
Hani mengusap rambutnya yang basah dengan handuk seraya bersenandung kecil. Tubuhnya terasa sangat segar begitu mandi setelah perjalanan yang sangat melelahkan. Dia meraih ponselnya untuk mengecek apakah ada pesan dari Alex ataupun Aldo. Dia lupa mengabari Aldo—sahabatnya itu jika dia sudah kembali dan akan bekerja besok. Setelah mengirim pesan kepada Aldo, Hani kembali melihat pesan lain, berharap ada pesan dari Alex. Namun kenyataan pahit harus dia rasakan saat tidak menemukan satupun pesan dari Alex.
Tetap berpikir positif jika Alex mungkin kelelahan sehingga tidak mengabarinya. Dia beralih menyalakan laptopnya untuk menncari informasi perihal keinginannya mengambil gelar spesialisnya. Dia mencari beberapa sumber tentang tempat yang akan dia tuju untuk mengambil spesialisnya karena setelah dipikir-pikir dia tidak mau selamanya menjadi dokter umum.
Tok...Tok...
Suara ketukan di pintu membuat Hani menoleh cepat dan melihat Jhoni—adiknya itu, sudah berdiri di ambang pintu. Hani mengernyit melihat ekpresi kaget Jhoni yang perlahan mendekatinya.
"Muka lo kenapa? Nggak enak banget dilihat," cibir Hani tertawa kecil.
"Kak, lo harus cepat ke bawah. Rapiin dulu penampilan lo!" Jhoni menarik handuk yang menggulung rambut Hani lalu melemparnya ke sembarang arah. Dia beralih membuka lemari pakaian Hani dan mulai mengacak isinya.
"Lo ngapain sih, Dek?" jerit Hani panik melihat Jhoni sudah melempar semua dress-nya ke lantai.
"Pokoknya lo harus nampak cantik!" seeu Jhoni mengabaikan teriakan marah kakaknya karena dia mengacaukan isi lemarinya.
"Emang kenapa? Jangan cari masalah sama gue ya, Dek!" dengus Hani menjambak rambut adiknya itu hingga Jhoni merintih tertahan.
"Bang Alex sama orangtuanya datang. Katanya mau bahas pernikahan kalian," ujar Jhoni.
Seketika mata Hani membulat dan tangannya menjauh dari rambut adiknya. "Apa?? Kok mendadak?" histerisnya mulai mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia harus mengeringkan rambutnya dan memoles sedikit make-up. Tidak mungkin dia berpenampilan buruk di depan calon mertuanya itu.
"Buruan, Kak! Mereka udah nunggu di bawah." Entah kenapa Jhoni ikut heboh, "pokoknya berpenampilan menarik. Jangan mempermalukan gue sebagai Adik lo!" tukas Jhoni lalu melenggang pergi meninggalkan Hani yang sudah pusing sendiri.
Dia langsung menyalakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Setelah itu dia memoles make-up tipis yang terkesan natural untuk menyamarkan wajahnya yang pucat. Dia bergegas mencari dress simpel yang tidak mencolok di antara dress-nya yang sudah tersebar di lantai. Pilihannya akhirnya jatuh kepada dress di bawah lutut dengan motif sederhana dibagian lehernya. Menurutnya itu sudah sangat sopan dan juga tidak memalukan.
Setelah mengumpulkan semua keberanian dan menghempaskan ketakutannya, Hani keluar dari kamarnya untuk bergabung dengan keluarga yang sudah berkumpul di ruang tamu. Dari kejauhan dia bisa mendengar suara tawa Alex yang langsung membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Dengan langkah malu-malu, dia akhirnya menampakkan diri di ruang tamu. Alex langsung terpaku ke arahnya lalu tersenyum manis padanya. Itu semakin membuat Hani salah tingkah.
"Selamat malam, Om, Tante," sapa Hani sopan menyalami calon mertuanya itu bergantian.
"Berhenti memanggil kami seperti itu. Panggil kami seperti Alex juga, Ayah dan Ibu," tukas Ibu Alex lembut.
__ADS_1
"Iya, Bu," jawab Hani manis lalu duduk di samping mamanya, cukup dekat dengan Alex.
"Kau sangat cantik," bisik Alex dengan senyum menggodanya. Hani hanya balas tersenyum karena dia merasa sangat malu sekarang.
Seperti rencana sebelumnya, kedatangan keluarga Alex adalah untuk melamar Hani dan juga untuk mempercepat acara pernikahan mereka sesuai keinginan Alex. Setelah menyampaikan keinginan mereka, orangtua Hani memberi respon baik sehingga Alex bisa menghela lega. Namun Hani mulai bingung kenapa pernikahan mereka dipercepat. Alex menatap Hani yang kebingungan lalu berbisik lagi, "Tenanglah, Sayang. I love you."
Hani menatap Alex lekat lalu mengulum senyum manis, "I love you too."
