Perfect Husband

Perfect Husband
86. Rain and You


__ADS_3

If a kiss was a raindrop, I'd send you a shower.


If a hug was a second, I'd send you an hour.


If a smile was water, I'd send you the sea.


If you needed love , I'd send you, Me.


(Dikutip dari Google.com)


Setelah sore itu aku mengikuti keinginan Andre untuk jalan berdua, sikapnya padaku kembali manis. Hanya saja dia semakin sulit untuk di tinggal, berubah jadi lebih kolot dan manja. Makan harus di temani, baca majalah harus di dampingi. Jarang boleh keluar kamar hanya untuk menemaninya ngobrol.Untung saja Andra selalu mendukungku. Meski sekarang kami terpaksa hanya bisa banyak berhubungan via chat. Bila bicara tentang rindu, rasanya memeluk Andra seharian, rasa rindu ini tidak akan luntur.


"Sila, dulu panggilan sayangku apa sih sama kamu? Memangnya aku panggil kamu gini aja?" Tanya Andra di tengah-tengah acara makan siang kami. Hari itu ia mengajakku makan di tempat yang tidak jauh dari Villa. Kami baru saja pilang kontrol keadaan Andre di rumah sakit.


"Gini aja, Kak. Makanya aku nggak pernah protes, memannya kenapa sih, Kak?" Akupun balik bertanya. Aku juga penasaran mengapa ia menanyakan hal itu.


"Jadi, ternyata aku sama sekali tidak romants dong, ya? Gimana kalau mulai sekarang, aku kasih kamu panggilan sayang?" Andre mengatakan itu dengan nada gembira. Apapun itu, aku lebih nyaman di panggil 'sayang' oleh Andra.


"Jadi, Kakak mau manggil aku apa sekarang?" Aku menanggapinya dengan serius.


"Gimana, kalau Bee?" Andre menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Aku melihat sisi imut Andre yang tidak pernah terlihat selama ini.


"Bee? Lebah...?" Aku tertawa mendengar nama panggilan beru yang Andre berikan untukku.


"Iya, Bee. Lebah itu filosofinya, hanya memandang sesuatu yang indah, menyerap yang manis dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Jadi panggilan itu cocok untuk kamu," Kalimat yang Andre ucapkan membuatku tersenyum. Seistimewa itukah aku di matanya? Setidaknya aku memang harus menyenangkannya sekarang. Kata dokter ada perkembangan yang bagus pada kesehatan Andre dan kemungkinan terbaiknya adalah ia akan segera sebuh dari amnesianya lebih cepat.


Toh, nantinya dia tidak akan ingat semua kekonyolan ini. Karena semuanya akan kembali ke posisi noemal. Saat aku mengirim pesan tentang hasil pemeriksaan Andre pada Vallen, Ia gembira sekali dan banyak berterimakasih padaku. Meskipun tugas ini beban berat bagiku, tapi aku merasa senang kalau segala usahaku membuahkan hasil dan tidak sia-sia.


"Baiklah, kakak boleh panggil aku, Bee. Terpenting kakak harus rajin melakukan terapi yang di bilang dokter tadi, ya. Kakak pengen cepet sembuh kan?" Aku merayunya agar dia mau mengikuti terapi. Lebih rajin  ia melakukan terapi, akan lebih cepat pula ingatannya kembali. Saat itu tiba, aku akan bisa menikmati hidupku kembali seperti biasa.


"Terimakasih, Bee.Setelah kita makan langsung pulang ya. Aku ingin hari ini menjadi hari yang paling romantis dan tidak terlupakan. Aku ingin menguang masa-masa bulan madu kita dulu. Meskipun aku tidak tahu masa itu seperti apa," Ujar Andre dengan entengnya.


"Uhuuk...! Arrgh... ehm..ehm.." Aku tersedak ketika mendengar ucapan Andre barusan. Mengulang bulan madu? Itu artinya dia akan melakukan sesuatu padaku? Jelaslah, apalagi? Sama Vallen saja dia belum pernah melakukannya, bagaimana bisa ia berpikir sampai kesana? Aish, aku baru ingat, aku kan mengaku hamil anaknya, tentu  saja ia berpikir pernah melakukan itu bersamaku.


