Perfect Husband

Perfect Husband
73. Self-intropection


__ADS_3

#POVAndre


Seperginya Sila dari kamarku, aku merasa sangat bersalah padanya. Sikap jahat dan emosiku yang tidak terkendali, pasti sudah menodai hatinya. Terlebih lagi, aku sudah dengan berani menyentuhnya. Dia pasti sangat jijik padaku. Aku memang keterlaluan. Tidak bisa mengendalikan diriku dengan baik.


Bertahun-tahun aku bersamanya, aku tidak pernah berbuat tidak senonoh seperti itu kepadanya dan hari ini, aku justru sudah dengan tidak punya hati menjamahnya. Aku merasa kotor. Aku memang memberikan ciuman pertamaku, tapi kenapa harus dengannya yang sudah menjadi istri adikku sendiri.


Aku rasanya ingin menghilang saja dari kehidupan mereka. Aku merasa tidak punya muka untuk bertemu dan bertatap muka dengan Sila. Aku malu. Harga diriku telah runtuh. Aku bahkan terlihat sangat buruk sekarang.


Aku mungkin sebaiknya pergi jauh dari mereka semua. Itu akan lebih baik daripada aku disini. Aku hanya akan menjadi seperti aib buat mereka. Aku benar-benar kecewa pada diriku sendiri.


"Andre, bagaimana keadaanmu?" Vallen mengunjungiku ke kamar. Setelah pesta tadi, Vallen madih ada di rumah keluarga wijaya untuk membantu sedikit merapikan tempat.


"Wajahmu kenapa?" Vallen merasa aneh dengan keadaan wajahku yang lebam di beberapa tempat. Dia mungkin akan syok setelah aku beritahu luka ini karena apa.


"Wajahku kulukai sendiri, Val. Tadi saat Sila datang ke sini. Bahkan aku hampir menidurinya," Aku sengaja mengatakan ini, untuk mengetahui seberapa besar perasaannya untukku. Jika dia berubah padaku berarti ia tidak pernah mencintaiku.


"Ka-kamu hampir..." Kalimat yang Vallen ucapkan terpotong olehku.


"Ya, aku nyaris melakukan itu," Kataku datar dan sedikit dingin.


"Separah itu kah depresimu, Ndre?" Vallen tidak percaya dengan apa yang aku lakukan. Jelas saja, kelakuanku memang sangat brutal Bahkan aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.


Selama ini aku selalu menjaga Sila dengan baik. Aku tidak pernah berbuat mesum padanya, apalagi sampai menciumnya seperti tadi. Kejadian ini membuatku merasa sangat malu dan tidak akan termaaflan oleh Sila. Dia pasti sudah jijik dengan diri dan kelakuanku.


"Aku juga tidak tahu, kenapa aku bisa lepas kontrol seperti itu. Aku seperti ingin menguasai dan memiliki Sila lagi. Mungkin aku sudah gila,"Aku menjambak rambutku sendiri mengingat segala yang terjadi tadi.


Depresiku tampak semakin parah. Aku takut akan melakukan sesuatu di luar nalar lagi. Aku ingin sembuh dan hidup normal. Mungkin pergi jauh dari rumah akan membuat aku jauh lebih tenang bahkan bebas dari tekanan batin.


"Andre, aku yakin, kamu melakukan semuanya karena tekanan dari rasa depresi yang kamu rasakan. Kamu tidak gila, dan aku tidak suka kamu menganggap dirimu seprrti itu," Vallen tersenyum tulus padaku. Aku bisa merasakan bahwa dia benar-benar mencintaiku dengan tulus.


"Terimakasih Vallen. Kamu sudah memahamiku dengan baik, seharusnya kamu memiliki seorang tunangan yang normal dan membalas semua perasaanmu dengan cinta. Bukan menghabiskan waktumu yang berharga hanya untuk pria sepertiku. Aku memang lebih pantas di jauhi daripada di cintai. Aku hanya seorang yang merasa egois dan selalu menyesali perbuatanku di masa lalu," Ceracauku menjelaskan siapa diriku ini. Aku memang bukan orang yang pantas untuk di cintai oleh siapapun.


