Perfect Husband

Perfect Husband
Chapter 35. Pov Agam


__ADS_3

Cerita ini hanya fiksi, banyak adegan kekerasan. Bagi pembaca di bawah umur, harap bijak dalam memilih bahan bacaan. Terima Kasih




Agam keluar dari kamar, menutup pintunya pelan setelah melihat istrinya yang tertidur dengan lelap. Pria itu masuk kedalam gudang dan memakai pakaian yang biasa dikenakan saat keluar rumah, keadaan di luar tengah hujan deras, Agam juga memakai jas hujan untuk menutupi tubuhnya agar tidak basah.


Mobil Agam meninggalkan rumah, sebelum tengah malam. Melepaskan jas hujannya di dalam mobil dan meletakkan di kursi belakang. Selama dalam perjalanan, Agam hanya melihat jalan yang dipenuhi rintik air hujan dan kendaraan yang saling menyapa satu sama lain dengan klakson. Sampai di depan sebuah apartemen, Agam menghentikan mobilnya dan melihat pria yang baru saja keluar, setelah pria itu menjauh. Agam mulai keluar dari mobilnya masuk kedalam gedung apartemen tersebut. Kamar nomor 23, dengan sangat mudah Agam bisa membuka pintu tersebut, saat akan mengambil pisau, tanpa sengaja kemeja bagian bawahnya tersangkut, Agam bahkan tidak menyadari kalau satu kancing pakaiannya lepas dan terjatuh di bawah laci yang ada di dapur.


Setelah mendapatkan barang yang dia butuhkan, Agam kembali masuk kedalam mobilnya menuju ke salah satu jalan yang jelas akan dilewati targetnya malam ini. Tidak membutuhkan waktu yang lama, wanita yang di tunggunya pun muncul. Agam mengikutinya dari belakang, mempercepat langkahnya saat wanita itu juga mempercepat langkahnya.



Alaia duduk dengan tenang di depan Agam, dia tidak percaya dengan semua yang didengarnya malam ini. Alaia mengeluarkan buku catatannya dan menunjukkan pada Agam “Mereka semua, kamu yang melakukannya mas?.”


Agam terdiam, namun kemudian dia mengangguk mengiyakan ucapan Alaia. Jika semua mengatakan Alaia terlalu berani berhadapan dengan seorang psikopat, maka jawabannya salah, Alaia tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk dekat dengan suaminya sendiri setelah fakta yang dia ketahui.


“Serahkan dirimu ke kantor polisi.” Ucap Alaia tegas.


“Jika aku masuk ke penjara, siapa yang akan melindungimu.”


“Aku bisa melindungi diriku sendiri. Aku mau kamu bertanggung jawab mas.”


“Aku tau, tapi aku tidak bisa berpisah denganmu sayang...”


Alaia terdiam, sesungguhnya Alaia tidak serela itu menyerahkan Agam ke kantor polisi, tapi cepat atau lambat semua yang Agam lakukan akan ketahuan, dan mau tidak mau Agam harus masuk penjara untuk menebus semua kesalahannya.


“Kamu melakukan itu semua karena menyakitiku?.”


“Aku hanya ingin kamu selalu tersenyum.”

__ADS_1


“Mereka bahkan tidak membuatku sampai berdarah, tapi kamu membunuhnya mas.”


“Mereka membuatmu terluka, hatimu, dan aku tidak akan merelakan itu.”


Perbincangan mereka sampai sangat larut bahkan belum juga kunjung selesai, Alaia mendiamkan Agam, dia sendiri tidak akan melaporkan kejahatan Agam, itu adalah suatu hal yang memang seharusnya perasaan dan cintanya lakukan. Tapi pikirannya tidak tenang karena dia telah menyembunyikan sebuah kejahatan apalagi Alaia bukan lah warga sipil, dia aparat yang seharusnya melindungi warga sipil, tapi sekarang dia malah melindungi penjahat.


Malam itu terasa sangat panjang, Agam tidak berlaku berbeda, dia bahkan sangat baik memperhatikan Alaia seperti biasanya. Membujuk Alaia untuk berbicara kembali, tapi Alaia masih tetap sama menutup mulutnya karena bingung harus mengatakan apa pada Agam, sepertinya Agam juga sadar kalau Alaia tidak bisa melepaskannya masuk ke penjara.


Pagi itu sebelum Agam terbangun, Alaia sudah lebih dahulu meninggalkan rumah. Bukan pergi ke kantor melainkan bertemu dengan Kelvin, Alaia ingin memastikan beberapa hal tentang Agam, termasuk kepribadiannya.


