
Cerita ini hanya fiksi, banyak adegan kekerasan. Bagi pembaca di bawah umur, harap bijak dalam memilih bahan bacaan. Terima Kasih
Alaia mengatur detak jantungnya yang tidak beraturan saat Agam berjalan menghampirinya dengan wajah cerah dan tersenyum manis seperti biasa, namun malam ini tidak biasa untuk Alaia yang menemukan banyak hal secara tiba-tiba. Alaia bukan orang yang bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik terutama di hadapan Agam.
“Kamu kenapa?.” Agam menyentuh pinggang Alaia lembut, namun Alaia sedikit menggerakkan tubuhnya menjauh, tidak terlalu jauh tapi Agam merasakan penolakan itu dari istrinya “Aku ada salah?.” Tanya Agam kembali.
“Nggak ada mas, kamu mandi dulu ya, biar aku siapin makan malam.”
Walaupun Agam masih curiga dengan Alaia, pria itu tetap mengikuti ucapan istrinya untuk mandi terlebih dahulu. Sedangkan Alaia menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam, saat membuka lemari pendingin, matanya melihat sebuah daging segar di dalamnya. Teriakan Alaia terdengar hingga lantai dua, wanita itu terduduk di lantai dengan nafas yang tidak beraturan.
Tidak lama Agam sudah sampai di sebelah Alaia sambil menyentuh pundak istrinya lembut “Hei, kenapa? Ada aku disini.” Suara Agam membuat Alaia menoleh dan memeluk suaminya tanpa memikirkan apapun yang sebelumnya terjadi, dia hanya ingin ada dipelukan Agam.
Agam membalas pelukan Alaia lembut, mengusap rambut panjangnya. Pandangan Agam tertuju pada lemari pendingin yang masih terbuka, tidak ada apapun selain daging dan beberapa sayuran yang memang ada didalam sana. Setelah mulai tenang, Agam membawa Alaia duduk di sofa ruang keluarga. Mengambil air putih untuk Alaia minum sambil menenangkan diri, Agam menunggu Alaia berbicara setelah meneguk minuman yang dia berikan.
“Ada yang ingin kamu ceritakan sayang?.” Pertanyaan Bumi menghentikan detak jantung Alaia, wanita itu kembali mengingat hal yang dia lihat sebelumnya, entah kenapa pikiran buruk mengenai Agam menghantuinya, mengabaikan semua hal manis yang Agam berikan selama ini.
“Aku baik-baik saja, maaf tadi ada serangga lewat.”
“Aku tau kamu berbohong.”
“Aku hanya-.” Alaia memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam “Aku takut kamu pergi mas.”
“Maksud kamu?.”
“Aku takut sendirian.”
“Kamu yakin?.”
Alaia mengangguk, Agam tidak memperpanjang hal ini karena dia berniat mencari tahu sendiri apa yang tengah Alaia pikirkan hari ini. “Malam ini biar aku saja yang membuatkan makan malam.” Agam mengusap kepala Alaia dan berjalan menuju ke dapur mengeluarkan bahan-bahan mentah yang akan dia buat makan malam.
__ADS_1
Ada daging juga sayuran, terlihat Alaia yang mulai menghampiri dan duduk di kursi depan Agam dengan pandangan tenang. “Kenapa kesini?.”
“Aku mau lihat kamu masak.” Jawab Alaia yang membuat Agam tersenyum pada wanita itu lembut.
Pisau yang Agam pegang sangat lihai saat memotong daging, entah bagaimana tapi Alaia baru sadar kalau Agam lebih baik darinya dalam memegang pisau.
“Aku baru sadar kalau kamu sangat lihai dalam memotong sayuran.” Ucapan Alaia membuat Agam melihat kearah istrinya.
“Kamu tidak pernah melihat sebelumnya? Aku lebih rapi dalam memotong sayuran daripada kamu sayang.”
“Aku tau, tapi kamu juga pernah melakukan ini didepan wanita lain?.”
“Menurutmu? Kamu yang pertama dan akan tetap menjadi satu-satunya yang akan melihat.” Jawaban Agam malah terdengar sangat menakutkan untuk Alaia.
Alaia hanya menyunggingkan senyumannya, beberapa detik kemudian, Alaia kembali membuka mulutnya “Bagaimana pendapatmu tentang Naufal?.”
Agam menghentikan kegiatannya dan melihat ke arah Alaia dengan pandangan dingin, namun kemudian Agam tersenyum “Kenapa bahas Naufal lagi? Ada yang ingin kamu ketahui tentangnya menyangkut bukti-bukti?.”
