
Sudah seminggu Kirana menemani Sebastian pergi ke kantor karena ngidam aneh suaminya itu belum juga bisa dihilangkan. Beberapa kali diuji coba saat di lift apartemen, Sebastian masih mengalami pusing dan mual. Hanya saja sekarang tidak selalu ekstrim dengan harus berciuman, cukup Kirana ada di sebelahnya dan memeluknya dari samping bisa membuat Sebastian tenang.
“Aku boleh ikut Mas Bas ketemu sama Aleandro ?” rengek Kirana saat tahu kalau suaminya itu akan bertemu dengan sahabatnya dan Tuan Alexander, papa dari Aleandro.
“Kamu di rumah aja, atau mau ke kantor ngobrol sama Mbak Wid juga boleh. Cukup Dion saja yang menemaniku meeting hari ini.”
“Mau ketemu sama ulat bulu itu juga ?” wajah Kirana masih cemberut sambil memakaikan dasi suaminya.
Hari ini Kirana dibebastugaskan untuk menemani Sebastian karena sesuai jadwal, Dion sudah mengatur pertemuan di hotel yang tidak memerlukan lift untuk mencapai restorannya. Pertemuan kedua yang akan menambah Bara sebagai pendamping Sebastian, pertemuan akan diadakan di salah satu restoran yang tidak jauh letaknya dari hotel.
“Bukan ketemu sama ulat bulu, justru mau ketemu sama pawangnya biar ulat bulunya nggak nempel-nempel,” sahut Sebastian sambil mengusap pipi Kirana yang sudah selesai memasangkan dasi.
“Beneran nggak ketemu sama ulat bulunya ?” bibir Kirana mengerucut membuat Sebastian tertawa dan langsung menciumnya.
Tanpa terduga Kirana justru langsung membalasnya dengan ciuman panjang dan mengalungkan tangannya di leher Sebastian. Namun tidak lama Sebastian melepaskan ciuman mereka.
“Jangan mancing-mancing, bisa-bisa gagal nih meeting aku hari ini,” ujar Sebastian tertawa sambil menoel hidung istrinya.
“Reflek babies mau cium papinya,” sahut Kirana dengan pipi mengembang.
Sebastian tertawa lalu membungkuk mendekati perut Kirana dan mengusapnya perlahan.
“Sabar sebentar babies, nanti malam papi akan tengok.”
“Haiiss itu mah maunya papi, bukan permintaan babies, “ Kirana mencibir.
“Mau maminya juga,” Sebastian tertawa dan mencium pipi Kirana.
Keduanya pun keluar kamar langsung menuju pintu keluar.
“Masih perlu ditemani ke bawah ?” tanya Kirana sambil mengerjap.
“Maunya begitu, supaya aman. Bisa gawat kalau seharian ini pusing dan mual karena jadwalku penuh dengan meeting,” sahut Sebastian sambil menggandeng istrinya.
“Ini namanya pemaksaan,” Kirana mengangkat tangannya yang digenggam Sebastian. Pria itu hanya tertawa dan membawa Kirana menuju lift.
__ADS_1
Sampai di lobby ternyata Dion sudah menunggu dan mobil tetap disopiri oleh Pak Tomo sudah terpakir di depan lobby.
“Kalau nanti kamu mau ke rumah mama, kasih tahu aku aja. Sopir daddy masih bisa dipinjam. Lusa mommy dan daddy baru pulang ke Jakarta.”
Kirana hanya mengangguk dan membiarkan Sebastian mencium keningnya sebelum masuk ke dalam mobil. Dion hanya senyum-senyum dan menganggukan kepala saat bertemu dengan Kirana.
“Jangan lupa kasih kabar kalau mau pergi,” pesan Sebastian dari dalam mobil.
“Meeting yang benar, ya ! Bukan MIjit yang penTING-penting !” pesan Kirana dengan nada galak. “Jangan lupa juga nggak boleh dekat-dekat sama ulat bulu,” lanjutnya dengan wajah juteknya.
“Iya sayang, iya. Kan ada Dion dan Pak Tomo yang bisa jadi CCTV kamu juga. Malah nanti sore ada Bara tambahannya. Senyum dong buat kasih semangat,” sahut Sebastian sambil mengedipkan sebelah matanya.
Kirana tersenyum dengan sedikit dipaksakan. Meskipun Sebastian sudah menyuruhnya balik ke unit, Kirana tetap bersikukuh menunggu sampai mobil Sebastian menghilang dari pandangannya.
