Perfect Husband

Perfect Husband
PH | 44


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal yang sudah dijanjikan oleh manajemen Chelsa dan tim produksi acara talkshow yang dibawakan oleh Irene. Rencananya mereka akan pergi syuting pukul 03.00 sore. Sekarang masih pukul 07.00 pagi dan tentunya Irene masih berada di rumahnya, bahkan belum bergerak dari ranjangnya sejak sejam yang lalu dia terbangun.


Beberapa hari belakangan ini, Irene tidak bisa tidur nyenyak dan alasan kenapa hal itu terjadi adalah karena beban pikiran yang terus menghantuinya.


Sudah empat hari Alex tidak menghubunginya sejak mereka terakhir bertemu saat makan siang bersama Chelsa. Sejak saat itu juga Alex tidak menanyakan kabarnya atau sekadar pria itu memberitahu keadaannya. Hal itu tentu membuat Irene gelisah. Dia ingin menanyakan alasan pria itu tidak menelepon atau mengiriminya pesan akhir-akhir ini namun dengan egoisnya dia memilih diam dan tetap dalam sifat keras kepalanya. Pikirannya masih dikuasai oleh perkataan Chelsa tempo hari.


*Lelah dengan pikirannya sendiri, Irene lantas bangkit dari ranjangnya karena ibunya sudah memanggil untuk sarapan pagi. Karena hari ini dia akan pergi bekerja dan syuting, Irene berniat pergi pergi ke gym* agar ia terlihat bugar nantinya. Setelah berpamitan kepada ibunya, Irene segera melesat cepat ke gym yang memang tidak jauh dari rumahnya. Karena jarak yang dekat, Irene memilih menggunakan motor pengantar barang milik ibunya saja.


Saat tiba, Irene disapa James—pemilik tempat gym langganannya semenjak kuliah itu.


"Pagi, Irene. Apa kau janjian dengan Alex hari ini?" saa James dengan senyum lebarnya.


*"Alex? Dia di sini?" Irene terkejut sesaat sebelum akhirnya dia mengingat jika dia dan Alex memang member* di tempat gym yang sama.


James terlihat bingung namun dia tidak berkomentar lain, "Masuklah, dia mungkin menunggumu."


Irene mengangguk kecil lalu segera pergi ke loker untuk berganti pakaian. Setelah selesai, ia segera memasuki area gym beban berat dan benar, dia melihat Alex di sana. Sepertinya pria itu sudah lama di sana dilihat dari keringat yang menempel di sekujur tubuhnya. Saat Alex menoleh, mata mereka akhirnya bertemu. Entah kenapa untuk pertama kalinya mereka terlihat asing dan canggung. Tidak ada senyum atau sapaan saat mereka bertatapan. Bahkan keduanya hanya mematung, seolah waktu sedang berhenti di antara mereka. Kemana perginya pasangan kekasih yang selalu ceria dan romantis itu? Entahlah, keduanya tidak tahu jawabannya.


Alex berjalan pelan mendekati Irene. Dia tersenyum tipis dan itu pun dilakukan dengan terpaksa, "H-hai, Irene," sapanya ragu dan canggung.


Tidak ada balasan dari Irene. Gadis itu bahkan tidak tersenyum, hanya memasang wajah datar dan tatapan nanar. Beberapa saat terdiam, Irene mendecak pelan, "Setelah aku berpikir kenapa kau tidak menghubungiku akhir-akhir ini, ternyata kau tampak baik-baik. Kukira kau sakit parah atau bahkan... menghilang," gumamnya lantas mendekat pada Alex. Kini jarak mereka hanya beberapa langkah.


"Kenapa kau diam? Apa terjadi sesuatu?" ucap Irene lagi karena melihat Alex membeku dan tidak merespon sedikit pun.


"Aku, aku harus mengatakan sesuatu padamu, Irene." Alex berkata dengan wajah sedih.


Hati Irene terasa sakit saat melihat ekspresi sedih dan suara rendah pria itu. Seolah-olah dia baru saja mendengar kabar buruk padahal kenyataannya pria itu belum mengatakan apa pun. "Hal buruk atau hal baik?" tanya Irene.


Alex tidak berkata-kata. Dia lagi-lagi terdiam membuat perasaan tidak enak kembali menghampiri Irene. Gadis itu menatap cincin lamaran yang Alex beri seminggu yang lalu, masih melingkar manis di jemarinya.


"Apa ini tentang hubungan kita?" cicit Irene tertunduk.


Mata Alex spontan membulat. Dia tidak menyangka jika Irene bisa menebak apa yang ada di pikirannya. Bibirnya kelu untuk berkata-kata. "Dari mana kau tahu? Apa ayahku menemuimu?" Alex memegang kedua bahu Irene.

__ADS_1


Irene menatap Alex lalu menyengir, "Ternyata benar."


"Apa maksudmu, Irene? Biar aku jelaskan!" Alex mencoba meyakinkan Irene saat gadis itu mulai meneteskan air mata.


Irene terdiam lalu melepaskan cincin yang ada di jari manisnya perlahan. Dia menatap cincin itu nanar hingga isak tangis mulai terdengar dari bibirnya. "Jika kau memang tidak pernah berniat menikahiku, kenapa kau harus melamarku Alex? Kau tahu, ini sangat menyakitkan. Aku sangat bahagia saat kau melamarku. Aku merasa akulah perempuan paling beruntung di dunia ini karena dilamar olehmu. Tapi, apa kenyataannya? Kau bahkan berniat memutuskan hubungan kita setelah melamarku," isaknya sembari menatap Alex lekat, "jika kau tahu memang sejak awal kita tidak berjodoh, kenapa kau harus memberi harapan padaku Alex? Bodohnya aku tidak menyadari jika kita ini berbeda. Kau tidak pantas menikah dengan perempuan dari keluarga miskin sepertiku. Kau harusnya menikah dengan orang yang setara denganmu. Lalu kenapa kau harus menyematkan cincin ini?"


