
Aku sangat senang saat tiba di rumah peninggalan ayah dan ibuku yang sudah di rubah sedemikin rupa menjadi sebuah panti asuhan. Aku membawa serta Anita, supaya dia bisa menggendong Alana, dan Alandra, dia ada di gendonganku.
"Mas, bagus banget desain kamu. Luar biasa, padahal aku nggak kasih ilustrasi apa-apa. Kapan kamu mulainya, tahu-tahu udah jadi aja," Aku memuji cara kerja suamiku yang sangat cepat. Di sela-sela kesibukannya, ia berhasil mewujudkan impianku, mempunyai sebuah panti.
"Ada tantangan yang berbeda, saat aku harus membuat sesuatu yang membuat kamu bahagia seperti ini, sayang." Andra tersenyum manis padaku. Dia memang selalu membuatku bahagia. Dalam setiap keadaan dia selalu berusaha untuk memahamiku.
Kami bertiga bersama si kembar mendatangi lebih dekat panti asuhan kami yang di beri nama "Panti Asuhan Muara Kembar". Telah hadir banyak sekali rekan-rekan kerja yang hadir, mereka akan menjadi donatur tetap di Panti Asuhan kami.
Di awali dengan perkenalan diri sebagai pemilik panti, berkenalan dengan para donatur, pemotongan pita, juga pemberian hadiah krpada beberapa anggota panti yang ternyata sudah hampir sepuluh orang.
Rasanya aku sangat senang bisa berbagi, meskipun hanya hal kecil seperti ini. Alana dan Alandra juga tampak senang sekali, mungkin kedua bayiku tahu, jika momen ini adalah tempat di mana saatnya berbagi dan berbahagia.
Selepas dari panti, kami mampir ke sebuah tempat makan. Kebetulan si kembar tidur, jadi bisa di taruh ke strollernya. Aku, Andra dan Anita, makan bersama.
"Bian sibuk, ya." Andra menanyakan adik iparnya yang hari ini tidak bisa mengikuti acara peresmian Panti.
"Iya, Kak. Semenjak menikah, kami juga jarang bertemu, kecuali pas ngampus atau hari libur. Tapi hubungan kami intens kok lewat chat atau video call," Anita membela suaminya.
Pernikahan Anita memang sudah di laksanakan sebulan yang lalu. Semenjak menikah, Bian belum pernah datang ke rumahku dan Andra, katanya sih, sibuk. Tapi aku juga tidak tahu alasan sebenarnya apa, Anita akhir-akhir ini tidak pernah menceritakan apapun, terutama tentang suaminya itu. Aku harap semuanya hanya pemikiranku saja yang terlalu buruk pada adik iparku itu.
"Maklumlah, Mas. Bian kan memang lumayan sibuk, mengurus usaha orang tuanya," Aku berusaha membela Anita.
"Apa bedanya dia sama aku? Aku juga sangat sibuk, tapi aku selalu berusaha membagi waktu untuk keluarga. Bahkan, baru menikah satu bulan saja, adikku sudah kurus seperti itu," Aku tidak menyangka Andra ternyata sangat perhatian pada adik perempuannya itu. Ia bahkan menyadari perubahan berat badan yang terjadi pada adiknya.
__ADS_1
"Kak, jangan menyangka aku kurus karena Bian, aku juga tidak tahu, kenapa berat badanku turun. Hubunganku dan Bian, baik-baik saja, apa perlu aku telepon dia agar kalian percaya?" Sepertinya yang Anita katakan benar. Ia sedang tidak membohongi kami.
"Sudahlah, lupakan dulu masalah Bian, kita makan dulu, saja." Andra mengingatkan kami agar fokus makan. Aku mencoba mengerti, dan paham. Sikap Andra menunjukkan betapa peduli dan sayangnya ia terhadap adiknya.
Sesampainya di rumah...
"Lelah sekali, Alana dan Alandra masih tidur. Aku harus pindahkam mereka satu per satu," Aku menggendong Alana dan Alandra secara bergantian dan menaruhnya di tempat tidur mereka.
"Sayang, buatin mas teh, ya. Bawa ke ruang kerja," Andra memintaku untuk membuat teh. Hampir setiap hari Andra membawa pekerjaan ke rumah. Tapi yang aku suka, meskipun ia membawa pekerjaan pulang, tapi dia tetap mendengarkan apapun ceritaku.
