
Cerita ini hanya fiksi, banyak adegan kekerasan. Bagi pembaca di bawah umur, harap bijak dalam memilih bahan bacaan. Terima Kasih
Natio menarik Alaia keluar dari ruang interogasi, wanita itu duduk di kursi tunggu sembari menutup wajahnya sambil menunduk menggunakan dua tangan. Rasanya semua seperti tidak nyata saat Alaia harus bertemu orang yang mengatakan dialah alasan kejahatan yang dia lakukan.
“Kamu tidak bilang sebelumnya?.” Pertanyaan Natio membuat Alaia melihat kearah pria yang ada di depannya berkacak pinggang tidak percaya atas kejadian hari ini.
“Aku tidak akan pernah membahas perihal itu jika dia mengatakan dan mengakui semua perbuatannya dengan rasa bersalah.”
“Maaf.”
“Tidak ada yang salah, lagipula memang kenyataannya seperti itu. Tapi bukan ini yang membuatku sangat kecewa dengan keadaan.”
“Aku mengerti.” Natio duduk di sebelah Alaia dan menyentuh pundak Alaia lembut “Kamu sudah tanyakan sebelumnya pada Agam.”
Alaia mengangguk “Mas Agam tidak mengatakan mengenal Naufal, dia sama sekali tidak mengenalnya, walaupun aku tau bagaimana reaksinya saat mendengar nama Naufal.”
“Dia punya alasan kenapa tidak mengakui Naufal sebagai temannya, aku jadi Agam juga akan melakukan hal yang sama.”
“Setidaknya aku bahagia karena satu hal walaupun banyak pertanyaan di kepala.”
Agam duduk di kursi kebesarannya, hari ini dia banyak pekerjaan dari membaca beberapa berkas dan menandatanganinya hingga bertemu dengan para klien serta investor proyek terbarunya. Agam punya dua kehidupan, yaitu kehidupannya dengan Alaia yang selalu dikatakan sebagai surga dan kehidupan pekerjaannya yang selalu menyesakkan yang dia sebut sebagai neraka, karena di neraka dia tidak akan pernah bisa menemui bidadarinya.
Foto dalam figura di atas meja kerjanya, sangat cantik, seorang perempuan memakai dress hijau dengan pose mengesankan, perempuan yang sekarang berstatus sebagai istri sahnya, serta seseorang yang sangat berharga dari hidupnya sendiri, Alaia Wijaya.
Alaia :
Mas, hari ini bisa pulang sebelum jam makan malam kan? Aku mau makan malam sama kamu
__ADS_1
Sebuah pesan singkat dari Alaia yang membuat Agam tersenyum sendiri, meletakkan bolpoinnya serta lembaran kertasnya dan beralih pada ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja. Agam terlarut dengan ponselnya berkirim pesan dengan istri tercintanya.
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu mengalihkan pandangan Agam dari layar ponsel. “Masuk.”
Pintu terbuka menampakkan wajah Liana yang sedikit ketakutan “Ada apa?.” Tanya Agam penasaran, belum sempat menjawab, seorang wanita menerobos masuk mengabaikan Liana yang sangat tidak nyaman pada Agam. Setelah melihat wanita itu, Liana bisa Agam maafkan walaupun tetap saja Agam tidak suka.
“Mas, Kenapa harus pakai ditolak segala sih, aku mau ketemu kamu loh.”
“Ada apa kamu kesini?.”
Wanita memakai pakaian seksi di tubuh rampingnya namun memiliki ukuran payudara yang tidak kecil itu adalah Kanaisya Lailah Cakrawala, sepupu Agam, Anak dari adik ayah Agam, salah satu anggota besar keluarga Cakrawala. Bukan sebuah rahasia lagi bahwa Kanaisya menyukai Agam, bahkan dia sangat menentang hubungan Agam dan Alaia dari sejak awal, dengan alasan Kanaisya sangat menyukai Agam sebagai kakak, dia tidak ingin Agam mengenal wanita lain. Padahal itu bukan alasan sesungguhnya, Kanaisya hanya ingin Agam menikahinya tanpa memperhatikan status mereka berdua.
“Ishh apa lagi kalau bukan bertemu denganmu.” Kanaisya menghampiri Agam dan merangkul pundak Agam posesif.
