam membalas pelukan Alaia, menghirup wangi rambut Alaia yang sudah sangat dia hafal secara rinci “Jangan dengarkan ucapan siapapun sayang... aku takut kamu sakit hati karena ucapan orang soal anak. Aku tidak ingin mengajakmu ke keluarga besar juga karena hal itu.”


“Aku baik-baik saja mas, mungkin awalnya aku juga sakit hati. Tapi setelah aku pikir-pikir, ini hidup kita, mau punya anak atau pun tidak bukan urusan siapapun, mereka tidak ada urusannya dengan kita berdua. Sekarang aku hanya ingin fokus padamu, semuanya tentang kamu, aku ingin memperbaiki hubungan kita yang jauh dari kata sempurna, aku ingin memberikan semua perhatian untukmu.”


“Apa ini soal kejiwaanku?.” Agam melepaskan pelukan Alaia, wajahnya nampak dingin menatap Alaia yang jarak mereka hanya beberapa centi saja.


“Itu... bukan seperti itu mas.”


“Aku tau ini soal bagaimana sikapku, kenapa kamu baru melakukan ini semua setelah kamu tahu keadaanku.”


“Bukan seperti itu mas, aku hanya takut kamu sakit, aku takut kamu menderita. Aku ingin menebus semua kesalahanku sebelumnya, sebelumnya aku sama sekali tidak tau keadaanmu, bahkan rasa nya aku sama sekali tidak berguna bagi hidupmu.”


“Aku sudah seperti ini sejak kecil, kamu juga tau perihal itu.”


“Aku tau, bukannya aku hanya perlu bersama mu maka semuanya akan baik-baik saja, kamu tidak akan merasa kekurangan apalagi tidak puas seperti sebelumnya.”

__ADS_1


“Alaia.” Agam meninggikan suaranya untuk pertama kali di depan Alaia, wanita itu sedikit tersentak dengan panggilan yang cukup keras keluar dari bibir Agam “Maaf, aku tidak bermaksud. Tapi kamu berlebihan, aku tau aku salah, tapi aku tidak membutuhkan belas kasihan dari orang lain, aku hanya ingin kamu mencintaiku, bukan mengasihaniku.”


Alaia terdiam.


__ADS_2