Mobil Alaia berhenti di basement kantor milik Kelvin, wanita itu langsung masuk menuju ke lobby dan menemui resepsionis untuk menanyakan kedatangan Kelvin, sayangnya pagi itu Kelvin belum tiba, sehingga Alaia harus merelakan beberapa menit waktunya untuk menunggu Kelvin di kursi tunggu yang ada di lobby utama.



“Alaia belum tiba?.” Tanya Natio yang baru saja datang ke kantor.


“Belum mas, kenapa ya? Katanya mbak Alaia ada urusan di luar sebentar jadi datangnya agak telat.”


Natio duduk di kursinya, dia membaca beberapa berkas dan menganalisis sesuatu hal yang menguatkan bahwa pelaku pembunuhan itu hanya ada satu orang. sama seperti yang Alaia katakan sebelumnya kalau kemungkinan titik utama dari pembunuhan-pembunuhan itu sama. Natio percaya setelah dia tidak sengaja bertemu dengan salah seorang keluarga korban sebelumnya, beberapa hal yang membuat Natio semakin penasaran, apalagi ucapan Naufal juga membuatnya mencurigai satu orang walaupun sama sekali tidak berdasar.


Beberapa jam kemudian Alaia datang, wajahnya tidak begitu semangat tapi memaksakan untuk terus tersenyum dan menyapa para rekan kerjanya.


“Ada masalah?.” Tanya Natio menghampiri meja Alaia.


“Tidak ada.”


“Soal Agam.”


Saat mendengar nama suaminya disebut, Alaia langsung melihat ke arah Natio dengan tatapan sulit diartikan.


“Ada yang ingin aku bicarakan soal Agam.”

__ADS_1


“Ayo.” Alaia beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam satu ruangan yang biasa digunakan untuk melihat keadaan di ruang interogasi melalui kaca besar dan pengeras suara.


“Ini terdengar sangat aneh, tapi ada salah satu kasus pembunuhan yang mengarah ke suamimu.”


“Kamu juga akan sadar lama-lama.”


“Maksud kamu?.”


Alaia mengangguk “Aku tidak tahu harus menceritakan perihal ini ke siapa tapi dugaanku kala itu benar Nat, pembunuhnya satu orang dan itu bukan siapa dan dimana, tapi seseorang yang sangat dekat denganku.


“Agam? Jangan bercanda, aku sedang serius Al.”


“Apa aku terlihat bercanda sekarang? Bahkan aku sama sekali tidak fokus melakukan apapun saat ini.”


Natio terduduk di kursi dengan pikiran kemana-mana, sama seperti Alaia, dia tidak percaya jika pria yang sangat baik, perhatian, dan memperlakukan sahabatnya bak seorang ratu adalah villain dari kisah ini.


“Buktinya belum kuat Al, mungkin salah orang.”


“Mas Agam mengakuinya, dia bahkan membakar semua barang bukti yang sudah aku temukan.”


“Kalau begitu biarkan ini menjadi rahasia kita berdua, jangan sampai ada orang lain yang tau.”


“Semua orang juga tau kalau mas Agam psiko, waktu dia kecil, dia juga pernah membunuh anak kecil seumurannya menggunakan batu. Tapi setelah itu mereka menganggap Agam telah baik-baik saja, tapi nyatanya tidak. Aku juga menemui dokter kejiwaannya yang selalu memberikan dia resep untuk insomnia parahnya, ada kepribadian mas Agam yang sangat berbahaya untuk sekitar, dia bisa melakukan apapun untuk membuat orang lain menderita karena menyakiti miliknya. Dan kamu tahu siapa yang Agam bela hingga banyak nyawa melayang? Itu aku Nat, Agam memang tidak mengatakan hal ini, dia hanya mengakui kalau dia salah, tapi kejiwaannya mengatakan kalau alasan pembunuhan itu adalah aku.” Alaia menjelaskannya dengan mata yang tidak bisa menahan tangis sekaligus amarahnya pada diri sendiri.


“Bukan kamu, lebih baik kita anggap hal ini tidak perlu diperpanjang lagi, lagi pula kasusnya berakhir.”


“Nat...”


“Alaia, jangan sakiti dirimu dan Agam lebih jauh, biarkan hal ini sebagai pelajaran dan perbaiki hubungan kalian seperti biasanya.”


“Itu nyawa orang nat.”

__ADS_1


“Aku tau, tapi mereka tidak akan hidup lagi.”


__ADS_2