Perlahan Agam melepaskan tangan Kanaisya dan melihat ke arah wanita itu dengan pandangan tidak nyaman “Aku sudah menikah dan kamu saudaraku, lebih baik kamu menjaga sikapmu dan jangan sering mendatangiku.”
“Apa? Dulu kamu biasa aja kok mas kalau aku datang, kamu selalu baik, kenapa setelah ada Alaia kamu jadi gini.”
“Hahaha Mas Agam nggak pernah tau apa yang aku rasakan, aku bahkan berharap bukan dari keluarga Cakrawala.”
“Lalu? Kamu bisa jadi Alaia, karena sampai kapanpun juga satu-satunya wanita yang aku nikahi dan ada di hatiku hanya Alaia.”
“Jadi dia juga yang membuatmu seperti itu dulu?.”
Pertanyaan itu membuat Agam yang akan mulai membaca berkas nya menghentikan tangan dan menoleh ke arah Kanaisya dengan tatapan dinginnya “Kejadiannya sudah sangat lama, kamu salah orang, dia bukan Alaia. Aku dan Alaia bertemu tidak selama itu.”
“Benarkah?.”
“Lebih baik kamu pulang, aku harus bekerja.”
“Aku akan pulang, tapi satu hal yang harus kamu tau mas, aku belum lepasin kamu untuk siapapun termasuk Alaia.” Kalimat itu menjadi kalimat terakhir Kanaisya sebelum meninggalkan ruangan Agam dengan wajah kesalnya.
Liana masuk kembali setelah Kanaisya benar-benar pergi “Maafkan saya pak Agam.”
__ADS_1
“Tidak masalah, kembalilah bekerja dan jangan datang sebelum aku memanggilmu, jangan terima tamu siapapun itu.”
“Baik pak.”
Agam buru-buru mengerjakan semua pekerjaannya, dia tidak ingin pulang telat dan membuat istrinya menunggu untuk makan malam.
Alaia baru saja pulang dari kerja, sebelum kembali ke rumah dia membeli beberapa bahan makanan untuk disimpan sebagai stok dan untuk makan malam hari ini. Dia tidak sehebat Agam dalam membuat makanan, tapi dia masih bisa membuat makanan yang layak di makan orang lain. Agam itu suka Steak daging, jadi dia sengaja membeli juga untuk di buat malam ini.
Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih nyaman, Alaia mulai bergelut di dapur menyiapkan bahan makanan dan membuat makan malam. Pikirannya sedikit tidak nyaman hari ini, saat tengah memotongi sayuran tanpa sengaja Alaia menggoreskan pisau tajamnya di jari telunjuk kirinya.
“Aw.” Darah keluar dari jarinya, buru-buru Alaia memasukkan kedalam mulut sambil mengernyit karena rasa perih.
Suara mobil didepan rumah membuat Alaia segera keluar dan menghampiri sang pemiliknya yang tersenyum manis pada Alaia.
“Sayang...”
“Mas Agam.”
Pandangan Agam tertuju pada jari tangan Alaia dan sedari tadi di pegangi terus “Kenapa?.” Agam menyentuh tangan Alaia dan memperhatikan jari telunjuk kirinya. “Siapa yang melakukannya? Kita kerumah sakit ya.”
“Mas, aku nggak papa, Cuma kena pisau doang tadi waktu potong sayur mentah.” Alaia hanya tinggal memotongi beberapa sayuran mentah untuk tambahan makanan yang dia buat.
Agam menghembuskan nafasnya kemudian membawa Alaia masuk kedalam, bukannya bersih-bersih terlebih dahulu, Agam malah mengambil kotak p3k dan mengobati luka Alaia lebih dahulu.. kesempatan itu digunakan Alaia untuk melontarkan sebuah pertanyaan pada suaminya, walaupun Alaia sangat ragu menanyakan perihal itu sekarang, mengingat dia ingin menanyakannya nanti.
“Mas, kamu serius nggak kenal Naufal?.”
Ucapan Alaia menghentikan kegiatan Agam.
“Dia menyukaimu, aku terkejut tapi aku lebih terkejut saat tahu hubungan pertemanan kalian memburuk bukan hanya karena itu tapi juga karena kamu yang menaruh hati pada satu perempuan.”
Agam melihat kearah Alaia.
“Alaia, Aku. Sejak kapan kamu mengenal aku? Dan bagaimana caranya? Kita bahkan belum pernah bertemu saat itu mas.”
__ADS_1