Perfect Husband

Perfect Husband
Chapter 42. To my wife and last


__ADS_3

Cerita ini hanya fiksi, banyak adegan kekerasan. Bagi pembaca di bawah umur, harap bijak dalam memilih bahan bacaan. Terima Kasih



Alaia tidak bisa menghentikan tangisannya saat kenyataan menghampiri hidupnya, kenyataan yang ingin diulang kembali, semua hal yang ingin dia kembalikan pada tempat seharusnya. Alaia menyesali banyak hal yang telah dia lakukan, tapi Agam yang tengah dibawa dua orang polisi dengan tangan diborgol di belakang tubuhnya melayangkan senyuman hangat pada Alaia, sama seperti sebelumnya.


“Tunggu! Aku mohon, aku ingin bicara dengan suamiku.” Dengan wajah yang masih sembab karena menangis, Alaia masuk kedalam mobil hitam tersebut duduk disebelah Agam.


Tangisannya pecah, Alaia memeluk Agam erat, kepala dan hatinya berkecamuk saling memberikan pendapat masing-masing. “Jangan menangis, maaf aku tidak bisa mengusap air matamu.”


Suara hangat Agam semakin membuat Alaia menangis, wanita itu mulai mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Agam, sambil terus terisak, dia merapikan rambut Agam yang sedikit berantakan “Berjanjilah kamu akan baik-baik saja.”


Agam tersenyum “Aku selalu baik-baik saja sayang... apa aku masih bisa memanggilmu sayang?.”


“Mas, mau sampai kapanpun, kamu tetap suamiku, entah dimanapun kamu berada, aku akan selalu menunggumu kembali.”


“Jangan menangis, kalau ada apa-apa, pergilah ke Sena atau kak Lana.”


Alaia mengangguk dan memeluk Agam kembali.


“Mbak, udah waktunya.” Dion melihat kearah Alaia khawatir.


“Terimakasih.” Ucap Alaia, sebelum wanita itu benar-benar meninggalkan mobil, Alaia mengecup bibir Agam, suaminya untuk terakhir kali.


“Aku akan sering mengunjungimu.”


Agam mengangguk sambil tersenyum. Alaia pun akhirnya keluar dari mobil dan membiarkan mereka membawa Agam pergi.


Alaia masuk kedalam rumahnya yang kosong, foto pernikahannya dengan Agam terpampang di depan matanya, saat Agam tersenyum melihatnya berjalan di altar kearahnya, air mata Alaia jatuh, tubuhnya limbung dan terjatuh di lantai. Air matanya semakin deras membasahi pipi, dia terisak sendirian.


Kenangan-kenangan kecil memutar di rumah itu, senyuman Agam selalu menghiasi rumah tangganya dengan hangat.


“Alaia!.” Teriakan dari pintu membuat Alaia menoleh, tangis nya semakin pecah saat menemukan Lana di depannya. Bukan hanya Alaia yang sangat kehilangan, Lana sebagai kakak kandung Agam juga kehilangan Agam, dia bahkan sangat kecewa dengan apa yang Agam lakukan, dia bahkan tidak mengira kalau kejadian puluhan tahun yang lalu akan terulang lagi.


Lana membawa Alaia duduk di sofa, memeluk adik iparnya itu erat, sambil mengusap rambut panjangnya yang berantakan. “Kak, maafin Alaia.” Ucap Alaia menyesali semuanya.


“Bukan salah siapa-siapa, Agam harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan.”


“Kak, tapi mas Agam nggak kayak gitu.”


“Alaia, dengarkan kak Lana. Agam untukmu tetaplah Agam yang sempurna, tapi tidak untuk dunia.” Jelas kak Lana yang berusaha menenangkan Alaia.

__ADS_1


Dua hari berlalu sejak penangkapan Agam Nalendra Cakrawala, seorang pebisnis muda atas pembunuhan sadis yang dia lakukan sejak 5 tahun terakhir, banyak media yang menyorotnya, perlahan banyak kasus yang kemudian mengarah pada Agam, banyak bukti yang telah ditemukan di rumah milik Agam, tepatnya di ruang bawah tanah bagasi. Alaia sendiri tidak tahu kalau di bawah bagasi rumahnya ada ruang rahasia.


Hari ini Alaia pindah ke apartemennya yang lama, debu dimana-mana, dia harus membersihkannya dari awal. Ibu Agam menyuruhnya untuk pindah ke Apartemen lama karena disana lebih aman untuk Alaia tinggali ketimbang rumah besar itu.


Dibantu beberapa orang yang mengangkut barang-barang Alaia, pertama kali yang dia letakkan adalah foto pernikahannya. Tidak banyak yang bisa Alaia kerjakan hari ini, karena dia harus menuju ke kantor polisi untuk melihat perkembangan introgasi suaminya.


Alaia membawa mobilnya menuju ke kantor polisi, sebuah truk melaju sangat kencang berlawanan arah dengan mobil milik Alaia, harusnya truk berada di jalur sebelah, Alaia tidak bisa mengendalikan mobilnya sendiri.


