Perfect Husband

Perfect Husband
PH l 54


__ADS_3

Alex mengerjapkan matanya berulang kali begitu dia membuka matanya beberapa saat yang lalu. Dia menatap sinar matahari yang tampak malu-malu menyapa kulitnya dari sisi tirai putih di kamar itu. Tangannya menghalangi silau mentari itu dari wajahnya hingga dia melihat Hani sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Alex mengubah posisi tidurnya menjadi duduk lalu bersandar di sandaran ranjang seraya berusaha mengingat apa yang terjadi tadi malam karena seingatnya terakhir dia dan Hani sedang menonton film dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa.


"Apa ada yang terjadi tadi malam, Sayang?" tanya Alex sembari turun dari ranjang lalu menghampiri Hani.


"Apa maksudmu, Alex?" tanya Hani balik dengan wajah heran, "jangan-jangan kau sedang memikirkan hal mesum?" curiganya.


"Bukannya begitu. Hanya saja aku takut jika tadi malam aku melakukan hal yang tidak bisa kukendalikan dan hal itu bukan sesuatu yang kau suka," ucap Alex lembut sembari mengelus rambut Hani yang masih lembab, "karena aku sudah janji aku tidak akan melanggar privasimu hingga kita menikah, Sayang."


Hani mencubit perut Alex gemas, "Jangan membuatku terharu, Alex." kekehnya.


Alex tersenyum manis lalu membalas cubitan Hani dengan mencebit pelan kedua pipi perempuan itu. "Benarkah tidak terjadi apa-apa semalam?" tanyanya lagi.


"Kau seakan berharap terjadi sesuatu Alex," kekeh Hani lanjut mengeringkan rambutnya, "kau tertidur di tengah film yang kita nonton, bahkan aku harus bersusah payah memindahkanmu ke ranjang," celetuknya dengan pipi menggembung karena masih kesal karena harus memindahkan tubuh Alex yang jauh lebih berat dan besar dari tubuhnya sendiri.


"Apa?" seru Alex dengan suara besar membuat Hani menatapnya kebingungan, "Aku tidur pulas?"


Hani mengangguk kecil, "Iya, kau tertidur sangat pulas seperti seorang bayi," tukasnya.


"Apa kau yakin?" Alex menatap Hani ragu meskipun dia tahu jika perempuan itu tidak mungkin berbohong tapi karena dia tidak bisa menerima kenyataan jika dia akhirnya untuk pertama kalinya tertidur pulas sejak tiga tahun terakhir ini. Dia selalu kesulitan untuk tidur dan akan bermimpi buruk setiap kali tertidur. Itulah alasannya kenapa dia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari Hani.


"Kenapa kau terus mengulang pertanyaan yang sama, Alex?" ketus Hani mulai kesal karena harus mendengar dan menjawab pertanyaan yang sama dari Alex berulang kali.


Alex tertawa lantang seraya berjalan bolak-balik di hadapan Hani dengan sesekali berteriak kencang hingga Hani mulai ragu dan takut melihat sikap Alex yang aneh sejak tadi. Hani bahkan tidak tahu harus berkata apa dan hanya diam seolah tidak melihat apa-apa, berusaha mengabaikan Alex yang bahkan kini melompat seperti anak kecil yang membuatnya mulai ngeri.


*Apa yang terjadi? Apa dia kerasukan? *sangka Hani dalam  hati.

__ADS_1


***


Setelah selesai sarapan, Hani dan Alex bergegas kembali ke hotel mereka sebelumnya untuk menyiapkan kepulangan mereka ke Indonesia. Saat sampai di lobi hotel, mereka disuguhi pemandangan di mana Chris terlihat sedang bercengkrama dengan beberapa perempuan lokal yang mungkin bekerja di hotel itu. Melihat itu membuat Alex menggeleng kecil karena itu berarti Chris yang *playboy *sudah kembali. Mereka menghampiri Chris yang tampak tidak menyadari kehadiran mereka karena keasikan mengobrol dan sesekali menggoda dua orang asing itu.


Alex langsung merangkul Chris membuat sahabatnya itu kaget dan spontan menoleh, "Apa kau sedang mencari mangsa kebejatanmu?" ucapnya.


"Aku juga harus meneruskan hidup agar aku tidak hanya menjadi saksi kisah cintamu saja," sinis Chris.


"Tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat karena kita harus pulang," gumam Alex lalu menarik Chris dari hadapan dua perempuan asing itu. Alex menunduk tanda berpamitan pada orang itu lalu melanjutkan langkahnya bersama Chris yang menggerutu kesal.


