Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Berbagi Kabar Bahagia


__ADS_3

Kirana menghabiskan sisa nasi gorengnya cepat-cepat. Hatinya masih galau kalau teringat percakapannya dengan Renata siang tadi.


“Jadi kamu istri resminya Sebastian ?” tanpa permisi Renata langsung menempati kursi yang tadi diduduki oleh Steven.


Sahabat Kirana itu harus segera ke kamar operasi karena diminta mendampingi operasi caesar mendadak.


“Kenapa ? Ada masalah ?” tanya Kirana sambil mengangkat sebelah alisnya.


Renata tersenyum sinis namun sempat mengucapkan terima kasih pada pelayan yang mengantarkan pesanan minumannya.


“Apa kamu tidak merasa aneh ? Apa kamu tidak pernah melihat istrinya yang pertama ? Sepertinya Sebastian bukanlah lelaki yang menurunkan seleranya demi perempuan seperti dirimu.”


Kirana menghela nafas sambil tersenyum tipis.


“Memangnya kamu siapanya suamiku sampai tahu soal selera perempuan yang disukai Sebastian ? Apa karena kamu adalah salah satu perempuan yang tidak masuk dalam kategorinya ?”ujar Kirana sambil tertawa.


Wajah Renata mendadak merah karena kesal mendengar ucapan Kirana.


“Kalau saja Sebastian tidak diminta pulang oleh om Richard untuk meneruskan perusahaan, sudah pasti aku yang akan menjadi pendampingnya,” sahut Renata dengan wajah ketus. “Bahkan Bastian sudah memberiku cincin.”


Renata mengeluarkan sebuah cincin dari saku snellinya. Kirana lagi-lagi hanya tertawa pelan menanggapinya.


“Kamu tahu ada pepatah yang mengatakan kalau jodoh tidak akan lari kemana. Mau dimanapun kamu bersembunyi, jodoh pasti akan bertemu. Dan sepertinya kamu bukan jodoh Bastian, karena pertama kamu tidak pernah berusaha keras mempertahankan Mas Bas kalau memang merasa ia jodoh malah kamu kecolongan karena Mas Bas sampai menikah dua kali. Kedua kamu mungkin merasa Mas Bas adalah jodohmu, tapi kenyataannya perasaan Mas Bas biasa-biasa saja saat bertemu denganmu lagi. Jadi kalian bukan jodoh, tapi cinta bertepuk sebelah tangan. Kalau jodoh, mau bagaimanapun, Mas Bas pasti akan punya perasaan yang sama saat bersamamu. Bahkan namamu tidak pernah disebut oleh suamiku dan keluarga mertuaku.”


“Tapi Bastian tadi sempat bergeming saat pertama bertemu kembali di ruang VVIP.”


“Jangan terlalu banyak bikin aku tertawa, aku tidak mau bayi-bayiku terganggu karena leuconmu,” ujar Kirana sambil tergelak.


“Apa maksudmu ?” kedua alis Renata menaut.


“Kamu itu seorang dokter, seharusnya bisa sedikit membaca ekspresi orang. Apakah kamu tidak bisa membedakan perasaan kaget bertemu dengan orang yang ingin dihindari dengan perasaan rindu dengan orang yang selalu dinantikannya. Dan aku yakin seribu persen, kalau ekspresi wajah Mas Bas adalah pilihan pertama.”


“Tapi ia benar-benar pernah melamarku,” ujar Renata dengan wajah kesa. “Aku punya buktinya !”


Renata mengeluarkan handphonenya dan mencari-cari foto yang ada di galeri.


“Aku minta nomor handphonemu,” Renaata sudah siap memasukan nomor panggilan Kirana di handphonenya.


Kirana pun menyebutkan nomor handphonenya tanpa ragu-ragu.


“Aku minta juga nomor Bastian,” ujar Renata dengan wajah ketus dan nada memaksa.


“Aku dan Mas Bas satu rumah, satu kamar bahkan satu ranjang. Jadi kalau mau ada perlu, bisa menghubungi aku, sama saja. Apa tidak malu jadi pelakor dengan status sebagai dokter di rumah sakit milik keluarga Pratama ?” ejek Cilla dengan tawa menyindir.


“Ternyata kamu wanita yang sombong,” sahut Renata dengan tatapan sinis. “Apa Bastian sudah tahu dengan sikap aslimu yang seperti ini.”