“Emm itu aku hanya penasaran? Bukankah dia terobsesi pada seseorang dan menyakiti orang lain.”
“Apa kamu juga akan melakukan apapun untukku?.”
“Semuanya? Apapun itu aku akan melakukan untukmu sayang. Ada yang kamu inginkan?.”
“Tidak ada.” Alaia turun dari kursinya dan menghampiri Agam untuk membantu pria itu memasak.
Alaia sampai di kantornya lebih pagi, banyak alasan yang harus dia berikan untuk Agam hingga sampai di kantor sepagi ini. Hal yang pertama Alaia lakukan dalam membuka laci dan mengeluarkan semua berkas yang telah dikumpulkan, satu-satunya kesamaan dari semua kasus itu adalah mereka bertemu dengan Alaia sebelumnya.
‘Apa mungkin, tapi kenapa bukti-bukti sama sekali tidak mengarah padanya? Aku berharap bukan, tapi aku sangat ragu jika yang pelakunya memang orang yang telah tertangkap.’
__ADS_1
Alaia membawa semua berkas tersebut dalam satu map pribadinya, tujuan Alaia sekarang pergi ke lapas untuk bertemu salah satu pelaku yang kemungkinan ucapannya bisa dipercaya kalau mengatakan tidak bersalah.
Jovan 29 tahun, dia bersalah karena membunuh mantan selingkuhannya yang ingin kembali ke jalan yang benar. Alaia masuk ke dalam lapas dan duduk di kursi kunjungan menunggu seorang laki-laki yang ia kunjungi keluar. Pakaian cream dengan angka di dada kiri atas, wajahnya tampak lebih tirus dari terakhir kali Alaia melihatnya.
“Bagaimana kabar istriku?.” Pertanyaan Jovan membuat Alaia merasa sangat bersalah, entah kenapa Alaia merasakan itu.
“Sehat, bayi anda juga sehat. Bagaimana kabar anda?.”
“Saya bisa makan dengan baik, mengerjakan hal positif dan tidur dengan nyaman, walaupun terkadang memikirkan mereka yang ada di rumah menunggu saya pulang.”
“Jika saya membantu anda keluar dari sini, apakah anda bersedia?.”
“Maksudnya?.”
“Saya butuh jawaban anda untuk terakhir kalinya secara jujur.”
“Saya akan menjawabnya.”
“Apa benar anda membunuh korban?.”
“Tidak.” Jovan menggeleng tegas sama seperti dulu “Saya memang ingin kembali dengannya, tapi bukan berarti saya berani dan nekat melanggar hukum, apalagi membunuhnya, tapi hukuman disini saya anggap sebagai penghapusan dosa karena saya telah berpaling dari istri saya saat dia hamil anak kandung saya.”
Alaia mengangguk paham “Terimakasih jawaban anda, jika memang anda jujur, saya akan mencari pembunuh aslinya untuk mengeluarkan anda dari sini.”
“Tapi kenapa anda melakukan itu?.”
“Hanya sebuah kecurigaan yang sebenarnya tidak berdasar, tapi saya akan mengusutnya satu persatu.”
Setelah menemui Jovan, Alaia meninggalkan lapas menuju ke sebuah alamat yang tercatat di ponselnya. Alamat yang akan membawanya bertemu dengan Dexon, seorang pria yang dinyatakan tidak bersalah oleh pengadilan karena tidak banyak bukti yang bisa menahannya di penjara karena kasus pembunuhan sadis atas mantan kekasihnya karena alasan terobsesi.
Gerbang bertuliskan Rumah Semesta terlihat terpampang di pintu utama, mobil Alaia masuk kedalam dan terparkir dengan mobil lainnya yang ada disana. Alaia melihat sekitar dan masuk kedalam gedung panti yang hanya diisi oleh para orang tua tersebut, sambil merapikan pakaiannya, Alaia masuk menjelajahi gedung utama panti jompo. Pintu bertuliskan ruang Direktur membawa Alaia mengetuknya pelan.
__ADS_1
Alaia masuk setelah suara dari dalam mempersilahkannya untuk masuk, Alaia tersenyum dan duduk di sofa tamu yang ada disana. Sudah lama dia tidak berkunjung setelah menikah karena kesibukan apalagi Alaia juga harus menyiapkan rumah barunya yang sangat lama sehingga tidak sempat datang kembali. Satu-satunya keluarga yang Alaia punya ada di panti ini sejak Alaia bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu untuk pertama kali, tapi sayangnya dia tidak mengenali Alaia sama sekali. Sekaligus bertemu dengan Dexon, dia juga ingin menemui keluarganya.