Perfect Husband

Perfect Husband
69. White Party


__ADS_3

"Mas, aku pakai baju ini, gimana?" Aku menunjukkan penampilanku pada Andra. Aku memakai dress putih yang sedikit terbuka di bagian dada. Andra melongo menatapku.


"Jangan pakai dress itu, sayang. Ukuran dadamu sekarang lebih besar, jadi bagian situ kelihatan terlalu terbuka, nanti kamu masuk angin, cari yang tertutup," Perintah Andra. Aku tahu dia akan menyuruhku ganti, aku hanya mengetesnya saja.


Sekarang aku sudah ganti dress dengan yang lebih tertutup, dengan bawahan yang panjang sampai menutup punggung kaki. Karena hamil, aku tidak di izinkan pakai heels. terlihat sekali aku jauh lebih pendek dari Andra.


"Sayang, udah siap?" Andra menghampiriku yang masih memoleskan berbagai riasan di wajah. Dia sudah rapi, dengan setelan jas warna putih juga. Aku baru tahu tentang tema kostum semalam dari Vallen.


"Aku sudah siap, mas. Kita harus berangkat sekarang, soalnya kamu kan harus bawa mobil lambat, udah gitu, kalau macet kita bisa telat sampai sana," Saranku. Andra menyetujui usulku. Kami segera turun dan berangkat ke rumah mama.


"Harusnya semalam kita nginep di sana, mas. Kan enak tuh, nggak harus buru-buru, " Omelku. Andra hanya tersenyum tipis.


"Dulu kita nggak ada acara tunangannya ya, singkat juga, seminggu langsung nikah," Andra tersenyum flasback kenangan kami berdua.


"Singkat banget, mas. Konyol kalau di ceritakan dari awal, mah. Yang pasti sekarang kita udah bahagia, ya kan?" Tanyaku pada suamiku itu.


"Ya, aku sudah merasakan kebahagiaan kita sekarang, rasanya kalau flashback kebelakang, aku pengen edit yang salah-salah, supaya kenangan kita itu benar-benar sempurna," Kata Andra setengah berkhayal.


"Mana ada bisa di edit, memangnya sinetron?. Gapapa mas, awalnya nggak bagus yang penting sempurna," kataku sok menggurui.


"Bisa aja nih istriku tersayang, tapi kenyataannya


memang nggak ada ya, sesuatu yang benar-benar sempurna? awalnya pasti ada yang salah dulu," Andra tersenyum simpul. Aku tidak apa-apa awal dari perjalanan kami tidak sempurna, yang pasti saat ini aku sudah sangat menikmati posisi sebagai nyonya Andra.

__ADS_1


"Iyalah, mas. mana adakah yang seperti itu? dongeng aja awalnya harus menderita dulu, baru bahagia, apalagi kita... yang ada di dunia nyata," Celotehku sambil menikmati lingkungan sekitar yang kami lalui sepanjang jalan.


Jauh dari kata asri. Tidak ada pohon, tidak ada bunga, yang ada hanya gedung pencakar langit dan segala fasilitasnya. Di komplekku masih mending, masih ada pepohonan meskipun bisa di hitung dengan jari. Keadaan seperti ini yang membuat udara tidak lagi sehat di siang hari. Hanya ada asap kendaraan, debu pabrik dan lain sebagainya.


"Benar juga katamu, sayang. Oh, ya... kita belum bawa buah tangan buat mama. Kita mampir ke toko buahbdi ujung jalan itu, yuk." Andra menunjuk sebuah pusat toko buah yang lumayan besar dan terletak di ujung jalan.


"Boleh, mas. Yuk," Aku bersemangat untuk membeli buah tangan untuk mama mertua. Andra agak mempercepat laju kendaraannya. Dari dalam mobil, aku melihat Affandi juga ada di sana. Sepertinya ia sedang mempersiapkan bingkisan untuk seseorang.


"Itu, bukannya temanmu yang dokter itu? Ngilu aku, beberapa kali di tonjok dia. Rasanya pengen ku balas sekarang," Andra tampak sedikit emosi melihat keberadaan Affandi di sana.


