
POVAndre
Melewati waktu yang sebentar dengan berendam bersama Vallen benar-benar saat yang menakjubkan. Aku merasakan Gelombang keromantisan menjalar diantara kami berdua. Apa yang di bilang istriku itu benar, aroma terapi dari sabun barunya membuatku lebih rileks dan nyaman. Rasanya aku ingin berlama-lama melakukannya tapi waktu yang ku miliki terbatas.Meski setelahnya aku harus meninggalkannya.
Ia sudah menyiapkan segala keperluanku selama dinas ke luar kota. Meskipun berat, aku harus rela berpisah sementara waktu dengannya. Sebelum pergi aku masih sempat memeluknya dengan erat dan mengecup keningnya berkali-kali.
Lambaian tangannya saat aku masuk ke dalam mobil membuatku semakin enggan pergi. Tapi apa daya, aku harus melakukan ini untuk masa depan kami berdua. Aku merasa seperti anak-anak, efek jatuh cinta memang sangat mengerikan. Aku yang dulu cuek saat meninggalkan rumah untuk bekerja, sekarang yang terjadi justru sebaliknya.
Aku hanya duduk diam dan termangu. Papaku juga seperti biasa, selalu cuek dan terkadang hanya bicara mengenai pekerjaan saja. Suasana ini membuatku semakin bosan. Padahal baru beberapa menit, belum genap setengah jam.
Bagaimana nanti kalau aku sudah ada di tempat dinas sana? Mungkin aku hanya akan banyak terdiam dalam kebisuan yang mencekam. Kata-kataku seperti sedang bersya'ir saja.
"Andre, berhentilah manyun seperti itu. Mana sosok anak papa yang biasanya? Ternyata kegilaan kerjamu bisa juga di pengaruhi oleh istrimu, hebat," Papa memuji Vallen yang berhasil merubahku. Aku akui aku memang merasakan perubahan besar dari diriku semenjak jatuh cinta pada Vallen. Aku jadi lebih ingin berdua dengannya setiap waktu.
Dulu aku gila kerja karena berusaha mengalihkan perhatian dan pikiranku pada Sila. Aku rela lembur setiap hari, agar aku lupa perasaan sakitku kehilangan dia. Bagaimanapun juga, merelakan dia bahagia bersama Andra adalah saat yang paling menyakitkan dalam hidupku. Tidak bisa di gambarkan kesakitanku saat itu seperti apa, yang jelas, aku tidak ingin merasakannya lagi.
Aku sampai terpuruk, depresi dari ringan sampai berat tanpa seorangpun yang tahu. Aku berusaha tersenyum dan tertawa di depan mereka, menyembunyikan segala perasaan sedih dan terlukaku dan yang paling mengertiku hanyalah sebuah buku. Benda mati itu, tempat mencurahkan segala perasaanku padanya.
Meskipun pada akhirnya yang berhasil menyembuhkan depresiku adalah Sila, tapi aku lebih mengapresiasi Vallen. Karena dia adalah orang yang dengan tulus menerimaku dengan segala kekuranganku. Memahami apa yang aku inginkan. Dia juga rela mengorbankan hidupnya untuk mencintai manusia berhati es sepertiku.
"Sekarang aku merasa kalau pekerjaanku saat itu hanya untuk menghindari pemikiranku terhadap Sila, Pa. Papa tahu kan, aku sangat menyesal telah merelakan Sila dinikahi oleh Andra. Aku pikir, saat itu aku akan mati, Pa. Ternyata Tuhan masih memberiku kehidupan sampai hari ini," ungkapku pada papa. Secuek apapun papa, dia masih sering mau mendengarkan keluhanku. Papa sosok yang dingin, tapi ada saatnya ia menjadi sangat hangat. Terutama saat kumpul bersama keluarga. Darinya aku belajar, betapa pentingnya bersikap hangat saat berkumpul dengan keluarga.
"Papa tahu itu, Ndre. Memang terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengam kenyataan, sebaliknya apa yang kita bayangkan kadang berbanding terbalik dengan kenyataan. Tapi papa bersyukur karena saat ini kamu sudah berhasil mencintai Vallen dan menyayanginya selayaknya istri pada umumnya." Papa menatapku dengan tatapan teduh. Ia sangat memahamiku meskipun hubungan kami tidak sedekat ayah dan anak lain. Papa bisa saja mengamatiku secara diam-diam.
"Aku juga tidak menyangka kalau Vallen bisa memenangkan hatiku pa, Ternyata seiring waktu, cinta tumbuh di antara kami berdua." Ungkapku, papa manggut-manggut tanda mengerti.