"Aku tidak mau mendengar kamu merendahkan dirimu lagi. Aku adalah tunanganmu, meskipun kamu tidak pernah mengakuinya. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu dan memberikan seluruh perasaanku padamu. Mungkin suatu saat kamu akan bisa menerimaku," Vallen mencoba meyakinkanku dengan perasaannya yang tulus. Aku semakin merasa bersalah padanya karena telah melakukan ini padanya. Aku memeluknya untuk kedua kali. Meskipun rasanya hanya seperti memeluk seorang teman.


"Vallen, aku sangat menghargai ketulusanmu. Tolong aku dan bawa aku pergi dari bayang-bayang masalalu. Aku sangat ingin bahagia, sama seperti orang lain yang.mempunyai istri dan juga anak." Aku seperti sedang memohon padanya. Aku hanya berharap dapat merubah perasaanku melewati hubunganku dengan Vallen.

__ADS_1


"Aku pasti akan membantumu, Andre. Aku akan berusaha membuatmu melupakan cinta masalalumu dengan sebaik mungkin. Aku juga ingin mendapatkam posisi yang penting di hatimu," Saat kalimat terakhir, aku menangkap hati Vallen sepertinya patah. Dia pasti sudah sangat berharap aku bisa menerimanya sama dengan pasangan yang lainnya. Seandainya aku bisa, aku pasti akan melakukannya.


"Kalau aku ingin pergi jauh, apa kamu mengizinkanku Vall?" Aku perlu pendapatnya. meskipun fiktif, tapi dia adalah tunanganku sekarang.


"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pergi Andre. Kamu harus ingat, bahwa pernikahan kita tidak lama lagi akan di gelar. Aku tidak ingin kamu pergi, sebelum kita menikah dan aku ikut kemanapun kamu pergi," Sudah ku duga, dia tidak akan mengizinkanku pergi. Dia pasti takut akan mengecewakan kedua orangtuanya. Benar juga katanya, aku bahkan sudah mengatakan kepada keluarga kami akan menikah sebulan setelah kami bertunangan. Aku jadi semakin bingung dengan perasaanku. Gadis secantik dia yang tulus sayang padaku pun sama sekali tidak berhasil merebut hatiku.


"Baiklah. Aku tidak jadi pergi. Bagaimana kalau besok kita melihat rumah yang sudah kubeli untuk tempat kita tinggal nanti. Semoga kamu menyukainya," Pernyataanku di sambut mata Vallen yang berbinar. Tentu saja gadis itu berfikir kami akan menjalani kehidupan sebagai sepasang suami istri.


"Baiklah. Aku setuju. Kalau begitu aku pulang dulu, jaga dirimu baik-baik. sampai jumpa besok." Vallen melenggang meninggalkanku yang masih melihat tubuh bagian belakang wanita itu. Bahkan bentuk tubuhnya sempurna, tapi aku sama sekali tidak tergoda.


Keesokan harinya...


Aku mengunjungi rumah Vallen untuk mengajak tunanganku itu melihat rumah baru kami yang akan di tempati setelah aku dan dia menikah nanti.


Keluarganya menyambutku dengan sangat baik dan hormat. Mungkin karena aku berasal dari keluarga berada, mereka jadi sangat merasa tersanjung. Sebenarnya aku tidak pernah mempermasalahkan status sosial di antara kami. Bagiku itu tidak penting.


Vallen keluar dengan dandanan yang menurutku sangat cantik. Aku juga punya naluri normal sebagai laki-laki. Dia pasti berusaha semaksimal mungkin untuk bisa tampil elegan saat pergi bersamaku.


Setelah meminta izin, aku membawa Gadis itu pergi. rasanya masih sama. sedikit canggung persis seperti saat aku mengantarnya saat pertemuan itu dan membuat kesepakatan dengannya.


"Ndre.." Panggilnya. aku yang minta, jika kami hanya berdua aku tidak ingin dia memanggilku dengan sebutan 'sayang'.


"Ternyata kamu sangat tampan dengan penampilan seperti ini," Pujinya. Ini pertama kalinya ada seorang wanita yang mengagumi penampilan apa adanya diriku.


"Kamu juga cantik," Aku memujinya juga. Menyenangkan hatinya bukannya tidak apa-apa? Aku ingin dia nyaman. Meskipun aku tidak menganggap dia seperti yang dia mau, tapi aku menganggapnya sebagai partner.