”Aku tidak pernah berpura-pura pada Mas Bas sejak awal sampai ia menikahiku. Tapi aku tidak akan memberi celah untuk calon-calon pelakor yang berusaha merebut suamiku. Apalagi pada perempuan yang mengaku-ngaku sudah dilamar oleh suamiku.”

__ADS_1


“Jadi kamu tidak percaya ? Silakan kamu cek foto yang baru saja aku kirimkan,” ujar Renata dengan senyuman sinis.


Kirana mengambil handphonenya yang diletakan di atas meja. Renata mengirimkan beberapa foto yang memperlihatkan kedekatan Sebastian dengan dokter itu.


“Kami adalah teman satu sekolah dan sudah lama Sebastian menaruh hati padaku. Hanya saja kami harus terpisah karena jalur pendidikan yang kami tempuh berbeda dan Bastian harus melanjutkan ke luar negeri. Kamu salah besar kalau aku tidak mempertahankan keyakinanku kalau Bastian adalah jodohku. Di tahun ketiga aku menemui Sebastian di Amerika. Aku menginap di apartemennya, dan sebagai dua orang yang cukup umur dan saling menahan rindu setelah sekian lama, tentu kamu bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya,” Renata tersenyum tipis, melirik Kirana berharap istri Sebastian itu menunjukan keterpurukannya.


“Kamu boleh mengarang cerita apapun tentang hubungan kalian. Satu kenyataan, kalau kamu adalah masa lalunya dan aku masa depannya. Sebagai istri yang menerima suaminya apa adanya, aku tidak bisa menghapus jejak masa lalu Mas Bas bahkan kenyataan kalau ia pernah menikah meski tidak sampai duapuluh empat jam. Jadi aku tidak lagi ingin membiarkan suamiku hidup dibelenggu masa lalunya karena aku akan menciptakan masa depan yang tidak akan terlupakan sepanjang hidupnya.”


“Sepertinya kamu terlalu percaya diri,” sindir Renata dengan senyuman sinis. “Adikku tidak akan pernah menerima kenyataan ini.”


“Adik ?” Kirana menautkan alisnya. “Apa tidak ada laki-laki lain sampai kalian kakak beradik harus berenbut pria yang sama ?” Kirana tertawa pelan.


“Kamu pasti akan menutup mulutmu yang sombong apabila sudah bertemu dengan keluargaku.”


“Kenapa ? Sekarang kamu mulai mendatangkan keluargamu sebagai pendukung ?” sindir Kirana. “Apa kamu tidak cukup percaya diri untuk menghadapi kenyataan kalau Sebastian tidak pernah menganggapmu lebih dari masa lalu ?”


“Kamu…”


Handphone Kirana bergetar dan terihat nomor rumah sakit yang cukup Kirana hafal.


“Sepertinya kita tidak bisa meneruskan percakapan ini. Dan seperi kataku tadi, aku tidak akan membiarkan pelakor-pelakor sepertimu menempel pada suamiku,” Kirana beranjak bangun dari kursinya.


“Selain aku, Sebastian bahkan juga pernah hampir bertunangan dengan adikku, Reina.”


Ucapan Renata menahan tubuh Kirana yang baru saja hendak melangkah. Dahinya berkerut, mencoba mengingat nama yang pernah di dengarnya itu.


“Pantas saja aku merasa seperti mengenal dirimu. Ternyata kepribadianmu begitu mirip dengan Tante Miranda,” sahut Kirana dengan senyuman tipis. “Terlalu memaksakan jalan hidup yang sudah jelas tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.”


Kirana mengabaikannya dan mengangkat telepon masuk yang kembali menghubunginya. Ia hanya mengangguk sedikit pada Renata sebagai ucapan pamit, lalu berjalan meninggalkan cafe menuju tempat praktek dokter Wanda.


Tanpa sada ternyata Sebastian sudah menggendong Kirana kembali ke ruang tamu, dimana sudah disiapkan laptop di atas meja.


“Kita zoom meeting dulu dengan mama papa dan daddy mommy. Aku sudah tidak sabar memberitahu mereka kabar baik ini. Masalah anak-anak Tante Miranda, aku pasti akan menceritakan apapun yang ingin kamu ketahui selesai kita memberitahu kedua orangtua kita.”


Sebastian mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Didudukannya Kirana di atas sofa berdampingan dengannya dan mulai membuka laptopnya.


Siang tadi Sebastian sudah meminta bantuan pada Kendra dan Amir untuk mendampingi orangtua mereka melakukan zoom.