"Apakah Vallen juga sudah memenangkan keperjakaanmu juga?" Celetuk papa sambil di susul gelak tawa. Aku tersenyum geli mendengar pertanyaannya. Tidak menyangka papa akan menanyakan hal sepribadi itu, meskipun hanya candaan.
"Itu.. tidak perlu aku jawab kan pa?" Aku membalas tawanya dengan senyuman lebar. Sepertinya papa menangkap apa yang aku isyaratkan.
"Bagus, cepat beri papa cucu. Biar nanti makin ramai rumah papa kalau kalian semua datang. Papa juga sudah tidak sabar menanti cucu kembar papa dari Andra dan Sila," Sisi hangat papa terlihat. Sebenarnya di balik sikapnya yang cuek, papa juga tipe yang sayang pada keluarga. Aku sangat mengidolakan papaku.
"Doakan yang terbaik, Pa. Aku akan segera memiliki momongan mengejar Andra. Aku juga iri pada semua temanku yang telah memiliki anak," Ini kali pertamanya aku mengobrol secara pribadi dengan papa.
Sesampainya di perusahaan tempat kami kunjungan..
"Selamat datang pak, apa kabar, ini anak bapak yang kembar itu ya, siapa namanya yang ini, Andra atau Andre?" Seorang pria seumuran dengan papa menyambut kedatangan kami berdua. Sepertinya itu rekan kerja papa yang dia bilang penting itu.
"Ya ya.. terimakasih pah Burhan. Betul, ini si kembar, yang ini namanya Andre, adiknya Andra tidak saya ajak kemari karena istrinya sedang hamil, takutnya butuh apa-apa begitu, pak," Ujar papa ramah. Jadi itu alasan papa, kenapa papa hanya mengajakku dalam misi ini. Mungkin papa juga takut, kejadian beberapa saat lalu akan terulang lagi. Dimana Sila harus kehilangan bayinya.
"Wah, bapak benar-benar ayah dan kakek yang sangat perhatian rupanya. Kalau Andra ini, sudah menikah?" Pak burhan mempertanyakan setatusku.
"Baru pak, kurang lebih satu bulan. Masih hangat-hangatnya, bisa di lihat wajahnya yang galau karena harus meninggalkan istrinya dan pergi kemari," Papa menertawakanku bersama rekan bisnisnya itu. Aku hanya tersenyum menanggapi keisengan mereka. Mereka harusnya paham apa yang aku rasakan saat ini.
Malam harinya, di penginapan...
Badan lelah karena perjalanan dan pekerjaan yang menumpuk tidak mampu membuatku cepat terlelap. Aku selalu terbayang wajah Vallen. Dia memang tidak terlalu protektif padaku. Ia juga sudah bilang kalau tidak akan menggangguku bekerja dengan chat atau teleponnya jika tidak dalam kondisi genting.
Sepertinya mau tidak mau aku harus Video Call dengannya. Aku tidak kuat menahan rinduku padanya. Saat ini tingkahku mungkin seperti seorang remaja yang tengah mengalami cinta monyet.
Aku bersiap menatap layar ponselku, menunggu Vallen menerima panggilan video ku. Beberapa saat kemudian aku melihat wajah cantik istriku. Ia hanya tidur menggunakan daster tanpa lengan, tampak seksi dan cantik. Ia tampak baru saja terbangun.
__ADS_1
Vallen: Sayang, sudah selesai kerjaannya?
Aku: Sudah sayang, satu jam yang lalu. tapi aku tidak bisa tidur. Teringat kamu terus..
Vallen: Mulai deh gombalnya. Sabar sayang, besok kalau sudah waktunya pulang, aku kasih hadiah.
Aku: Hadiah apa? Hayo, bilang sekarang...
Vallen: Rahasia. Yang pasti kamu akan senang sayang..
Aku: Baiklah, aku pulang besok..
Vallen: Memangnya urusan di sana sudah selesai?
Aku: Belum, sih. Tapi aku penasaran dengan kejutan apa yang akan kamu berikan..
Kami terus bercakap-cakap. Banyak hal yang kami bahas sampai aku terlelap dan mimpi indah bersama Vallen.
Pagi harinya...
Aku merasakan ada sesuatu yang lengket dan basah di dalam celanaku. Rasa tidak nyaman ini membuatku terbangun. Sepertinya semalam aku mimpi basah. Aku mimpi bergulat romantis degan Vallen. Ini gila, aku sampai berhalusinasi karena merindukannya.
