Perfect Husband

Perfect Husband
68. With You


__ADS_3

Suasana pagi yang masih sedikit gelap. Ku lihat jam dinding yang menggantung di kamarku masih menunjukkan pukul 5 pagi. Suara-suara binatang pagi juga masih belum terdengar. Di luar langit masih gelap. Andra masih terlelap di sampingku. Kalau dia tidur seperti ini wajahnya tampak semakin imut. Mungkin hanya aku saja yang terlalu mencintainya, dengan terlalu besar.


Sejak awal menikah dengannya, sampai hari ini. Kami sudah melewati banyak peristiwa yang bermacam-macam. Senang dan sedih, suka dan duka, semuanya kami lewati bersama. Bahkan aku hampir kehilangan kepercayaan padanya.


Tapi pada akhirnya kami di pertemukan lagi dengan perasaan yang berbeda, dan lebih besar. Sampai kami di karuniai kepercayaan lagi seorang janin di dalam kandunganku. Tidak lama lagi kami tidak berdua lagi, tapi bertiga. Aku sangat bahagia mendapatkan ini.


Aku mengelus wajahnya yang halus tanpa cela, selembut sutera. Dia seperti putri tidur yang sama sekali tidak merasakan sentuhanku. Saat ini, aku tidak ingin lagi kehilangannya. Semoga semuanya juga akan baik-baik saja sampai nanti.


Bersamanya adalah anugerah terindah yang pernah aku miliki. Dia tidak hanya tampan, dia juga mapan, dan sangat menyayangiku. Dia pantas di nobatkan menjadi salah satu tipe suami sempurna di zaman ini. Aku sangat beruntung memilikinya.


"Sayang, sudah bangun..." Andra mengerjapkan matanya yang masih terlihat mengantuk. Ia bangun dan duduk di sebelahku. Ia menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang kaku.


"Kenapa mas ikutan bangun, aku cuma lagi pengen duduk aja kok,"Kataku sambil memandangnya lekat. Bangun tidurpun, ia sangat tampan. Dari segi apapun, dalam keadaan apapun, dia tetap tampan.


" Biasa aja liatinnya, aku memang tampan sejak lahir," Kata Andra terkekeh.


"Huh, mas narsis banget deh,"Aku menoel hidungnya gemas.


"Kamu jatuh cinta padaku pasti karena wajahku kan? Ayo ngaku.." Ledek Andra sambil tertawa geli.


"Setiap orang juga pasti gitu mas, kaya pepatah, dari mata turun ke hati," Aku membela diri. Tidak menampik kenyataan, aku memang mencintainya karena wajah tampannya. Terlebih lagi ia mempunyai hati yang baik. Aku semakin mencintainya.


"Mas tau, sayang. Kalau cinta kamu berbeda, kamu mencintai segala hal yang ada dalam diri mas, wanita sepertimu sangat istimewa. Inilah yang membuat kak Andre begitu tergila-gila padamu," Ujar Andra bangga. Lagi-lagi dia masih membahas perasaan kakaknya. Apa mungkin masih ada rasa cemburu di dalam hatinya?


"Mas masih cemburu? Dia sudah mau nikah loh sama Vallen," protesku. Andra tersenyum kecut.


"Aku memandangnya dari sisi laki-laki sayang, sampai saat ini dia masih mencintaimu. Tidak ada yang berubah. Lebih baik kamu temui temanmu itu, kasihan dia, hanya akan bertepuk sebelah tangan,"


Celoteh Andra, sepertinya ia sedikit emosi. Aneh. Dia tidak biasanya seperti ini.

__ADS_1


"Mas, jangan seperti itu. Siapa tahu kakak sedang proses mencintai Vallen, kita harus mendukungnya. Kasihan kak Andre, dia butuh orang yang mencintainya, mas." Aku memgingatkan Andra agar tidak menghujat Andre. Sepertinya ia menyadari kesalahannya dan merubah air mukanya menjadi lebih cerah.


"Maafkan, mas. Bukan maksud mas untuk menjelekkan kakak di hadapanmu, kalian besar bersama tentu bisa saling memahami," Ujar Andra dengan nada menyindir. Aku beringsut mendekat dan mendekapnya dari belakang.


"Mas, Bersamamu aku sudah merasa lebih dari cukup. Jika kakak masih mencintaiku, memangnya kenapa? toh aku sudah tidak mencintainya, iya kan?" Aku coba untuk meyakinkannya dengan perasaanku. Aku ingin dia tahu kalau di hatiku sudah tidak ada pria lain selain dia. Andra menyentuh kedua tanganku yang masih melingkar di perutnya.