Sebastian pun mengalah dan meminta Pak Tomo menjalankan mobilnya menuju hotel yang sudah disepakati dengan tuan Alexander dan Aleandro.
**
**
Tigapuluh menit kemudian mobil yang ditumpangi Sebastian dan Dion memasuki salah satu hotel di pusat Jakarta. Keduanya turun di lobby dan Dion meminta Pak Tomo langsung balik ke kantor untuk menunggu di sana sekalian menjemput Bara sebelum balik lagi ke hotel.
“Sepertinya masalah Deana cukup serius sampai seorang Sebastian Pratama meminta waktu bertemu dengan saya,” ujar tuan Alexander setelah semuanya duduk berhadapan di satu meja.
“Sepertinya begitu,” sahut Sebastian sambil tertawa pelan. “Saya tidak mau hanya karena masalah Deana merusak hubungan baik saya dengan Om dan Aleandro.”
Tuan Alexander tertawa sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Sepertinya saya mengerti kekhawatiran kamu, Bas. Saya paham betul bagaimana sifat keponakan saya itu yang sedikit ambisius untuk mendapatkan keinginannya. Hanya saja Deana tidak bilang kalau dia memaksa bertemu denganmu karena sudah saling kenal. Dia hanya bilang menganggumi hasil pekerjaanmu yang sudah berjalan dengan Aleandro dan berharap bisa bekerjasama juga dengan perusahaanmu untuk proyek yang sedang dikerjakannya.”
“Maaf kalau sampai masalah ini melibatkan Om dan Aleandro,” ujar Sebastian dengan nada sopan. “Selain tidak ingin timbul kesalahpahaman di antara kita, saya juga tidak ingin istri saya merasa tidak nyaman. Apalagi saat ini istri saya sedang mengandung buah cinta kami.”
“Wahh benaran, Bas ?” mata Aleandro langsung membelalak. “Nggak kebayang melihat Cilla hamil dan punya anak. Kalah cepat aku sama dia.”
“Kamunya saja yang terlalu banyak beralasan,” ledek tuan Alexander. “Semua yang papa kenalkan padamu, tidak ada satupun yang masuk dalam kategorimu. Apa jangan-jangan model istri Bastian yang kamu jadikan ukuran ?”
__ADS_1
“Apa kelihatan banget, Pa ?” Aleandro tertawa sambil melirik Sebastian. “Bercanda Bas, bercanda.”
“Kamu sendiri kenal Deana dimana, Bas ?” tuan Alexnder mengalihkan topik yang sepertinya membuat Sebastian tidak nyaman.
“Saya tidak mengenal Deana secara langsung, Om. Saat itu kami sedang berkumpul merayakan ulangtahun Greg, salah satu teman kampus saya di rumah Rachel, kekasihnya. Deana ikut hadir juga malam itu karena diundang oleh Rachel, yang ternyata adalah sahabat Deana. Tentu Om tahu bagaimana pesta anak-anak muda di sana yang tidak bisa lepas dari minuman beralkohol. Malam itu, Rachel meminta tolong saya untuk mengantar Deana yang mulai mabuk kembali ke apartemennya. Mulanya saya menolak, tapi setelah seorang teman pria lainnya bersedia menemani, akhirnya kami berdua mengantar Deana ke apartemen sesuai alamat yang Rachel berikan. Sepanjang jalan Deana meracau dan bilang kalau suka pada saya. Sampai di apartemen ternyata mobil tamu tidak bisa masuk ke dalam basement dan kalau parkir lobby, mobil tidak boleh ditinggal tanpa pengemudi. Akhirnya saya yang membawa Deana sendri kembali ke apartemennya. Begitu masuk ke dalam, Deana langsung muntah-muntah hingga mengotori bajunya dan kemeja saya, Mulanya saya berencana meninggalkannya, tapi karena rasa kasihan akhirnya saya membantunya membersihkan diri namun tanpa menyentuh bagian tubuh Deana yang memang tidak boleh saya sentuh. Saya hanya menyiapkan pakaian ganti yang asal saya ambil dari dalam lemari dan berniat meletakannya di kamar mandi. Tapi begitu sampai di depan kamar mandi, saya dibuat kaget saat melihat kelakuan Deana yang cukup berani di depan laki-laki yang baru dikenalnya. Akhirnya saya hanya melempar pakaiannya dan meninggalkan apartemen Deana saat itu juga. Tapi sepertinya situasi yang saya jalani sudah direncanakan oleh Deana dan Rachel, karena begitu sampai di lobby, mobil teman saya sudah tidak ada dan handphonenya sudah tidak bisa dihubungi. Malam itu juga saya akhirnya pulang naik taksi. Namun usaha Deana tidak berhenti di situ. Ia menyebarkan gosip di antara teman-teman sesama mahasiswa Indonesia kalau saya mencoba menidurinya. Untung saja pikiran waras saya masih berjalan. Saya minta bantuan daddy untuk bicara dengan pengelola apartemen yang Deana tempati dan meminta rekaman CCTV sepanjang lorong dan lobby di malam itu. Pakaian saya yang masih lengkap berikut dengan bekas muntahan Deana yang sudah saya bersihkan. Durasi waktu sejak saya masuk sampai keluar dari unit Deana, bisa dihitung dan terlihat jelas apakah saya melakukan hal tidak senonoh pada Deana.”