"Kamu kenapa, Bee?" Andre tampak sangat mengkhawatirkanku. Ini semua karenamu, Andre. Lagipula kenapa harus ada pemikiran ke sana, sih? Aku jadi harus memutar otak untuk mengatasinya. Kalau aku menolaknya sekarang, dia pasti akan marah. Aku berusaha tenang dan tidak panik.


"Nggak tahu, Kakak. Tiba-tiba ada sesuatu yang menyangkut di dalam tenggorokannku. Mungkin aku tadi makannya terlalu terburu-buru. Aku ke toilet dulu sebentar, kak. Sepertinya aku  sedikit mual," Aku beralasan saja padahal aku ingin menelepon andra untuk meminta pendapatnya tentang permintaan Andre.

__ADS_1


"Perlu aku antar, Bee? Apa mualnya ? Perlu ke dokter?" Wajah Andre tampak ketakutan aku kenapa-napa. Padahal aku cuma bilang mual kan?


"Tidak perlu kakak. Aku terbiasa seperti ini, tidak akan lama. Pasti baikan. Kakak tunggu di sini ya, sebentar, cuma lima menit.Pesanku sebelum pergi meninggalkan Andre.Aku berusaha untuk menahannya agar tidak mengikutiku karena takut sandiwara palsuu tentang pernikahan palsu ini terbongkar sebelum waktunya,


Sepuluh menit kemudian...


"Aku sudah selesai kak, ayo kita pulang," Aduh, aku merasa kesannya aku yang jadi tidak sabar untuk berduaan dengannya di rumah bersamanya. Mau menarik lagi kalimat itu tapi sudah terlanjur terucap.Sudahlah, biarkan dia menilaiku seperti apa sekarang.


Andre segera mengelap bibirnya dengan tisu, lalu membayar makanan kami pada kasir resto. Ia menghampiriku lalu menggandengku keluar. Kalau saja pasangan makanku saat ini adalah Andra, pasti rasanya tidak akan seperti ini. Karena sepanjang acara makan aku akan memandangi wajah suami tampanku dan melakukan obrolan romantis. Bukan hanya bermain peran semata. Tapi sudahlah, ini tugasku, aku akan melakukannya dengan sepenuh hati.


"Bee, terimakasih. Kamu sudah menemaniku makan, kontrol ke dokter, aku sangat berbahagia memilikimu sebagai istriku. Sepertinya dari dulu kamu adalah sumber kebahagiaanku," kalimat Andre lagi-lagi mengarah ke dunia nyatanya.Memang aku adalah penyemangatnya, tapi itu dulu. Baru-baru ini ia sudah menemukan Vallen.Hanya saja pendekatan mereka harus terpotong dengan tragedi kecelakaan ini.


"Sama-sama, kak. Bukannya ini hal yang wajar di lakukan oleh seorang istri?" Aku meliriknya dengan tatapan tanpa beban. Aku tidak ingin ia melihat keterpaksaanku melakukan semua ini.  Semakin natural permainan peranku,semakin dahsyat efek yang akan di dapatkan.


"Iya, sih. Tap aku tetap ingin mengucapkan terimakasih, siapa tahu, aku tidak akan sempat mengatakannya lagi.Setahuku di dalam rumah tangga itu harus saling memahami, mengerti, dan menghormati. Jadi, hal sekecil apapun yang kamu lakukan untukku, aku akan mengucapkan terimakasih," Ungkapannya membuatku terharu. Memang sangat beruntung jika memiliki suami yang sepengertian dia.


"Kalau begitu, terimakasih kakak. Sudah memperlakukan aku selama ini dengan sangat baik," Aku membalas rasa terimakasihnya dengan terimakasih pula, itu untuk kebaikannya dari masalalu sampai sekarang,


Kami sampai di rumah...


Aku mengikuti  langkah Andre menuju kamarnya. Di ingatanku selalu terngiang kalimat mengulang berbulan madu sampai berulang kali. Sampai aku menepuk sendiri kepalaku berulang kali agar aku lupa dengan kata-kata itu. Benar saja, Andre meraih tanganku dan menghalangiku untuk melangkah ke sofa. Seketika bulu kudukku merinding. Aku harus selamat dari adegan dewasa ini.