Braaaakkkkk


Benturan hebat kedua kendaraan tersebut mengakibatkan mobil Alaia terpental sejauh 10 meter dari lokasi utama, kepala Alaia yang sudah berdarah berusaha menyadarkan dirinya untuk melepaskan seat belt, beberapa orang membantunya untuk keluar dari mobil.


Duaaarrr!!!


Mobil milik Alaia terbakar, tubuh wanita itu terkulai di jalanan, mobil ambulance datang membawanya kerumah sakit. Alaia mencoba tetap sadar tapi matanya tidak bisa, dia sangat mengantuk, satu kata yang keluar dari mulutnya, “Agam...”


Panggilan ke ponsel Natio membuatnya menghentikan interogasi yang dilakukannya dengan Agam di dalam ruangan interogasi.


“Halo? Apa?.”


Natio melihat ke arah Agam dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Kenapa? Kenapa dengan Alaia!.” Agam berdiri dari duduknya dengan wajah khawatir.


“Dia kecelakaan.”


“Apa?.”


“Aku akan membawamu kesana, ayo.”


Saat sampai di rumah sakit, Agam berjalan menyusuri lorong dimana istrinya berada, langkahnya terhenti saat melihat Sena berada di luar ruangan sambil menangis. Agam buru-buru masuk dan menemukan kedua orang tuanya sekaligus kak Lana menangis, dia juga melihat Alaia terbaring diatas ranjang dengan wajah pucat.



Tubuh Agam merosot di depan Alaia, istrinya. “Sayang... bangun! Bangun!.” Agam berusaha membangunkan istrinya, tapi Alaia tak kunjung membuka mata “Sayang kamu dingin, bangun, ayo bangun!.” Tangisan Agam pecah. “Aku mohonn bangunn...”


Ibu menyentuh pundak putranya lembut “Agam sayang... Ibu mohon jangan seperti ini, Alaia sudah tenang disana, kamu harus ikhlas nak.”


“IBU BICARA APA!, ALAIA BAIK-BAIK SAJA, DIA UDAH JANJI KE AGAM!.”


Kalau nanti aku mati lebih dahulu, apa kamu akan sedih?

__ADS_1


Suara Alaia memutar di kepalanya, dilihatnya wajah cantik dengan bibir yang sudah memucat “Kenapa? Kenapa kamu pergi?!!.” Teriak Agam parau, setengah hidupnya telah pergi.


Walaupun banyak pengawasan dari kepolisian, mereka mengizinkan Agam untuk mengantarkan istrinya ke peristirahatan terakhir, wajah Agam sangat pucat, dia tidak bisa menelan makanannya dengan baik sejak kematian Alaia.


“Aku hanya ingin ke toilet sebentar.” Agam masuk kedalam toilet, dia mengeluarkan obat dari dalam kaos kakinya. Dengan sangat yakin, Agam menelan semua obat tersebut.


‘Aku ikut bersamamu Alaia, Aku akan menemanimu disana.’


Tubuh Agam tergeletak di lantai toilet, suara benturan dari dalam toilet membuat polisi yang berjaga langsung mendobrak pintu dan menemukan Agam yang sudah tidak bernyawa di dalam toilet setelah meminum racun yang entah darimana dia bawa.



“Kenapa kamu menangis?.” Seorang anak laki-laki menghampiri anak perempuan yang tengah duduk menangis di bangku taman sendirian.


Anak perempuan itu menunjuk segerombolan anak lainnya yang tengah bermain dengan seru “Aku ingin ikut main dengan mereka.”


Anak laki-laki itu melihat arah tunjuknya “Bagaimana kalau kamu main denganku?.”


“Boleh?.”


“Boleh, Ayo aku punya bola di sana.”


Anak perempuan itu tersenyum manis. “Namaku Alaia.”


“Nama yang cantik, Hai Alaia, aku Agam.”


“Apa aku boleh berteman dengan Agam?.”


“BOLEH!.” Agam tersenyum bahagia.


Malam itu setelah pertemuannya dengan Alaia, Agam menuju ke taman yang sama saat dia bertemu dengan Alaia. Dia yakin yang akan Agam temui pasti berada di taman sekarang, dan benar dia menemukan anak kecil itu yang tengah mencari sesuatu.


Agam membawa sebuah batu berukuran cukup besar dan memukul kepala anak itu dari belakang, “Aarrrggghh!!.” Tubuhnya tergeletak di tanah, tidak sampai disana, karena Agam merasa dia masih hidup, kembali Agam memukul wajahnya menggunakan batu yang dia bawa hingga anak kecil yang umurnya tidak jauh dari Agam itu berlumuran darah dan meninggal di tempat.


SELESAI


Terimakasih sudah membaca kisah Agam dan Alaia, Maaf jika kalian kurang suka dengan cerita ini, silahkan tinggalkan komentar positif, dan like jika suka Perfect Husband.



__ADS_1


__ADS_2