Segera aku bangkit dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Aku masih saja merindukannya. senyumnya yang begitu manis membayang di pelupuk mataku.
Vallen, kamu harus bertanggung jawab karena telah membuatku menggila. Saat aku pulang nanti, aku akan membuatmu menyerah dan lemas dalam dekapanku. Pikiranku sudah kotor sepagi ini karenamu.
Segera ku selesaikan mandiku, mengganti baju dengan setelan jas kerja yang biasa ku pakai. Aku mencium wangi parfum Vallen di jas yang kupakai, pasti dia sengaja, untuk membuat aku semakin merindukannya. Aish, aku semakin gemas pada istri imutku itu.
Saatnya aku pulang ke rumah. Aku sudah memberi kabar tentang kepulanganku pada Vallen. Tidak sabar rasanya ingin segera bertemu bidadariku. sebentar- sebentar aku melihat jam tanganku.
"Sabar, Ndre. Tidak sampai satu jam kita sampai di rumahmu. Baru tiga hari berpisah sudah seperti berbulan-bulan tidak bertemu. Dasar anak setengah muda!" Ledek papa, aku mengernyitkan dahi.
"Apa maksud papa bilang aku anak setengah muda?" Aku protes pada papa.
"Kamu pikir umurmu berapa Andre? Tingkahmu sama dengan remaja SMA, menggelikan," Ledek papa lagi. Aku jadi sedikit malu. Benarkah tingkahku seperti itu?
"Papa seperti tidak pernah muda saja," Aku mencoba membela diri. Aku memang seperti tidak bisa terlihat tenang. Rasa rindu yang teramat sangat ini telah membuatku lebih mencolok. Kegusaranku dengan mudah bisa terbaca oleh papa.
"Baiklah, papa hanya bercanda, Nak. Papa sangat senang karena kamu telah jatuh cinta pada Vallen begitu dalam. Jaga selalu perasaanmu itu, jangan sampai berubah," Pesan papa padaku. Aku tidak akan berubah, aku akan mencintai Vallen sampai kapanpun.
"Baik, pa. Aku akan menjaga Vallen sebaik mungkin. Aku akan mencintainya sampai maut yang memisahkan kami, Pa." Sahutku, pasti. Aku tidak akan menyiakan seseorang yang mencintaiku dengan begitu tulus.
"Bagus, Papa mendukungmu, Ndre. Nah sudah sampai rumah, turunlah. Segera temui Vallen," Papa seperti mengusirku untuk turun dari mobilnya. Tapi aku tak masalah, yang penting aku telah tiba di rumah dan bisa memeluk Vallen segera.
Aku bergegas masuk ke dalam rumah. Suasana hening. Hanya ada asisten rumah tangga yang sedang menyapu lantai. Aku naik ke atas, berharap bisa bertemu Vallen, tapi dia tidak ada di kamar kami. Di kamar yang dulu ia tempati juga tidak ada. Seketika aku kecewa.
Aku hanya menaruh jas, sepatu dan tas kantorku di kamar. Melepas dasi dan menaruh di tempatnya. Aku keluar dan memilih berdiam diri di balkon. Padahal sebelum pulang, aku sudah mengirim pesan padanya agar menungguku. Tapi ternyata dia tidak menyambutku.
Aku tegak berdiri di balkon menghadap ke luar. Ku masukkan kedua tanganku pada saku celanaku. Rasa kecewa karena tidak adanya sambutan Vallen membuatku merasa patah hati dan tidak sesuai harapan.
"Jeleknya sayangku kalau cemberut seperti ini, jadi pengen peluk. Berhasil deh pranknya," Vallen menelusupkan tangannya melewati tanganku dan melingkarkan tangannya di perutku. Menempelkan badannya hingga kami tanpa jarak. Senyumku yang tadi hilang sekarang datang lagi.
__ADS_1
"Jadi, dari tadi kamu sengaja, nggak nyambut kedatanganku? Malah sembunyi entah di mana?" Aku sedikit geregetan pada perlakuan Vallen yang menyambutku dengan prank seperti ini.
"Maaf sayang, jiwa jahilku kambuh. Jangan ngambek ya..." Bisiknya, bikin aku semakin gemas. Aku berbalik dan mengangkatnya setengah ku gendong. Ku bawa dia berputar-putar sampai ia sedikit panik.