Andre menggiringku ke tempat tidurnya, aku mengikutinya senatural mungkin. Kali ini aku harus sangat hati-hati, salah sedikit saja dia akan menyadari kepalsuan ini. Bagaimana mungkin tidak suit, saat ini Andre sedang mengamati wajahku, istri palsunya dengan sangat teliti.Jika wajahku menunjukkan penolakan sedikit saja, maka dia akan menyadarinya.


Dia merebahkanku di ranjangnya, huft... aku seperti tidak bisa bernafas. Rasanya jika adegan ini di rekam, aku ingin melambaikan tangan karena tidak sanggup untuk melanjutkannya. Tidak, aku harus tetap meyakinkannya tentang siapa aku. Andre bahkan mulai membuka kancing bajunya satu persatu hingga terlepas seluruhnya. Lalu ia menciumku dan...


"Bruuk..." Tubuh Andre tidak sadarkan diri.Dia pingsan.Susah payah aku memindahan tubuhnya dariku.Tidak lupa membuka bajunya dan melemparnya. Bukan itu saja, aku juga membuka ikat pinggangnya, melepas celananya juga pakaian dalamnya. Kalian jangan salah paham, aku melakukan hal terskhir dengan menutup mata, jadi aku tidak melihat milik Andre, lalu menutupnya dengan selimut. semua trik itu aku lakukan agar saat dia bangun ia akan mengira telah melakukannya denganku.


Sebenarnya saat di resto dan pergi ke toilet dengan kebingungan, aku mendengar pembiaraan dua wanita tentang obat bius halusinasi yang berbentuk lipstik. Jadi kalau seorang pria mencium kita, efeknya adalah dia langsung tidur dan berhalusinasi telah melakukan hubungan badan dengan si pemilik bibir. selain itu, badan si pencecap lipstik halusinasi akan measa lelah seperti habis melakukan sesuatu.


Itulah kenapa, aku sedikit tenang saat Andre melakukan serangan. Karena aku sudah memiliki tameng untuk menghadapinya. Istri dan sahabat macam apa aku sampai memakan  kakak dan suami orang terdekatku. setelah masalah Andre selesai, aku menyelinap pergi ke kamar Andra dan merebahkan diri di sana.Cepat pulang, Mas. Aku merindukanmu.


Aku keluar rumah, setelah berpesan pada Vallen bahwa aku ingin pergi jalan-jalan seorang diri ke kebun teh. Hariku terasa penat, permainan drama ini menguras tenaga dan juga fikiran.


Kulangkahkan kakiku semakin menjauh dari Villa. Aku bagaikan menghirup kebebasan. Aku bisa merasakan menjadi Sila yang netral tanpa memikirkan siapapun.


Aku mengelus perutku, kedua bayi kembar ini sepertinya suka dengan alam bebas. Aku merasakan perutku berkedut. Tidak lama lagi aku akan merasakan gerakannya yang lebih jelas lagi. Sabar ya, nak. Ibumu ini sedang berjuang.

__ADS_1


Nanti, Ayah, Bunda dan kalian akan hidup bersama, bahagia dan romantis. Seperti keluarga pada umumnya. Setiap hari ibumu ini akan selalu menimang kalian dengan penuh kasih sayang. Jadilah anak yang baik dan taat pada agama ya, nak.


Langit yang mendung tak mampu lagi menahan banyaknya air yanh menggantung di sana. Hujanpun turun. Aku merentangkan kedua tanganku dan berputar di tengah kebun teh seorang diri. Aku menikmati setiap tetes hujan yang turun.


Aku menangis, hanya di saat hujan airmataku tidak akan terlihat. Aku merindukan suamiku, aku ingin Andra si sampingku. Aku ingin bermanja dengannya, menghabiskan waktu berdua saja.


Hampir dua minggu kami seperti terpisah, bertemu hanya beberapa jam kemudian terpisah lagi. Oh Tuhan... jangan hukum aku dengan kerinduan ini. Aku hanya ingin Andre kembali seperti sedia kala.