***
Setelah pembahasan mereka final dan acara akan dilakukan seminggu lagi, keluarga Alex berpamitan pergi. Namun Alex memilih untuk tinggal lebih lama sehingga ayah dan ibunya pulang lebih dulu, toh, mereka tidak tinggal serumah juga. Alex ingin tinggal lebih lama karena ingin mengobrol lagi dengan Hani.
Setelah papa dan mama Hani kembali masuk ke rumah, Hani dan Alex memilih duduk santai di ayunan di halaman rumah Hani. Padahal sudah pukul 11 malam, tapi mereka bersikeras di luar saja karena rasanya tidak bisa mengobrol bebas di rumah. Tiba-tiba Jhoni datang dengan selimut tipis di tangannya lalu melemparnya ke atas pangkuan Hani.
"Di luar dingin, ini selimut," ucap Jhoni.
"Tumben lo baik," cibir Hani.
"Emang lo ya, Kak. Gue baik salah, jahat juga salah." Jhoni menggeleng kecil dan berkacak pinggang melihat tingkah kakaknya itu. "Yaudah, gue masuk dulu," pamitnya memberi kode pada Alex, "Bang Alex, hati-hati, berduaan banyak setan. Tahan diri, Bang," kekehnya.
Sepeninggal Jhoni, Alex mengambil selimut di pangkuan Hani lalu menutupi tubuh Hani. "Dingin, Sayang. Pakai selimut dulu," kekehnya lembut.
"Kau juga, Alex. Ini cukup untuk kita berdua," tukas Hani menutupi tubuh Alex juga.
Keduanya terdiam sambil menatap langit malam yang menampakkan banyak bintang di atas sana. Hani menyenderkan kepalanya di bahu kekar Alex. Tangannya menggenggam tangan besar pria itu, menyalurkan kehangatan di sana.
"Sebentar lagi kita menikah, Alex. Aku tidak pernah menyangka akan menikah sebelum bertemu denganmu," gumam Hani.
"Sebentar lagi kita akan tinggal bersama, Sayang. Aku sudah tidak sabar," balas Alex. "Setelah menikah nanti, apa kau mau kita tinggal di rumahnya Ayah dan Ibu semasa mereka baru menikah? Itu cukup dekat dari tempatmu bekerja, Sayang. Ibu menyarankan kita tinggal di sana karena mereka tidak mau kita tinggal di apartemen. Bagaimana menurutmu?"
"Apa kau pernah tinggal di sana sebelumnya, Alex?"
__ADS_1
"Ya, aku menghabiskan masa kecilku di sana. Bagaimana? Aku suka rumah itu, apa kau mau, Sayang?"
Hani mengangguk kecil, "Tentu, Alex. Selama bersamamu, di mana pun tidak apa-apa."
"Ayah mau cepat punya cucu. Bagaimana menurutmu? Apa kau siap?" kekeh Alex.
Mata Hani membulat. Dia malu membahas tentang anak sekarang, "Kita lihat nanti, Alex," ucapnya seadanya.
"Kita harus membicarakannya sekarang. Kau ingin kita punya anak berapa?" tanya Alex menatap wajah Hani yang perlahan memerah, "aku mau banyak."
"Apa?" seru Hani kaget dengan pernyataan Alex, "Sebanyak apa maksudmu?" serangnya.
"Sepuluh jika kau sanggup, Sayang," goda Alex. "Aku ingin rumah kita ramai nantinya jadi kita tidak perlu merasa kesepian jika anak-anak meninggalkan kita," tukas Alex.
"Kau gila, Alex. Sepuluh terlalu banyak," protes Hani.
"Kita lihat saja nanti, Sayang. Manatau Tuhan menitipkan sepuluh anak untuk kita. Kita bisa apa coba?" Alex tersenyum lebar melihat ekspresi lucu Hani.
"Tapi sepuluh itu terlalu banyak, Alex," cemberut Hani dengan bibir manyun.
Alex mengusap puncak kepala Hani kemudian tangannya turun ke pipi gadis itu, "Iya, Sayang. Aku bercanda. Kita bisa buat sebanyak yang kau inginkan, kita bisa membahasnya lagi nanti," kekehnya semakin membuat Hani salah tingkah.
"Oh, lalu bagaimana dengan honeymoon kita? Setelah kupikir-pikir ke Paris bukanlah tempat honeymoon yang baik." Alex tampak berpikir sesaat, "sebaiknya kita ganti tujuan kita. Kau mau ke mana, Sayang?"
"Bagaimana kalo ke Maldives, Alex? Aku suka pantai dan di sana jauh dari keramaian. Aku suka itu," saran Hani antusias.
"Benar juga. Kita butuh tempat yang sepi sehingga tidak ada yang mengganggu kita melakukan apa pun." Alex tersenyum miring dengan matanya melihat ke atas.
"Apa yang kau sedang pikirkan, Alex?" curiga Hani ngeri.
Alex menyengir, "Hal yang menyenangkan yang kita lakukan nantinya."
__ADS_1
"Mesum!!"
***