"Stop..stop.. Sayang, aku takut jatuh. Janji, aku nggak akan ngerjain kamu lagi, tapi tetep jahilin," Kalimat yang Vallen ucapkan sedikit menantangku. Aku membawanya berputar lagi, hingga Vallen meronta dan tanpa sengaja membuat bibir kami bertemu.
Aku sesaat mematung. Rasa rinduku pada kelembutan bibirnya membuat hasratku terpacu untuk melahapnya. Vallen pun menyerah tanpa perlawanan saat bibir bawahnya ku sedot masuk ke dalam mulutku. Ia hanya terpejam menikmatinya. Entah apa yang ia rasakan saat ini, aku pun tak tahu.
Perlahan ku rebahkan tubuh mungilnya ke sofa santai yang bentuknya menyerupai ranjang tapi lebih sempit yang ada di sana. Aku meneruskan aksiku. Baru aku sadari, baju yang di kenakan oleh Vallen sangatlah seksi. Dress seksi tanpa lengan dengan tampilan depan menampilkan hampir seluruh belahan dada dan bagian bawahnya hanya menutupi paha beberapa senti.
"Jadi ini, hadiah yang mau kamu berikan padaku, Bee?" Aku memandang dengan tatapan nakal pada seluruh bagian tubuh istriku yang tampak menantang itu. Ia hanya menatapku dengan tatapan menggoda dan menggigit bibir bawahnya yang baru saja kulepaskan.
"Apa kamu suka hadiahnya, sayang?" Vallen bangkit dan berbalik mendorongku hingga aku setengah tidur. Tangannya dengan sigap melepas kancing kemejaku satu per satu. Buah dadanya menggantung dengan ujung mengerucut membayang dari balik baju yang ia kenakan. Sepertinya Vallen tidak mengenakan bra.
Kedua tanganku seperti otomatis memegang kedua benda lembut itu dan mulai menggerakkan jari-jariku perlahan. Vallen mendongak, menikmati setiap gerakan yang ku buat. Aku terus melakukannya secara intens, sambil sesekali ku pilin ujungnya yang berhasil membuatnya melenguh.
"Sayang.. hh.. kamu sangat nakal," Ceracaunya masih dengan terus mendongak menikmati perlakuanku. Dia telah berhasil melepas seluruh kancing kemejaku. Sekarang dia berpindah melepas ikat pinggangku kancing dan resleting celanaku telah di bukanya. Perlahan ia menyentuh milikku yang masih terbungkus celana dalam. Sensasinya sangat dahsyat. Aku suka caranya menggenggam erat.
Aku masih terus menggerakkan jariku di kedua gundukan kembar itu. Hingga aku merasakan Vallen berusaha menasukkan milikku kedalam tubuhnya. Sungguh hadiah yang sangat sempurna. Aku hanya pasrah membiarkan ia berusaha memuaskan hasratnya yang mungkin juga terpendam saat aku meninggalkannya.
"Bee, kita melakukan ini di tempat terbuka, kalau ada yang naik ke atas, gawat," Aku mendadak panik saat ingat kami berada di luar ruangan. Bisa saja ada yang tiba-tiba datang dan melihat aktivitas kami.
"Sayang, kita sudah melakukannya beberapa menit, kamu baru sadar kalau kita berada di ruangan terbuka? Sudah lupakan saja," Vallen mempercepat gerakannya membuat aku terhanyut dan lupa dengan di mana tempat kami melakukannya. Aku suka hadiah ini. sangat suka. Batinku bergejolak.
Sebuah cinta sejati yang hadir dalam hidupmu, tidak akan membiarkan rasa pahit hadir di antara kalian, sebaliknya.. Hanya ada rasa manis yang akan kalian teguk di setiap tetesnya. Tidak akan membiarkan airmata menetes dari mata, tapi senyum yang akan terukir di bibir.
(Dikutip dari Google.com)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo PH lovers...
Aku banyak mengucapkan terimakasih buat kalian yang sudah vote Perfect Husband di noveltoon dan mangatoon baik dengan poin ataupun koin. Aku mohon dukungan kalian selalu untuk Perfect Husband ya...
Aku juga mau kasih pengumuman nih..
Nanti di eps 100, PH akan adakan Give Away.
Caranya mengikuti kuis yang akan di adakan di grup fans PH.
Jadi, buat kalian yang belum masuk dalam grup, bisa tulis no wa kalian di kolom komentar.
Dukung juga karyaku yang lain:
Di goda Berondong
Si Tampan Pemikat
Follow IG-ku @Ekayunn_15
Terimakasih
__ADS_1