Perfect Husband

Perfect Husband
Chapter 32. Keterkejutan Alaia


__ADS_3

Cerita ini hanya fiksi, banyak adegan kekerasan. Bagi pembaca di bawah umur, harap bijak dalam memilih bahan bacaan. Terima Kasih




Hari ini Alaia ada janji bertemu dengan sahabatnya, Sena setelah pulang kerja. Dia pulang kerja lebih awal bersama dengan beberapa rekan kerja lainnya, mengingat beberapa kasus akhir-akhir ini bisa ditangani sangat baik dan telah diserahkan pada pihak yang bertugas selanjutnya. Alaia menuju ke mobilnya yang ada di parkiran mobil kantor polisi, wanita itu membawanya menuju ke sekolah kanak-kanak untuk menjemput Yashinta, anak dari Sena dan Natio.


Tidak membutuhkan waktu lama, Alaia bertemu dengan Yashinta yang keluar kelas dengan wali kelasnya. “Bunda!!.” Panggil Yashinta dengan wajah cerianya, Alaia merentangkan kedua tangannya dan membawa Yashinta ke pelukannya.


“Kata mama, Bunda mau jemput Yas, jadi Yas seneng banget hari ini.”


“Benarkah? Yas mau kan jalan-jalan sama bunda dan mama?.”


“Iya mauuu.”


“Kalau begitu ayo masuk kedalam mobil.” Yashinta masuk kedalam mobil Alaia terlebih dahulu, setelah mengucapkan terimakasih pada wali kelas Yashinta, Alaia masuk kedalam mobilnya, memakaikan sabuk pengaman untuk Yashinta kemudian melajukan mobilnya menuju ke rumah Sena.


“Papa nggak pulang?.” Tanya Yashinta sambil memainkan boneka yang dia pegang.


“Papa kerja, jadi belum pulang, nanti sore pulangnya.”


“Kalau mama udah pulang bun?.”


“Mama udah nungguin Yas di rumah, kan mau jalan-jalan.”


“Yeay, Yas mau es krim ya.”


“Tanya mama dulu ya.”


“Tapi kalau tanya mama pasti ga boleh.”


“Nanti biar bunda yang bantuin.”


“Beneran bunda?.”


“Iya dong.”


Perjalanan yang sangat seru berbincang satu sama lain hingga tanpa sadar telah tiba didepan gerabang rumah Sena. Sena keluar rumahnya dan menghampiri mobil Alaia, membantu Yashinta turun dan membawanya masuk kedalam rumah bersama Alaia.



Mereka bertiga memutuskan untuk jalan-jalan ke sebuah mall serta mengajak Yashinta ke gamezone, sebenarnya bukan Yashinta saja yang seru-seruan main di game zone tapi juga Alaia dan Sena.

__ADS_1


“Kita lama nggak main kayak gini ya...”


“Iya terakhir kali kuliah, itupun karena iseng.”


 



Flashback


Alaia baru saja menyelesaikan mata kuliah terakhirnya hari ini, dia ada janji dengan Sena yang sudah menunggu di parkiran mobil. Mereka akan berbelanja pakaian untuk Sena kenakan di pesta keluarganya, sudah bertahun-tahun lamanya tapi Alaia masih bersahabat sangat dekat Sena, mungkin karena Alaia tidak punya keluarga lain sehingga menganggap Sena sebagai keluarganya sendiri mengingat dia berada di kampus yang sama.


“Sena!.” Teriak Alaia sambil melambaikan tangannya.


Sena yang tengah memainkan ponsel, langsung melihat Alaia dan tersenyum membuka pintu mobilnya untuk masuk kedalam. Mereka berdua menuju ke mall untuk membeli dress untuk Sena kenakan di acara keluarga.


Ada banyak pilihan dress yang bisa dikenakan oleh Sena, dari dress terbuka hingga paling tertutup. “Ini bagaimana?.” Alaia menunjukkan dress pertama di tangannya.



Sena melihat dress tersebut dengan sangat detail. “Bagus tapi terlalu tua kalau pakai itu.” Alaia mengembalikan dress tersebut ke tempatnya semula.


Sambil menunggu Sena memilih pakaian yang dia suka, Alaia menuju ke tempat aksesoris, banyak aksesoris yang dia suka, tapi sayangnya Alaia tidak punya banyak uang untuk mengangkutnya pulang.


“Mbak, boleh coba yang itu.” Alaia menunjuk salah satu gelang yang menurutnya sangat indah, pelayan tersebut kemudian mengeluarkan gelang tersebut untuk Alaia coba “Cantik.” Ucap Alaia mengagumi gelang tersebut, tapi Alaia tidak ada uang untuk membeli gelang seharga 75 juta, sangat tidak bisa Alaia beli.