"Iya, mas. Itu Affandi. Dia melakukannya hanya untuk membelaku, mas. Sudahlah, redam emosimu itu, kalau tidak, kita beli bingkisan lain saja," Aku memberinya saran, tapi Andra menolak. Ia tetap bersikeras untuk membeli buah.


Akhirnya aku dan dia turun dari mobil, basa-basi sedikit dengan Fandi sebelum dokter muda itu pergi. Setelah membeli buah, kami melanjutkan perjalanan. Sampai di rumah mama, suasana sudah ramai. Aku dan Andra menerobos mereka agar dapat masuk ke dalam.


Aku memeluj Vallen erat. Aku memberikan ucapan selamat untuk mereka berdua. Anehnya, aku merasa tangan Andre bergetar saat bersalaman denganku. Tapi segera ku tepis perasaan itu.


"Kapan kalian nikahnya?" Tanyaku pada mereka berdua.


"M-minggu depan," Jawaban Andre membuat mataku membulat. Sangat singkat, waktu bertunangan dan pernikahan mereka.


"Serius?" Aku menatap mereka berdua bergantian.


"Benar, kita sudah tidak sabar untuk segera meresmikan hubungan kami, iya kan sayang?" Vallen menatap Andre.

__ADS_1


"Ah, iya. Betul sekali, Sila. Kami ingin segera menikah dan pergi bulan madu."Andre meyakinkanku. Syukurlah. Aku harap mereka bahagia dan menjadi keluarga yang harmonis.


Suasana perta berjalan sangat meriah. Di balut suasana nuansa putih, acara pertunangan Andre dan Vallen berjalan lancar. Acara tukar cincin pun berjalan khidmad.


Entah hanya perasaanku saja, atau memang nyata. Hampir sepanjang acara Andre memandang ke arahku. Setelah tukar cincin selesai, aku tidak melihat Andre ada di lokasi. Hanya Vallen seorang diri yang sibuk bercengkramama dengan para tamu.


Aku mendekati Vallen, dan mengajak sahabatku itu sedikit menjauh dari keramaian. Ia tampak sangat senang telah resmi menjadi tunangan Andre sekarang.


"Ada apa, Sil?" Vallen menatapku bingung. Aku bahkan lebih bingung dengan apa yang aku lihat barusan.


"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dengan kakak ipar," Aku terpaksa meminta kejujuran pada Vallen karena aku merasa ada keanehan yang terjadi di antara mereka berdua.


"Tidak ada, kami baik-baik saja. Kenapa kamu seperti sedang mencurigai kami?" Vallen balik bertanya padaku. Seolah-olah akulah yang salah sekarang.


"Kamu yakin tidak ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan?" Sekali lagi aku bertanya padanya, Vallen tetap menggeleng.


"Maaf, Sil. Aku harus menemui tamu-tamuku dulu." Vallen meninggalkanku. Aku yakin ada yang di sembunyikan olehnya. Dia sedang tidak jujur padaku.


"Sayang, ayo istirahat. Kamu sudah terlalu lama berdiri. Kasihan dedek bayinya." Andra menggandengku untuk naik ke kamar kami. Aku bahkan tidk melihat Anita selama di sini. Mungkin saja anak itu selalu berdua bersama Beno sekarang.


Aku masuk ke dalam kamar. Diam. Tanpa membahas apapun dengan Andra. Suamiku itu juga langsung pergi meninggalkanku seorang diri.


Semuanya seperti sebuah teka-teki yang pelik. Tatapan mata Andra sepanjang acara, menghilangnya dia di akhir acara dan juga sikap Vallen yang tampak menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


Ada apa dengan mereka semua? Aku tidak mungkin membahas hal ini dengan Andra. Akhir-akhir ini emosinya sedang tidak bagus jika membahas soal Andre. Ck, permasalahan yang melibatkan dua pria kembar ini memang terkadang membuatku sedikit frustasi. Aku akan berusaha menyelidiki ketidak beresan ini sendiri.


__ADS_2