"Lukamu sudah sembuh?" Tanyanya. Ia tampak sangat mengkhawatirkan aku.


"Wajahku sudah baikan. Hanya tanganku yang masih sakit, mungkin besok udah baikan," sahutku. Aku usahakan selembut mungkin agar Vallen merasa nyaman.


Sepanjang perjalanan aku dan dia hanya membicarakan masalah sepele. Mungkin karena perasaanku tak terhubung padanya makanya obrolan kami tidak tampak intim sama sekali.


Kami berdua sudah sampai di rumah yang ku beli. Vallen tampak terpesona. Karena rumah yang ku beli ini hampir sama besarnya dengan rumah keluarga Wijaya, rumah papa.


"Ini rumah yang akan kita tempati, kamu suka?" Tanyaku pada Vallen. Pastilah dia suka, dan tidak akan menolak untuk tinggal di sini.

__ADS_1


"Suka, Ndre. Tapi apa rumah ini tidak terlalu besar untuk kita tinggali berdua saja?" Tanyanya padaku. Memang ini terlalu besar jika hanya di tinggali berdua, tapi aku tidak ingin di curigai. Bukannya kalau sudah menikah mereka akan berpikir bahwa kami akan memiliki anak? itu yang aku perkirakan. Maka aku memilih rumah ini untuk aku tinggali berdua nantinya dengan Vallen.


Aku sudah menaruh beberapa satpam dan asisten rumah tangga disini. Jadi sementara rumah belum di tempati akan selalu bersih dan terjaga keamanannya.


Dua satpam menyambut kedatangan kami dan membukakan pintu gerbang agar mobil yang kami tumpangi bisa masuk. Vallen turun dan memandang rumah ini dengan tatapan kagum. Suatu saat kalau aku dan dia gagal bersatu, aku akan menghadiahkan rumah ini untuknya. Kalian pasti berfikir aku pesimis dan tidak mau berusaha mencintainya kan? Tapi aku yakin kalau kalian pun tahu, jika cinta tidak bisa di paksakan.


"Ayo masuk. Aku mau menunjukkan isi dalamnya padamu." Aku berjalan lebih dulu, diikuti oleh Vallen. Karena sebelum datang aku sudah telepon, maka pintu rumah ini sudah terbuka menunggu kami datang.


Saat memasuki ruang tamu, Vallen tampak terpesona dengan kemewahan yang ada di dalamnya. isinya gemerlap seperti rumah yang biasa di gunakan untuk syuting sinetron di televisi.


Aku menunjukkan dimana ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan juga dapur serta dua kamar tamu yang terletak di lantai satu. Lalu kami naik ke lantai dua. Di sana ada dua kamar utama.


"Yang di ujung sana, itu kamarmu nantinya, dan yang di sana, itu kamarku. Sesuai perjanjian yang kita sepakati, kita tidak akan tidur sekamar jika salah satu di antara kita belum merasa nyaman. Tentunya yang belum siap adalah aku. Apa kamu keberatan?" Tanyaku pada Vallen yang tampak sedikit kecewa, mungkin ia juga sedang mengingat surat perjanjian yang telah kita sepakati berdua. Aku dan dia tidak akan tidur bersama, melainkan terpisah di dua kamar yang berbeda.


"Bukankah ini kita sudah sepakati bersama? Itu artinya aku menerima semuanya. Kita memang sudah seharusnya tidak berada dalam satu kamar, karena aku tidak mau kamu tersiksa dan membuat depresimu kambuh. Kita berdua memang butuh waktu untuk saling menyesuaikan diri. Aku mendukung apapun yang bisa membuatmu nyaman," Vallen menatapku dalam. Aku hanya bisa minta maaf sekali lagi karena aku mungkin tidak akan bisa memperlakukan dia layaknya seorang istri. Tapi aku tidak akan jahat padanya seperti di drama korea atau film india. Aku akan tetap memperlakukan dia dengan baik, selayaknya teman.