Irene meraih tangan kanan Alex lalu meletakkan cincin itu di sana. Dia menangis tersedu-sedu melihat ekspresi sedih dan kecewa pria yang sangat dia cintai itu.


"Apa maksudmu? Siapa yang berniat mengakhiri hubungan kita? Aku tidak tahu siapa yang memberitahumu Irene, tapi dengar aku tidak pernah berniat meninggalkanmu. Meski ayahku menjodohkanku, bukan berarti aku akan meninggalkanmu. Aku pasti menikahimu." Alex menarik tangan Irene, mencoba memakaikan cincin itu di jemari gadis itu, namun dengan cepat Irene menarik tangannya.


Irene menggeleng kecil dengan suara tangis yang tidak mereda, "Tidak, Alex. Tidak peduli secinta apa pun aku kepadamu, kita tidak akan bisa bersama. Jangan melawan ayahmu hanya karena aku yang tidak berharga ini. Aku tidak layak untukmu yang hebat ini. Aku terlalu bodoh terlena dengan cinta sepihak selama ini."


"Aku sangat mencintaimu, Irene. Jangan berkata seperti itu!" geram Alex melihat Irene yang mulai kehilangan akal sehatnya karena terlalu banyak pikiran.


Irene mendorong tubuh Alex menjauh darinya, "Kita akhiri di sini saja Alex. Kita putus," katanya lalu berlari pergi. Alex mematung di posisinya. Sedang memahami ucapan Irene barusan. Semuanya terasa terlalu cepat hingga ia tidak bisa berpikir jernih.


Dengan cepat Alex mengejar Irene. Dia menatap sekeliling dan tidak menemukan Irene di mana pun. Alex pun bertanya pada James dan katanya Irene baru saja pergi menggunakan motornya.


***


*"Dia baru saja pergi dari gym*," ucap pria bertubuh kekar itu melaporkan pada boss-nya, Chelsa. Pria itu langsung melajukan mobilnya mengikuti Irene dari belakang. "Dia membawa motornya dengan kecepatan tinggi."


*"Baiklah, nanti kabari aku perkembangannya* Luke," ujar Chelsa dari seberang lalu memutuskan sambungan mereka.


Luke mengikuti Irene dengan kecepatan tinggi juga, agar tidak kehilangan jejak perempuan itu. Luke melihat Irene tetap dengan kecepatan tinggi bahkan saat mereka di pusat kota.


Irene melaju dengan cepat hingga dia tidak memperdulikan lampu lalu lintas lagi. Dia terus menerobos hingga di simpang empat di pusat kota itu, ia tersadar akan kebodohannya. Dia merem paksa motornya hingga ia terhenti di tengah persimpangan jalan. Mobil-mobil harus merem paksa juga saat melihat motor Irene yang muncul tiba-tiba.


Namun, nasib tidak berpihak pada Irene. Beberapa saat kemudian ia dan motornya terhempas saat sebuah mobil menabraknya dari belakang. Dan saat itu juga, Irene kehilangan semuanya.


***


Chelsa menatap jam tangannya lalu mendecak kesal, "Apa ini tidak mulai juga? Ini sudah lewat dari waktu seharusnya," gerutunya pada manajernya.

__ADS_1


"Sepertinya presenternya belum datang," jawab manajernya.


Alis Irene bertaut. Dia lalu mengambil ponselnya dan langsung menelepon—Luke, untuk menanyakan keberadaan Irene. Namun bawahannya itu tidak menerima panggilannya. Ia mendecak kesal karena ini pertama kalinya Luke mengabaikan panggilannya.


Tiba-tiba suasana menjadi ribut di back-stage saat para kru mulai berteriak dan menjerit histeris. Chelsa menatap semuanya heran.


"Ada apa ribut-ribut?" tanya Chelsa pada salah satu kru.


"Maaf Chelsa, sepertinya kita undur saja syuting hari ini," jawab kru itu.


"Kenapa?" tanya Chelsa bingung.


Kru itu terlihat ragu dan takut, "Presenter sekaligus host kami mengalami kecelakaan parah. Dia sedang dia operasi darurat saat ini."


Mata Irene membulat, nafasnya menjadi cepat. "Siapa nama presenter itu?"


"Irene Abella."


Tubuh Chelsa melemas. Dia kembali terduduk dan kepalanya terasa pusing.


Ponselnya bergetar, sebuah telepon dari bawahannya yang lain. Dia mendekatkan ponselnya ke telinganya tanpa berkata apa-apa.


"Boss, Luke tewas dalam kecelakaan lalu lintas."


Napas Chelsa terasa berat, "Bagaimana bisa?"


"Dia menabrak wanita bermotor dan hilang kendali hingga mobil lain menabrak mobil Luke dari sisi kiri. Dia tewas ditempat karena kecelakaan beruntun."


Ponsel Chelsa terjatuh. Tangannya bergetar hebat, bibirnya kelu, "Apa ini perbuatanku?" gumamnya ketakutan.


***


[maaf buat pembaca yang merasa cerita ini aneh atau tidak suka dengan alurnya, terima kasih sudah membaca. Mungkin kalian memang tidak cocok dengan cerita ini:)] — ini part terakhir untuk flashback Alex.

__ADS_1


__ADS_2