Alex merogoh kantung jaketnya saat merasakan ponselnya bergetar. Ada sebuah pesan dari Irene.


Irene : Kita bertemu nanti di tempat yang sama. Jangan lupa bawa calon istrimu itu.


Setelah mereka sampai di kamar hotel, Hani tampak sedang merapikan kopernya sembari bersenandung kecil. Chris langsung menghambur mendekati Hani, ”Aku merindukanmu, Han,” serunya terkesan berlebihan. Alex mendecak kesal dengan alis bertaut, tidak suka melihat Chris sok akrab dengan calon istrinya itu.


“Aku juga merindukanmu, Chris, meski kau sering membuatku kesal,” balas Hani juga agak lebay membuat Alex mulai memanas melihat tingkah konyol mereka. Tidak ada unsur kesengajaan di sana, namun di saat tertentu Hani dan Chris bisa menjadi sangat dekat karena Hani merasa Chris itu sangat mirip dengan adiknya, Jhoni.


“Apa kalian selalu seperti ini saat aku tidak ada?” tanya Alex ketus.


Chris menatap Alex polos seolah tidak terjadi apa-apa, “Tidak, kami lebih dari ini saat kau tidak ada,” senyumnya aneh yang dibalas Hani dengan senyuman yang tidak dimengerti Alex apa maksudnya.


"Apa kalian sengaja membuatku kesal?" tanya Alex dengan sorot mata tajam.


"Apa maksudmu, Alex? Kenapa kau kesal?" tanya Hani dengan wajah polos yang seketika membuat kadar kekesalan Alex berkurang.

__ADS_1


"Kau cemburu kepadaku?" ejek Chris lalu tertawa terpingkal-pingkal karena akting mendadaknya dengan Hani berhasil membuat Alex kesal. Chris melakukannya sebagai balasan karena Alex mengganggunya saat sedang mengobrol dengan perempuan di lobi tadi dan lucunya Hani malah terlarut dalam aktingnya sehingga Alex yang bodoh tidak bisa membedakan mana yang akting dan mana yang nyata.


Hani ikut tertawa karena melihat wajah masam Alex yang terlihat cemburu dan juga marah karena wajahnya sudah memerah sekarang. "Jangan membuatku marah," gumam Alex menahan marahnya karena Chris membuatnya kesal dan terlihat bodoh di hadapan Hani.


Alex mengerucutkan bibirnya sembari melangkah pergi meninggalkan Hnai dan Chris yang masih tertawa lantang dan mengejeknya membuat dua orang itu seketika panik karena menganggapnya marah besar, padahal dia nyatanya hanya pergi ke toilet. Sesudah menutup pintu toilet itu, Alex segera mengambil ponselnya dan menelepon Irene.


"Maaf, Irene. Sepertinya aku dan Hani tidak bisa pergi karena Hani mendadak demam," bohong Alex begitu mendengar Irene menyapanya ceria.


"Benarkah? Sangat disayangkan," lesu Irene, "apa tidak ada hari lain?"


"Tidak, Irene. Kami akan kembali ke Indonesia besok. Aku jadi merasa tidak enak karena membatalkan janji kita," ucap Alex pelan agar tidak terdengar keluar sana berharap Hani tidak mendengarnya.


"Katakan jam berapa keberangkatan kalian? Aku akan datang ke bandara, setidaknya untuk mengucapkan selamat tinggal," seru Irene.


"Tidak usah, itu hanya akan merepotkanmu, Irene," tolak Alex sopan.


"Aku mohon Alex, sekali saja. Aku sangat ingin bertemu calon istrimu itu," lirih Irene.


Alex menghela napas panjang, "Baiklah. Nanti akan kuberitahu," ucapnya lalu  memutuskan sambungan.


Alasannya tidak memberitahu Hani dan membohongi Irene, tidak lain karena dia rasa memperemukan dua orang dengan kondisi di mana salah satu adalah mantan kekasihnya dan satunnya lagi adalah calon istrinya bukanlah ide yang  baik karena secara waktu saja tidak mungkin menyatukan masa lalu dengan masa sekarang karena ceritanay saja sudah berbeda. Karena alasan itulah Alex memilih tidak lagi mencampur dua hal yang berbeda sebab itu hanya akan memunculkan masalah yang mungkin saja terjadi. Daripada mengambil resiko, ia memilih tidak memberi celah akan masalah untuk muncul lagi. Dan inilah yang terbaik.


***


[hi guys, maaf ya kalau membosankan karena kita menjauh dari masalah dulu karena masalah besar akan datang]

__ADS_1


__ADS_2