Melihat wajah Kirana yang terlihat sendu, mommy Amelia mengernyit. Semula ia menduga kalau anak dan menantunya akan memberi kabar baik, tapi melihat ekspresi Kirana, perasaan mommy Amelia berbalik menjadi khawatir.


“Kamu kenapa, sayang ?” tanya mommy Amelia yang terlihat satu frame dengan daddy Richard.


Mama Lia dan papa Heru yang juga berada dalam satu frame ikut mengernyit. Mereka juga melihat hal yang sama, wajah Kirana tampak lesu.


“Kiran nggak apa-apa, Mom.”


“Jangan bilang Bastian bikin kamu harus lembur terus setiap malam,” oceh mommy Amelia membuat semuanya tertawa, bahkan terdengar juga suara Kendra, sementara Amir menunggu di luar ruangan.

__ADS_1


“Lembur yang menghasilkan, Mom,” sahut Sebastian sambil terlekeh.


Sebastian mengambil hasil USG yang dicetak dan mengangkatnya ke depan layar.


“Sekitar tujuh bulan lagi kita akan dapat tambahan anggota keluarga baru. Dua sekaligus.”


Wajah dua pasang orangtua itu langsung berbinar. Meski belum terlalu jelas, tapi mereka tahu potongan gambar apa yang diperihatkan oleh Sebastian.


“Wah selamat untuk kalian berdua,” ujar mama Lia.


“Keren Bas, langsung dapat dua aja,” ledek daddy Richard sementara papa Heru hanya tertawa saja.


”Biar kalau lagi dititip pas satu-satu, jadi kedua omanya sama-sama sibuk,” timpal mommy Amelia.


“Tapi kamu kelihatan kurang sehat, Kiran ?” Mommy Amelia kembali mengernyit memperhatikan Kirana.


“Agak capek badannya hari ini, Mom,” sahut Kirana berusaha tersenyum dan bersikap biasa.


“Banyak istirahat Ki, apalagi ini baru pertama untukmu,” nasehat mama Lia.


“Tenang aja, Ma. Mas Bas ini suami yang siaga, kok,” Kirana tertawa pelan untuk menghalau kekhawatiran kedua orangtua mereka.


“Kalau ingin sesuatu, tinggal bilang mommy atau mama, Kiran,” ujar mommy Amelia. “Jangan sungkan-sungkan kalau sedang ngidam.”


“Tapi yang utama, bikin repot suamimu dulu,” ujar daddy Richard sambil terkekeh. “Kalau suamimu sudah tidak sanggup, silakan laporan pada kami.”


“Sudah pasti aku akan memenuhi permintaan istri dan calon anak-anakku, Daddy,” sahut Sebastian dengan wajah yang sempat cemberut.


“Jangan terlalu diambil hati omongan opa yang ini, babies. Sudah pasti papi akan memenuhi ngidamnya mami kalian,” ujar Sebastian sambil mengusap perut Kirana dan matanya menatap ke sana.


Dua pasang orangtua itu pun tergelak dan zoom meet diisi dengan percakapan yang akrab dan menyenangkan, bahkan Kendra sesekali ikut berbicara meski wajahnya tidak kelihatan.


Sekitar tigapuluh menit kemudian percakapan mereka berakhir.


“Aku mau bobo dulu,” Kirana beranjak bangun saat Sebastian masih merapikan laptopnya.


Sebastian meninggalkan kesibukannya dan kembali mengangkat tubuh Kirana dalam gendongannya untuk dibawa ke kamar mereka.


“Yakin nggak mau menyelesaikan masalah kita malam ini ?” tanya Sebastian sambil memandang wajah istrinya yang mengalungkan kedua tanganya di leher Sebastian.


“Besok aja,” sahut Kirsna pelan dan diangguki oleh Sebastian.


“Aku mau ke kamar mandi dulu,” ujar Kirana saat melihat langkah Sebastian langsung menuju ke tmepat tidur.


Sebastian tersenyum dan kembali mengangguk. Keduanya membersihkan diri dan sikat gigi sebelum tidur.


Ada perasaan sedih saat Kirana tidur dengan posisi memunggunginya. Selama hampir dua bulan menikah, belum pernah sekalipun Kirana tidur dengan posisi seperti itu.

__ADS_1


Tapi mengingat kalau emosi Kirana sedang tidak baik karena Renata dan hormon kehamilannya, Sebastian tidak menggerutu ataupun protesa.


Sebastian masih bersyukur karena Kirana tetap mau dipeluk oleh suaminya meski hanya dari belakang.


__ADS_2