"Terimakasih Vall, hanya itu yang bisa aku ucapkan untuk ketulusanmu padaku. Selalu berusaha mengerti aku, meskipun aku tahu itu tak akan mudah untukmu. Aku minta maaf, telah menyeretmu ke dalam masalah pribadiku. Aku sangat berhutang budi padamu. Jika nanti kita tidak berjodoh, aku harap kamu bisa mendapatkan seseorang yang bisa menjadi suamimu yang sebenarnya, yang bisa memperlakukanmu layaknya seorang istri," Aku balik menatapnya dalam. Aku merasa sangat bersalah, tapi apa dayaku, aku tidak bisa memaksa perasaanku sendiri. Aku hanya bisa menerima kehadirannya sebagai seorang teman.


"Ssstt.." Vallen meletakkan telunjuknya di bibirku sebagai tanda aku tidak boleh bicara lagi.


" Kamu tidak perlu merasa tidak enak padaku, aku tidak merasa menderita menjalani semuanya. Setidaknya, aku nantinya punya tempat tinggal, ada yang mengantarku kuliah dan ada yang membiayai pendidikanku. Bukankah kita hanya saling memanfaatkan? Jadi untuk apa kamu merasa bersalah padaku? Aku tidak menuntutmu untuk mencintai aku atau memperlakukanku selayaknya seorang istri. Karena aku juga mengerti, melakukan sesuatu denganterpaksa itu hasilnya tidak akan baik. Lebih baik kita nikmati saja semuanya, sebaik-baiknya Anggap saja kita sedang masa perkenalan seperti anak muda, ya kan?" Vallen mengukir senyum di bibirnya, aku tahu senyumnya itu sangat tulus. Wanita mana yang mau seperti dia? Menghabiskan beberapa waktunya yang berharga untuk hidup dengan laki-laki yang tidak memiliki cinta untuknya.


Mungkin Banyak yang berfikir bahwa ia hanyalah gadis matre yang memanfaatkan uangku. Tapi itu tidak benar, aku memang sudah selayaknya memberikan dia tempat tinggal dan biaya hidup untuknya. Bukankah tugasnya hampir sama dengan seorang baby sitter? Segala yang aku berikan padanya hanyalah seperti upah atas kerja kerasnya.


"Rasa terimakasih mungkin tidak akan sanggup untuk membayar ketulusanmu, Vall. Aku berhutang banyak padamu. Semoga suatu hari aku bisa membalasmu sesuai apa yang kamu mau," Aku mennepuk kepalanya pelan. Lalu melanjutkan langkahku ke lantai tiga.


Di lantai tiga ini khusus untuk tempat olahraga. Berbagai alat olahraga ada di sana. Ada juga tempat biliard dan juga tenpat karaoke dan home theater.


"Kalau kamu mau olah raga, semuanya ada di sini Atau nanti kita bisa olahraga bersama. Kolam renang ada di belakang di lantai satu. Semoga kamu nyaman ya, Vall dengan semua fasilitas yang ada di rumah ini. Aku juga sudah siapkan satu mobil untukmu di garasi. Mobil itu sudah atas namamu, boleh kamu pakai untuk apapun"


"Satu lagi, setelah kita menikah, aku pun tidak membatasi pergaulanmu. Kamu boleh pergi kemana saja dengan siapa saja, termasuk dengan cowok lain, itu tidak menjadi masalah bagiku"


"Kamu boleh menganggapku aneh atau apapun. Aku tidak perduli, aku yakin kamu sudah paham kan?" Aku menatapnya sekali lagi. Ia balas menatapku dengan mengulas senyum seperti biasanya.


"Terimakasih, Ndre. Aku paham dan aku dengan senang hati menerima semua yang sudah kamu tetapkan. Sekali lagi aku berterimakasih," Vallen menunjukkan rasa hormatnya padaku. Aku sebenarnya tidak suka dengan bagian ini. Karena aku tampak seperti seorang laki-laki dingin yang menyeramkan.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo kita pulang. Sebelum itu, temani aku makan siang. Kamu juga lapar, kan?" Kataku lembut. Aku tidak ingin menyakiti hati orang yang sudah sangat baik padaku.


"Siap, Aku mau menemanimu kemanapun. Setidaknya aku adalah tunanganmu, iya kan?" Tanyanya dengan senyim lebar. Aku hanya mengangguk pasti sebagai bentuk pengakuanku terhadap hubungan kami yang palsu ini.


__ADS_2