“Dan Deana terima begitu aja, Bas ?” tanya Aleandro dengan wajah penasaran.
“Menurut kamu ?” Sebastian balik bertanya sambil mengangkat kedua alisnya. “Seperti papamu bilang, Al, Deana adalah perempuan yang sanggup melakukan banyak cara untuk mendapatkan keinginannya,” lanjut Sebastian sambil tertawa pelan.
“Deana terlalu diberikan kebebasan dan dimanja oleh orangtuanya terutama oleh papanya,” ujar tuan Alexander.
“Kebalikan sama Papa yang sangat keras mendidik anaknya, terutama anak laki-laki,” sindir Aleandro sambil mencibir. “Sampai akhirnya aku melampiaskan kekesalan pada teman-teman di sekolah. Untung saja ketemu dengan Kirana yang akhirnya membuat aku sadar kalau jadi jagoan tidak selalu menyenangkan dan pasti menang.”
Tuan Alexander dan Sebastian tertawa mendengar keluh kesah dan cerita pengalaman Aleandro yang memang mendapat perlakuan cukup keras di masa kecilnya.
“Jadi sepertinya kali ini kesempatan kamu untuk membalas jasa istri Sebastian dengan menjaganya dari gangguan Deana,” ujar tuan Alexander sambil menatap putranya.
“Kesempatan juga sering-sering ketemu Kirana.” Aleandro melirik Sebastian yang langsung melotot menatapnya, membuat partner bisnis Sebastian itu tertawa.
“Tapi suaminya Kirana galak, Pa,” ujar Aleandro sambil tergelak. “Perlu surat ijin khusus untuk bisa bertemu dengan Kirana.”
“Selama kamu tidak melanggar aturan dan mengambil kesempatan dalam kesempitan, sepertinya suami Kirana seorang pria yang bijaksana,” sahut tuan Alexander seolah Sebastian tidak ada di sana.
“Bukannya Papa harusnya senang kalau aku sampai jadi dengan Kirana. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali menikah, dapat istri sekaligus cucu,” seloroh Aleandro.
“Kamu kira aku ini petani penggarap yang kerja di sawah orang ? Aku yang menabur kenapa malah orang lain yang menuai,” omel Sebastian dengan wajah masam.
Tuan Alexander dan Aleandro langsung terbahak, sementara Dion ikut tertawa pelan sambil menoleh ke samping.
“Sepertinya bukan hanya hati-hati bekerjasama dengan Deana, Bas,” ledek tuan Alexander di sela- sela tawanya. “Kamu juga harus waspada pada Aleandro. Sifat lihainya pasti menurun dariku, meskipun tidak suka menikung orang lain di persimpangan, tapi kamu tidak akan melewatkan peluang kalau melihat celah.”
Sebastian mendengus kesal sambil meraih gelas minumannya. Tuan Alexander dan Aleandro kembali menertawakan Sebastian yang ternyata sangat pencemburu dan begitu posesif pada istrinya.
Dalam hati Aleandro bersyukur kalau Kirana mendapatkan suami yang begitu mencintai seperti Sebastian, dan tentu saja tidak ada niat sedikit pun untuk menikung Sebastian dan merebut Kirana. Bagi Aleandro, Kirana lebih cocok dijadikan saudara daripada istri karena membayangkan sikap cerewet dan galak wanita itu sangat jauh dari gambaran seorang istri idaman seorang Aleandro.
__ADS_1