"Terimakasih sayang, Mas semakin sayang sama adek, setelah banyak hal yang menguji hubungan kita, mas semakin mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu lagi, meskipun hanya dalam mimpi..." Katanya mesra, aku menempelkan kepalaku di punggungnya dengan manja.


"Terimakasih, mas. Aku juga sangat mencintaimu," Aku memeluknya semakin erat, menikmati kehangatan suhu tubuhnya.


"Ayo, kita jalan santai. Biar kamu sama dedek bayi ini sehat," Andra mengelus perutku dan mengecupnya lembut. Terlihat sekali dia sangat menyayangi bayi yang ku kandung ini.


"Ayo mas, kita bisa hirup udara pagi, aku juga pengen ngerasain embun..." Aku bangkit dari dudukku di ranjang, mengikat rambutku sekenanya dan menunggu Andra bersiap. Ia hanya memakai kaos putih semi transparan yang biasa di gunakannya untuk tidur dengan celana panjang berbahan kaos.


Kami turun ke bawah, Minah tampak sedang menyapu sambil mengelap beberapa perabotan yang di hinggapi debu.


"Pagi Minah, rajin sekali pagi-pagi sudah mulai beberes," Aku menyempatkan diri menyapanya. Supaya dia lebih semangat dan betah tinggal di rumah kami.


"Iya, kami mau jalan-jalan dulu. Selamat bekerja..." Aku melemparkan senyumku pada asisten kami itu, lalu menggandeng Andra keluar rumah.


"Pagi, tuan dan nyonya, silahkan..." Pak Anto, satpam kami, membukakan pintu gerbang untuk kami keluar. Udara segar sudah mulai tercium sejak pertama kali melangkahkan kaki keluar rumah tadi.


"Terimakasih, pak," kami menyahut serentak, pak Anto tersenyum sambil menunduk sebagai tanda hormat kepada kami.


Di jalan raya, sudah banyak pejalan kaki lainnya. Ada beberapa tukang sayur yang juga menjajakan dagangannya. Suasana seperti ini tidak akan berlangsung lama. Karena mereka akan segera pergi mwnjalankan aktivitas masing-masing. Hampir seluruh penghuni kompleks di sekitar rumah kami adalah pekerja kantoran. Baik itu PNS atau karyawan swasta.


"Selamat pagi bu Sila, pak Andra.. jalan pagi juga?" Tanya Bu Ratri ramah. Seorang tetangga yang baru kenal beberapa hari.


"Pagi bu, iya nih, kami lagi jalan santai menghirup udara pagi. Belanja, bu?" Aku balik bertanya padanya.

__ADS_1


"Iya, nih. Sebentar lagi mau masakin suami saya. Setiap hari saya berusaha buat sarapan spesial buat suami saya, soalnya suami itu bisa betah di rumah kalau kita sering masakin di rumah, bu Sila. Apalagi saya kan nggak punya pembantu kaya ibu," Katanya sedikit menusuk telingaku. Aku sekilas memandang Andra. Selama kami pindah ke rumah baru ini, aku memang tidak pernah lagi memasak untuknya. Semua serba Minah.


"Betul bu, itu, kemarin mbak dina ditinggal suaminya, gara-gara jarang masak dan sibuk ngurus anak, makanya suaminya cari selingkuhan," Kata ibu-ibu yang lain.


Andra lalu menarikku meninggalkan mereka yang membuat telingaku sedikit panas. Aku jadi sedikit takut Andra akan meninggalkanku kalau aku jarang masak untuknya. apalagi aku sekarang juga sedang mengandung.


"Jangan dengarkan mereka. Aku sewa asisten memang untuk meringankan bebanmu, sayang. Aku juga nggak masalah, kamu mau masak atau tidak untukku. Mas hanya mau kamu, nggak mau yang lain lagi," Andra menatapku dalam. Perasaanku sedikit lega. Memang aku sepertinya harus jaga jarang dengan para ibu itu . Cara bicara mereka sangat mengerikan. Terlebih lagi gosip yang belum tentu kebenarannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo PH lovers, terimakasih sudah mampir.


jangan lupa klik love dan rate bintang 5 nya ya..


Tulis komentar kalian di bawah ini 👇👇👇


jangan lupa mampir ke novelku yang lain


judulnya


-Si Tampan Pemikat


-Digoda Berondong


Follow ig ku @Ekayunn15


Buat yang mau gabung grup fans PH juga boleh banget. Caranya:


coret-coret no wa kalian

__ADS_1


di kolom komentar.


terimakasih..


__ADS_2