“nggak nyaman, skip.”


Alaia mengembalikan dress itu kembali dan melihat satu stel pakaian yang kemungkinan cocok dipakai Sena. “Bagaimana ini?.”



“Boleh, aku coba dulu.” Sena mengambil satu stel pakaian tersebut dan masuk ke ruang ganti.


Sedangkan Alaia masih berada disana sambil melihat-lihat pakaian lainnya. Hingga seorang pelayan menghampiri Alaia dengan membawa sebuah paper bag kecil.


“nona Alaia?.”


“Iya saya.”


“Ini untuk anda.”

__ADS_1


“Ha? Dari siapa?.”


“Dia tidak ingin disebut.”


“Saya tidak bisa menerimanya.” Alaia menolak paper bag tersebut.


“Saya akan dipecat kalau nona Alaia menolak.”


Alaia tidak setega itu pada orang lain sehingga menerima paper bag kecil tersebut, belum sempat membukanya, Sena keluar dengan penampilan yang sangat cocok untuk seorang Sena. Alaia tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.


***


“Jadi apa isinya waktu itu?.”


“Gelang yang sangat cantik, aku bahkan tidak berpikir bisa membelinya.”


“Terus siapa yang ngasih?.”


“Mas Agam, kamu percaya?.”


“Kapan dia kenal kamu?.”


“Aku bahkan baru tahu kalau mas Agam selalu ada di dalam masa laluku, dia datang dan pergi tanpa aku ketahui, tapi mas Agam adalah orang yang selalu membuatku bahagia sejak dulu.”


“So sweet...”


Alaia tersenyum, mereka berdua tengah makan es krim di sebuah kedai es krim yang ada di mall setelah bermain di game zone.


“Yas juga mau punya pangeran kayak papa atau ayah Agam.”


“Yas masih kecil, nggak boleh mikirin kayak gituan.” Ucap Sena yang membuat Alaia tertawa.


Yashinta memang sangat lucu, dia memanggil Alaia dan Agam dengan panggilan Bunda dan Ayah. Agam tidak begitu dekat dengan Yashinta ataupun Sena dan Natio, hanya saling mengenal, tapi pribadi Agam pada mereka membuat Yashinta sangat nyaman.


Setelah setengah hari bermain di mall, Alaia akhirnya pulang kerumah, baru sampai garasi dan keluar dari mobil, Alaia harus dikejutkan dengan lukisan yang ada di ruang tengah jatuh. Semua peralatan pertukangan ada di gudang bawah garasi, Agam belum kembali karena pekerjaannya yang lumayan menumpuk hari ini. Alaia berniat untuk memperbaikinya sendiri, setelah meletakkan tasnya di sofa dalam rumah. Alaia menuju ke garasi dan membuka pintu menuju ke ruang bawah tanah.


Lampu coklat yang sama sekali tidak terang membuat Alaia kesulitan mencari palu yang dia butuhkan. “Itu dia.” Alaia mengambil palu tersebut, namun pandangannya tertuju pada bercak darah di dekat sofa lama yang ada di gudang.


“Apa itu.” Alaia meletakkan kembali palunya, dan mulai menyalakan flash dari ponsel untuk memberikan penerangan pada area tersebut.


Jari tangannya menyentuh bercak tersebut yang sudah mulai mengering, saat berjongkok disana, dia melihat sesuatu dari bawah sofa. Dengan tenaganya yang lumayan, Alaia menarik sofa tersebut dan menemukan sebuah tumpukan kardus disana, tapi bukan itu yang membuat Alaia tertarik melainkan plastik hitam yang ada di bawah kardus tersebut.


Dengan jantung yang berdetak sangat cepat, Alaia membongkar kardus tersebut dan menemukan sebuah pintu yang menjepit plastik hitam tersebut. Pintu yang terkunci itu membuat Alaia sangat penasaran, Alaia mulai keluar dari sana untuk mencari kunci di tempat Agam biasa meletakkan kunci.

__ADS_1


Satu kunci kecil yang belum pernah Alaia sadari, menjadi pilihan wanita itu untuk membawanya masuk ke dalam gudang. Kunci yang ternyata sangat cocok untuk membuka pintu lain di gudang, saat pintu terbuka, banyak barang yang tidak pernah Alaia lihat sebelumnya, jaket, jas hujan, bahkan sepatu.


Alaia memundurkan badannya tatkala melihat banyak bercak darah disana, suara gerbang depan yang terbuka membuat Alaia menoleh dan segera menutupnya secara asal. Alaia keluar dari gudang dengan tangan bergetar sambil mengembalikan kunci tersebut ke tempat semula.


__ADS_2