Tolong aku Tuhan.. Hapuskan perasaan rinduku ini sebentar saja, peluk aku... aku ingin sebentar saja melupakan mereka. Aku terkurung dalam lingkaran rindu yang mencekam.


Aku terduduk di atas rumput yang telah basah, karena kami di jatuhi hujan yang sama di saat yang sama. Aku berteriak.. melepaskan segala beban yang terasa di dalam dadaku hingga sesak.


"Aaaaaaaaaa......!!!!" Aku lakukan berulang kali. aku sedikit merasa lega. Hujan ini hanya semakin mengingatkanku pada Andra. Di mana kami saar itu ada di pantai dan hujan turun, dia memelukku dan menghangatkan tubuhku.


Jika aku boleh bermimpi, kali ini aku ingin dia datang dan memelukku, memberikan kehangatan yang dia punya. menggenggam tanganku erat agar aku tidak kedinginan lagi, tapi aku hanya bermimpi.


Tiba-tiba hujan mereda, tapi di sekelilingku tidak, hanya aku yang tidak tertetesi air hujan. Aku mendongak ke atas, ada Andra, dia menjadikan jaketnya sebagai pelindungku dari titik hujan yang turun. Aku mengucek mataku untuk meyakinkan itu benar-benar dia. Semesta mendengar do'aku.


Aku bangkit dan memeluknya. Tangisku pecah karena teramat sangat merindukannya. Andra mendekapku erat, di bawah hujan kami melepaskan kerinduan yang mendalam.


"Sayang, maafkan mas, tidak seharusnya mas memberikanmu posisi seperti ini. Mas tahu ini berat bagimu, di tambah lagi efek hormon yang menjadikanmu manja padaku, maafkan mas, sayang..." Andra mengecup ujung kepalaku berulang. Ia juga merasakan apa yang ku rasakan.


"Mas, aku hanya nggak kuat menahan rindu sama mas, hanya itu yang sulit. Setiap detik aku hanya ingin bersamamu, mas.." Rengekku manja. aku merasa seperti anak kecil yang sedang minta mainan pada ibunya, atau sekedar ingin membeli lolipop kesukaannya.


"Apa kita menyerah saja, dan mengakhiri semua drama ini?" Andra memberiku ide, tapi saat ini, idenya sangat tidak tepat. Menghentikan semunga, berarti mrmbahayakan keselamatan Andre.


"Nggak, mas. Kita sudah hampir selesai. Dokter bilang keadaan kakak akan segera membaik. kita hanya perlu sering membawanya melakukan terapi, maka keadaannya akan cepat pulih. Meskipun total, tapi kondisi amnesia kakak tidak parah dan hanya bersifat sementara. Aku tidak mau kita justru membuat ingatannya sulit kembali mas, kita hanya perlu bersabar sebentar lagi" Aku tetap bertahan pada rencana awal. Aku ingin melanjutkan membantu Andre untuk kembali mengingat semuanya. Ketidak adilan yang aku alami sekarang, bahkan tidak sebanding dengan yang pernah ia alami sebelumnya.


"Baiklah sayang, kita lanjutkan semuanya, tapi kamu harus kuat, ya. Mas khawatir kalau kamu sampai sedih seperti ini. Mas juga merasakan kerinduan yang sama sepertimu, sayang." Aku mengangguk untuk mengiyakan perkataan Andra. Kami kembali berpelukan di bawah hujan di alam bebas.


Jika di izinkan, aku ingin mencintaimu sekali lagi, agar aku tidak pernah mencintai orang lain lain lagi, agar hanya kamu yang aku cintai, kemarin, hari ini dan untuk selamanya. Aku hanya ingin kamu, berdua denganmu,menua bersamamu dan mati di dalam pangkuanmu.


"Mas, aku sangat mencintaimu, aku tergila-gila padamu....!" Teriakku di bawah hujan. Kami hanya seperti dua anak kecil yang sedang bermain hujan. Saling berteriak menggambarkan perasaan senang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Author minta maaf jika banyak typo bertebaran. karena di bab ini Author merasa sangat lelah dan tidak terlalu jeli memandang ke typo an 😂😂

__ADS_1


__ADS_2