"Baik, mas." Aku segera bergegas ke dapur, setelah memastikan Alana dan Alandra tidur.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" Minah tergopoh-gopoh menawarkan bantuan saat aku tiba di dapur.
"Baiklah, panggil saya kalau butuh sesuatu, Nyonya,"
"Terima kasih, Minah. Kamu sudah makan siang?" Tanyaku pada Minah, sambil menyeduh teh yang di inginkan Andra.
"Sudah, Nyonya. Baru saja," Jawab Minah dengan sangat sopan. Aku suka sekali dengan assisten rumah tangga yang ku miliki. Dia selalu sopan dan sangat cekatan.
"Bagus, jangan telat makan, ya.. kesehatan itu yang terpenting. Saya tinggal dulu, Minah." Aku melangkah kembali ke atas, menuju tempat kerja Andra. Aku melihatnya sangat fokus bekerja, sampai ia tidak menyadari kedatanganku.
Aku meletakkan tehnya di meja tempat kami biasa duduk santai. Aku mendekatinya dan memijat pundaknya, aku tahu, dia pasti sangat letih.
__ADS_1
"Perhatian sekali istriku, capekku langsung hilang kalau di pijit sama kamu," Gombal Andra sambil terua mengetik berkas yang sepertinya sangat penting.
"Bisa aja, Mas. Nggak capek, baru pulang sama aku, terus lanjut kerja?" Aku masih terus memijat Andra.
" Nggak, Sayang. Melihat kamu dan Si Kembar, sudah memicu semangatku untuk bekerja lebih keras lagi," Jawab Andra dengan santai, sambil terus membiarkan jarinya menari di atas keyboard.
"Kamu sudah bekerja keras untuk kami, Mas. Ada saatnya, mas butuh istirahat yang cukup. Jangan terlalu memaksakan diri," Aku memeluk Andra dari belakang, dia mengecup pipiku dengan lembut.
"Terima kasih, sayang. Oh, ya. Di brankas itu, aku menyimpan semuq dokumen penting. Kodenya adalah tanggal dan tahun lahirmu. Siapa tahu, kamu membutuhkannya saat aku tidak ada di rumah," Andra menunjuk sebuah kotak berwarna silver yang ia letakkan di dekat rak buku.
"Baik, Mas. Aku akan mengingatnya. Di minum dulu tehnya, Sayang... nanti keburu dingin," Andra menghentikan aktivitasnya dan mengikutiku berjalan ke kursi santai.
"Sayang, sini. Dekat-dekat denganku. Rasanya sampai rindu sekali," Andra menarikku untuk mendekat padanya. Aku menyenderkan kepalaku di bahunya.
"Makanya, jangan terlalu banyak bekerja. Biar mas bisa merasakan kasih sayang dariku," Aku lagi-lagi mengingatkannya. Aku melihat usahanya yang sangat keras untuk kami bertiga.
"Terima kasih, atas perhatian kamu, Sayang. Nanti ada kok, saatnya bersantai. Semua data donatur panti sedang aku kerjakan, nanti kalau sedah selesai akan segera aku berikan padamu. Si Kembar, masih tidur?" Tanyanya sambil menyeruput teh yang ada di atas meja.
"Masih, Mas. Sepertinya mereka lelah, setelah pulang dari panti. Kamu kangen, ya? Mau main sama Si Kembar?" Aku menatapnya penuh arti.
"Siapa yang tidak kangen pada dua bayi menggemaskan itu, rasanya, mas pengen banyak ngambil cuti, hanya untuk bermain bersama mereka," Andra tersenyum, ia sangat menyayangi anak-anaknya. Alana dan Alandra sangat beruntung mempunyai ayah seperti Andra.
"Boleh-boleh, gimana kalau mas cuti, gantian aku yang ke kantor?" Aku memberikannya tawaran, tentu saja aku tidak serius, dan dia pasti tidak akan mengizinkan aku untuk bekerja.
__ADS_1
"Sayang, biarkan urusan pekerjaan ini, mas yang urus. Nanti, kalau si kembar sudah lumayan besar, baru kamu boleh ikut mengurus kantor lagi,"Andra mengelus rambutku dengan lembut. Benar-benar suami penuh perhatian.